Senja di Taman Sari dan Naik Angsa Bintang

Probo-Sekar-Dewi-Tia-Alfred-Juwandi

 

Saya menilpon Tia Yuliantari untuk menungguku di gedung utama UGM, karena cuaca tidak mendukung, setiap sore Jogja diguyur hujan. Maka saya pikir, lebih baik berangkat bareng saya. Saya berangkat menuju UGM dengan di antar adik saya pakai motor. Di pintu gerbang utama, sudah terlihat Tia berpayung untuk melindungi tubuhnya dari sisa-sisa hujan, sedikit gerimis. Seketika itu saya teringat pose Tia dengan payung daun pisang, ahh..Rihanna dengan umbrella.

Kemudian dari UGM kami menggunakan taksi  untuk menjemput Alfred di kampus universitas Sanata Dharma. Setelah menunggu beberapa menit, muncul juga Alfred dengan gaya khasnya. Anak muda banget he he. Kami setengah teriak memanggil Alfred yang posisinya berada di seberang jalan. Mempersilahkan masuk ke dalam taksi. Lalu kami menuju ke Pendopo Siti Hinggil Alun-Alun Kidul atau Alkid kata orang Jogja. Di sana sudah menunggu makhluk halus bernama Juwandi Ahmad dengan senyum-senyum melihat kedatangan kami.

Saya bilang makhluk halus karena saya menilai bahwa mas Juwandi berkepribadian sangat santun, halus, walau kadang membuat kami berbahak-bahak dengan kelakarnya. Setelah kedatangan bu Probo dan suaminya yaitu mas Effy,juga putrinya Ama, kami terlebih dahulu menikmati wedang ronde.

tamansari (1)

Dari Alkid kami menuju ke pasar burung Ngasem, tepatnya di Taman Sari Jogjakarta.Sebuah taman yang tampak bukanlah taman-taman yang ada tumbuhan dan tanaman bunga-bunga. Melainkan ini adalah merupakan bangunan seperti bekas bangunan keraton, yang memang merupakan situs bekas taman istana.

Kami menuju ke Taman Sari berbonceng-boncengan, Alfred dan Gabriel dibonceng oleh mas Juwandi, bu Probo Ama, dan Tia dalam satu motor juga, sedangkan saya paling enak he he he…boncengan sama mas Effy, tapi saya sudah minta ijin sama bu Probo lho he he…

Tidak ada tujuan khusus kami bertemu senja itu, hanya sekedar bertemu dan mengobrol santai, foto-foto kali ya tujuannya he he. Seperti kesepakatan kami pada saat pertemuan pertama di Pendopo Ndalem. Setelah puas foto-foto, kami duduk-duduk di cafe, mengobrol, bercanda menikmati senja yang indah bertemu teman-teman yang menyenangkan. (Dewi)

tamansari (2)

tamansari (3)

Siang itu hujan tak henti turun mengguyur Jogja. Aku berpayung di depan Kantor Pusat Universitas di Jalan Kaliurang untuk menunggu Dewi Murni yang berjanji bertemu denganku di pinggir jalan itu. Curah hujan yang kadang deras tak menyurutkan niatku untuk menunggunya, setelah seharian berkutat dengan diktat, janji untuk bertemu dengan teman-teman untuk berfoto ria seakan mentari di tengah mendung hari itu.

Tak berapa lama tokoh yang ditunggu tiba. Agak terpesona aku melihat Dewi dan Gabriel datang dengan berselubungkan mantel hujan. Mereka diantar dengan motor. “Nanti naik taksinya dari sini aja, ya.” Ujarnya begitu menghampiriku. Lebih terpesona lagi, ternyata Dewi pakai rok dan berdandan cakep sekali walau berhujan-hujan. “Kita juga menjemput Alfred dulu di Mrican.”

Alfred Tuname adalah tokoh yang paling ingin kami temui setelah peristiwa dengan Mastok di Stasiun Tugu beberapa hari sebelumnya. Kami ingin tahu ceritanya. Alfred sendiri, sebagai sesama orang yang berasal dari Manggarai, telah kenal baik denganku hanya saja belum sekali pun selama tinggal di Jogja ini berhasil bertemu muka dengannya. Sehingga kesempatan ini tak akan aku lewatkan.

