Lanskap Biru

Atra Lophe

 

Matanya menatap dalam. Menembusi  ruang dalam hatiku yang kini sedang resah. Adakah ia sedang menebak apa yang kurasa? Sebab sejak tadi ia tak menanyakan apa-apa padaku. Ia hanya terdiam dan sesekali menawarkan sebatang kretek untukku.

Kembali mata itu menembusi ruang-ruang dalam hati. Kali ini, tatapannya nanar. Mungkinkah ia telah menemukan jawaban atas pertanyaannya? Jika tadi ia menawarkan kretek, kali ini ia mencoba mendekatkan bibirnya ke telingaku. Suaranya mendesah pelan. Wangi parfumnya menabur ke sela-sela udara yang menusuk ke hidungku. Sedangkan nafasnya membentuk harmoni indah.

Aku tetap terdiam. Bukan tak mau peduli pada setiap pertanyaan dan ceritanya. Tetapi aku memikirkan sedang apa kau di sana wahai kekasihku?

Sesaat kami terdiam.  Pikiranku melayang jauh entah menari atau sedang berlari kedunia antah berantah mana. Lagi-lagi ia menarik dan mengusap jemari yag kini terkulai.

“Kamu…. maaf. Aku boleh ngomong?” tanyamu membuka keheningan.

“Ada apa?”

“Aamu ada masalah? Eh… maksudku, kamu baik-baik aja kan?”

Kulihat kau bersikap sangat hati-hati. Merasa bersalahkah kau atas pertanyaan itu? Desahku dalam hati. Jika memang ya, bukan kamu yang seharusnya merasa seperti itu. Harusnya aku yang merasa bersalah dengan keadaan ini. Aku telah menyeretmu sejauh ini. Membawamu dalam luka yang tak pernah sembuh. Seandainya saja bisa kukisahkan ini padamu, akankah kau mau mengerti?

“Ingatkah kau sebelum hari itu, saat aku menemuimu dan mengatakan aku ingin berjalan bersamamu.  Merasakan rekahan kuntum-kuntum kebahagiaan musim semi. Juga merasakan gugurnya daun jati saat kemarau. Atau juga merasakan tumbuhnya ilalang di halaman rumah saat musim hujan. Saat itulah mataku memancarkan sejuta kegelisahan.”

“Aku tidak pernah bercerita tentang ini padamu. Tentang perempuan yang dulu pernah mengubah warna hidup ini. Dia memberiku segalanya, dan itu atas nama cinta sekaligus  luka. Ia mencintaiku dan aku tahu itu. Tetapi sayangnya, aku tidak pernah bisa membalas cintanya. Aku hanya memanfaatkan selangkangannya. Menindihnya saat ia bahagia atau pun lelah. Menciumnya dengan nafsu dan bayang-bayang kotor dalam pikiran yang kian penat. Bagiku, vaginanya adalah pasangan  dari penis ini untuk mendistribusikan sperma bejat yang tak pernah henti diproduksi.”

“Ia terlampau baik padaku. Sejauh aku mengenal kaum hawa, dialah makhluk dari kaum itu yang paling baik sekaligus bodoh. Ia membuat aku menjadi seperti penguasa. Sedangkan ia menempatkan dirinya sebagai budak. Sungguh betapa, ah tak ada kata yang pantas untuk mengungkapkannya. Tetapi, kenapa aku tak bisa mencintainya?”

“Hari itu ia mengatakan kabar buruk bagiku, yang tentunya baik untuknya. Dia hamil. Aku ingat betul wajahnya yang ceria dan sumringah saat itu. setelah mendengar gertakanku, keceriaan itu pun pudar. Ia menangis terisak sambil mengelus perutnya. Selirik doa dipanjatkannya pada yang Kuasa. Berharap, hatiku berubah.”

“Memang, setan selalu bersamaku. Menemaniku sejak aku lahir hingga aku mati, sekali pun aku belum mati. Setelah hari itu, dia pergi dan hanya meninggalkan sebuah pesan singkat  dan diletakkannya di sebelah secangkir kopi. Maaf, jika aku pernah berbuat salah. Aku dan anak kita, pamit ya. Itulah pesan yang ia tulis. Saat itulah aku tahu, segera aku akan menjadi seorang bapak. Memiliki bayi mungil, ah tak terlukiskan betapa bahagianya.”

“Tetapi iblis memang selalu melekat denganku. Setelah tangisan itu pecah kebejatan itu muncul lagi. Aku datang menemuimu. Mengatakan ingin bersamamu selamanya. Ah, sebeginikah bodohnya aku? Adakah maaf di hatimu untukku? Aku tidak yakin.”

“Sayang, kamu terlihat lelah. Kita pulang ya?” suaramu memecah lamunanku.

“Sekarang jam berapa? Kamu tidak betah di sini?” aku mencoba jawab seadanya.

“ Kita di sini sudah hampir 6 jam. Dan kamu hanya diam. Membosankan!” ketus suaramu mengisyaratkan kekesalan yang dalam.

“Sayang, kamu lihat perempuan dan anak kecil yang di sana? Anak itu manis sekali. Lucu.. Sedari tadi aku perhatiin, ia selalu membuat ibunya tersenyum.” Lanjutmu manja sembari menggandeng tanganku dan beranjak pulang.

“Dia anakku.” Keluhku dalam hati.

Dan senja pun jatuh perlahan dalam melodi kegelisahanku.

blue sky Nature landscape

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Lanskap Biru"

  1. atra lophe  18 January, 2013 at 22:06

    makasih bang J C….
    @mba kornelya…. hehehhe. mau?

  2. Kornelya  18 January, 2013 at 04:41

    hik hik hik. Tetaplah bersamanya.

  3. J C  17 January, 2013 at 21:06

    Gaya bertutur yang lugas luar biasa…

  4. atra lophe  17 January, 2013 at 15:47

    saya pun bingung… kenapa mesti begitu ya ceritanya??
    wah, ini kerjaan jari ma kepala ini..hahaha

  5. Dewi Aichi  17 January, 2013 at 14:33

    Aduhhhhh….kenapa terjadi?

  6. [email protected]  17 January, 2013 at 09:19

    uhuk… miris sekali…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.