Bolehtidakboleh

Anwari Doel Arnowo

 

“Kata” ini terdiri dari tiga kata yang saya rangkai menjadi satu. Seperti judul tulisan yang lalu: Sukatidaksuka. Ternyata kata-kata antagonistis seperti ini memicu pemikiran-pemikiran baru. Bilamana dipakai dan atau digunakan oleh otak kita, bila saja memang ada kemauan?  Bilamana saja, sebaiknya sebelum memilih mana yang akan diputuskan akan dipakai. Boleh atau tidak? Itu pilihan kita yang bisa menguntungkan kita atau akan membuat kita menjadi gemilang, malah mungkin juga menjadi hancur lebur. Bisa saja pilihannya 50% lawan 50% atau mungkin masih ada sedikit celah pilihan lainnya.

restricted

Anda tidak perduli? Boleh saja begitu bila anda memang sendirian hidup di dunia ini. Atau di dalam hutan belantara yang di sekeliling anda hanya ada binatang dan tanaman saja. Mau bangun tidur setelah matahari naik sepenggalan tangan tingginya? Boleeeh. Mau tidak sarapan, boleh juga. Siapa berani bilang anda tidak boleh begini atau begitu? Bukankah anda sendirian? Sedangkan Tarzan saja yang selama bertahun-tahun lamanya menonjol menjadi jagoan, laki-laki itu membutuhkan pasangan yang telah terpilih bernama Jane. Lucunya Tarzan dan Jane ini berkulit putih dan hidup di daerah yang diindikasikan sebagai di hutan-hutan di benua Afrika. Karena di dalam hutan, kita tidak melupakan bahwa adanya Tarzan di hutan belantara itu sebagai yang paling aneh: semua makhluk hidup dan bergerak di situ memiliki ekor di bagian belakang tubuhnya, hanya Tarzanlah yang unik: di bagian depan!! Kadang terpikir juga oleh saya mengapa tidak ada orang Indonesia yang bisa mengarang komik serupa akan tetapi dengan jagoan orang Ambon atau orang Jawa yang mengisahkan kehidupan mereka berkeliaran di daerah Kutub Utara bersama Beruang Kutub?? Kulitnya berwarna tetapi dilatar-belakangi oleh putihnya salju? Itu adalah sebuah kondisi yang tidak gampang dijalani oleh manusia, laki-laki maupun perempuan.

Eh, terpikirkah oleh anda apakah ada ya  binatang yang bisa digolongkan sebagai salah satu anggota LGBT= Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender.?

Rekayasa terbentuknya manusia saja sudah bukan dibuat tunggal, hanya laki-laki saja atau perempuan saja, kan?? Manusia itu dibentuk dan terbentuk dengan jamak, yang utama adalah jenis perempuan dan atau jenis laki-laki. Kalau mengenai perilaku seksual yang alami yang terjadi, memang lebih dari dua, seperti tertuang di dalam LGBT  Perilaku seksual seperti inipun oleh agama-agama yang manapun dibuat issue (=persoalan), yang banyak memungkinkan mencuatnya hal-hal yang berupa pertentangan, pertengkaran dan perdebatan sengit. Akibat-akibat yang seperti ini bagi saya adalah menghabiskan waktu hidup kita, makhluk manusia, dalam menjalankan kehidupan bersama.

Terbentuknya manusia seperti LGBT saya yakini sebagai bukan karena kemauan yang bersangkutan, malah ada ilmuwan yang mengindikasikan secara ilmiah: ASLI GENUS bukan buatan atau tertular sekalipun. Agar supaya kita tidak terpecah belah berpendapat begini dan begitu, maka saya kuat berpendirian agar kita semua menerima saja, apa saja terhadap terjadinya perbedaan–perbedaan yang ada, terutama yang jelas-jelas secara alami, bukan karena buatan atau karena akibat tingkah laku makhluk bernama manusia.  Yang disebut sebagai perbedaan, yang manapun atau yang apapun itu adalah alami, bukan buatan. Ini baru menyangkut bentuk fisik. Bagaimana dengan yang maya tetapi jelas nyata dan ada, seperti pendirian, pendapat dan kepercayaan serta pikiran, misalnya. Bukankah yang terakhir ini lebih banyak jenisnya? Pendapat, pendirian, pikiran dan kepercayaan adik kandung saya yang berasal dari satu kandungan Ibu saja, tidak sama dengan saya. Jadi misalnya dia itu ikut menjadi pengikut komunis ataupun meyakini aliran ateis, itu sama sekali bukan menjadi urusan saya. Tetapi dia adalah tetap adik kandung saya, tidak mungkin akan saya bilang bukan!