Begitu bertemu dengan Alfred hal pertama yang kami teriakkan adalah, “Alfred, ternyata kamu kurus sekali! Padahal di fotonya engga sekurus ini.” Dan disambut oleh Alfred dengan tawa lebar dan berbagai alasan. “Asa do pikiran?” Mungkin dia banyak pikiran tanyaku. “Eng. Hitu ga.” Begitulah kiranya. Ya, bisa dimaklumi, kan anak sekolah.

Point pertemuan kami adalah alun-alun selatan, di sanalah kami bertemu dengan Mas Juwandi dan keluarga Mbak Probo. Hal yang terjadi secara kebetulan, kami sama-sama menggunakan pakaian yang berunsur warna hitam. (Anastasia Yuliantari)

Sudah ke sekian kali saya ketemuan dengan teman-teman Baltyrans, setelah sebelumnya hanya berkomunikasi di fb, email, dan tukar komen di artikel Baltyra. Yang terbaru dan mungkin terheboh, adalah ketemu Dewi Murni Mugiyem, pasalnya kami ketemunya berseri….meski bukan serial bukit tengkorak-nya  Juwandi Ahmad, (Saya ‘njangkar’ nggak papa kan? Nggak bakal kualat, karena menang ‘awu’, bahasa Indonesianya apa ya, untuk ‘awu’ ini, saya belum nemu). Berseri maksdu saya terjadi beberapa kali, berawal di Pendapa Dalem berlima (Ki Ageng, Dewi Murni, Sekar, dan Juwandi Ahmad, dan Tia Yuliantari), lalu episode Taman Sari tambah Alfred tapi  minus Ki Ageng,  tetap saja rame, karena tambah suami dan anak saya, serta Gab,  anaknya Dewi. Mungkin seri Taman Sari adalah yang terseru, karena acaranya adalah potret-potretan, dari eks Pasar Burung, Pulo Cemethi, Terowongan menuju Taman Sari, sampai Sumur Gumuling yang eksotis. Kami kangsen di Alkid (alun-alun kidul), sempat ngronde dulu malah, Dewi, Tia, dan Alfred datang duluan, lalu suami saya, saya dan Juwandi Ahmad selisih sedikit. Dari Alkid, kami bonceng-boncengan ke Pasar Ngasem, tapi rombongan ‘ketiga anaknya’ Dewi Murni belum kelihatan, entah ke mana…….ternyata nyasar, Gab ribut cerita sama mamanya, kami mlongo saja, nggak tahu maksudnya.

Eks pasar burung Ngasem  saat ini disulap menjadi cantik sekali, (pasar burungnya dipindah ke Dongkelan, Jalan Bantul), ada teater arena dan (direncanakan) nantinya juga untuk wisata kuliner, karena tempatnya sudah tersedia.

tamansari (4)

Dengan bentuk bangunan mendekati bentuk asli bangunan masa lalu, sungguh cantik dengan latar belakang Pulo Cemethi yang sudah dipugar. Saat foto dengan latar belakang Pulo Cemethi ini, Sekar belum datang, masih berkutat di kampus, maklum anak kuliahan hehe. Pulo Cemethi yang merupakan bangunan berlantai 3 ini dulu merupakan bangunan untuk bujana andrawina, pesta-nya bangsawan-bangsawan. Konon bangunan tersebut bakal difungsikan seperti sedia kala….entah bagaimana  dengan ‘segaran’ (laut buatan, segara= laut) yang sudah dihuni begitu banyak penduduk. Segaran, yang sering membuat orang terkecoh, dikatakan bahwa di Sumur Gumuling ada terowongan yang tembus segara (laut) kidul (selatan), ternyata yang dimaksud adalah segaran kidul, laut buatan bagian selatan, jadi kira-kira di selatan Taman Sari, begitu kata pemandu yang menjaga di sumur Gumuling.

Ternyata Dewi Murni belum bosen ke Pendapa Dalem, begitu pun Tia, yang sudah pernah saya ajak ke sana, juga Juwandi Ahmad dan Sekar,   tak bosan meski sering nongkrong di PD. Dari ngangkring di PD kami menuju Alkid lagi….naik sepeda (entah nama resminya apa), Gab ribut kesenengan, sampai kami ‘kemekelen’, dan tambah kemekelen karena Sekar dan Juwandi selalu menanggapi omogan Gab dengan ngomong berbahasa Jawa, yang seolah-olah ‘mudheng’ dengan yang diomongkan Gab. Malam itu benar-benar meriah dan megesankan, dan sakit perut karena kebanyakan tertawa.

Sejak dibuat grup di fb, meski jarang  komen di Baltyra, saya masih bisa berkomunikasi. Jadi…makasih ya…untuk  yang membuat grup Baltyra di fb. Berkat grup ini, saya bisa lebih mudah untuk ‘kangsen’ ketemu dengan teman-teman Baltyran. Kecuali dengan mBak Nunuk, saya kangsen via fb. Sudah sekian banyak yang saya jumpai, dari Alexa, Pak ODB, Pak Djoko, Ki Ageng, Tia, Sekar, Dewi, Juwandi Ahmad, Alfred Tuname, Anung Hartadi, juga Ary Hana……dari sekian kopdar, semua hanya menyenangkan…dan menyenangkan. Tambah saudara, pengetahuan dan pengalaman. Biarpun saya sudah nyaris setengah abad, saya tidak malu dan canggung ketemu mereka-mereka yang lebih muda sedikit , dan jauh lebih muda dari saya…….apalagi saya dikatakan awet muda, hahaha tambah semangat kopdar. Hanya  di Baltyra saya jadi guru cantik dan awet muda….(Probo Harjanti)

 

Kepulangan Mbak Dewi dari Brazil benar-benar membawa angin segar pertemuan, pengalaman, dan kisah baru yang unik bagi beberapa Baltyrans.

Mas Juwandi sebagai warga baru di Baltyra, dan juga Bung Alfred yang belum berkesempatan bertemu, hari itu akhirnya bisa ketemu Mbak Dewi, Mbak Tia, Mbak Sekar, dan Bu Probo. Meski belum pernah ketemu, kami semua langsung connect, nyambung. Seperti sahabat, serupa saudara yang sudah lama tidak bertemu.

Hari itu kami sepakat untuk bertemu di alun-alun selatan Kraton Jogjakarta.

Mas Juwandi telah tiba di tempat paling duluan. Setelah menunggu tiga puluh menit sambil nangkring di atas Mio dan menikmati rokok kreteknya, muncullah Mbak Dewi, Bung Alfred dan Gabriel. Itulah kali pertama Mas Juwandi dan Bung Alfred ketemu. Biasalah, sopan-santun dan bosa basi sedikit. Dan sepuluh menit kemudian mencair, bicara, dan tertawa bebas, lepas, seperti anak anak berlarian di bawah hujan. Setelah ngobrol sebentar dan foto-foto, datang Bu Probo dan suaminya, Pak Effy, anaknya Ama, dan disusul Mbak Tia. Tak jauh dari tempat ngumpul, ada pedagang ronde. Insting Mbak Dewi terbangkitkan, dan langsung beri komando. Kami pun sumringah, menghajar wedang ronde yang sungguh panas. Setelah itu kami bergerak ke Taman Sari, di belakang area pasar Ngasem yang dua tahun lalu masih berujud pasar burung. Dan inilah rekam jejak perjalanan kami di Taman Sari:

tamansari (5)

Di depan gerbang Pulau Cemeti, Taman Sari. Dari depan: Mbak Dewi dan malaikat kecilnya, Gabriel. Bu Probo dan Bidadari mungilnya, Ama. Di belakang: Mbak Tia, Mas Juwandi dan Bung Alfred. Dan tentulah bukan tanpa pertimbangan logika-ilmiah-matematik bila Mas Juwandi memilih posisi belakang. Cermati saja: itu tempatnya lebih tinggi. Cukuplah untuk mengelabuhi tentang ukuran (ha ha ha). Bila sudah bicara tentang ukuran, Mas Juwandi pasti bilang, “Hallo, hallo, jangan bicara tentang ukuran di sini. Ada yang tersinggung” Kontan woro-woro itu membuat kami semua tertawa.

tamansari (6)

