Birdie dan Botol Bir

Pratiwi Setyaningrum

 

– Kisah Sederhana –

“Dalamnya laut dapatlah diduga, dalamnya hati siapa tahu, yang jelas, Superhero takkan (kedapatan) menangis.”

 

—————

Bird bottles

Birdie si burung kecil yang gagah berani itu pun lantas melanjutkan perjalanan. Ya, “perjalanan”. Ia yang seekor burung Murai mustinya melakukan “penerbangan”, namun kali ini terpaksa berjalan dengan cakar-cakar mungilnya..

Tunggu dulu. “Birdie yang gagah berani itu “pun”? Hmm.. rasa-rasanya, kalau dirasa-rasakan, kisah ini kenapa dimulai dengan paragraf yang janggal ya pembaca? Merasa tidak? Kalimat pembuka tidak semestinya menggunakan kata “pun”. Bilakah terjadi?

Pembaca yang budiman, mari kita usut mengapa penulis seakan melompati adegan bagaimana si murai kecil bernama Birdie ini sampai kehilangan kemampuannya untuk terbang. Ya, murai kecil yang baru lulus uji terbang satu minggu lalu ini, yang lulusnya boleh dibilang cum laude pula, yaitu dinyatakan lulus dengan penghargaan, tentunya oleh Bu Murai, induknya. Nah, pastinya ada sebab-sebab rumit yang melatar-belakangi ketakmampuan tersebut bukan? Kita tanyakan sama penulisnya yuk.

Penulis Sengaja. Itu jawabannya. O, jawabannya ternyata begitu. Penulis sengaja membuat bagian itu kosong. Kalau pembaca jadi terpaksa mengarang sendiri kira-kira apa penyebab Birdie musti berjalan kaki eh, cakar, sesungguhnya ia tak perduli. Katanya, pembaca boleh mengira apa saja. Terserah, katanya. Ini kan cuma cerita sederhana, begitu katanya lagi.

Penulis tak perduli, jika pembaca mengira bahwa ketakmampuan terbang tokoh utamanya ini bersifat permanen atau temporer. Terserah saja jika menurut asumsi pembaca, Birdie tak mampu terbang kerna di saat sedang terbang melintasi hutan, sayapnya pernah tertembak oleh pemburu. Bahwa walau kemampuan terbangnya hebat, namun seperti sebuah peribahasa, sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga, maka murai kecil ini pun setelah dikejar dan dibidik, akhirnya terbang oleng kerna peluru pemburu berhasil melukai sayapnya, membuat tubuh Birdie terlihat menukik tegak lurus dengan bumi, langsung jatuh ke gerumbul pohon suji. Dan bahwa Birdie pasti musti diam menunggu pemburu pergi baru bisa bergerak dan melanjutkan perjalanan, dengan sayap berlubang.

Penulis tak perduli, jika pembaca berasumsi Birdie tak mampu terbang adalah kerna sayapnya luka tersangkut ranting tajam. Penulis juga sangat tidak keberatan, jika misalnya oleh pembaca, Birdie dituduh habis mabuk-mabukan semalaman, berlebihan minum madu dari satu rumpun bebungaan bersama teman-teman sesama geng Murai jomblo. Klasik sekali ya. Entah apakah memang Murai juga biasa minum madu seperti temannya, si Colibri yang suka terbang meliuk-liuk dengan centil. Toh itu cuma asumsi, ilmu kira-kira.

Sungguh, bagaimanapun latar belakangnya, yang menyebabkan tokoh utamanya tidak terbang tapi hanya berjalan di tanah, penulis sangat-sangat tidak perduli. Tidak penting, katanya. Pembaca mustinya tak perlu membuat berbagai macam asumsi, kerna akan jadi bahaya jika yang hanya asumsi itu kemudian dibuat eksperimen, dibentuk hipotesa, lantas dibuatkan kesimpulan. Apa yang mau didapat? Kesimpulan dari asumsi ya masih saja sekedar asumsi. Buang tenaga saja. Lihat. Untuk asumsi ini saja penulis memerlukan tiga paragraf untuk menjabarkan, bayangkan.

