Audrey (17): It’s Hard to Say (1)

Anastasia Yuliantari

 

Tiket pesawat terbang masih tergeletak di mejaku. Konfirmasi keberangkatan baru saja kulakukan. Entah mengapa aku semakin merasa berat meninggalkan tempat ini. Kembali kududuk termenung menatapi layar gelas yang masih menampilkan laman dunia antah berantah kita. Telah berkali-kali layar itu bergerak menampilkan posting-posting baru yang banyak dilakukan oleh teman dan sahabat. Senja telah merambat datang, kiranya di tempat kebanyakan teman telah menjelang waktu pulang. Beberapa menit waktu luang sebelum jam kantor selesai pasti bisa diisi dengan aktivitas menyapa beberapa teman atau membagi berita keadaan mereka dalam seharian.

Mentari yang cerah hari ini membuat kaca di belakang mejaku bertabur kilau keemasan. Cahaya itu juga menerangi layar di hadapanku hingga membuatnya buram. Kursor yang kugerak-gerakkan tak menentu seirama gerakan jariku hanya tampak samar-samar, kadang bahkan tak terlihat. Demikian juga wajahmu.

Ya, aku tengah menatapi fotomu. Gambarnya demikian kabur karena latar belakang salju keputihan, namun aku telah bisa membayangkan senyum bandel yang selalu tersimpan di ujung bibirmu, mata yang menatap penuh charisma, dan kepala sedikit meneleng yang menjadi ciri khasmu. Tak tahu sejak kapan aku bisa hapal ciri-ciri itu, mungkin saat kita menjadi semakin dekat dan aku suka menatapimu diam-diam, atau bahkan sebelum kita saling mengenal, saat aku melihatmu pertama kali mengomentari postingan teman-teman kita.

Tapi hal yang memberati hatiku bukan karena fotomu, namun sebaris kalimat yang kau tuliskan sebagai pesan dengan huruf-huruf capital seakan-akan dalam kondisi darurat: DEY, AKU MERINDUKANMU.

Setelah sekian lama, mengapa sekarang kau mengajuk kembali hatiku? Tak tahukah betapa beratnya aku berusaha mengungkapkan perasaanku padamu?

“Wah, selamat, ya.” Ujarmu saat kukatakan bila aku berhasil memperoleh kesempatan belajar untuk beberapa tahun ke depan.

“Thank you.” Ujarku dengan dada nyeri diamuk dua rasa yang berlawanan. Kegembiraan namun sekaligus kegelisahan.

“Ah, aku harus kembali ke kampus lama untuk mengambil beberapa matakuliah semester mendatang. Itu berarti dua kali lebih panjang lagi perjalanan yang harus kutempuh.” Keluhmu dengan menampilkan ikon sedih.

“OK.” Jawabku dengan kesedihan semakin mendalam.”Aku harus tinggal beberapa tahun di tempat itu.”

“Oh, gitu? Pasti membutuhkan energy ekstra untuk menyesuaikan diri dengan tempat baru, ya? Aku juga merasa harus lebih siap lagi menyongsong semester ini. Kau tahu, kan kalau semester akhir selalu mencobai keteguhan dan kesabaran para mahasiswa?”

Demikianlah dirimu. Selalu punya sesuatu untuk dibandingkan dengan keadaanku. Kadang hal itu menjengkelkan, tapi juga melecutku untuk menjadi lebih kuat dan tak menyandarkan perasaanku padamu.

Beberapa saat kuelus tuts-tuts laptop di depanku. Ingin sekali kubalas pesanmu, sesuatu yang sulit kuhindari, namun aku tak tahu kata-kata apa yang harus ketuliskan di sana. Aku merindukanmu juga? Atau, Jangan hubungi aku lagi? Mungkin, Aku tak tahu yang kurasakan? Tapi sebaiknya, Terima kasih sudah mengingatku.

