Urip mung mampir mangan

Fire – Yogyakarta

 

Hunger is the best sauce, rasa lapar adalah saus terbaik. Demikian yang pernah diungkapkan Socrates ratusan tahun lalu. Makanan akan terasa lebih lezat ketika kita menyantapnya dalam keadaan lapar. Bisa jadi inilah yang menjadi alasan mengapa beberapa agama mewajibkan umatnya untuk berpuasa agar mereka bersyukur atas makanan yang tersaji di meja makan mereka. { dikutip dari majalah Kelereng Istimewa Desember 2012 }

Museum Anak Kolong Tangga Jogja terletak di Taman Budaya, tak jauh dari Taman Pintar yang kerap menjadi tujuan anak-anak saat liburan seperti siang itu bertepatan dengan masa liburan sekolah. Museum Anak Kolong Tangga Jogja adalah Museum Mainan Anak pertama di Indonesia.

Berkaitan dengan pameran yang diselenggarakan di Museum Anak ini, disebutkan bahwa budaya makan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan anak yang berkaitan dengan lingkungan sosial budayanya. Untuk menjadi bagian dari masyarakat, seorang anak harus belajar tentang hal-hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan yang berlaku di lingkungannya dalam kehidupan bermasyarakat. { “Budaya Makanan” – Rudi Corens, majalah Kelereng Istimewa Desember 2012 }

M1

M2

Pameran ini menampilkan mengenai makan, makanan, dan kebudayaan makan dari berbagai sudut pandang dan aspek yang berbeda. Dimeriahkan pula dengan workshop Bapak William Wongso, seorang chef senior di Indonesia yang terkenal dengan kampanye makanan pokok alternatif.

Sayang saat kami kemari, acara workshop sudah lama berakhir. Saya kutipkan salah satu pesan Bapak William Wongso berkaitan dengan makanan, “Dalam dunia modern cara orang tua membesarkan anak-anak sering bertumpu asal mereka mau makan, bukan memberikan wawasan citarasa sejak dini bahwa makan itu bukan sekedar dengan istilah “enak dan enak sekali”

Banyak ortu mengeluh anak sulit diajak makan sayur hanya doyan nugget dan mie instan. Mungkin karena ortu sendiri tidak mencontohkan gemar makan sayur. Mungkin saja saya waktu kecil dulu menjadi gemar makan sayur karena demen nonton pilem kartun Popeye The Sailor Man …

M3

M4

Sepasang pengantin akan menyambut kita saat memasuki ruang pameran.

M5

M6

Riuh terdengar suara kicau burung, ternyata di dalam sangkar-besek ini terdapat manuk betulan bukan cuma manuk-manukan ….

M7

Dalam penjelasannya, gambar tengkorak ini di masa lalu adalah suatu joke di gudang penyimpanan anggur.

M8

M9

M10

M11

Budaya makan mempunyai hubungan yang tak terpisahkan dengan semua yang berhubungan dengan peradaban manusia zaman dulu maupun zaman sekarang. Budaya makan merupakan sebab terjadinya banyak hal, misalnya emigrasi, perang, perbedaan agama, dan penelitian-penelitian ilmiah. Budaya makan berpengaruh terhadap bahasa, tradisi, dan karya sastra. { “Budaya Makan”-Rudi Corens, majalah Kelereng Istimewa }

M12

M13

M14

M15

M16

M17

Seorang pengamat yang tajam akan melihat betapa sakralnya ritual dalam pemilihan makanan, persiapan makanan, konsumsi makanan. Orang dewasa selalu menyisipkan nilai-nilai luar biasa dalam penerapan kebiasaan makan dan pembuatan makanan yang baik serta tata cara makan yang diterima masyarakat. { “Budaya Makan”-Rudi Corens, majalah Kelereng Istimewa }

M18

Air susu ibu, tak tergantikan, praktis, mudah dibawa-bawa, dan tersedia dalam kemasan yang menarik ….

M19

Seberapa besar kita telah menghargai para petani?

M20

M21

Lukisan Dewi Sri sebagai perlambang kesuburan, dan lukisan keluarga petani.

M22

M23

M24

Sejumlah biji-bijian, dan alat untuk mengepresnya.

M25

M26

Sebagai pelindung dari terik panas saat petani turun ke sawah. Entah kalo yang nyemplung ke sawah kayak Pamela Anderson mungkin buat “pelindung” yang lainnya ….

M27

“Gundul-gundul pacul … cul… gembelengan … Nyunggi-nyunggi wakul..kul.. gembelengan …”

M28

Salah satu dewa yang berhubungan dengan pertanian. Melihat gesture tubuhnya, mungkin saja hendak berucap, “Monggo pinarak mriki ….”

M29

Siapa yang hendak disunat? Lho jangan kabur dulu … ini alat untuk memanen …

M30

M31

M32

Berbagai tempat air.

M33

Lupa, yang ini buat apa, yang jelas bukan pispot …

M34

M35

M36

M37

Sejumlah “asesoris” yang berkaitan dengan makanan, sendok, stoples, dari jadoel sampe kini.

M38

Suami-istri petani.

M39

“Dondong opo salak …. Duku cilik cilik ….” Yang gede-gede kan salaknya sampe sak-tampah ….

M40

Mengapa monyet sering dikaitkan dengan pisang? Padahal bukan cuma monyet yang doyan pisang, apalagi pisang goreng … Jadi ingat lagunya grup musik PMR yang dulu populer, “Salale … lale … ini pisangku … Salale … lale … mana pisangmu …”

M41

M42

M43

M44

Susu, coklat, dan gula.

M45

Lukisan buah-buahan.

M46

M47

Makanan berhubungan pula dengan ritual persembahan atau pemujaan.

M48

Model kue tar yang sering didapati di resepsi atau pesta.

M49

“Awas, Dik, jangan dekat-dekat, ntar digigit buaya…”
“Nggak kok, tuh, liat buayanya malah nangis … takut dimakan …”
“Jangan percaya, Dik, itu air mata buaya …”

M50

Hmm… menggiurkan … “Maaf, Pak, itu hanya contoh, jangan digigit ….” Pantesan mengkilap gini … rotinya dipernis yak ….

M51

Telo tenan … Nah, yang ini telo beneran, boleh aja sih kalo mau nggigit .. tapi masih mentah …

M52

Beneran nih dulu pernah ada roti merk ABC? Apa maksudnya electric-bakery? Jangan-jangan kalo digigit ntar nyetrum …

M53

Entah apa maksud tangkai pohon berbuah makanan kemasan ini. Mungkin mengandung pesan suatu saat bisa saja anak-anak terlupa dari mana sebenarnya asal makanannya karena semua makanan di sekelilingnya dikuasai produk kemasan. Si kecil pun bisa bertanya, “Ma, apakah susu coklat asalnya dari kulkas ….”

M54

M55

M56

Siapa bisa paling cepat menyalakan ini? Ntar udah setengah jam, nyala belum, item pasti …

M57

Dalam pameran ini dapat kita temukan fakta menarik tentang makan dan budaya makan. Setiap budaya memiliki aspek religius dan penghargaan terhadap makanan. “And the rest is food for your thoughts” { Rudi Corens, majalah Kelereng Istimewa }

 

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

18 Comments to "Urip mung mampir mangan"

  1. Fire  24 January, 2013 at 07:24

    wah pak josh, malah jadi inget pilem kungfu kalo nggak salah judulnya penginapan pintu naga, warung makannya laris karena masakannya enak2 …. tapi tamu yang masuk sama tamu yang keluar kok jumlahnya geseh …… jebulnya ada yg nyangkut “didaur ulang” …. ini baru namanya warung organik …….

  2. J C  24 January, 2013 at 07:12

    Mas Fire, tergantung bahan bakunya toh. Kalau bahan bakunya sudah berfaktor U, ya alot. Kalau bahan bakunya sueger, kempling-kinyis-kinyis (kesukaan Kang Anoew van Dingklik Keple) ya yang ngreview akan bilang “mak nyuuuussss”…

  3. Fire  24 January, 2013 at 06:51

    sst… pak josh jangan keras2… soalnya resep saos ama acarnya masih dirahasiakan …. ntar deh kalo udah ngundang bondan winarno ama farah queen buat ngreview …. masih mak nyuss nggak …..

  4. J C  24 January, 2013 at 06:35

    Mas Fire…guuuubbbrrraaakkk kalau Sumanto buka franchise…hahaha…eh, mungkin laku keras kalau dia coba buka di Africa atau Papua (di beberapa tempat masih mbrakoti menungso – makan manusia).

  5. Fire  24 January, 2013 at 06:23

    pak josh, kalo makan pake pincuk bisa diklamuti sekalian apalagi kalo yg pake ada juruhnya …. nyusss tenan…..
    yg di pucuk rantai makanan, jelas sumanto, ntar nunggu ada pameran kuliner edisi sumanto
    kabarnya sumanto mau buka franchise untuk warung bakso, rawon dan tongseng, pengin ikutan … ?

  6. Fire  24 January, 2013 at 06:23

    sama2 tante heni
    sama2 oom dj, jangan lupa minum obat

  7. J C  24 January, 2013 at 05:46

    Tumben tulisan mas Fire yang ini rada jejeg…

    Pameran ini pasti sangat menarik. Sangat asik mempelajari perjalanan sejarah manusia urusan makan memakan. Dalam rantai makanan modern, bisa dikatakan manusia adalah di pucuk rantai makanan, tapi di jaman batu atau pra-sejarah, hewan pemangsa lah yang di pucuk rantai makanan. Peralatan memasak dan makan selalu menarik untuk dicermati. Mulai dari pincuk dan suru sampai Tupperware…

  8. Dj. 813  24 January, 2013 at 01:32

    Mas Fire…
    Matur Nuwun mas, samoun paren nderek nedo….

    Yang pernah Dj. dengar, hidup ini hanya sekedar numpang minum saja….

    Orang Jerman bilang…
    Zeig mir wie du isst, dann sag ich dir, wer du bist .
    ( Kasi lihat, bagaimana kamu makan, maka akan saya kasi tau siapa kamu. )

    Jadi, maksudnya, dari cara orang makan, bisa diketahui, siapa dan bagaimana
    kelakuannya. ( entah ini benar atau tidak, Dj. tidak tau ).

    So….
    Sugeng dahar,
    Pareng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.