Ini Adalah Proses Belajar

Dian Nugraheni

 

Hidup di negeri orang, dengan segala hal yang berbeda. Segala hal.., dari iklim, lingkungan, bahasa, kebiasaan, budaya… Butuh waktu panjang dan keteguhan hati untuk banyak belajar. Belajar untuk menyesuaikan diri. Belajar untuk bisa masuk dalam kehidupan yang sama sekali berbeda dengan negara asal kita. Hanya itu yang akan membuat kita nyaman menjalani hari-hari… Karena kita paham, kita tak mungkin bisa “plug and play”, langsung nyaman, langsung running well, ketika kita berada di suatu tempat asing…

So, my frens.., all frens especially in Indonesia, ini cerita-cerita kecil, bagaimana orang-orang yang aku lihat, belajar dan terus belajar dalam rangka penyesuaian diri, namun tidak sepenuhnya kehilangan, apa yang semula, sudah mereka punyai…

Bang Posma, teman yang tinggal bersama di apartemen kami, dia orang Batak. Di dalam kepercayaannya, yang namanya rumah, rumah tangga itu, tidak boleh ga punya beras, sebagai makanan pokok yang lazim disajikan di Indonesia. Katanya, kalau di suatu rumah, ga punya beras, maka seterusnya, rumah itu akan sulit untuk mendapatkan rejeki. Maka, sesuai dengan pemikirannya itu, Bang Posma akan selalu mengisi boksnya dengan beras, meski di kulkas tak ada telur, sosis, atau daging. Bahkan ketika Bang Posma, sama sekali tidak memasaknya, karena dia sudah makan di tempatnya kerja, dan pulang, tinggal istirahat sampai besok paginya berangkat kerja lagi.

learning

Hampir sama dengan sebagian orang Jawa, yang berpendapat, bahwa ketika kita menyelenggarakan perhelatan alias punya gawe, jangan sampai.., jangan sampai kita kekurangan makanan untuk disajikan dalam perjamuan. Artinya, jangan jumlah tamu, melampaui jumlah makanan yang disediakan. Kalau itu sampai terjadi, maka, dalam perhelatan atau kalau dia punya gawe lagi, mungkin akan terulang hal tersebut, jumlah makanan lebih sedikit daripada jumlah tamu yang diundang.

Bang Posma, secara filosofi sederhana, ada benarnya. Ya, beras aja yang makanan pokok kagak ada, gimana makanan lain yang ga pokok…

Atau orang Jawa dengan pendapatnya tentang kalau punya gawe, harap jangan sampai kekurangan makanan yang akan disajikan, dalam pandangan filosofi sederhana pun, itu masuk akal. Maksudnya, bila sampai hal tersebut terjadi, hal yang paling bisa diterima adalah, sang Punya Gawe, kurang tepat memperhitungkan antara jumlah undangan dan ketersediaan makanan. Hasilnya, tentu saja.., gak enaklah sama tamu, masa ngundang-undang tapi ga da makanan, pesta pula, boo… Maksudnya, kalau bikin pesta lagi, tolong diperhitungkan kembali segala kebutuhan, jadi ga akan kejadian, kekurangan sajian untuk tamu, getoo..

Lihatlah, ketika aku dan keluarga menghadiri suatu pesta pernikahan warga Indonesia di Maryland.., dari jarak kira-kira 50 meter menuju rumah mereka, sudah terdengar irama Timpring, musik Rebana…

Musik Rebana, di negara kita, biasanya, terkenal di kalangan kaum muslim. Musik Rebana ini ditabuh untuk mengiringi syair-syair pujian, ketika ada pesta, seperti, kelahiran bayi, pernikahan, peresmian pembangunan masjid atau mushola, pernikahan, khatam membaca Al Quran, selamatan mengantar kepergian naik haji seseorang, dan lain-lain yang sifatnya gembira.

Sungguh, sangat mencengangkan, sekaligus mengharukan, musik Timpring, musik Rebana ini aku dengar di Maryland, 22 jam perjalanan pesawat terbang dari Indonesia. Dan, sungguh, secara jujur, di kotaku yang kecil, Purwokerto, Jawa Tengah pun, ini sudah sangat jarang aku temukan. Bahkan secara pribadi, 5.5 tahun di kota itu, aku, belum pernah mendengar atau melihatnya lagi. Paling akhir, pernah aku saksikan ketika 20 tahun lalu, kerabatku menikah di suatu desa kecil di kota Purworejo, Jawa Tengah.

Dan, dalam pesta pernikahan di Maryland ini, tamu-tamu yang kebanyakan orang-orang Indonesia, berusaha tampil sangat Indonesia. Menangis aku, ketika melihat mereka mengenakan kebaya-kebaya, yang sudah sangat tampak lawas, “jadul”, yang kalau di Indonesia, orang sudah akan menggantungnya di lemari, dan menggantikannya dengan kebaya-kebaya yang mengikuti mode, baik jenis kain, warna, maupun modelnya…

Ya, mereka mengenakan kebaya yang sudah “jadul”, yang mungkin mereka bawa bertahun-tahun lalu dari Indonesia, ketika mereka pergi ke Amerika.

Menangisku, bukan karena prihatin pada kebaya-kebaya mereka yang jadul, tapi aku menangis terharu, bangga, dan sangat berterimakasih pada mereka, meski bagaimana juga keadaannya, mereka tidak “meninggalkan” adat luhur mereka. Tetap “Indonesia.”

Ini terjadi pula pada putri kecilku yang sudah mulai beranjak remaja, teenage.. Di usianya yang 11 tahun, kelas 6 Middle School (kelas 1 SMP), di Swanson Middle School.

Di Indonesia, dia tidak pernah ribut dengan “pake baju apa ke sekolah, Mam? Yang mana? Ini cocok ga sama jinsku?” Yaahh, karena di Indonesia dia pakai baju seragam.., so, aman-aman saja masalah baju sekolah. Sedangkan di sini, sekolah tidak berseragam, mana dia sudah mulai ‘puber’.., gini deh jadinya.

Si Teenage juga mulai banyak memandang cermin, “Mah, tolong potong rambut depanku. Aku pengen punya poni..”
“Lah, gak usah, Kak, rambutmu kan ikal, ga bisa di poni, bisanya dijambul..,ni kayak Mamah, rambut kita kan sama..”
“Emohlah Mah, jambul apa si..,ga bagus, malu aku nanti…”

Dan setelah sedikit berdebat, maka kubantu dia potong poninya… He2, ga usah nunggu nanti-nanti, si Kakak langsung teriak, “Aduh, Mamah, knapa poniku gak mau nurut gini.., knapa poniku ga mau jatuh di dahiku. Mamah motongnya kependekannnn…!”

Aku langsung ketawa.., poni yang kuperkirakan masih cukup panjang, ternyata (memang) kependekan…Bisa bayangin kan, gimana poni kependekan, ngruwel pula…Hiks..hiks..

“Kak, Mamah kan bukan pemotong rambut di salon. Tadi itu sudah Mamah kira-kira, masih cukup nutupin dahi, lha kalau hasilnya tampak kependekan, bukan karena motongnya, tapi karena ikal, jadi pas dilepas dari gunting, ponimu langsung ngruwel, naik sendiri…Maaf dehhh.”

Yang terjadi selanjutnya, si Kakak sibuk mlulu di depan cermin. Dia jepetin poni, ditarik-tarik sedikit (dengan harapan cepat numbuh lebih panjang,he2.., mang sim salabim..), dan akhirnya dia bilang, “Punya jeli, gak?”
Jawabku, “Ada, di kulkas, Jelo…(puding)..”
“Mammaahhhh,” Teenageku mangkel…Tapi kami langsung ketawa-ketawa, lucu ngliat poninya… “Sebentar juga numbuh, gak usah terlalu dipikirin.., ok?”

Ini soal pakaian,ketika dia mengeluarkan rok agak mini, di atas dengkul. “Mau aku pakai skul besok.”
Aku bilang, “Boleh, tapi pakai legingmu, atau jins pinsilmu..”
“Gak, ah, teman-temanku juga pakai baju di atas dengkul, malah lebih mini..” Ya, meskipun ini Fall, musim Gugur, menuju Winter, musim dingin, tapi kalau sudah masuk ruangan skul, ya anget juga, karena ada mesin pemanas, jadi pakai baju mini pun, tidak akan menggigil.

“No, my girl, you can’t do that.., I’m sorry, you have to wear your legging, first..”
“Knapa si Mamah selalu ga boleh aku pakai baju pendek, celana pendek, bahkan sejak dari Indonesia.., aku jadi tampak jadul dan ga ngikutin mode!”
“Wauoww.., itu kamu sudah paham, Mamah ga suka kamu pakai baju-baju “terbuka.” Bukan berarti ga ikutin mode, Kak, orang pakai jilbab juga banyak yang tampil modis.. Temenmu, Rukiya, yang dari Gibouti, Afrika itu, moslem juga kan, dia tetap pakai kerudung, kan ? Kamu di Amerika, bukan berarti kamu boleh berubah total. Kamu tetap orang Indonesia. Dan terutama, kamu tetap anak Mama, yang Mama Papa bilang, baju, sama sekali tidak boleh terbuka atau nampak genit. Nanti kapan-kapan kita ke toko baju, Mamah pilihkan baju-baju “aman” yang modis, jadi kamu gak merasa jadul, tapi tetap nyaman.”

“Mang knapa kalau pakai baju-baju yang gmana dikit, kek..” (maksudnya yang mini, yang nyleneh-nyleneh…)

“Kak, kita akan dihormati oleh orang lain, kalau kita menghormati diri sendiri. Bagaimana kita bicara, menanggapi orang lain, bereaksi terhadap banyak hal…Sama, pakaian juga, kamu harus tetap jadi dirimu sendiri, tidak harus meniru orang-orang di sekitarmu. Boleh jadi, mereka nyaman pakai rok mini atau tank top, itu karena mereka membiasakan diri seperti itu. Tapi, kamu kan ga biasa pakai yang kayak gitu, pikirlah, apa akan nyaman? dan Mamah bilang, jangan memulai atau coba-coba membiasakan diri untuk memakai pakaian minim seperti itu, ga boleh, ga baik, banyak ruginya…”

“Hei, bukannya Kakak kemaren bilang, baju batik merah jambumu dipuji Mrs. Meijer? Itu baju yang manis, Kak, sopan, tapi tetap modis..” (Sebenere bajuku, baju Mamahe, tapi sudah sama gedenya, jadi boleh dong gantian pake…)
“Besok Mamah telpon Eyang, biar belikan baju-baju macam itu lagi, kirim ke mari buat kamu.”

“Oke lah.., jadi, besok pakai baju apa?” Remajaku tetap mendesak… Maka, aku bantu dia padu padankan ‘kostum’ buat skul besok hari. Aku ambil roknya yang agak mini tadi (sebenere juga bukan mini, tapi rok itu sudah kependekan, dulu ketika dijahit, juga panjang di bawah lutut…), sebuah celana panjang dari bahan kaos yang cukup tebal, dan kaos atasan panjang warna senada dengan rok. “OKe?” tanyaku minta persetujuan..
“Ok.., thanks.., bagus, cocok..”

Besoknya ketika akan berangkat skul, kulihat poninya mau “tidur”..,he2, dibasahin pakai air, untung ga nekad dikasih puding… “Jangan lupa jaketmu, Kak..” kataku ketika dia salim, mencium tanganku.
“Oce, Mamah.., see you..”
“Yeahh, Mamah akan kesepian dan sangat menunggu kalian pulang skul. Jangan lupa berdoa, Iloveu…” kataku.

Wealah.., begitulah Teenage.. Kita harus tetap tolong mereka, untuk menunjukkan hal-hal, yang appropriate, tepat dalam banyak hal…with your love…

(Sekarang, show time.., waktunya ibu rumah tangga bersih-bersih rumah, nyuci, masak, dan seterusnya…)

North Carlin Spring, 
Arlington, Virginia, 

Dian_Only, 
Di sini jam 12.00 tepat, musim Gugur, menuju Winter 
Tanggal 2 November 2009

 

8 Comments to "Ini Adalah Proses Belajar"

  1. atra lophe  16 January, 2013 at 18:48

    cerita ini sangat menyentuh. sering kali apa yg terjadi pada kita tergantung pd apa yg kita pikirkan…

  2. anoew  15 January, 2013 at 12:41

    Hiduplah Indonesia Raya!

  3. Dj. 813  14 January, 2013 at 21:04

    Mbak Dian…
    Terimakasih….
    Untuk cerita yang baik, memang tidak mudah mendidik anak dilingkungan
    yang beda dengan saat kita dewasa di Indonesia.
    Tapi kalau sejak kecil sudah diberi pengertian dengan komunikasi yang baik, maka
    Kami tidak pernah ikut campur soal pakaian anak-anak.
    Sejak kecil, apa yang kami beli, ya mereka pakai.
    Jelas kami tidak belikan yang aneh-aneh.
    Nah, setelah mereka punya penghasilan sendiri, maka apa yang mereka mau beli, ya
    terserah mereka, wong uang-uang mereka sendiri.
    Tapi ternyata, mereka tetap pakai pakain yang normal,karena kebiasaan sejak kecil.
    Jadi tidak perlu kita ajari lagi.
    Kalau mbak Dian baca oret-oretan Dj.maka bisa dilihat,anak-anak kami sangat cinta Indonesia
    bahkan bangga dengan darah yang mengalir ditubuh mereka, yang sebagagian darah Indonesia.

  4. J C  14 January, 2013 at 17:20

    Luar biasa, Dian! Luar biasa!

  5. Wusi  14 January, 2013 at 15:29

    Terharu bacanya, banyak persamaan-persamaan yang terjadi. Senang bisa menemukan banyak teman disini

  6. Dewi Aichi  14 January, 2013 at 15:14

    Mamah Dian, kau memang ibu bijak, aku suka dengan berbagi pengalamanmu di sana….bagus banget….

  7. juwandi ahmad  14 January, 2013 at 14:42

    Dan, dalam pesta pernikahan di Maryland ini, tamu-tamu yang kebanyakan orang-orang Indonesia, berusaha tampil sangat Indonesia. Menangis aku, ketika melihat mereka mengenakan kebaya-kebaya, yang sudah sangat tampak lawas, “jadul”, yang kalau di Indonesia, orang sudah akan menggantungnya di lemari, dan menggantikannya dengan kebaya-kebaya yang mengikuti mode, baik jenis kain, warna, maupun modelnya…

    Menangisku, bukan karena prihatin pada kebaya-kebaya mereka yang jadul, tapi aku menangis terharu, bangga, dan sangat berterimakasih pada mereka, meski bagaimana juga keadaannya, mereka tidak “meninggalkan” adat luhur mereka. Tetap “Indonesia.”

    Itulah bagian yang paling saya suka dan mengharukan. Hal itu sekaligus memberi petunjuk bahwa dalam hal hal semacam itu, hati dan pandangan kita sama. Terimaksaih mbak Dian.

  8. probo  14 January, 2013 at 11:45

    satuuuuuu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *