Berkah, Mubazir, Kufur

Anwari Doel Arnowo

 

Tumben saya pakai bahasa Arab, ya?

Kata tumben saja saya tidak bisa menemukan padanannya yang pas dan sesuai di dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Bahasa Indonesia, di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) tertulis artinya begini: 1. Mula-mula sekali 2. Ganjil benar kali ini. Kamus bahasa Indonesia-Inggris menerjemahkannya dengan: 1. For the first time dan 2. How odd. Kedua kamus itu kurang mewakili maksud saya arti kata tumben yang terindikasi oleh saya sebagai kata bahasa Betawi karena sudah saya kenal sejak awal 1950an di Jakarta dan di dalam bahasa Jawa telah saya kenal sejak awal 1940an pemahamannya menggunakan kata: Dungaren atau Kadingaren. Kata berkah saya duga berasal dari bahasa Arab yang sesuai serta menurut KBBI adalah: Karunia Tuhan yang mendatangkan kebahagiaan bagi umat manusia. Mubazir, antara lain = menjadi sia-sia, atau tidak berguna, terbuang-buang. Kata Kufur jelas-jelas dari bahasa Arab atau negara di sekitarnya = 1. Tidak percaya kepada Allah dan Rasulnya, kafir  2. Ingkar, tidak pandai bersyukur.                    

Kembali kepada tiga kata di atas yang dipakai sebagi judul, mari kita mencermati kondisi yang kita alami bersama hidup di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia selama ini. Sebagai awal dapat anda buka terlebih dulu link berikut ini dan membacanya:              http://www.forbes.com/sites/quora/2013/01/08/why-have-the-islamic-countries-failed-to-develop-even-with-resources-like-oil-while-countries-with-no-resources-like-switzerland-have-flourished/.

Apa pendapat anda tentang isinya? Bagi saya sebenarnya isinya mirip dengan apa yang telah kita lihat dengan nyata di negeri kita ini karena pemerintah yang ada salah mengambil kebijakan. Ada salah seorang tokoh yang mengatakan lebih baik mendatangkan beras melaui import daripada menghasilkan sendiri melalui petani. Yang dianjurkan olehnya adalah industrialisasi. Saya berfikir bahwa industrialisasi itu memang bagus asal tidak mengurangi upaya paling tua dalam menopang kehidupan manusia melalui pertanian! Jangan mabuk dengan industrialisasi. Waktu itu masalah industrialisasi, yang menyangkut investasi, memang amat tergantung kepada pihak-pihak asing. Dan itu sampai sekarang ini sedang serta masih terjadi.

Orang Indonesia bilamana bisa memiliki modal sendiri untuk maksud investasi maka akan lebih tertarik untuk mengusahakan menanamkannya di luar negeri. Entah mungkin karena ingin disembunyikan dari aparat hukum atau ingin menghindari pajak? Sukar menjawabnya. Di Singapura atau London, tidak sedikit yang memiliki apartemen dari yang biasa dan mewah adalah warganegara kita. Mereka tidak mengusahakan untuk investasi di dalam bidang pangan melalui sawah dan ladang, atau peternakan dari burung walet sampai ikan lele atau patin, yang akan tetap dimakan oleh mulut manusia selagi hidup sepanjang masa. Bukankah investasi apapun di dalam negeri itu akan menambah lapangan kerja?

Mari kita lihat: bagaimana kita mengusahakan bahan bakar minyak yang kita tambang dari dalam tanah dan juga tidak boleh dilupakan batubara. Bukan isapan jempol bahwa PLN pernah tidak mendapatkan batubara untuk pembangkit listriknya dan terpaksa mendatangkan dari luar negeri. Apa masuk di akal sehat, kita harus membeli produk karena tidak ada di dalam negeri, tetapi kita tetap terus-menerus  mengalirkan produk yang sama melalui ekspor??

Bahan Bakar Minyak? Same-same saja laaah. Kita subsidi Premium yang harganya Rp.5000,- tetapi kita dianjurkan membeli Pertamax atau Shell atau yang lain semua produk luar negeri yang harganya dua kali. Di seluruh dunia ini menurut pengamatan saya, yang kaya raya kekayaan alamnya berupa minyak dan bahan bakar lain-lain, penduduknya tidak menikmati hasil eksploitasi kekayaannya itu, rakyatnya banyak yang miskin dan itu berarti angka untuk puluhan juta jiwa manusia Indonesia. Hanya kurang dari USDollar 2–,  per harinya. Di Arab Saudi dan sekitarnya para penikmat kekayaan karena minyak kebanyakan kaum bangsawannya saja. Tidak terkecuali Sultan Brunei.

