Betang Dayak Iban dan Tamambaloh Kapuas Hulu (1)

Christiana Budi

 

Halo pembaca Baltyra, saat ini aku ingin menyajikan salah satu kekayaan Budaya Indonesia yaitu Betang yang merupakan rumah Panjang suku Dayak. Betang atau biasa juga disebut rumah panjang sangat identik dengan suku Dayak di wilayah Kapuas Hulu – Kalimantan Barat. Tidak semua suku Dayak di wilayah kalimantan barat menggunakan rumah betang pada saat ini, kita hanya akan banyak menjumpai di wilayah Kapuas Hulu saja. Dalam kesempatan ini saya diberi kesempatan untuk mengunjungi betang dari suku Dayak Iban dan Tamambaloh. Dayak Iban dan Tamambaloh merupakan dua suku Dayak terbesar yang menghuni wilayah Kapuas Hulu dan masing-masing mempunyai ciri dan karakterisktik tersendiri.

Betang atau rumah panjang biasanya berbentuk rumah panggung. Bentuk panggung ditujukan untuk menghidari binatang buas, musuh pada saat dulu dan kemungkinan banjir untuk wilayah yang ada disepanjang sungai atau rawa.  Bagian kolong biasanya digunakan juga untuk menyimpan kayu bakar, kayu untuk bangunan, kandang babi, ayam atau binatang kecil lainnya yang jadi peliharaan. Dan semua aktivitas masyarakatnya dilakukan di bagian rumah panggungnya. Biasanya terdiri dari teras, berada, ruang dalam dan bilik-bilik (identik dengan sebutan pintu). Bagian teras biasanya digunakan untuk menjemur kayu, hasil kebun, bermain dll, berada dan ruang dalam sebagai tempat menerima tamu dan berkumpul untuk bermusyawarah, namun ada juga betang yang tidak mempunyai teras untuk menjemur hasil kebun.

Betang Dayak  Iban

Betang Dayak Iban yang masih terkenal dengan keasliannya salah satunya adalah yang ada di Wilayah Sungai Utik.Betang Sungai Utik termasuk dalam wilayah Dusun Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kec. Embaloh Hulu Kab. Kapuas Hulu.

betang (1)

Betang sungai Utik didirikan pada tahun 1967, merupakan salah satu rumah panjang yang masih terjaga keasliannya sampai saat ini. Dalam satu betang merupakan 1 dusun yang terdiri dari 37 pintu. Pintu merupakan istilah untuk satu bilik yang terdapat dalam betang, satu pintu bisa dihuni 3-4 KK dan betang sungai Utik di huni oleh 70 KK. Dan biasanya digunakan secara turun temurun, namun banyak juga dari anggota penghuni betang yang merantau ke wilayah lain.

betang (2)

betang (3)

betang (4)

betang (5)

betang (6)

betang (7)

Wilayah sungai utik terkenal dengan penghasil madu hutan asli di wilayah kapuas hulu dan juga masih mempunyai hutan adat yang asli, keaslian hutan adat ini yang sedang diperjuangkan oleh masyarakat saat ini agar tidak terkena HPH dari pihak pemerintah (akan disajikan pada tulisan seri berikutnya). Hutan adat dan wilayah sungai utik juga salah satu wilayah yang masih banyak mempunyai tanaman engkabang yang terkenal sebagai salah satu tanaman dari suku meranti-merantian.

Pohon Engkabang sudah masuk pada tanaman langka yang hampir punah. Bagi suku Dayak Iban di Sungai Utik pohon engkabang mempunyai nilai ekonomis dan sejarah. Pohon engkabang mempunyai nilai ekonomis yaitu buahnya bisa sebagai minyak lampu, pohonnya untuk bangunan, penghasil getah seperti damar yang cukup mahal untuk dijual, julukan masyarakat Dayak Iban adalah pohon engkabang seperti pohon kelapa yang bermanfaat dari akar sampai dengan daunnya.

Seperti suku Dayak yang lainnya pekerjaan suku Dayak iban ini juga berladang (tanaman padi dan karet), mencari madu, membuat kerajinan anyaman (bambu dan rotan), membuat parang dan menenun. Kehidupan masyarakat Iban ini sangat bersahaja dan benar-benar menyatu dengan alam, memelihara lingkungan dan juga menjaga keaslian kebudayaan suku Dayak.

betang (8)

betang (9)

betang (10)

betang (11)

betang (12)

betang (13)

Betang sungai utik masih benar-benar menjaga keaslian kepercayaan yang diturunkan turun temurun. Di depan tiap pintu/bilik yang dihuni oleh masing-masing keluarga mereka menyediakan tempat sesaji, sesaji diberikan tiap bulan dan masing-masing penghuni tiap pintu tidak sama jadwalnya. Sesaji tiap bulan dilaksanakan pada tanggal yang sama tiap bulan berikutnya walaupun tidak sama untuk tiap pintunya. Sesaji ditujukan kepada Tuhan sebagai hubungan antara masyarakat Iban dengan Tuhan yang dipercaya mereka. Sesaji terdiri dari berbagai jenis makanan yang terbuat dari ketan (sering disebut letit) dan telur ayam.

betang (14)

betang (15)

Rumah betang sungai utik dibangun tidak menggunakan paku. Mereka hanya menggunakan pasak, dan tali ikat, bahkan untuk membelah kayu juga hanya menggunakan pasak dan palu sehingga kayu akan terbelah menjadi dua.

betang (16)

betang (17)

betang (18)

Kedamaian masing-masing penghuni  betang sangat terasa sekali. Mereka mengambil keputusan bersama-sama dalam musyawarah dan saling berbagi satu sama lain, rasa kekeluargaan benar-benar dijaga dalam satu kesatuan kebersamaan. Semua generasi dari yang muda hingga yang tua saling mengisi kehidupan mereka dengan kedamaian.

betang (19)

betang (20)

betang (21)

betang (22)

betang (23)

betang (24)

betang (25)

Ada keistimewaan dari Rumah Betang Sungai utik yang patut di acungi jempol dalam melestarikan keaslian lingkungan budaya dan adat. Coretan tentang keistimewaan ini akan disajikan pada tulisan Betang Dayak Iban dan Tamambaloh Kapuas Hulu seri 2

 

Christiana Budi           

Sungai Utik-Kapuas Hulu  15 December 2012

 

26 Comments to "Betang Dayak Iban dan Tamambaloh Kapuas Hulu (1)"

  1. Harry Usup Umbar  23 February, 2014 at 16:26

    Walau bagaimanapun, sebagai penulis dari suku kaum Dayak Iban di Sarawak, suka akan orang yang rajin cari informasi baru, rajin belajar. Saya skrg sedang menulis (buat kajian) pasal Dayak Borneo (Kalimantan, Sarawak, Berunei, Sabah). Saya sangat menghargai sesiapa saja dari suku kaum Dayak Borneo (tak pilih suku kaum apa), sila e-mail kepada saya, apa saja fakta dan informasi mengenai Dayak di Kalimantan. Saya mahu cari lebih ramai kenalan dari suka kaum Dayak di Kalimantan, untuk sebagai kawan dan carai informasi lebuh rinci. E-mail saya ialah – [email protected]. Terima kasih. May God Bless You All

  2. christiana budi  22 March, 2013 at 14:17

    mateus jamet Says:
    March 7th, 2013 at 12:33
    judulnya rumah panjang iban kapuas hulu tapi hanya menampilkan foto rumah bandi sei utik, nampaknya kamu ini kurang imformasi deh, banyak belajar ya supaya kamu tahu berapa banyak rumah iban dan memaloh di kapuas hulu. nanti orang luar yang membaca jadi salah anggap deh
    _______________________________
    @Mateus Jamet, Terimakasih atas masukannya, memang saya hanya menampilkan salah satu saja, ada penjelasan diatas (salah satunya) walaupun saya datang mengunjungi beberapa, saya menulis tentang sungai utik karena keunikannya (maaf ini saya lihat dari kaca mata saya sebagai orang luar yang datang kesana). Sekali lagi makasih masukannya

  3. mateus jamet  7 March, 2013 at 12:33

    judulnya rumah panjang iban kapuas hulu tapi hanya menampilkan foto rumah bandi sei utik, nampaknya kamu ini kurang imformasi deh, banyak belajar ya supaya kamu tahu berapa banyak rumah iban dan memaloh di kapuas hulu. nanti orang luar yang membaca jadi salah anggap deh.

  4. Anoew  28 January, 2013 at 16:22

    Waduuh Cristiana…, kenapa bisa lupa nanya? ayo besok tanya lagi ahahaha….
    Beneran, itu legenda entah memang ada tapi gaungnya sungguh dasyat dan menurut cerita teman di proyek, sewaktu kerusuhan yang melanda Kalimantan belum lama ini, mereka yang merusuh dibuat kocar-kacir oleh Panglima Burung.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.