Membawa Sepatu

Taufik Daryanto Jokolelono

 

Dua orang saleh dan terhormat pergi ke masjid bersama-sama. Orang pertama melepas sepatunya, lalu meletakkannya dengan rapi, sebelah menyebelah, di luar pintu. Orang kedua melepas sepatunya, mengimpitkan kedua alas sepatunya dan membawanya masuk ke masjid.

Terjadilah percakapan di antara sekelompok orang saleh yang duduk-duduk di dekat pintu masjid, siapa dari kedua orang tadi yang lebih saleh. “Jika orang masuk masjid telanjang kaki, bukankah lebih baik menaruh saja sepatunya di luar?” tanya seseorang. “Tetapi tidakkah kita harus mempertimbangkan,” kata yang lain, “bahwa orang yang membawa masuk sepatunya ke masjid mengingatkan dirinya bahwa ia sedang dalam keadaan kerendahan hati yang pantas?”

sepatu

Ketika dua orang itu selesai sembahyang, mereka ditanyai terpisah oleh kedua kelompok yang berbeda pendapat tadi.

Orang pertama menjawab, “Saya meninggalkan sepatuku di luar dengan alasan biasa. Jika seandainya ada orang bermaksud mencuri sepatuku maka ia akan memperoleh kesempatan untuk menangkis godaan itu, dan dengan kemudahan memperoleh kebaikan bagi dirinya sendiri.” Para pendengar sangat terkesan oleh kemuliaan hati orang saleh itu, yang menganggap harta miliknya sepele sehingga merelakan saja semuanya kepada nasib.

Orang kedua, pada saat yang sama, berkata, ‘”Saya membawa masuk sepatuku ke masjid sebab jika kubiarkan di luar mungkin akan menggoda seseorang untuk mencurinya. Siapa pun yang menyerah pada godaan tersebut tentu akan membuatku terlibat juga dalam dosa.” Para pendengar terkesan sungguh oleh ucapan yang saleh itu, dan mengagumi kedalaman pikiran orang suci tersebut.

Namun, ada orang lain, seorang bijaksana juga, yang hadir di tengah mereka, berseru, “Sementara kalian berdua dan para pendengarmu terlena dalam perasaan puasmu, saling berceloteh tentang ibarat yang diandaikan, ada hal-hal nyata telah terjadi.”

“Apa itu?” tanya kerumunan orang itu.

‘”Tak ada orang yang tergoda oleh sepatu itu. Tak ada orang yang tidak tergoda oleh sepatu itu. Pendosa khayalan itu tak pernah lewat. Justru seorang yang tak punya sepatu untuk dibawa masuk atau ditaruh di luar pintu, masuk ke masjid. Ia tidak menyadari pengaruh yang diberikannya atas orang-orang yang melihatnya maupun yang tidak melihatnya. Tak ada seorang pun yang memperhatikan perilakunya. Tetapi, oleh karena ketulusannya, doa-doanya di masjid hari ini secara langsung menolong orang-orang yang ingin mencuri, yang mungkin betul-betul mencuri atau tidak jadi mencuri atau memperbaiki diri mereka ketika menghadapi godaan.”

Belum jugakah kalian mengerti bahwa sekadar perilaku yang disadari, betapa pun mulia itu dalam pemandangannya, sesungguhnya tak berarti bila dibandingkan dengan pengetahuan bahwa ada sungguh-sungguh orang bijaksana yang sejati?

 

9 Comments to "Membawa Sepatu"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 January, 2013 at 17:41

    Membawa sepatu/sendal ke dalam masjid sungguh bukan perbuatan baik. Lepas dari masalah falsafah tentang kehidupan yang disimbolkan. Alasannya sangat sederhana.

    Sepatu kotor sangat mungkin mengandung kotoran binatang yang terinjak.

  2. awesome  16 January, 2013 at 10:15

    jadi teringat sama kisah maling pakaian dalam jaman di asrama putri dulu ,,,,
    waktu diceritain mikirnya “ah ya masak?”
    sampai mengalami sendiri X(

  3. Dj. 813  16 January, 2013 at 01:22

    Kalau Dj., dikasipun tidakmau, apalagi mencuri.
    Sepatu atau sandal yang sudah dipakai orang lain yang mungkin kakinya ada boroknya…
    Jelek-jelek milik sendiri.

    Salam,

  4. anoew  15 January, 2013 at 22:23

    itu kan cerita seorang teman…

  5. J C  15 January, 2013 at 22:00

    Komentar nomer 3…jiiiiiaaannn…

  6. [email protected]  15 January, 2013 at 16:43

    kalo sendal jepit gimana?…. merek swallow….

  7. anoew  15 January, 2013 at 12:35

    ada seorang teman pernah cerita tentang isi khotbah yang didengarnya yaitu kurang lebih

    “tinggalkan yang buruk dan ambillah yang baik-baik saja”

    dan teman itu melaksanakannya dengan taat, ketika pulang dia meninggalkan sandalnya yang buruk lantas mengambil sandal lain yang lebih baik.

  8. Dewi Aichi  15 January, 2013 at 11:20

    Ciri khas dari tulisan mas Taufik, singkat tapi padat dan sangat dalam maknanya, terima kasih mas Taufik atas renungannya…sangat bermanfaat…semoga

  9. James  15 January, 2013 at 11:09

    SATOE, Bawa Sepatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.