Bagi penulis, latar belakang apapun, adalah sah-sah saja. Selama pada akhirnya si murai kecil Birdie, ya, pada akhirnya, musti berjalan kaki menuju tujuan. Birdie, Birdie, Birdie.. Kau mau pergi kemana? Pasti begitu pertanyaan pembaca. Penulis geleng-geleng kepala. Kenapa jadi rewel sekali ya pembacanya, begitulah pikirnya. Ya kerna Birdie musti buru-buru pulang, okey? Puas? Sergah Penulis. –Ehm.. yang okey dan puas itu tambahan dari saya–  Semua yang pergi sesungguhnya hanya sedang menggerakkan tubuhnya mengikuti aliran waktu, untuk: pulang. Untuk kembali. Bahwa kata “menuju” atau “tujuan” bersifat ilusif, dan sangat banyak padanannya, dan sangat banyak “split and turn”nya atau lika-likunya. Hey, semua mahluk hidup bukannya sedang menuju ke kematiannya sendiri? Kenapa masih saja dipertanyakan? Hal seperti itu bukan untuk dinegosiasikan! lanjut penulis bersemangat, seakan ada ledakan-ledakan granat ikut bergetar di latar-belakang suaranya. Ups. Terlalu jauh. Penulisnya kelihatan sampai terengah-engah kerna emosi. Maaf. Sudahlah mari kita biarkan Penulis yang aneh ini marah-marah sendiri. Sabar saja ya pembaca, jawaban dari pertanyaan: “pergi ke mana” nya ya sudahlah, dikarang sendiri juga saja ya. Mengarang bebaslah, terima kasih banyak.

Mari kita kembali kepada Birdie yang sedang berjalan di hutan. Cluk-cluk-cluk. Dari pagi dia berjalan. Tertatih-tatih. Yang namanya berjalan bagi Birdie adalah berarti melompat-lompat kecil, kerna burung tidak bisa berjalan. Dari sejak mentari bersiul-siul memandang lenggang kabut pagi yang beranjak pergi. Dari sejak potongan-potongan cahayanya terjun menghunjam tanah di dalam hutan, setelah lincah melewati celah-celah ranting dan pohon. Birdie berjalan, bersama aroma lembab hutan, sepoi-angin, sepoi rintih suara alam.

Di sepanjang jalan Birdie hanya mendengarkan. Suara-suara yang seakan mengintip di balik pepohonan, suara tanah, ranting, dedaun kering, dan rerumputan yang terinjak,  dedaun yang bergesekan tertiup angin dengan gemulai seakan puluhan gadis Hawai sedang menari Hula-hula, suara  degup jantung, dan, yang terutama, adalah suara-suara dari dalam hatinya.

Ia teringat semua kesalahan yang telah ia lakukan. Ia ingat janjinya kepada Bu Murai, saat pamitan pergi. Bagaimana ia hanya tertawa saat diminta untuk berhati-hati. Kerna selain melalui hutan, masih ada padang rumput luas yang gersang sebelum ia sampai di pagar panjang yang membatasi padang rumput dengan tempat tujuan. “Hidup itu penuh misteri Ibu!” Katanya. “Birdie tak akan tahu segelap apakah hutan itu, seindah apa, atau bahkan semengerikan apa, jika belum menjalaninya sendiri. Sebelum terbang melintasinya. Birdie tak puas hanya mendengar cerita kakak-kakak Birdie, Ibu. Birdie ingin merasakan debarnya, mencium suasananya. Birdie ingin tahu apa arti petualangan!” Gema bantahannya kepada Bu Murai sebelum menghempaskan pintu kamar masih mengiang di telinga Birdie; keras. Sangking kerasnya bahkan seakan menggema di seantero hutan kecil itu. Birdie menekuri sayapnya lalu kembali berjalan pelan. “Maafkan aku Ibu..”, desahnya.

