Ngintip

Dian Nugraheni

 

Di Amerika, orang awam, banyak yang tidak bisa bahasa Inggris. Nah lo.. gimana coba, hidup di Amerika kagak tahu bahasa Inggris?

Banyak cerita, kalau kita lihat, banyak orang-orang Indonesia yang “nyasar” di Amerika ini. Aku bilang nyasar, karena, dari cerita mereka sendiri, mereka bilang, bahwa semula, mereka adalah TKW, Tenaga Kerja wanita yang dikirim ke negara -negara Arab, seperti Saudi Arabia dan Kuwait, kemudian para TKW ini mengikuti majikannya majikannya yang pindah ke Amerika, dan ketika majikannya pulang kembali ke negara Arab, si Mbak-mbak ini dah tidak mau ikut Tuannya ke sana. Mereka sudah pintar membedakan, “lebih enak di Amerika daripada di negara Arab, lebih butuh dollar daripada dinar.”

Jadilah si Mbak-mbak ini tinggal di Amerika, kerja pada orang-orang bule, atau kerja pada orang-orang Timur Tengah yang tinggal di Amerika, dan menurut mereka, ini lebih baik dibandingkan ketika mereka menjadi TKW di negara-negara Arab. Tentu saja para TKW ini merasa lebih baik hidup dan bekerja di Amerika, karena di sini, hukum berlaku sangat ketat, termasuk soal berapa upah yang harus dibayarkan, berapa lama jam kerjanya sehari, berapa dia akan dibayar overtime, dan hampir, nggak pernah ada berita TKW diperkosa atau disakiti oleh Juragannya di Amerika. Di Amerika, hal seperti ini bukan hal yang mudah terjadi, bukan hal yang main-main, karena pelaku kriminal seperti itu akan langsung ditangkap polisi, diproses, dan akan dihukum sesuai dengan kejahatannya. jadi, para TKW ini, di Amerika, pastilah aman…

Language_Barrier_by_lynxie06-756677

Kebanyakan mereka senang bekerja sebagai nanny, pemomong anak. Katanya, santai, ya bisa dibilang tidak butuh skill, dan modal mereka cuma bilang “Don’t eat..!” ketika anak momongannya mau menggigit sesuatu yang tidak boleh dimasukkan mulut. atau, “bed time..”, ketika jam tidur bagi momongannya tiba. Cukup… Tidak perlu tahu banyak kata, vocab..he..he…

Lucu lagi ketika aku ngantar anakku yang sekolah di SD, 10 menit jalan kaki dari apartemen. Memang sebagian dari mereka adalah orang-orang yang berasal dari Bolivia, Meksiko, Jamaica, Salvador, yang asli mati : berbahasa Spanyol!

Kenapa aku bilang asli mati, coba?

Begini critanya…Pas aku datang ke sekolah, mau ngganti baju anakku dengan baju daerah untuk Parade waktu itu, aku nanya ke seorang Ibu, “where’s the assembly room?” (maksudnya ruang ganti, untuk berdandan anak-anak). Apa yang terjadi? si Ibu nyolek anaknya yang juga baru kelas tiga, dugaanku, si Ibu bilang sama anaknya, “Nduk, apakah kamu tahu apa yang Ibu ini (aku) bilang? Dia pakai bahasa Inggris, Mamahmu ini ga tau sama sekali, tolong jawablah…”

language barrier

Kemudian si Anak bilang padaku, “Maaf, Mamahku cuma bicara Spanyol. Oh, ruang asembli ada di ruang No. 1..” Aku bilang, “Terima kasih banyak, manis..”

Bukankah itu sama saja, tanpa bermaksud merendahkan bangsa kita sendiri, ketika seorang Jawa Tengah nggunung ketemu dengan orang Sunda udik… Sama-sama cuma bisa bahasa Jawa Tengah, dan cuma bisa bahasa Sunda totok, tapi tidak bisa bahasa Indonesia…

Satu lagi pengalamanku soal berbahasa dan dialeknya, ketika aku di toko Marshall, huih, tokonya luas bener, sepanjang mata memandang adalah deretan-deretan pakaian tergantung. Puyeng deh ngeliatnya. Di Indonesia pun aku benci masuk toko yang rumet penuh barang begini. Salah-salah bisa pingsan…

Sementara suami dan anak-anakku di deretan lautan baju, aku mojok di counter kelompok art, pernik-pernik, gitu, tapi ya dekat juga dengan deretan baju-baju bayi. Tiba-tiba aku dengar seseorang bicara, yang aku duga pasti bicara per telpon, sambil cegukan. Cegukannya tidak tanggung-tanggung, nyekek banget, layaknya penyanyi dangdut memainkan cengkok dalam lagunya, tapi juga agak-agak “tersiksa”.

cegukan

Aku deg-degan, karena aku pikir perempuan itu, jangan-jangan perlu pertolongan. Bukankah kita bisa dipersalahkan, bila mengetahui orang lain dalam bahaya, tapi kita diam saja?

Nih, aku contohin dia ngomongnya, dalam bahasa Indonesia, “Hei, broe.. (brother), aku lagi di Marshall nih (ceguk..), Iya, aku lagi mau cari baju hangat buat bayiku (ceguk..), ohh, tidak..tidak, hanya beberapa baju (ceguk..), oke lah tak mengapa, sebentar juga selesai (ceguk..).

Cepat-cepat aku masuk ke lorong di mana perempuan itu berada, dari jarak beberapa langkah aku perhatikan, ga langsung aku tanya kenapa cegukan, apa butuh pertolongan…

He..he.., dasar manusia penuh irama! Bener dah, dia baik-baik saja, kagak cegukan, tapi memang aksen bicaranya, kayak orang cegukan. Yaa, demikianlah, hanya kaum Hitam di Amerika yang mempunyai gaya berbicara yang lain daripada yang lain, iramanya turun naik berirama. Bicara mereka lebih sering kedengaran seperti rapper lagi ngerap di panggung.Huahh..huahh..cepek pula daku ini.. He..he..he…

 

Salam Cegukan…

Virginia,

Dian

 

Di sini jam 11.59, Dzuhur, hari Kamis 12 November 2009

Sisa Fall menuju Winter

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

6 Comments to "Ngintip"

  1. Our Daily Bread  24 January, 2013 at 09:24

    Mbak Dian,itu namanya shy shy cat,bukan cegukan
    Salam dari MN 56557 suhu lagi -20F

  2. Kornelya  18 January, 2013 at 04:36

    Mba Dian aku juga prihatin dengan imigran apalagi saudara kita dari Indonesia yg malas belajar bahasa Inggris. Padahal tempat belajar gratis ataupun murah meriah bertebaran dimana-mana. Ditempat tinggalku selain di library, adult education juga ada di central school district. Kami bertiga murid abadi untuk bahasa Spanyol. Kalau mau belajar bahasa China dan Arabpun gurunya diadakan, ongkosnya $75/3 bulan. hehehe

  3. Linda Cheang  17 January, 2013 at 23:13

    ealah….

  4. J C  17 January, 2013 at 21:11

    Untungnya daya tangkapku untuk bahasa baru cukup cepat…

  5. Anastasia Yuliantari  17 January, 2013 at 09:19

    Untung ga dibawain air, disangka cegukan beneran. Salam cegukan juga. Di sini jangan sampai cegukan krn td lupa bawa air.

  6. [email protected]  17 January, 2013 at 09:14

    absen… no 1
    hmmm…. kenapa jg masih ngirim TKI ke arab ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *