Snorkeling di Derawan

Handoko Widagdo – Solo

 

derawan01

Mentari sudah meninggi. Namun jalanan masih sepi. Baju sudah basah kuyup, meski AC di kabin Ford 4 Wheel Drive kami menyentor deras. Teriknya matahari dan kelembaban memaksa tubuh kami melindungi diri dengan memproduksi keringat berlebihan. Untunglah perjalanan dari hotel ke pelabuhan hanya memakan waktu 20 menit saja.

Pelabuhan Berau berada di tepi Sungai Segah. Pelabuhan ini hanya disinggahi oleh perahu-perahu kecil dan speedboat yang mengantar penumpang ke hulu dan ke hilir sungai. Kadang-kadang speedboat tersebut membawa para pelancong ke Derawan dan pulau-pulau di sekitarnya.

Dua speedboat sudah siap mengantar kami menuju laut. Segera saja kami pindahkan perbekalan kami. Barang-barang tersebut harus diatur sedemikian rupa supaya speedboat kami seimbang. Setiap speedboat kami isi lima orang; enam dengan sopirnya. Setelah saling menjepretkan digital camera, kamipun segera berangkat. Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Menara Masjid Berlian yang berwarna biru melambai dan mengucapkan selamat jalan. Kiri-kanan sungai penuh dengan rumah-rumah penduduk -yang beberapa di antaranya disinggahi perahu bermesin. Beberapa kali kami mendahului ponton yang mengangkut batubara atau kapal yang menarik rangkaian kayu gelondongan. Di ujung kampung kami menyaksikan pintu gerbang Istana Kerajaan Gunung Tabur yang saat ini telah berubah menjadi museum. Setelah melewati PLTU, tidak ada lagi kampung yang kami saksikan. Sungai semakin lebar dan arusnya semakin lamban. Dan akhirnya sampailah kami ke muara. Air yang kecoklatan berangsur berubah  menjadi biru. Riak-riak yang menggelitik speedboat kami semakin keras. Bahkan kadang-kadang speedboat sampai harus meloncat-loncat dipermainkan ombak-ombak kecil.

 

Cottage di bawah Pohon Nyiur

Kira-kira dua jam perjalanan, sampailah kami di Pulau Derawan. Air laut berwarna hijau jamrud dengan karang laut di kedalaman. Sayang karang-karang tersebut sudah tidak sehat lagi. Banyak yang hancur karena bom ikan. Ikan-ikan kecil masih setia berenang sambil menunggu karang tumbuh kembali, tapi entah kapan…

Dermaga Derawan menjulur menghubungkan pantai pasir putih dengan laut. Lima puluh meter dari pantai telah menunggu lima buah cottage dibawah pohon nyiur. Rumah-rumah panggung ini terbuat dari kayu ulin. Setiap rumahnya terdiri atas dua kamar besar, yang masing-masing ada kamar mandi di dalam, dan ruang santai dengan sofa yang nyaman. Masing-masing kamar dan ruang santai mempunyai jendela besar yang memungkinkan angin laut membelai kami.

 

Tersengat Karang Api

Setelah menyantap nasi bungkus -yang kami beli di Berau pagi tadi, kami segera saja terjun ke laut, di ujung dermaga. Ikan berbagai bentuk dan warna menyambut kami. Demikian pula karang dengan berbagai bentuk menyapa kami. Sengatan matahari tak mampu memanaskan punggung kami karena air laut membalut kulit kami.

Masker snorkeling membantu kami untuk berkenalan dengan ikan-ikan yang bergerombol. Kadang-kadang kami bertemu cumi-cumi yang suka menyendiri, atau belut laut yang malu-malu memunculkan kepalanya dari lubang-lubang karang.

derawan (1)

derawan (2)

derawan (3)

derawan (4)

derawan (5)

Tiba-tiba segerombolan penyu mendekat ke pantai. Segera saja kami berlomba mendekatinya. Saya bergelayut dan dibawanya berenang. Hidung saya segera saja penuh dengan air garam. Tersedak dan terasa panas. Mula-mula mereka tidak takut dengan kami. Namun setelah merasa terganggu, mereka mulai menjauh. Sayang….

Kami kembali ke perairan yang karangnya masih baik untuk bercengkerama dengan ikan-ikan. Tiba-tiba nyasss paha saya terasa panas terbakar. Rupanya saya menyentuh karang api. Karang yang lembut bewarna merah itu tersenggol ketika aku asyik berenang mengikuti segerombolan ikan berwarna kuning. Aku segera menepi dan naik ke dermaga. Paha yang tersengat terasa panas dan gatal. Warnanya memerah seperti tersiram air panas, meski tidak melepuh. Saya harus mengakhiri petualangan di laut hari ini.