Sudah cukup lama Birdie berjalan. Hari makin siang, hutan makin renggang, seakan pepohonan tak mau lagi berkawan, satu sama lain seperti saling sepakat, menyibak diri, perlahan berbalik, meninggalkan Birdie sendirian melangkah di depan. Lantas mentari tiba-tiba memapar muka Birdie. Birdie menjenakkan matanya ke depan, dan terhenyak. Ini dia, erangnya pendek. Menghampar di depan Birdie, padang rumput nan luas. Kuning menyilaukan. Udara yang menguapkan air tanah di atas pucuk-pucuk rumput terlihat seakan menari. Mata Birdie memicing. Semangatnya turun. Bahaya ataupun kenikmatan, jelas menanti di depan sana. Namun hidup seberat apapun, semisterius apapun, tetap musti dijalani. Tak ada yang tahu pasti apakah waktu berjalan atau berlari. Jawabannya ada di depan sana. Maka berjalanlah terus seiring waktu. Alamilah semua rencana-Nya. Bila berhenti kita, maka waktulah yang akan pergi. Cuma itu. Hidup ini bukan pasar. Tak ada tawar-menawar. Jadikan saja itu sebagai tantangan. Kau percaya? Suara Penulis sepertinya sampai kepada Birdie kerna terlihat ia mengangguk. Atau tidak, kerna Birdie berjalan dengan melompat-lompat dari tadi, kepalanya pasti juga mengangguk-angguk. Yang jelas, seakan terpaksa sepakat dengan penulis, Birdie kembali melangkah setelah menghela nafas keras. Menguatkan diri.

Satu jam berlalu. Cluk, cluk, cluk. “Aduh hausnya, erang Birdie. Kapan padang rumput ini akan selesai kulintasi?” erang Birdie lagi. Ia pun memanjat, tepatnya melompat-lompat kecil menaiki terjal bebatuan. Tiba di puncak batu ia mengedarkan pandang, mencari air untuknya melepas dahaga.

Lantas di sebelah kanan di dalam bidang hamparan kuning padang rumput itu sesuatu tampak berkilau. Mata Birdie ikut berkilau. Kepala Birdie menengok-nengok dan mendongak-dongak, menjulurkan leher berbulunya, berupaya melihat lebih jelas.”Oh! Itu air!” Soraknya. Segera ia melompat-lompat turun dan berjalan bergegas menuju titik cahaya itu. Namun setelah didekati, yang diam menantinya di sana adalah sebuah botol. Botol bekas minuman bir. Berdiri miring tanpa tutup, dengan air dari bekas curah hujan mengisi separuh.

“Tuhaan,  jangan bercanda terus doong.. masa aku musti minum bir..?!”, erang Birdie sambil menepuk jidat, sebelum jatuh terduduk di tanah keras. Semaput.

Kenapa kamu memilih Birdie sebagai lakonmu, sih? Layakkah ia jadi superheromu kali ini? Pasti itu yang ditanyakan pembaca, bukan? Tiba-tiba, lagi-lagi, penulis membuka front. Syarat untuk menjadi superhero itu tidak hanya harus ada penjahat dan penggemar! Katanya lagi. Siapapun bisa jadi superhero. Eh, mana bisa? pembaca tak mau kalah. Untuk jadi superhero harus ada saksi, dan saksi inilah yang akan mengakui kesuperheroan kita. Lantas bagaimana penjelasanmu? Tanya pembaca. Penulis menjawab lagi, tapi kali ini dengan sabar, katanya semua mahluk hidup di bumi manusia ini bisa jadi superhero. Superhero bagi dirinya sendiri. Malah, lebih tepatnya lagi, untuk bisa jadi superhero bagi liyan, musti lulus jadi superhero bagi diri sendiri. Bagaimana? Nah, kita bisa jadi superhero jika sudah berhasil menaklukkan diri kita sendiri, dari kemanjaan, ketakutan, kebencian, kemarahan, dan dari rasa tak berdaya. Begitulah argumentasi penulis. Maka begitulah Birdie.