Di dalam RI? Ada nggak Radja Minjak? Atau Raja Minyak?? Raja Industri??

Saya pernah menengarai seperti ini: subsidi adalah jumlah uang Milik dan Hak rakyat seluruh negeri, baik yang miskin maupun yang sebaliknya. Apa kegunaannya? Untuk membantu mereka yang sudah kaya, semuanya jutawan, karena kendaraan bermotor pengguna BBM yang paling murah seperti sepeda motor harganya tidak ada yang di bawah Rp.1 Juta, dengan demikian jelas sekali bahwa semua pemilik kendaraan yang menggunakan BBM adalah jutawan. Subsidi BBM itu sudah mendekati angka 300 triliun, dan itu adalah, sekali lagi, juga menjadi Milik dan Hak kaum miskin yang penghasilannya di bawah USDollar 2.– per hari tadi yang telah disebut di atas. Ini adalah standard PBB, bukan hasil sulapan saya atau anda.

Angka-angka berikut adalah yang saya dapat dari mengutip informasi di mesin pencari:

The cost of the MRT project is estimated to top ¥144 billion ($1.8 billion) and will be mostly covered by a ¥120 billion soft loan from JICA. The project’s current price tag is Rp 1 trillion ($104.2 million) per kilometer.

PT MRT president director Tribudi previously said that the loan was tied to the Special Terms for Economic Partnership (STEP) with a loan tenure of 40 years, a grace period of 10 years and an interest rate of 0.2 percent per year.

Apabila angka $1.8 billion ini benar dan yakin tidak meleset, maka itu berarti hanya sekitar RP. 20 Trilliun atau kurang. Hayo biar saja kita umpamakan mencapai Rp. 30 triliun, maka apa artinya uang subsidi setiap tahun yang mencapai hampir Rp.300 triliun itu??? Bila benar maka semua kota-kota besar di Indonesia: Semarang, Surabaya, Medan, Bandung, Makassar serta Yogyakarta bisa dan mampu membangun MRT sesuai dengan kebutuhan kotanya sampai sepuluh tahun ke depan setelah siap pakai.

pembangunan

Sekedar untuk catatan saja: MRT di New York sudah berumur: 134 tahun [New York City was first built by Alfred Ely Beach in 1869. His Beach Pneumatic Transit only extended 312 feet (95 m) under Broadway in Lower Manhattan and exhibited his idea for a subway propelled by pneumatic tube technology.] dan di Toronto : 59 tahun [March 30, 1954] ,  serta Tokyo:  86  tahun [Rapid Transit Authority (帝都高速度交通営団, Teito Kōsokudo Kōtsū Eidan?), commonly known as Eidan or TRTA, on April 1, 2004. TRTA was administered by the Ministry of Land, Infrastructure and Transport, and jointly funded by the national and metropolitan governments. It was formed in 1941, although its oldest lines date back to 1927 with the opening of the Tokyo Underground Railway the same year.].

Sayangnya sudah hampir 68 tahun kita merdeka belum juga bisa membangun kereta bawah tanah. Mexico City mengalami kesulitan karena tanahnya amat labil dan mungkin seperti rawa saja, akhirnya bisa kok dibangun kereta bawah tanah yang boleh dibilang seperti mengapung. Kita ini terhalang oleh banyak hal yang sifatnya kufur sehingga banyak uang rakyat yang mengalir ke mana-mana dan tidak mencapai sasaran. Bilamana pemerintahan itu baik jalannya sehingga pendapatan dan belanja dilaksanakan sejujur-jujurnya maka mestinya kita sudah mampu jauh lebih baik dari saat ini. Kalau kita tidak mengharapkan dari pemerintahan, dari mana lagi? Selama kita berdiri di atas tanah, maka semua ketimpangan itu harus kita sendiri yang membuat menjadi beres dengan cara bekerja lebih keras dan perbaikan akhlak sehingga tidak melakukan apa-apa yang kufur. Bukan cukup hanya berharap dan berdoa saja, meskipun itu mungkin perlu jua. Bukankah …. Robbana attina fi dunia hasanah ….. wa fi akhirati ………??.. . Dunia kan disebut lebih dulu sebagai prioritas, dan akhirat itu menyusul ….

Anwari Doel Arnowo  – 2013/01/11

 

11 Comments to "Berkah, Mubazir, Kufur"

  1. Anwari Doel Arnowo  23 January, 2013 at 10:37

    Semua tulisan untuk publik, tanpa ijin saya boleh disebarkan kapan saja. Lillahi ta’ala…
    Anwari – 2013/01/23

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.