Imogiri oh Imogiri

Ikha Ismawatie

 

Lagu Jogjakarta yang dinyanyikan KLA Project bukan hanya enak didengar karena suara merdu dari Katon tapi juga sangat meresap ke dalam hatiku, bukan hanya karena aku pernah merasakan banyak cerita manis di sana, tapi Jogja memang benar-benar sebuah tempat yang bisa memberikan kesan yang tak pernah bisa dilupakan. Banyak tempat yang bisa dikunjungi, membuat setiap orang yang pernah kesana akan selalu rindu untuk kembali kesana lagi.

Aku sudah berpuluh-puluh kali ke Jogja, tak ada sedikitpun rasa bosan, setiap ada kesempatan libur aku akan menghabiskan liburanku di sana. Liburan murah meriah dan mengasyikkan itu yang dicari orang yang pas-pasan seperti aku. Aku memilih liburan di Jogja karena ada saudara di sana, setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan biaya penginapan, mau pergi kemana-mana juga sudah disiapkan sepeda motor, dan yang paling aku suka, setiap aku balik ke Kudus pasti diberi uang saku…hehehe…

Entah ini yang ke berapa kali aku ke Jogja. Kunjunganku yang ini emang dadakan, karena takut pada ancaman sepupuku jadi aku ke Jogja tanpa banyak persiapan. Kalau biasanya aku sudah mengatur jadwalku sedemikian rupa selama di Jogja, tempat mana saja yang akan aku kunjungi, kali ini sama sekali ga merencanakan apapun.

Tiga hari di sana yang ada di otakku hanya Malioboro yang memang wajib dikunjungi, dan pantai Kuwaru yang membuat aku penasaran. Berarti waktuku masih banyak yang kosong, enaknya pergi ke mana ya? Di tengah kebingungan tiba-tiba bulekku menawarkan mau mengajak kami ke makam raja di Imogiri dan Gua Cerme. Ajakan itu kami (aku dan adekku) sambut dengan senang hati.

Pagi sekali kami berangkat, ternyata tempatnya ga begitu jauh dari rumah bulek, kenapa selama ini ga terpikir ke tempat itu ya? Tempat yang kami kunjungi pertama adalah makam raja di Imogiri, setelah menitipkan sepeda motor kami berjalan. Ternyata di tempat itu banyak orang yang datang, ada yang berolah raga, ada juga yg datang hanya untuk sarapan pagi, memang di situ banyak sekali pedagang makanan. Pas banget pikirku, setelah capek jalan kaki trus sarapan pagi…hehehe…

imogiriSetelah berjalan di jalan beraspal kami menemui anak tangga, jarak masing-masing anak tangga sangat jauh, itu artinya jalannya landai tidak terlalu naik. Dengan sombongnya aku berteriak “Ach ini sich kecil, ga ada apa-apanya dengan yang di Makam Sunan Kudus”.

Adekku juga meng-iya-kan, bulekku hanya tersenyum. Sebagai orang asli Kudus bulekku tau apa beda tempat ini dengan yang ada di Makam Sunan Kudus. Berjalan sambil berbincang-bincang tak terasa sampai di satu gapura yang berada di sebelah kiri kami, aku merasa berhasil sampai dengan selamat tanpa ngos-ngosan. Sebelum berangkat bulekku sudah berpesan kalau ga kuat nanti ga usah sampai atas, kita sarapan saja. Ach ternyata cuma segini, ini sich ga bikin berkeringat.

“Makamnya di sebelah mana?”, tanyaku.

“Itu”, jawab bulekku singkat sambil menunjuk ke atas.

“Hah???? Mampus dech”, sesalku sambil menepok jidatku.

“Kuat ga? Kalau ga kuat, kita balik aja nok. Kita sarapan dan minum wedang uwuh, kamu belum pernah kan?”, tanya bulekku untuk memastikan aku kuat apa ga. Semetara itu aku melihat adekku sudah berjalan duluan, kalau aku bilang ga kuat gengsi dong, tapi kalau aku naik ke atas kuat ga ya? Waktu ke makam Sunan Muria aja kakiku sakit selama seminggu, lha ini aku lihat walaupun ga sejauh di makam Sunan Muria tapi tingkat kemiringannya sedikit, bisa aku bayangkan pasti akan sangat berat naik ke sana. Tapi aku ga mungkin menjilat ludahku sendiri.

Akhirnya aku putuskan untuk naik ke atas, adekku sudah setengah perjalanan. Bulekku karena sudah terbiasa ke tempat itu aku lihat santai aja naik tangga, di sekitarku banyak anak yang lari-lari naik turun tangga. Huaaaaa…. Rasanya pengen nangis, inilah ganjaran untuk orang yang sombong, tapi aku pikir kalau ga dicoba kita ga akan pernah tau apakah kita bisa atau tidak. Hidup itu pilihan dan harus diperjuangkan. Halah… Naik tangga aja ngomongin soal hidup, lebay dech.

Dengan tubuhku yang super jumbo ini ga mudah…hiks…hiks…

Adekku sudah melambaikan tangan di atas sana, sementara bulekku juga hampir sampai, aku masih terseok-seok berjuang dengan nafasku yang memburu. Aku sudah dilewati banyak orang, tapi cuek aja ach, toh ak ga kenal mereka.

