Ilir-ilir

Taufik Daryanto Jokolelono

 

Ilir-ilir, ilir-ilir tandure wus sumilir tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar…

Bait di atas di atas secara harafiah menggambarkan hamparan tanaman padi di sawah yang menghijau, dihiasi oleh tiupan angin yang menggoyangkannya dengan lembut. Tingkat ke-muda-an itu dipersamakan pula dengan pengantin baru. Jadi ini adalah penggambaran usia muda yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk berkarya.

 

Bocah angon, bocah angon penekno blimbing kuwi lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro…

Anak gembala, panjatlah [ambillah] buah belimbing itu [dari pohonnya]. Panjatlah meskipun licin, karena buah itu berguna untuk membersihkan pakaianmu.

Buah belimbing yang seringkali bergigir lima itu melambangkan lima rukun Islam; dan sari-pati buah itu berguna untuk membersihkan perilaku dan sikap mental kita. Ini harus kita upayakan betapapun licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi.

Anak gembala dapat diartikan sebagai anak remaja yang masih polos dan masih dalam tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi inilah yang sering muncul seketika bila orang Jawa menyebut ‘bocah angon’.

Namun pengertiannya dapat pula ditingkatkan menjadi pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin formal dalam berbagai tingkatan.

 

Dodot-iro, dodot-iro kumitir bedah ing pinggir dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore…

Pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya. Jahitlah dan rapikan agar pantas dikenakan untuk “menghadap” nanti sore.

“Sebo” adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan ‘sowan’ atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan.

Makna pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita. Menghadap bermakna menghadap Allah. Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang kematian kita.

 

Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane…

Manfaatkan terang cahaya yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan tiba. Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu sampai waktunya menjadi sempit bagi kita.

sawahmenghijau

 

7 Comments to "Ilir-ilir"

  1. Chandra Sasadara  30 January, 2013 at 08:58

    bagi saebagian penganut kepercayaan Jawa. LIr-ilir merupakan tembang spiritual. menyiapkan kehidupan batin pada saat masih muda dengan cara membasuh dan mengasah batin (dodot) dengan ajaran spiritualitas (blimbing) sebelum menjelang (mengko sore)..

  2. Handoko Widagdo  23 January, 2013 at 16:33

    Tembang ilir-ilir dipakai oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah. Ijo royo-royo adalah menggambarkan Islam yang sudah siap meminang orang Jawa, bagai temanten baru. Blimbing menggambarkan bintang, lambang Islam. Sedangkan bedah ing pinggir menggambarkan Majapahit yang sudah mulai surut.

  3. J C  21 January, 2013 at 21:48

    Baru tahu kalau tembang ini adalah karya Sunan Kalijaga setelah membaca komentar pak Hand. Wah, ternyata memang sangat dalam disampaikan dengan gaya sederhana dan kalimat yang sederhana juga…

  4. Handoko Widagdo  21 January, 2013 at 17:55

    Tembang anggitanipun Kanjeng Sunan Kalijaga ini memang mengandung arti yang sangat dalam.

  5. Sumonggo  20 January, 2013 at 19:08

    Saat ijo royo-royo, saat padhang, dan saat jembar, sering membuat terlena akan tiba masanya berlalu

  6. Dj. 813  20 January, 2013 at 16:28

    Yo surak o……
    Suraaaaaak…. HOREEEEE…..!!!!

  7. probo  20 January, 2013 at 13:13

    lir-ilir……..dadi nglilir…..silir…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.