Setelah puas mengitari Taman Sari dan jeprat-jepret (berfoto) kami beringsut pergi. Dari segala tingkah polah kami di Taman Sari, ada catatan penting tentang Bu Probo. Ternyata, Taman Sari menyimpan segudang kenangan bagi Bu Probo, dari masa kanak-kanak, remaja, sampai beberapa potong kisah cinta (uhuiiiii). Pantaslah, bila Bu Probo sampai tahu persis jumlah kerikil di Taman Sari (lebayyy). Dari taman sari, kami singgah disebuah warung kecil, di dekat pelataran Taman Sari. Minum, makan-makan, dan perbincang ngalor-ngidul sampai jam tujuh malem.

tamansari (7)

tamansari (8)

Lihatlah keakraban Mas Juwandi dan Bung Alfred. Alamaaak, sudah seperti kekasih tanpa ikrar kata “jadian.” Mereka sering mojok, mengambil tempat berdua saja: bergulat dalam diskusi ruwet sambil klepas-klepus menghisap rokok. Dua bujang itu sudah merasa sehati, senasib, sepenanggungan. Siapapun yang melihatnya, pastilah “ngiri”. Dan terlebih Mas Iwan, Mas Anung dan Itsmi yang selama ini terlibat “cinta” jajaran genjang (ha ha ha). Pertarungan di Bukit Tengkorak akan semakin sengit, seru, dan panjang. Pantaslah bila kemudian Mas Juwandi menyebut Mbak Dewi sebagai penyambung, pemersatu jiwa jiwa (ceilehhh). Jiwa jiwa yang galau, sibuk mencari tulang rusuknya. Dan celakanya si tulang sudah digondol oleh si guguk (wa kak kak ha ha).

tamansari (9)

Malam hari di alun alun-alun selatan Kraton Yogyakarta: Naik angsa listrik. Bu Probo terlihat sumringah dan Mas Juwandi tak begitu jelas penampakannya. Di tengah ada Ama dan Gabriel yang dengan semangat memilih menjadi driver, lebih tepatnya tukang onthel. So, sebenarnya bukan angsa listrik, tapi angsa onthel. Di belakang bisa dilihat: betapa bahagiannya Mbak Dewi dan Mbak Sekar, seolah memberi pesan, “Wahai para tetua, jangan hilangkan jiwa anak dalam dirimu. Tanpanya, akan garing hari-harimu.” Dan yang bikin heboh, sepanjang putaran perjalanan, mulut Gabriel seperti terompet, kadang petasan banting dan tak jarang penari kecak. Bisa anda bayangkan bagaimana kegembiraan seorang anak yang diungkapkan dengan bahasa Portugis. Kami semua ngakak. Babar blas tidak mengerti.! Sekedar pemberitahuan: kami para tetua, telah menunggu lebih dari 30 tahun untuk naik angsa onthel. Bahkan demi angsa onthel, Mbak sekar telah berdoa siang dan malam..! Dan saking senengnya, Tuhan benar-benar dibuatnya mati gaya malam itu. Ada banyak kelucuan, yang dijamin membuat para Baltyrans sakit perut menahan tawa.

Itulah pertemuan kami. Dari beragam wajah teknologi, ada sisi manusiawi yang menghubungkan, mendekatkan, dan mengakrabkan orang-orang dengan perbedaan tempat, ruang, dan waktu yang jauh. Ini berbeda dari apa yang dibayangkan banyak orang. Baltyras membuktikan hal itu. Bahkan kemudian, nyatalah bahwa teknologi dapat membuat kita lebih manusiawi (humanis). Dalam Rumah Tanpa Dinding kita mendapati insting dasar sebagai makhluk sosial yang ingin berhubungan, berdekatan, berbicara, dan berbagi satu dengan yang lain. Berkenalan, bersahabat, bertemu, dan menjalin persaudaraan dengan orang-orang baru adalah pengalaman psikologis yang unik. Dan keakraban, kedekatan, keterikatan, serta keharuan yang muncul menjadi sebentuk pengalaman spiritual. Pengalaman psikologis yang unik dan keharuan spiritual itulah yang kemudian membuat kita yakin bahwa Baltyra benar-benar memberi jalan dan ruang bagi kita untuk tumbuh dan menyelami kemanusiaan diri sendiri dan manusia lain. Itulah Baltyra: mempertemukan ide, pandangan, keragaman, penghargaan, kesantunan, keakraban, dan kemanusiaan. Dan sebagai bagian dari Baltyra, kami sungguh bangga akan hal itu. Terima kasih!! (Juwandi Ahmad)

tamansari (10)