Akhirnya kalimat terakhir itulah yang kukirimkan padamu. Tidak begitu memperlihatkan perasaan namun juga tidak berupa tanggapan yang dingin. Kata-kata moderat, santun, dan elegan untuk mengungkapkan perasaan tanpa benar-benar mengungkapkannya.

Tapi beberapa detik berikutnya tanda merah muncul berkedip-kedip. Otomatis tanganku menggerakkan kursor ke arah tanda itu. Voila! Jawaban darimu masih dengan huruf capital. AKU KANGEN KAMU.

Kuketik sebuah kata, “Lalu?”

“Bisakah kita chat?”

Kujawab, “Kita sedang chatting sekarang.”

“Bukan di sini, di tempat yang lebih privat.”

Aku tahu di tempat itu kita akan lebih intens bercakap, bahkan bisa saling memandang menggunakan kamera. Tapi aku tak ingin melakukannya. Bila kata-katamu bisa berdaya sedemikian rupa terhadapku, penampilan utuhmu akan mampu merajam jiwaku.

“Aku sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum kepergianku.” Jawabku dengan alasan yang kelihatan dibuat-buat, karena kau segera menyahut tak lama kemudian.

“Kalau demikian sibuknya, mengapa kau masih sempat melayari dunia kita?”

Benar sekali. Aku sibuk menatapi gambarmu, namun aku takut bertemu secara langsung denganmu.

“Sebentar lagi aku off, hanya karena menjawab pesanmu saja aku masih di sini.”

“Dey, aku tahu dirimu. Aku tahu kita saling merindukan.”

Aku menahan napas sesaat. Pilihanku benar, aku tak ingin lagi berhadapan muka secara langsung denganmu. Walau jiwaku demikian haus untuk bertemu dan mencecap kemanisanmu, namun nalarku melarangnya karena taruhan yang begitu besar, bahkan mungkin tak sanggup lagi kutanggungkan.

“Aku benar-benar harus off,” tulisku.

“Dey, tunggu!”

Aku membaca pesanmu, tapi secepat mungkin ingin menyudahinya. Sesegera diriku melompat dari kursi dan berdiri menatap datangnya malam di depan jendela.

Kelip lampu rumah-rumah di kota seperti kunang-kunang di hitamnya petang. Liukan pohon-pohon bagai silhouette penari yang menggerak-gerakkan tubuhnya sesuai irama angin. Bayang kendaraan lalu lalang menampakkan riak kehidupan di lengangnya suasana. Kota kecil yang kadang membuatku jemu kini mengikat hatiku demikian erat.

Bunyi saklar lampu terdengar seperti dentingan tajam di keheningan. Kutahu asisten di rumahku telah menyalakannya. Bias cahaya kekuningan memasuki ruang kerja, namun sinarnya hanya mencapai lemari buku beberapa langkah di belakangku.

Deringan halus mengurai senyap. Kepalaku menoleh untuk menemukan kelap-kelip tanda panggilan di ponselku. Tak ada nama, hanya sebuah nomor berderet panjang di sana.

“Halo.” Jawabku ragu.

“Dey, ini aku.”

kembang

(Bersambung)

 

13 Comments to "Audrey (17): It’s Hard to Say (1)"

  1. Anoew  24 January, 2013 at 21:49

    waaah sudahlah Audreeeeey….., mending ketemuan saja di lesehan setasimun atau di kuil sam pek koong daripada keseringan chatting tapi malah berdarah-darah

    ini kapan ya ada adegan semriwingnya?

  2. Anastasia Yuliantari  24 January, 2013 at 12:45

    JC, hahahaha….yo dianggep ngono yo ora popo. Nek wis ditulis dan diluncurkan, pengarang ki wis bubar sambungane karo critane….wkwkwkkwk. Death of the author lah pokoke…..wkwkwkkwk. Jd kelingan pokoke yg sekarang sdg ngetrend.

  3. J C  21 January, 2013 at 21:50

    Hhhhmmm…kepancing komentar PamPam, jangan-jangan full pengalaman pribadi yang dislimurkan (dikamuflase) sedemikian sehingga…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.