larangan

Semua ini saya kemukakan karena telah saya gunakan sepanjang hidup, dalam upaya menjalankan kehidupan yang amat dinamis selama ini. Saya memang tidak selalu dengan lapang dan lancar telah berhasil menjalankannya, tetapi itu semua saya pakai sebagai andalan dan pedoman menara mercusuar saya di kegelapan suasana hati / kegalauan sosial yang ada di sekeliling. Seringkali hal-hal itu telah menyelamatkan hidup saya, tanpa saya sepenuhnya sadari. Bukan sekali dua kali di sekeliling saya berkeliaran koruptor, lingkungan yang kaya raya dan berkecukupan hidupnya, tidak disangkut-pautkan dengan  masalah hukum yang menempatkannya sebagai pelaku, pelaksana atau tersangka kejahatan, tetapi saya telah mampu bertahan agar tidak terikut atau tertular, meskipun sikap hidup mereka berkilauan layaknya berlian. Saya selamat dan sampai hari ini sehat segar bugar. Hidup saya kan tidak akan terlalu lama lagi ada di Planet Bumi? Kemana jiwa dan sukma serta nyawa saya selanjutnya? Kalau saya tidak bisa menjawabnya, saya tidak akan mengarang cerita kemana atau menuju mana nyawa saya. Berhenti saja saya memikirkannya.  Hal itu oleh karena saya sudah pernah menanyakannya kepada Ask Yahoo! Jawabannya yang masuk saya pilih yang terbaik dari beberapa dokter. Mereka menjawab bahwa mereka tidak mengerti inti pertanyaan saya karena tidak ada istilah dalam dunia Kedokteran atau dunia Medik yang menggambarkan soal, masalah dan apa itu yang bernama nyawa. Tidak ada medical term untuk itu, kata mereka.

Itu selalu akan saya ingat agar sisa hidup yang sebentar itu bisa tetap di atas rel yang telah sebagian besar saya jalani. Ini adalah bagian yang menurut saya boleh saya lakukan. Saya akan berusaha mengurangi apapun yang tidak boleh agar saya lebih damai berinteraksi dengan sesama makhluk. Tidak membunuh manusia, juga tidak membunuh binatang apapun, biarpun kecoa, nyamuk, semut atau tungau sekalipun. Juga tidak semua tanaman saya matikan dengan semena-mena. Saya makan daging hanya dari binatang ternak saja sekarang, tidak makan daging asal hasil buruan. Ini bukan ritual ilmu kebatinan atau tetek bengek, remeh temeh yang rumit, tetapi hanya sekedar pokok akar kehidupan dan kesederhanaan sesuai kemampuan saya.

 

Anwari Doel Arnowo 

15 Desember, 2012

 

6 Comments to "Bolehtidakboleh"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 January, 2013 at 17:36

    Terima kasih Pak Anwari. Tulisan tentang perjalanan dan arah kehidupan. Saya tidak perlu susah-susah mencarinya bila sudah ada contoh. Dan berhasil baik.

    Salam.

  2. Anwari Doel Arnowo  14 January, 2013 at 23:00

    Terima kasih atas komentarnya. Yang berhasil saya tulis itu bisanya saya syukuri bisa berubah menjadi tulisan di dunia maya: Internet. Kalau tidak ada internet maka mungkin akan dibawa mati oleh penulisnya. Saat ini saya brranggapan bahwa umur Internet itu akan ratusan tahun sejak sekarang, sehingga mungkin sekali tak terbatas jumlah tahunnya. Dengan demimian anak, cucu dan buyut bisa menarik manfaat positifnya.
    Salam,
    Anwari Doel Arnowo – 2013/01/14

  3. J C  14 January, 2013 at 17:24

    Membaca artikel pak Anwari selalu menjadi pelajaran untuk aku. Pelajaran kehidupan yang tidak akan didapatkan di manapun juga. Penulisan yang unik dari sudut pandang menarik yang hanya bisa dituangkan dalam artikel oleh orang-orang seperti Panjenengan yang sudah memiliki jam terbang luar biasa…

  4. Dewi Aichi  14 January, 2013 at 14:28

    Ini bukan ritual ilmu kebatinan atau tetek bengek.

    Nah, soal ini pasti bagian Anoew yang akan mengupas tuntas.

  5. Dewi Aichi  14 January, 2013 at 14:26

    Waduh-waduh..pak Anwari, satu pelajaran yang sangat penting, semoga saya masih ada kesempatan lebih lama, untuk mengurangi apa saja yang tidak boleh dilakukan. Bagus dan perlu di contoh nih pak Anwari….

  6. Lani  14 January, 2013 at 13:01

    satoe cak Doel…….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.