Sore sehabis hujan. Langit masih basah, seperti cucian setengah kering. Matahari mulai meredup dan dengan cepat meninggalkan sisa-sisa sinarnya pada bulan secuil yang mengambang di langit. Meski begitu, di bawah naungan langit yang gelap, gemerlap lampu-lampu aneka warna membuat malam nampak seperti pesta natal yang tak pernah berakhir. Apalagi ditambah tawa ceria dan gurau yang tak berkesudahan.

Rombongan Baltyra yang terdiri dari saya, bu Probo alias buguchan beserta suami dan putrinya, mbak Dewi Murni beserta Gabriel, anak cowoknya yang menghibur kami semua dengan bahasa Portugisnya yang kemripik, ditambah si ganteng nan pendiam mas Alfred, mbak Tia Alya yang renyah dan mas Juwandi alias Gus Wand yang cool dan selalu siap sedia untuk dianiaya dengan pasrah.

Rombongan ini mendarat di Alkid (Alun-alun Kidul a k a Alun-Alun selatan) setelah sebelumnya sempat berhura-hura di Tamansari. Menyeruput minuman hangat, berbagi cerita dan tentu saja ngemil macam-macam makanan. Dan foto-fotoan, meskipun saya datang terlambat karena harus melaksanakan tugas sebagai mahasiswa yang baik dan benar. Tapi tetap saja tidak ketinggalan beramai-ramai. Saya sempat dikira turis entah dari mana, karena ketika parkir motor, tukang parkirnya nanya, Tamansari miss ? hahahhaha…lha iya jelas…wong saya jelas-jelas parkir di Pasar Ngasem yang notabene Tamansari, mosok mau ke Malioboro……saya cuma nyengir mendengar pertanyaan itu, dan sebelum sempat menjawab, seseorang yang rupanya bertindak sebagai guide local bermaksud memandu saya ke tempat yang saya inginkan. Mereka pikir saya mau pergi memotret matahari tenggelam di bangunan Pulau Cemeti di atas Tamansari. Dan ketika saya menjawab dengan bahasa Indonesia, menanyakan warung tempat para Baltyrans kumpul, eh si guide malah ngonong : eh, londone bisa ngomong endonesya…..wakakakkakakka….aku dikira londo !!! Asemik !

Setelah itu saya lebih memilih menelpon bu Probo saja. Dan saya yakin sang pemandu akan makin jengah ketika mendengar saya ngomong bahasa Jawa dengan bu Probo. Lantas dia pun menggeloyor pergi, dan saya lari-lari kecil seperti dalam film Bollywood menuju tempat mereka berkumpul.

Itu sekilas flashback saja.

Dari Tamansari tujuan berikutnya tentu saja adalah makan malam. Tempat yang dituju adalah Angkringan nDalem dekat pasar Ngasem, tempat kami biasa kumpul sebelumnya. Dari sanalah cerita Bukit Tengkorak terilhami.

Setelah makan malam yang gayeng dan mengenyangkan lahir batin, kamipun pindah menuju ke tempat lain. Kali ini adalah Alkid !

Alkid atau alun-alun kidul (selatan) adalah alun-alun kecil milik Kraton Yogyakarta. Tempat itu selalu ramai dan menjadi tempat tujuan wisata. Pada malam hari akan nampak kemeriahan yang menyenangkan. Sepeda-sepeda tandem dan kereta-kereta berhiaskan lampu-lampu kelap-kelip seperti taburan-taburan bintang dilangit yang bersih. Selain itu ada juga beberapa penjual mainan entah apa namanya, yang dilontarkan ke udara, terbuat dari bambu dan diberi lampu kecil-kecil, sehingga ketika melayang di udara dan berpusing turun, akan nampak sangat indah, seperti bintang jatuh.