Horrrrreeeeeeeeee….. Akhirnya aku sampai di atas. Ternyata Ikha bisa euy… Di tempat itu banyak sekali makam, bukan hanya makam raja tapi juga ada makam-makam dari keluarga kerajaan dan beberapa orang yang berjasa untuk kerajaan seperti arsitektur kerajaan. Di setiap makam terdapat tulisan nama dan keterangan siapa beliau. Aku melihat ada bangunan yang retak, kata bulekku itu akibat gempa. Pada saat gempa dulu banyak rumah yang roboh tapi bangunan makam ini masih utuh, berarti bangunannya sangat kokoh. Sayang sekali kami tidak bisa masuk ke makam raja karena ditutup dan katanya dibuka pada hari-hari tertentu saja.

imogiri1

(Koleksi Tropen Museum, Belanda)

Ada beberapa makam yang disendirikan, yang ditutup dengan pintu berukiran indah. Ada juga penjual makanan dan minuman. Setelah puas berjalan-jalan aku duduk di anak tangga sambil melihat orang-orang berlalu lalang. Dan tentu saja sambil berpikir keras bagaimana caranya aku bisa cepat sampai ke bawah tanpa melalui tangga itu. Aku berkhayal seandainya aku bisa terbang…hehehe…

“Pulangnya harus lewat situ lagi ya?”, tanyaku pada bulek sambil memasang wajah memelas, siapa tau ada ojek seperti di Makam Sunan Muria.

Karena bulek sering ke situ jd tau ada jalan lain, lewat jalan beraspal di samping makam. Sebelumnya aku juga melihat dari kejauhan ada segerombolan anak muda yang melewati jalan setapak seperti di tengah hutan. Kamipun memilih jalan itu, walaupun lebih jauh tapi tidak perlu lewat tangga. Kami bertiga berjalan beriringan sambil bercerita sehingga tidak begitu memperhatikan sekeliling. Ada sebuah suara yang menyapa kami, “konco-koncone mau yo okeh sing lewat kene nok”, suara seorang simbah sepuh perempuan yang artinya teman-temannya tadi juga banyak yang lewat sini. Bulekku hanya menjawab “Nggih mbah”.

Praaaaakkkkkk….. Tiba-tiba ada suara keras yang mengagetkan kami, ternyata simbah tadi menjatuhkan dirinya ke dipan (tempat tidur dari papan) dengan menutup mukanya dan entah berbicara apa yang kurang jelas di pendengaranku. Begitu aku menoleh ke adekku ternyata dia mau mengambil gambar simbah itu. Aku sedikit ketakutan karena itu tempat wingit, hanya ada satu rumah dan seorang simbah tua. Bulekku meminta maaf, simbah itu hanya menjawab iya tanpa mengangkat mukanya. Sambil berjalan aku terus melihat ke belakang memastikan rumah itu masih ada, bulek meyakinkan aku memang simbah itu beneran manusia. Sedikit lega tapi tetap ada sedikit rasa takut.

Ternyata di tempat itu bukan hanya makam raja, tidak jauh dari situ terdapat makam seniman dan budayawan yang bernama Makam Giri Sapto. Aku ga berniat ke makam itu karena naiknya juga lumayan, aku sudah tidak kuat lagi…hehehe…

Akhirnya sampai juga di area parkir, itu artinya saatnya sarapaaaannnnnn…..

Di situ terdapat banyak penjual makanan, tidak ada warung tapi hanya lapak terbuka yang memanjang. Kami memilih satu tempat yang makanannya lebih komplit, di sini semuanya prasmanan jadi kita bisa mengambil makanan seberapapun yang kita mau. Tidak hanya nasi tapi ada juga bubur dari beras yang disediakan di situ. Selain itu ada bermacam-macam sayuran,lauk pauk, dan minuman. Aku mengambil nasi dan pecel. Aku penasaran dengan sayuran yang dipakai sebagai pecel. Baunya aneh di indera penciumku. Kalau di gunung Muria ada namanya pecel pakis, itu dari daun pakis, rasanya enak. Tapi di sini baunya sengur begitu aku menyebutnya, ternyata itu daun kenikir. Di tempatku ada tapi sepertinya tidak ada yang menggunakannya untuk bahan makanan. Karena penasaran bagaimana rasanya, akupun mengambilnya sedikit, dan ternyata aku tidak doyan. Sebagai lauknya aku memilih telur dan tempe koro. Tempe koro ini sama seperti tempe biasa hanya saja bahan yang dibuat dari kacang koro (bentuknya besar-besar).

Minumnya aku memilih wedang uwuh. Bahan bakunya rempah khas Indonesia, yaitu daun dan ranting cengkeh, daun pala, daun manis jangan, kayu secang, jahe, ditambah gula batu. Macam-macam rempah itu diseduh dengan air mendidih, warnanya yang kemerahan berasal dari kayu secang. Rasanya enak, khasiatnyapun banyak bisa menyembuhkan batuk, capek, masuk angin, pegal, dan kembung.

Selain bisa diminum di situ wedang uwuh ini juga disediakan dalam bentuk kemasan, harganyapun murah hanya Rp. 1000,- / bungkus. Bisa dijadikan oleh-oleh, membuatnyapun gampang hanya diseduh dengan air panas karena semua bahan sudah ada di situ.

Setelah selesai sarapan kamipun pulang, sebenarnya bulek mengajak kami ke gua cerme seperti rencana sebelumnya, tapi aku menolaknya karena badanku rasanya sudah remuk. Walaupun penasaran ingin tau seperti apa gua cerme ini yang selama ini aku tau itu tempat tinggalnya Mak Lampir. Maybe next trip aku akan ke sana. Semoga….

 

31 Comments to "Imogiri oh Imogiri"

  1. Ikha Ismawatie  17 January, 2013 at 02:38

    Hahaha…. Impas ya mas Dj.

    Ga tau brp mb Lani, ga sempet ngitung….hehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.