 

Mengintip Penyu Bertelur

Gerimis baru saja usai. Kami membunuh waktu dengan bermain kartu remi sejak makan malam. Rembulan malu-malu melongokkan wajahnya yang menor penuh gincu di antara mendung yang masih tersisa. “Mari kita lihat, apakah ada penyu yang mendarat” ajak petugas pengamat penyu dari Balai Konservasi. Kamipun segera berhamburan keluar meninggalkan kartu-kartu remi yang berserakan di meja.

derawan (6)

Membuat sarang tipuan

Kami menyusuri jalan beton menuju hamparan pasir di tepi pantai. Berjalan beriringan dalam gelap. Berbaris seperti bebek. Tanpa senter. Tiba-tiba petugas pengamat penyu –yang berjalan paling depan berhenti. Kami semua ikut berhenti. “Dia baru naik, kita harus kembali. Kita kembali lagi nanti satu jam lagi” katanya. Kamipun kembali ke cottage. Saya tidak mengerti kenapa mesti kembali, bukankah penyu sudah datang? “Dia akan kembali ke laut apabila terganggu sebelum bertelur” petugas pengamat menjelaskan.

Satu jam menunggu terasa amat lama. Petugas pengamat penyu hanya menjelaskan berdasarkan pertanyaan yang kami ajukan. Tidak banyak. Sebab kami sendiri tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Untunglah tersedia kopi panas. Akhirnya dia mengajak kami kembali menyusuri jalan beton menuju ke hamparan pasir dimana ia (kami semua belum) melihat penyu mendarat. “Itu di sana”, ia menyorotkan senternya ke seekor penyu yang sedang mendekam di pasir.  Kami menunggui penyu yang sedang bertelur. “Dari sebelah sini”, petugas pengamat penyu mengajakku menuju bagian ekor penyu. Dengan sorotan senter, saya bisa melihat telur-telur yang keluar dari penyu menuju pasir. Kami memotretnya dari berbagai arah. Setelah selesai bertelur, ia segera saja menutup lubang tersebut dengan empat kakinya yang berbentuk sekop. Si penyu bergerak kira-kira lima meter dari tempatnya bertelur. Ia menyibak-nyibak pasir sampai terbentuk tanda seperti sarang dimana ia meletakkan telurnya. “Dia akan membuat tanda palsu seperti itu di beberapa tempat”, kata petugas pengamat penyu. Setelah mengikuti si penyu sampai ke air dan menyaksikannya kembali ke laut lepas, kami kembali ke sarang. Petugas pengamat penyu menggali sarang dan mengumpulkan telur-telur yang baru diletakkan tadi. Semuanya 72 butir. Telur-telur tersebut dipindahkan ke tempat penetasan milik Balai Konservasi. Senyum rembulan yang kini lebih ceria mengiringi kami kembali ke cottage. Jam 12 malam.

 

Bermain Tukik

Paginya kami diajak untuk melihat-lihat penangkaran penyu. Pertama-tama kami ditunjukkan hamparan pasir yang diberi tanda dengan ajir bambu bercat merah. Di bawah ajir-ajir itu diletakkan telur-telur penyu yang dipindahkan dari hamparan pasir di tepi pantai. Selanjutnya kami diajak untuk melihat kolam-kolam beton yang dihuni oleh tukik-tukik (anak penyu) yang berwarna hijau semburat coklat. Tukik-tukik ini akan dipelihara di kolam tersebut sampai berumur dua bulan, sebelum dilepas ke laut.

Setelah puas menimang tukik-tukik yang kami angkat dari kolam, kami menuju ke beranda rumah petugas pengamat penyu. Sambil menikmati kelapa muda yang dipanjat langsung dari halaman, kami ditunjuki tukik-tukik yang masih berumur dua hari. Tukik-tukik ini diletakkan dalam ember plastik. Warnanya lebih hijau daripada tukik yang kami temui di kolam tadi. Saya mengambil beberapa foto dari tukik yang berumur dua hari tersebut. Mengapa tukik-tukik kecil tersebut tidak langsung diletakkan di kolam? “Tukik kecil ini harus diawasi dari tikus dan pemangsa lainnya. Nanti setelah umur dua minggu baru dimasukkan ke kolam”, petugas pengamat penyu rupanya bisa membaca pertanyaanku yang tak terlontarkan.

 

Pulau Kakaban dan Ubur-ubur Air Tawar

Selain Pulau Derawan, ada beberapa pulau kecil yang berserak di wilayah ini. Di antaranya adalah Pulau Maratua, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. Sayangnya hanya Kakaban dan Sangalaki yang sempat aku kunjungi; sementara Maratua belum.

derawan (7)

Kerang tertanam di karang

Pulau Kakaban tak berpenghuni. Jaraknya kira-kira satu jam perjalanan dengan speedboat dari Derawan. Pantai di Pulau Kakaban kebanyakan tidak berpasir. Pantai ini dipenuhi dengan karang yang masih hidup. Kerang-kerang yang tertanam di karang bagai bunga mawar berwarna-warni. Ada yang ungu, biru, merah, atau bergaris-garis dua tiga warna. Indah nian. Apalagi di sekitarnya ikan-ikan kecil bercengkerama bagai capung di sekitar bunga.

Keunikan Pulau Kakaban ini adalah danau yang berada di tengah pulau. Danau ini konon berasal dari cekungan laut yang terjebak saat dasar laut terangkat ke atas. Cekungan ini terangkat bersama dengan binatang dan karang hidup di dalamnya. Di antara binatang-binatang tersebut adalah ubur-ubur dan ular laut. Binatang dan tumbuhan laut itu perlahan-lahan beradaptasi dengan air yang semakin tawar karena bercampur dengan air hujan. Berjuta tahun!

derawan (8)

Ubur-ubur air tawar

Kini kita bisa menikmati ubur-ubur dan ular laut dengan cara menyelam di danau tersebut. Ubur-ubur ini tidak gatal. Tidak masalah jika menyentuh kulit kita. Ular-ularnya pun jinak dan tidak berbisa. Mereka akan menggoda kita dengan cara mendekat ke tubuh kita saat kita menyelam. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

 

Pulau Sangalaki, Ikan Terbang dan Berenang Bersama Manta

Sensasi lain dari Derawan adalah Pulau Sangalaki. Pulau ini merupakan tempat mendaratnya para penyu untuk bertelur. Pada saat musim bertelur, satu malam bisa lebih dari 20 ekor yang mendarat. Bukan hanya penyu saja yang menarik. Dalam perjalanan menuju ke Pulau Sangalaki kita dikawal oleh ikan terbang. Ikan-ikan ini akan terbang selama sekitar semenit di samping boat kita. Mula-mula mereka melompat dari air. Melaju di atas air beberapa saat dan kemudian menyelam kembali. Kami semua sampai bertepuk tangan takjub menyaksikan keajaiban alam ini.

derawan (9)

Tak berbeda dengan Derawan dan Kakaban, pantai Sangalaki dipenuhi oleh karang warna-warni dengan jenis ikan yang lebih banyak. Sayang saya tidak bisa diving. Hanya snorkeling. Teman saya yang pernah diving di area ini mengatakan bahwa sensasi taman lautnya luar biasa.

derawan (10)

Saya beruntung karena pada saat kembali dari Sangalaki kami bertemu dengan Manta, si ikan pari raksasa. Ada kira-kira 7 ekor yang berada dekat dengan boat kami. Segera saja kami berhamburan terjun ke laut untuk berenang bersama manta. Manta ini penampilannya memang menakutkan, Mulutnya menganga lebar, seakan-akan ingin menelan kepala kita. Namun ikan ini tidak berbahaya. Ia hanya memakan plankton dengan cara menyaring air yang masuk melalui mulutnya yang lebar.

Thanks kepada Susan O’Farrel yang ber-snorkleling bersama saya. Dan membuat foto 2, 3, 4, 5, 6, 10, 11

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

35 Comments to "Snorkeling di Derawan"

  1. Handoko Widagdo  25 January, 2013 at 10:21

    Asalkan Mas Anoew yang memotret pasti jadinya bagus.

  2. anoew  23 January, 2013 at 19:21

    hahahaha nanti pak Hand motonya jarak dekat ya

  3. Handoko Widagdo  23 January, 2013 at 15:49

    Mas Anoew, makanya jangan hanya perhatikan namanya. Lebih baik menunggu Lani difoto saat diving.

  4. anoew  23 January, 2013 at 14:09

    64 tahun? Weh, nggak jadi ah

  5. Handoko Widagdo  23 January, 2013 at 11:32

    Awesome, semoga suatu hari dikau bisa kesana…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *