Victoria Park, I’m Coming

Risma Purnama

 

Artikel sebelumnya: Surti Goes to Eiffel

Surti masih duduk termenung memandangi jamu-jamu yang sudah diracik dan diisi kedalam botol-botol yang tersusun rapi di bakul jamu gendongnya. Surti sudah siap dengan dandanan  kebaya sederhana dan kain batik pengganti sarung  yang dililit sebagai rok panjangnya. Udara pagi di luar sangat cerah, saat yang tepat menjual jamu keliling setelah beberapa hari ini selalu hujan di pagi hari. Cuaca sekarang sering tak terduga kadang  panas tiba tiba hujan. Hal ini tentu saja mempengaruhi omzet penjualan Surti yang mengandalkan cuaca baik untuk bisa berjalan lebih jauh, mendatangi pabrik demi pabrik yang ada di sepanjang jalan raya kota tempat dia tinggal bersama Mbok Sum.

Bubaran karyawan pabrik di pagi hari target utama Surti dan Mbok Sum, maklum habis kerja lembur perlu jamu buat mengembalikan tenaga yang terkuras malam hari bekerja. Pelanggan Surti sudah cukup lumayan.  Surti yang ramah selalu dengan sabar melayani pelanggannya wanita maupun pria.  Yang pria suka nakal menggodanya. Tapi Surti sudah tak menggubris pria pria itu lagi sejak  dia memutuskan Waluyo. Hatinya masih tertutup buat pria lain. Takut terluka dengan pria yang sama yang setipe Waluyo. Sebaiknya aku pergi saja dari sini, mencari hidup yang lebih baik, bisik hati Surti.

“Loh kenapa masih melamun Ti, belum berangkat juga?”tegur Mbok Sum membuyarkan lamunan Surti. “Bu, saya ga mau lagi jadi penjual jamu keliling, saya mau jadi TKI saja, saya mau ke Hongkong, gajinya besar  bu.  Uangnya bisa ditabung buat nanti modal ibu jadi pengusaha jamu benaran, kita bisa buka pabrik jamu bu, ga keliling dan menggendong bakul begini,” kata Surti dengan wajah mendadak cemberut, tak seperti biasanya.

“Ada apa  ini dengan Surti?” Mbok Sum jadi bertanya tanya dalam hati. Didekatinya Surti Putri semata wayangnya. Dipeluknya Surti dari belakang dengan sebelah tangannya  yang melingkar di di pundak Surti. Berdua mereka terduduk di lantai semen kontrakan mereka yang sederhana. Ada rasa sesak di hati Mbok Sum melihat Surti yang berwajah sedih pagi ini. “Jangan tinggalkan ibu sendirian, nak.” Terdengar suara Mbok Sum bergetar menahan airmata yang hampir jatuh di ujung kelopak matanya.”Ibu dengan siapa nanti, ibu sudah tak punya siapa siapa lagi sejak bapakmu pergi. Keluarga juga tak bisa ibu andalkan, kau tahu kan keluarga kita tak jauh beda seperti kita juga, siapa yang akan mengurus ibu Ti, kalau ibu semakin tua dan tak kuat lagi menjual jamu?”

“Tapi bu, saya malu jadi tukang jamu gendong terus, saya sering digodain pria-pria nakal bu, image saya jadi jelek, saya mau pencitraan juga bu bahwa tak semua penjual jamu itu bisa dipegang seenaknya.” Surti rupanya sudah mulai mengerti dengan nama baik, citra diri.” Saya mau kita mempunyai hidup yang lebih baik bu, saya tak mau gagal lagi seperti dulu ibu dengan bapak.”

Mbok Sum terdiam sejenak. Mengenang kembali bagaimana dirinya dijodohkan dengan Mas Karta mantan suaminya. Sum tak pernah cinta benar dengan Karta. Tetapi karena orangtua Karta memiliki sawah yang luas dan beberapa ekor sapi dan kambing Sum mau saja dijodohkan oleh orangtuanya yang waktu terbelit hutang dengan keluarga Karta. Sum adalah kembang desa inceran pemuda desa bahkan sampai ke desa tetangga sebelah. Sum sebenarnya mencintai  Dadang si gembala sapi yang sering mengajak bermainnya  lumpur di pematang sawah. Sayang mereka tak berjodoh. Dadangpun merantau entah kemana begitu tahu Sum akan dijodohkan dengan Karta. Sum hanya menerima nasib dan mencoba menerima Karta sebagai suaminya dengan ikhlas sampai Surti lahir. Terbetiklah bahwa Karta rupanya mempunyai istri simpan. Sum tak bisa terima dimadu. Mereka bercerai dan Sum tidak mendapatkan apa-apa. Rupanya harta Karta sudah terkuras habis oleh madunya. Sum memilih mengurus Surti sendiri tanpa menikah lagi. Kecuali mungkin nanti kalau bertemu kang Dadang kekasihnya. Rupanya kisah si Mbok Sumlah yang membuat Surti juga tak mau dipermainkan pria semodel Waluyo itu.

victoria-park

“Kau tahu apa tentang TKI Ti, tak kau bacakah berita di koran banyak TKI kita jadi korban tuannya di luar negeri?” “Bu, itu kan hanya sedikit saja dibandingkan TKI yang berhasil, TKI itu kan sumber devisa negara bu.”

“Ibu ga ngerti itu Ti, buktinya negara kita masih saja miskin, katanya sumber devisanya banyak tapi pemimpinnya juga banyak yang korup, ibu dengar di tipi begitu Ti,lagipula kau tak punya kenalan di Hongkong Ti, ibu khawatir nak,” Mbok Sum masih mencoba membujuk Surti untuk mengurungkan niatnya  menjadi TKI. Bagaimanapun di negeri sendiri  jauh lebih enak menurut Mbok Sum.

“Saya punya kenalan dipesbuk bu dengan mbak Narti yang sudah lima tahun di Hongkong. Hidupnya sekarang bahagia, punya sawah sendiri, punya sapi , kambing. Pacarannya  juga sama bule bu, aku lihat photo-photonya di pesbuk , Mbak Narti mau membantu saya kalau saya mau menyusul ke Hongkong. Setiap minggu pagi Mbak Narti bertemu sesama TKI di Victoria Park, melepas kangen. Penampilannya keren-keren bu, pakai tas Channel  KW an Hongkong bu. Mereka gaya-gaya. Saya ingin seperti  mereka juga bu,”Surti cerita bersemangat, wajahnya berbinar kembali membayangkan dirinya ada di Victoria Park dengan sepatu Booth dan mantel bulu leopard sambil menenteng tas Hermes bukan bakul jamu gendong!

To be Continued….mau nyuci dulu…xixixixixixxixi…abis tuh ketemuan di Victoria Park yoooo…

 

6 Comments to "Victoria Park, I’m Coming"

  1. Rismapurnamaa  1 April, 2013 at 10:25

    hahaha…juminten di Dubai….jadi TKW

  2. Hennie Triana Oberst  21 January, 2013 at 23:07

    Menanti kelanjutan kisah Surti.

  3. J C  21 January, 2013 at 21:51

    Surti memiliki impian yang setinggi bintang di langit…apakah akhirnya bisa meraihnya? Entahlah…menunggu kelanjutannya…

  4. Handoko Widagdo  21 January, 2013 at 18:13

    Nunggu rampung nyuci aja

  5. [email protected]  21 January, 2013 at 14:06

    To be Continued….mau nyuci dulu…xixixixixixxixi…abis tuh ketemuan di Victoria Park yoooo…

    apakah si xixi sang diary super star ada di hongkong jg?
    apakah si juminten… ehh… si surti akan menjadi xixi?
    ataukah…. si xixi temannya surti?

    ahh…
    pusing…
    nantikan saja cerita berikutnya deh….

  6. James  21 January, 2013 at 11:59

    SATOE, Victoria Park

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.