Seperti mendapat pencerahan, begitu terbangun dari pingsan, matanya berubah nyalang. Ia teringat pesan induknya, Bu Murai, bahwa kita tak boleh berprasangka buruk pada tuhan — di kisah ini, yaitu penulis–. Pasti penulis takkan setega itu pada tokoh utama. Maka perlahan ia mendekatkan paruhnya ke leher botol, mengendus bau cairan di dalamnya. Wow!  Tak ada bau bir! berarti itu AIR! Ibu benar! Birdie teriak-teriak sendiri dan melompat-lompat girang.

Nah, sekarang bagaimana supaya aku bisa minum air di dalam botol itu? tanya Birdie pada diri sendiri. Birdie putar otak. Ia ngeyel, kerna lehernya sudah sangat kering kehausan. Sudah sedekat ini, Air telah di depan mata. Birdie jelas tak mau kalah dengan botol bir yang telah mengurung air minumnya, yang telah menjadi dinding pemisah antara dirinya dengan pemunah dahaganya. Birdie berdiri setegak-tegaknya, dengan leher selurus-lurusnya, menghardik sambil menuding, “Aku Birdie, menantangmu perang, hey botol bir bedebah! Serahkan air itu padaku!”

Untuk memenangkan peperangan melawan sebuah kekuatan absolut, yang kau butuhkan adalah rencana matang. Maka mulailah Birdie membuat strategi perang ala Spartan. Murai kecil ini mulai mengedarkan pandang mencari batu-batu kerikil, lantas melompat-lompat kecil di sekeliling botol bir, memunguti kerikil dengan paruhnya, mengumpulkannya dalam beberapa tumpuk di sekitar penjara air, si Botol bir, musuhnya. Kemudian dengan paruh ia meraih kerikil itu, memantapkan sasaran tembak, mengayunkan kepalanya seperti pemain golf mengayun lengan, dan melepaskan kerikil itu melayang ke arah botol. Satu persatu. Klink! Klink! “Rasakan!”, katanya. Klink! Klank! Plung! Maksudnya hendak menghajar dan menyakiti si botol agar pecah sehingga bisa ia minum air di dalamnya. Langkah yang brilian, bukan? Kerna seperti kata para tetua dahulu, untuk memperoleh perdamaian, kau memerlukan perang.

Waktu berlalu. Matahari makin tinggi. Telinga mulai berdesing. Klink! Klank! Plunk! Klank!

Sudah puluhan kerikil ia lemparkan. Paruh dan lehernya mulai sakit. Botol tetap bergeming. Lecetpun tak. Birdie mendesah dan menundukkan kepala. Matanya panas. Dilihatnya tumpukan kerikil makin menipis. Seperti semangatnya yang makin tipis. Ia memicingkan mata memandang Target lontarnya, botol bir, dan sekali lagi menelan liur melihat air di dalam botol itu, yang seakan berteriak memanggil-manggil, memohon pembebasan.

Namun kemudian sesuatu yang terang seperti lampu membuka matanya. Ia tiba-tiba menyadari satu hal bagus. Ada perubahan. Air di botol itu. Setiap kali lemparan kerikilnya masuk ke dalam botol, permukaan air di botol pun naik. Mata Birdie kembali berkilau. Birdie girang. Segera ia mengalihkan titik sasarannya. kerikil-kerikil yang berserak ia kumpulkan menjadi satu tumpukan besar. Kali ini kerikil-kerikil itu langsung ia masukkan satu persatu ke dalam botol. Perubahan signifikan segera terlihat. Permukaan air di dalamnya naik makin tinggi. Hingga akhirnya ketika kerikil terakhir yang dikumpulkannya memasuki botol, sepercik air tumpah. Hati Birdie melonjak-lonjak. Ia segera memasukkan paruh mungilnya ke dalam botol dan mulai minum, menuntaskan segala dahaga. Rasa lelah perjalanan dan panas terik lenyap. Setelah puas minum sampai mabuk air hujan di dalam botol bir, maka Birdie si burung kecil yang gagah berani itupun lantas melanjutkan perjalanan. Tak tahu pula gerangan masalah apa yang mungkin kan melintas di jalan.

(Tamat)

 

 

Apa..? Mau protes apa lagi? Keluarkan saja semuanya! Penulis mengetuk-ketukkan jemarinya di atas meja kerja. Agaknya emosinya sudah sampai ke ubun-ubun.

Apa maksudmu, hey penulis yang baik, tamat? Begitu saja? Ah, ini paragraf mengganjal lagi ya pembaca, masa setelah kerja besarnya yang luar biasa begitu rupa, reaksi Birdie cuma begitu? Kalau aku jadi Birdie, maka di titik keberhasilanku, sebagaimana superhero, maka tak hanya senyum atau tertawa puas, namun pasti keluar pekik kemenangan. Coba perhatikan: Teriak kemenangan Tarzan menggema di seantero hutan rimba, Spiderman langsung berjoget di udara sambil berayun di sawang, Superman terbang tinggi menembus awan, dan seorang detektif di film Die Hard  malah lantas menari setelah bergumam “yipiekaye..” Hayo bagaimana Penulis?

Ih, bawel sekali pembacaku kali ini ya. Kau juga, kenapa jadi ikut-ikut protes? Bukannya kasih saran buat Mama. Okelah aku turuti kemauan kalian, Aku refisi bagian terakhir paragraf di atas.

Refisi: Hati Birdie melonjak-lonjak. Ia segera memasukkan paruh mungilnya ke dalam botol dan mulai minum, menuntaskan segala dahaga. Rasa lelah perjalanan dan panas terik langsung lenyap. Setelah seluruh air di botol habis, Birdie menengadahkan kepalanya, memekik ke angkasa : “AKU BERHASIL, IBU!”

Wew.. penulis marah. Kabur ah.. Eits, dilempar bantal pula sayanya.

 

——————-

 

Tak lama setelah semua pergi, jauh di latar belakang..

“Hiks. Apa salahku?” bisik botol sedih.

“Salahkan saja penulisnya.. dialah tuhan di kisah ini..”, terdengar sebuah jawaban, lantas terdengar penulis tertawa. Cempreng. Matanya berkilau seperti Birdie. Botol bir ngelentruk, makin merana.

“Aku memang bekas botol bir, itupun sudah lama sekali. Tapi masa ada hubungannya dengan itu? Murai kecil itu, kenal akupun tak..”.Itulah Botol bir, sang pemeran antagonis. Padahal Botol bukan penjahat. Selama ini ia hanya berdiri saja, bahkan. Ia merasa sudah menjadi korban. Siapa superheronya Botol bir? Tidak disinggung sama sekali. Anti klimaks. (Fin.)

 

 

———————-

Puri Indah, 10 Agustus 2012

 foto story telling by Andik Taufiq (dapat cari dari google)

 

7 Comments to "Birdie dan Botol Bir"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 January, 2013 at 17:25

    “Untuk memenangkan peperangan melawan sebuah kekuatan absolut, yang kau butuhkan adalah rencana matang”.

    Suka kalimat ini.

  2. atra lophe  16 January, 2013 at 10:59

    kisahnya menarik…… penulis menulis tentang burung, yang dimana burung adalah penulis. hahhahah
    salllluuuttt…

  3. anoew  15 January, 2013 at 12:52

    aduh bagusnya….. jempol empat buat si burung, dan delapan jempol buat penulis burung. top!

  4. Dewi Aichi  15 January, 2013 at 10:51

    Betul betul…tulisan ini sangat menarik, dari penulisnya sendiri penuliskan tentang penulis wow…dan juga ceritanya…mba Pratiwi, aku sangat suka tulisan ini….

  5. J C  14 January, 2013 at 17:20

    Cara penuturan yang apik dan menarik sekali…

  6. Lani  14 January, 2013 at 13:05

    PS : sami-sami……..ini pasti lagi nongkrongin baltyra……..krn respondnya secepat kilat……….

  7. Lani  14 January, 2013 at 13:02

    satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.