Gabriel ingin sekali naik kereta berlampu. Demikian pula saya. Karena sebetulnya saya sudah menginginkannya sejak lama, dan baru hari itu terwujud bersama para sahabat Baltyra. Sangat menyenangkan. Tawar-tawaran harga terjadi sangat alot, tetapi tidak ada kata putus asa dan patah semangat dalam kamus para penawar yang super gigih dan pada akhirnya kami mendapatkan sepeda berlampu yang muat untuk 6 orang. Sekali sewa untuk dua kali putaran mengelilingi alun-alun selatan.

Keretanya berbentuk angsa seperti angsa-angsa cinta. Badannya berkerlap-kerlip dengan lampu-lampu hias. Jika ini dinaiki dengan sang kekasih, pastilah menjadi malam yang romantis. Naik angsa bintang. Ah, meskipun begitu, dinaiki dengan rombongan kampret dan kampretwati warga Baltyra terasa sangat heboh dan unik.

Putaran pertama diisi Gabriel yang dengan penuh semangat menjadi sopirnya.  Kemudian ada mas Alfred, bu Probo dengan putrinya, Mbak Dewi dan saya. Putaran kedua, mas Alfred digantikan mas Juwandi.  Kedua pria ini sama-sama mungil dan imyut. Jadi bisa dibayangkan betapa kami para perempuan perkasa ditambah jagoan Gabriel menggenjot pedal kereta dengan sepenuh tenaga. Apalagi jika tenaga sudah cukup terkuras untuk tertawa sepanjang putaran.

Tak hanya meriah, tapi sangat meriah. Gabriel dengan bahasa Portugisnya disahut dengan bahasa Jawa kami. Entah nyambung atau tidak, tapi yang jelas tidak roaming. Akur.

Sungguh suatu pengalaman yang sangat manis dan menggembirakan. Membuang semua lelah dan kesebalan di hati. Malam semakin menjadi tua, tubuh menjadi semakin lelah, tapi hati dan jiwa menjadi semakin kaya. Rasa syukur terpanjat dengan penuh suka cita.

Hidup ini pantas untuk dinikmati, apapun alasannya. (Nyai EQ/Sekar)

tamansari (11)

(pasangan turis asing yang mempersilahkan tempat duduknya kami tempati karena rombongan kamu lebih banyak)

Perhatian: Dilarang membahas soal “ukuran”, takut ada yang langsung tiarap.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

57 Comments to "Senja di Taman Sari dan Naik Angsa Bintang"

  1. Dewi Aichi  26 March, 2013 at 21:18

    Terima kasih sekali mas Ratman…memang seru, kita sampai malam di alun-alun..sebenarnya berat untuk mengakhiri kemeriahan malam itu, tapi sayang sekali, semuanya harus kembali ke istana masing-masing, meninggalkan malam yang menyisakan kenangan indah.

  2. ratman aspari  26 March, 2013 at 20:57

    wah kayaknya seru banget nih…ikut seneng ngelihatnya…

  3. Dewi Aichi  22 March, 2013 at 20:56

    Kalau ketemu mas Juwandi, harap oleh-olehnya sandal jepit warna ijo yaaa…Elnino…

    Mas Tok…ha ha..pokoknya kisah tak terlupakan, ada kesan yang mendalam untuk Alfred juga….

    Mba Yuli, pertemuan saya yang berkali-kali ini sungguh mengesankan, benar-benar di luar digaan saya, kirain ngga semeriah ini, kirain ngga akan terlalu berkesan, tapi ternyata semua sebaliknya, benar-benar semua seperti keluarga yang tinggal dalam satu rumah..padahal kami semua baru perama kalinya bertemu.

  4. Dewi Aichi  22 March, 2013 at 19:18

    Mba Yuli, ntar aku balik…mo mandi sebentar yaaa hi hi…

  5. Yuli Duryat  22 March, 2013 at 18:52

    Waduh pertemuan yang sungguh mengasikan…. Terima kasih telah berbagi kisahnya yang membuat hati bahagia dan terus tersnyum…

    Salam untuk semua keluarga Baltyra…

  6. MasTok  11 February, 2013 at 09:31

    Sandal Ijo sleret abang menjadi Tumbal stasiun Tugu Jogja.. Alferd trims banyak yoooo……. wes kesuwun kabeh ya……. tas medhuk gunung ki… tak luluran sek…..

  7. elnino  23 January, 2013 at 11:22

    Mas Juw dengan sandal jepit ijo wasiatnya..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *