Lumpuhnya Perekonomian Akibat Banjir

Mpek Dul

 

“Tentara Indonesia mengerahkan kapal-kapal karet untuk  membantu menyelamatkan orang-orang yang dilanda banjir di Jakarta”.

Dua warga negara asing, yakni Tim Lehman  asal Jerman dan Tom Haeusler  dari Swiss, asyik bermain di atas perahu di jalan protokol Ibu Kota tersebut. Mereka sengaja membeli perahu kecil, yang biasa dipakai untuk anak-anak, dari seorang warga dengan harga Rp 200.000. Mereka semakin girang ketika truk-truk untuk evakuasi melintas di jalan tersebut dan menimbulkan gelombang. Akhirnya, ratusan warga yang berkerumum di pinggir jalan tertawa melihat tingkah mereka.

Bule_Swimming_Amidst_Jakarta_Flood2

Bule_Swimming_Amidst_Jakarta_Flood-600x300

Presiden SBY dan menteri luar negeri difoto dengan celana panjangnya yang dicincing di istana Merdeka menunggu kedatangan kunjungan negara presiden Argentina Christina Kirchner. Air di beberapa tempat mencapai ketinggian 2 meter, dan dilihat dari atas jalan Thamrin, jantung dari kota terlihat seperti kali berlumpur coklat.

banjir01

Inilah beberapa dari berita-berita yang saya baca dan ikuti melewati media dari Indonesia dan dunia lain, tetapi yang sangat menarik perhatian saya dan mengejutkan adalah berita di bawah ini:

“Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, banjir yang terjadi di Jakarta dalam beberapa hari terakhir menyebabkan pengusaha rugi hingga miliaran rupiah. Tidak tanggung-tanggung, kerugiannya bisa mencapai Rp 1,5 miliar per jam. Kalau rugi Rp 1,5 miliar per jam bisa saja, ini karena delivery time-nya terganggu (karena banjir dan macet),” kata Hidayat saat ditemui di kantor Menteri Perekonomian Jakarta, Kamis (17/1/2013).

Awal tahun 60-an abad lalu saya masih kecil dan tinggal di Indonesia. Saya masih ingat ketika untuk pertama kalinya diajak ke Jakarta dari kota kelahiran saya, Semarang. Daerah seperti Menteng, adalah salah satu yang meninggalkan kesan sekali karena masih aman, cukup bersih, banyak gedung-gedung peninggalan Belanda kuno yang berstatus dan dirawat, selain daerah elite yang sangat disukai oleh banyak perwakilan asing, mahal dan tidak mengenal istilah banjir. Dari Menteng kita masih dapat naik becak ke Jakarta kota, Jalan Hayam Wuruk, Glodok. Selokan di samping jalan masih ada air yang mengalir. Penduduk Jakarta waktu itu hanya sekitar 4 juta orang. Bogor di atas kertas masih 48 km dari peta kota Jakarta. Tangerang, Depok, Bekasi masih merupakan desa-desa tersendiri diluar Jakarta. Nama Jabotabek tidak dikenal. Banjir, meskipun itu satu kejadian yang sudah ada, biasanya hanya di beberapa tempat, di Jakarta Utara sekitar Priok saja yang diakibatkan lebatnya hujan dan meluapnya sungai dan pantai.

Saya masih ingat bahwa gedung tertinggi pertama di Jakarta waktu itu adalah Hotel Indonesia di jalan Thamrin, Monas yang di atasnya hiasan 35 kg emas (menurut ceritanya) adalah satu-satunya tugu yang menongol. Dari hotel Indonesia kita dapat melihat kota Jakarta. Jalan raya “Jakarta by pass” adalah “high way” pertama yang baru diresmikan, dan sering dipakai “ngebut” kalau malam untuk balapan sepeda kumbang yang maksimum hanya dapat lari 45 km satu jamnya ……

Apa yang saya tuliskan dan saya baca 45 tahun kemudian begitu sangat kontras berbeda sekali. Untuk pertama kalinya ketika saya sebagai seorang remaja menginjakkan kaki kembali di Halim Perdana Kusuma Jakarta sekitar tahun 1974, masih belum banyak perkembangan berarti.

Tahun 1991 kembali saya berkunjung ke Indonesia, dan banyak gedung-gedung tinggi dan perumahan baru sudah didirikan, semua mempunyai fasilitas air sendiri. Lalu lintas yang sangat kacau, hiruk pikuk, tidak teratur, panas, jorok, debu yang mengotori udara. Selokan2 sudah menjadi tempat buangan sampah liar, berbau atau kering, tidak pernah dikeduk dan dibersihkan, begitu juga kali di sepanjang jalan Hayam Wuruk, Gajah Mada, dll. Jakarta Timur terutama sekitar Jatinegara sudah menjadi sasaran banjir tahunan, makin lama makin merambat ke arah barat.

Penduduk sudah mulai kebal dan lakonis : “Yah begitulah kalau musim hujan”.

Setiap rumah yang dibangun mempunyai sumber air sendiri dengan menggali sumur. LPG merupakan satu bahan bakar untuk dapur. Beberapa rumah mempunyai generator pembangkit tenaga listrik sendiri. Di belakang di kebun sampah dibakar sendiri, sehingga tiap sore, daerah itu berkabut, berbau akibat asap dari pembakaran sampah. Banyak truk, bis kota, bemo, dan juga sepeda motor “ngejos”  mengeluarkan asap berwarna biru, hitam. “Kemajuan” istilahnya!

Saat itu saya sudah mempunyai satu perasaan yang tidak nyaman sekali dan mulai berpikir. “Mengapa semua ini tidak ditindak dan dibiarkan berlarut-larut”? “Mengapa infrastruktur dirusak”? Istilah banjir sudah bukan satu kejadian lagi yang mengejutkan.

Jakarta, satu kota metropolitan luas wilayah nya sekitar 661,52 km² (lautan : 6.977,5 km²), dengan penduduk yang diperkirakan sekitar 9,6 juta jiwa di tahun 2010. Ini adalah satu statistik yang tidak resmi, karena tidak setiap pendatang baru di Jakarta dan para tuna wisma yang tidur di bawah jembatan, di lapangan terbuka terdaftar di catatan sipil kotapraja (jika catatan demikian ada). Diperkirakan metropolitan Jabotabek sekarang mempunyai penduduk sekitar 23 juta jiwa, merupakan kota metropolitan terbesar di Indonesia atau keenam dunia.

Anno 2013, apa yang telah lama saya cemaskan merupakan satu kenyataan yang mengerikan: Sebagian besar metropolitan Jakarta sudah dilanda malapetaka banjir setiap tahun nya dan semakin parah seperti yang terlihat di peta di bawah ini, dimana hampir 50% dari wilayah Jakarta saat ini merupakan “flood area”  (diberi tanda biru).

banjir02

Banjir. Apakah sebabnya? Faktor-faktor apa yang menyebabkan banjir? Apakah pengaruh banjir  terhadap stabilitas, ecologis, sosiologis dan perkembangan per ekonomian satu negara?

Jakarta mempunyai sejarah yang kuno, pada awal mulanya bernama Sunda Kelapa, satu kota pelabuhan dari kerajaan Sunda dan pada tahun 1527 pangeran Fatahilah dari kerajaan Demak merebut kota ini dan menamakannya Jayakarta yang menjadi bagian dari kerajaan Bantam dan  pada tahun 1619 di masa VOC Jan Pieterzoon Coen merebut dan menghancurkan sebagian besar kota  ini yang kemudian membangun kembali dan menamakan Batavia atau Betawi (istilah Melayu).

Sebelum kota ini dibangun, daerah ini adalah daerah rawa yang dihubungkan dengan beberapa sungai-sungai. Salah satu yang terpenting adalah Ciliwung yang sepanjang 119 km mengalir dimulai dari Puncak lewat Bogor, menuju ke Jakarta Pusat, Bogor, Depok, dan berakhir di Marina Beach. Fungsi sungai adalah satu faktor penting sekali yang diremehkan, tidak pernah dikuasai.

“Flood Risk Management” adalah bidang management yang praktis tidak dikenal di Indonesia.

Satu negara yang dapat diambil sebagai contoh dan menjadi contoh di dunia adalah negeri Belanda yang sangat dikenal dalam bidang teknik sipil bendungan dan perairan. Negara ini lebih dikenal dengan nama “Holland” atau “Nederland”. Sebetulnya nama negara “Holland” itu tidak benar, karena Holland adalah nama dari dua propinsi di bagian barat negeri Belanda, Noord Holland (Holland utara) dan Zuid Holland (Holland selatan) yang 80% berada di tepi laut dilindungi oleh bukit-bukit pasir dan tanggul. Hol  berarti kosong, dan Land adalah tanah. Begitu juga dengan Neder = rendah, land = tanah. 25% dari wilayah Nederland berada di bawah permukaan laut, yang terendah adalah sekitar 9 meter NAP, 18% dari seluruh wilayah Nederland terdiri dari air.  NAP Normaal Amsterdams Peil dipakai sebagai satu indikasi yang ditinjau dari segi historis, adalah hampir sama dengan rata-rata ketinggian permukaan laut  yang diukur di pantai, dengan memperhitungkan pasang surut air laut. Hampir seluruh pantai dari utara sampai selatan dilindung dengan bendungan-bendungan yang berupa bukit-bukit pasir, pintu air raksasa, bendungan-bendungan beton agar tidak tergenang banjir di saat air laut pasang.

banjir03

Semua ini berada di bawah pengawasan dinas pengawas perairan (Rijkswaterstaat) dari Kementerian Hubungan dan Perairan yang sekarang bernama Ministerie Infrastuctuur en Milieu di bawah menteri Melani Schultz van Haegen.

Rijkswaterstaat berdinas 24 jam, 365 hari mengawasi dengan kontinu semua infrastuktur darat, udara, dan perairan, termasuk seluruh tanggul-tanggul, bendungan-bendungan sepanjang pantai, dibantu oleh angkatan udara dari kerajaan Belanda. Pesawat-pesawat tempur F16 ikut berpatroli sepanjang pantai, dimulai dari perbatasan Belgia di Selatan sampai ke utara berbatasan dengan Jerman.

Bilamana perlu pintu air ditutup dan air yang berada di sungai-sungai dipompa ke arah laut 24 jam agar tingkatan air tidak menaik meluap ke arah kota yang biasanya letaknya lebih rendah dari laut.

Penduduk di propinsi Zeeland, Nederland sebelah tenggara masih ingat ketika malam tanggal menjelang 1 Februari tahun 1953 tanggul yang melindungi propinsi ini dari laut jebol dan membawa kurban 1800 jiwa dan ratusan ribu penduduk kehilangan rumah mereka.

Dalam satu malam, 165.000 hektar tanah hancur tergenang air laut. Pemerintah bertekad kembali menaklukkan tantangan laut  dengan melucurkan Deltawerken, dimana laut akan dibendung radikal dengan teknik sipil perairan seperti yang diterapkan di Aflsuitdijk dimana laut sepanjang 32 km dibendung dari tahun 1927 – 1932 dan sebagian dikeringkan untuk dijadikan propinsi baru yang sekarang dikenal sebagai propinsi terakir Flevoland. Satu teknik yang waktu itu sangat modern sekali dan belum pernah diterapkan di dunia.

Ingin saya tambahkan, bahwa sungai-sungai di sini juga dimanfaatkan sebagai satu infrastuktur untuk dipakai sebagai jalan pengangkutan lewat air, biasanya untuk mengangkut pasir, batu-batu untuk kebutuhan pabrik beton, kayu dsb, karena lebih murah dari lewat daratan dan tidak macet.

banjir04

banjir05

banjir06

banjir07

banjir08

banjir09

banjir10

banjir11

banjir12

banjir13

Foto kompleks ESA (European Space Agency = NASA Eropa) headquarter di Noordwijk, Zuid Holland, Nederland, yang dibangun di samping bendungan pantai lautan Northsea.

banjir14

banjir15

banjir16

Kota dimana saya tinggal adalah juga sekitar 6 meter di bawah NAP dan banjir, meskipun banjir ada akibat hujan lebat yang turun lama, ini tetap merupakan satu kejadian yang agak “asing” di Nederland, meski biasanya dalam waktu 24 jam ditangani sehingga tidak berlarut-larut. Selama 45 tahun saya tinggal di negara ini, saya hanya mengalami  dua kali banjir yang tidak lebih dari 5 cm tingginya. Dalam waktu 2 jam sudah ditangani. Faktor lain yang penting sekali dan berbeda dengan Indonesia adalah, di sini adanya hukum yang melarang siapapun menggali sumur sendiri, sekalipun itu berada di tanah hak milik kita, karena ini adalah salah satu faktor yang sangat membahayakan sekali. Permohonan ijin menggali sumur di tanah sendiri 99% ditolak karena ini satu aspek yang sangat membahayakan sekali. Membahayakan?

Bagaimana penjelasannya? Kita semua mengenal bahwa di bawah tanah dimana rumah dan gedung-gedung dibangun itu basah karena mengandung air. Air ini penting sekali untuk menjaga agar tanah tidak menurun, apalagi jika tanah yang terdiri dari pasir dan tanah liat yang lunak, bukan dari batu keras seperti di pegunungan Pyrenée, Alpen. Jika semua rumah menggali sumur sendiri-sendiri memompa air ke atas untuk memenuhi kebutuhan air, maka akibat yang terjadi adalah bahwa tanah itu di satu saat akan kering dan level akan menurun, “anjlok” lebih rendah dari bendungan dan permukaan air. Apa yang saya lihat di Indonesia adalah semua rumah-rumah baru yang dibangun selama 40 taun terakhir ini semua mempunyai sumur-sumur sendiri dan tidak lagi disambung saluran air PAM. Banyak bendungan-bendungan sungai yang malah ditinggikan, dan bukannya sungainya yang dikeduk, dan tetap dipakai sebagai tempat pembuangan sampah. Kita tidak usah berpikir sebagai seorang insinyur untuk memahami bahwa dengan tindakan demikian menyababkan terjadinya akibat yang sebaliknya, sehingga kemungkinan air meluap menggenangi lingkungan di sekitarnya yang saat itu menjadi lebih rendah akibat menurunnya permukaan tanah dimana rumah-rumah dibanguni, akan lebih besar.  Mengapa pemerintah tidak menyadari dan menindak? Karena pertimbangan ekonomis dan kantong sendiri?

Juga untuk menebang pohon di kebun kita, di sini kami harus mengajukan permohonan ke dinas DPU kotapraja, karena kita tidak boleh menebang pohon begitu saja, meskipun pohon itu berada di kebun dan tanah yang menjadi hak milik (eigendom) kita. Unik dan anehnya adalah untuk menanam pohon di kebun kita tidak usah membutuhkan ijin dari kotapraja. Mengapa?

Karena akar pohon-pohon itu menahan adanya tanah longsor dan menahan penyebab banjir.

Bagaimana dengan Indonesia ? Banyak pohon-pohon yang ditebangi, terutama di lereng pegunungan untuk kebutuhan perabotan rumah tangga, sebagai kayu bakar dsb, sehingga air tidak dapat ditahan oleh akar-akar pohon dan menyebabkan tanah longsor. Banyak hutan-hutan belukar, dengan pengetahuan pemerintah, ditebangi untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Semua ini menyebabkan gangguan ekologi alam. Sinar matahari berlimpah dan cuma-cuma. Mengapa solar energi tidak dimanfaatkan sebagai pemanas air, untuk mandi sehingga meninggikan higienis. Di Israel saya melihat bahwa 90% dari kebutuhan air panas untuk mandi dan rumah tangga terdiri dari solar energi dengan panel yang dipasang di atas atap rumah. Jika parabola TV yang lebih besar dapat dipasang mengapa solar panel yang lebih kecil tidak dapat dipasang?

Solar kompor dapat dibuat dari gelas tebal bersilang seling yang ditumpuk memungkinkan membangkit kan panas untuk memasak? Di pegunungan di Flores, sudah pernah ada seorang pastur Belanda yang saya kenal yang menciptakan alat ini untuk mencegah agar penduduk tidak menebang pohon-pohon. Sinar matahari yang berlimpah, cuma-cuma dan bersih yang dapat dimanfaatkan. Mengapa pemerintah tidak menyadari dan “merangsang” kegiatan demikian?

Karena pertimbangan ekonomis dan kantong sendiri?

Semua kabel listrik, tilpon, saluran gas perumahan di Nederland ini sudah berada di bawah tanah untuk menghindari adanya kecelakaan dan kebakaran. Kawat-kawat listrik perumahan yang berada di atas rumah dan di samping jalanan sangat membahayakan jika tumbang akibat disambar petir atau kejatuhan pohon, mematikan akibat elektrokusi, apalagi jika tumbang saat ada banjir. 90% dari rumah-rumah dari toilet, dapur, kamar mandi, telah  dihubungkan dengan saluran pipa beton di bawah tanah yang disalurkan ke tempat tertentu agar tidak membuntu saluran air minum dan saluran-saluran lainnya. Air minum 95% adalah air leding dari PAM.

Pembuangan sampah juga diatur demikian rupa dan harus dipisah, dibuang ditempat tertentu di bawah tanah atau diambil tiap minggu lewat kendaraan khusus DPU. Semua plastic, kertas, botol putih, berwarna, dan sisa-sisa sayuran/makanan semua terpisah dan di recycling dijadikan bahan baku lagi untuk dipakai. Pembakaran sampah di kebun sendiri adalah satu kejadian yang tidak dikenal dan pasti menghebohkan, selain dituntut dan didenda oleh kotapraja. Begitu pun pembuangan sampah di setiap tempat dinilai sebagai satu kriminalitas.

Semua minuman-minuman yang berada di botol-botol plastik, gelas, kaleng, semua dikenakan uang jaminan dengan tujuan agar tidak dibuang sewenang-wenang. Untuk botol, uang itu akan dikembalikan jika botol-botol kita serahkan kembali ke supermarket. Anak-anak sekolah sudah dididik dan diajarkan betapa pentingnya hal ini, sehingga kesadaran dan rasa tanggung jawab sudah ditanamkan sedari kecil. Semua faktor-faktor yang saya uraikan di atas adalah begitu penting sekali untuk menghindari adanya banjir.

Pemerintah daerah/kotapraja juga mempunyai kewajiban untuk mengeduk semua sungai-sungai dan selokan-selokan, membersihkan saluran-saluran, agar air tetap mengalir dan tidak menyebabkan banjir.

Kesadaran demikian dapat ditanamkan dan TIDAK tergantung apakah itu satu negara berkembang atau sudah maju, sebab ini adalah faktor pendidikan.

Untuk semua ini kami mengenal pajak tertentu yang dikenakan oleh kotapraja. Uang tidak masuk kantong sendiri, melainkan dipakai untuk memperbaiki semua infrastruktur yang sangat penting, dan diawasi oleh inspektur dari kementerian.

Setiap kali saya berkunjung ke Indonesia, setiap kali keheranan saya semakin bertambah dan sulit untuk saya mengerti. Pernah saya melihat beberapa penduduk kampung yang membuang sampah-sampah ke kali dan saya bertanya mengapa mereka membuang sampah ke situ?

Jawaban yang saya dengar adalah: “Ah, mister, karena tidak ada tempat lain untuk membuang sampah” “Mister, kalau dibuang di sini, nanti sampahnya kan ikut mengalir menuju ke laut sendiri”. Hampir saya pingsan mendengar alasan demikian ini. Menuju ke laut sendiri? Saya hanya dapat memikirkan: Apakah pemerintah tidak pernah memberikan penerangan dalam bidang ini? Apakah sekolah-sekolah dasar tidak pernah memberikan penerangan kepada anak-anak sekolah sedari kecil? Sampah yang berat hanya akan tenggelam dan tidak akan dihanyutkan ke laut. Kantongan plastic yang dibuang ke sungai dan tidak bisa dihancurkan secara alamiah yang menumpuk, hanya akan membuat saluran menjadi buntu, sehingga air tidak dapat mengalir. Mengapa selokan-selokan, kali-kali dan sungai tidak pernah dibersihkan dikeduk sehingga air mengalir dan tidak menjadi sumber telur-telur nyamuk yang membahayakan kesehatan?

Sampah dibakar di kebun sendiri sehingga mengotori udara dan menyebabkan polusi besar. Mengapa pemerintah tidak menindak hal ini?  Karena pertimbangan ekonomis dan kantong sendiri?

Banjir di Indonesia, sebagian besar karena disebabkan oleh manusia sendiri. Setiap orang memikirkan kepentingan sendiri-sendiri, tanpa memikirkan akibatnya. Generasi mendatang kita warisi dengan semua kekotoran dan kekacauan. Pemerintah harus menindak hal ini dan jangan hanya menutup mata seakan-akan tidak dapat berbuat apa-apa dan karena “bencana alam”. Pemerintah dan penduduk harus menyadari bahwa banjir bukan timbul begitu saja, karena “penghangatan bumi”, melainkan juga karena tidak adanya kesadaran. Terapkan hukum yang melarang menggali sumur sendiri, tetapi juga pemerintah harus memperbaharui infrastruktur negara yang sebetulnya sudah kuno dan peninggalan masa kolonial dengan memberikan saluran air leding PAM. Herannya di jaman penjajahan, Jakarta tidak mengenal banjir. Jangan membangun perumahan di daerah rendah yang menampung air dari arah lebih tinggi, sehingga air dapat disalurkan tanpa halangan. Bola dunia kita ini 90% terdiri dari air, sebagian besar di samudra selatan (Pacific) dan samudra Hindia.

banjir17

Banyak para ahli-ahli bangunan teknik sipil air dan bendungan yang dibutuhkan di seluruh dunia, di Mesir, Colombia, New York, New Orleans, bandara internasional Hong Kong Chek Lap Kok, Palm Island Dubai, Costa Rica, perlebaran Terusan Panama, pelabuhan Shanghai dibangun dengan bantuan  perusahaan Belanda. Saat ini ada dua kota yang ditangani oleh para insinyur sipil perairan yang membuat bendungan di Jakarta Utara dan kota Semarang. Mereka telah  menarik kesimpulan yang sama: Tidak saja karena banyaknya rumah-rumah yang dibangun dengan dengan menggali sumur sendiri, tetapi juga, tidak adanya “Flood Risk Management”, banyaknya perumahan liar yang mengotori infrastruktur, korupsi, ketidak adanya kesadaran masyarakat, sungai-sungai seharusnya diperlebar a.l. sungai Ciliwung yang tidak dikeduk dan saluran kuno yang tidak diperbaharui disesuaikan dengan bertambah besarnya kapasitas untuk menyalurkan air ke laut saat ini. Banyak pintu air yang sudah berkarat, tidak dirawat dan memenuhi syarat modern. Apa yang dahulu sungai-sungai di sekitar Jakarta, sekarang menjadi selokan karena buntu penuh kotoran. Jakarta bukan lagi satu kota yang berpenduduk 4 juta, melainkan berlipat enam, dan infrastruktur tidak mengalami perhatian dan pembaharuan.

Jika di tahun 2007 banjir di Jakarta sudah melanda hampir 35% dari wilayah Jakarta dan tahun 2013 sudah hampir mencapai 50%. Diperkirakan nanti sekitar tahun 2020 sudah mencapai 85%.

Satu perkembangan yang mengerikan. Satu perkembangan yang sangat mencemaskan dan harus dipertimbangkan . Bagaimana pandangan dunia internasional dalam menilai perkembangan seperti ini, banjir yang setiap tahun melanda ibu kota satu Negara dan kian tahun kian parah? Apakah akibat untuk bidang ekonomi? Bidang sosial penduduk yang hidup dengan trauma ketakutan setiap tahunnya?

Jangan heran jika di satu saat nanti, banyak perusahaan-perusahaan asing yang mungkin menyingkir dan tidak lagi bersedia menanam modal di Indonesia, karena ini bukan hanya kejadian di Jakarta, melainkan di daerah lain?

Satu hal yang sangat tidak disukai para penanam modal asing, dalam hal ini produsen, adalah faktor-faktor “Tidak adanya kepastian ”, Tidak adanya kemungkinan untuk membuat rencana atau masterplan produksi, banyaknya gangguan dalam produksi yang diakibatkan oleh gangguan cuaca, infratruktur yang jelek, tidak adanya fasilitas yang memugkinkan memproduksi, tidak adanya peraturan/hukum, faktor-faktor birokratis, korupsi sehingga semua beaya produksi tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Beaya dan ongkos adalah salah satu faktor terpenting dalam bidang produksi.

banjir18

banjir19

Bila kerugian akibat banjir yang melanda Jakarta di tahun 2007 telah mencapai  US$ 500 juta, berapa kerugian yang diderita saat ini jika banjir berlangsung selama satu minggu? Berapakah hasil pemasukkan keuangan metropolitan Jakarta? Apakah nantinya penghasilan kota ini hanya untuk mengongkosi pembersihan kota ini saja? Jika infrastruktur kacau, perekonomian juga akan mengalami kemacetan, stagnasi. Kemacetan adalah faktor yang diperhitungan sebagai beaya produksi.

Berapakah hasil pemasukkan keuangan metropolitan Jakarta? Apakah nantinya penghasilan kota ini hanya dipakai untuk mengongkosi pembersihan kota ini saja? Apakah akibat untuk daerah-daerah lain, seluruh Indonesia nantinya?

Tidak semua gedung-gedung pencakar langit dan mall mewah yang dibangun di Jakarta, dan kota-kota lain serta padatnya lalu lintas kendaraan menandakan saja adanya satu kemajuan, melainkan juga membawa akibat jelek sosiologis, ekonomis dan alam bila hal ini tidak ditindak radikal.

Ketika saya mendengar bahwa Jakarta akan meluncurkan gagasan membangun metro, kepala saya semakin pusing rasanya. Metro di Jakarta? Jika sekarang masih belum dapat mengatasi soal banjir yang sudah mencapai ketinggian kadang sampai 1 meter, apakah akibatnya nanti jika terowongan metro yang dibangun setidaknya 30 meter di bawah tanah jika tergenang air akibat banjir? Mungkin terowongan yang berlistrik ribuan volt berjumlah beberapa kilometer adalah bersama dengan air adalah satu kombinasi alat pembantaian massal.

Saya pernah melihat perumahan di desa menuju ke Pati – Rembang – Tuban yang sudah sekitar 2 meter di bawah jalan raya, akibat  jalan raya yang ditinggikan. 45 tahun yang lalu rumah-rumah ini masih di atas jalan raya nya! Banyak rumah-rumah penduduk yang lantainya ditinggikan sehingga jarak ke plafon yang dahulu sekitar 2,20 m, sekarang hanya sekitar 1,75 m, dapat dijangkau tangan. Kerugian di masa depan, di jangka panjang pasti jauh lebih besar dari hasil yang dicapai karena tindakan yang diambil dijangka pendek seperti ini.

Ciri- ciri khas kerugian yang diderita akibat banjir dapat digolongkan seperti di bawah ini:

  • Rumah-rumah, gedung-gedung bersejarah dan kebudayaan dan harta benda banyak yang rusak.
  • Beaya pembersihan – penyelamatan penduduk.
  • Beaya perbaikan infrastruktur, baik jalanan maupun perairan.
  • Stagnasi dan gangguan perusahan, produksi.
  • Kurban, kerusakan yang diderita penduduk maupun, fauna dan flora.
  • Kehidupan sosial harian rakyat yang terganggu dan menyebabkan tekanan psikis.
  • Eko sistim yang terganggu atau hancur.

 

Banjir di Teluk Bengala di Bangladesh tahun 1991 membawa kurban 150.000 orang. Sungai Kuning Huang Ho di China yang meluap pada tahun 1887 – 1888 membawa kurban 2.5 juta jiwa. Sungai ini telah ditangani oleh pemerintah pun terkadang juga masih dapat meluap, karena setiap detiknya sungai yang sepanjang 5.465 km ini membawa lumpur sekitar 6.000 kg menuju ke arah laut dan mengendap di perjalanan sehingga air dapat meluap!

Ketika New Orleans pada tahun 2005 dan New York pada tahun 2012 dilanda tsunami dan banjir yang tidak setiap tahunnya melanda kota-kota ini, kerugian yang diderita diperkirakan sekitar US $ 30 milyar tiap kota nya. Lebih dari 1.000 jiwa yang menjadi kurban akibat bencana alam ini. Semua kejadian yang seharusnya menjadi pelajaran untuk kita semua.

banjir20

banjir21

Menurut perhitungan para ahli-ahli di Amerika Serikat, jika Masterplan infrastruktur dilaksanakan betul-betul, setidaknya baru membutuhkan 15 tahun sebelum hasil perbaikan terlihat.

Jika New York, dan New Orleans, kota- kota di negara maju dapat menghadapi bencana banjir dan tsunami, yang tidak setiap tahunnya melanda, berapa kerugian yang diderita Jakarta setiap tahunnya, dan semakin parah.  Saat ini para insinyur sipil perairan Belanda saat ini membangun tanggul di New York untuk mencegah agar tidak dilanda banjir lagi. Bendungan di New Orleans telah selesai dibangun, juga oleh para ahli dari Belanda. Pemerintah Indonesia juga harus menyadari hal ini, dan saya harapkan mudah-mudahan saja tidak ada orang yang mengira saya saat ini membuat iklan untuk perusahaan perairan Belanda…..

Apakah kesadaran nasional itu begitu susah untuk dilaksanakan? Nederland, sebenarnya adalah satu negara miskin, tidak mempunyai bahan baku untuk industri seperti Indonesia yang begitu kaya raya.  Negara ini sudah berabad-abad berjuang mengatasi ancaman bahaya dari laut dan bencana alam. Pemerintah menyadari bahwa hanya dengan mengambil satu tindakan yang konkrit radikal saja, baru dapat mengatasi semua tantangan ini. Hanya dengan mengeluh saja, tidak akan ada perbaikan. Korupsi adalah faktor bahaya yang disebabkan oleh manusia.  Kesadaran begitu penting di samping disiplin. Semua aspek bencana alam yang mengancam negeri ini adalah juga ancaman kehidupan semua penduduk, karena tidak mengenal perbedaan ras dan agama. Semua manusia tertimpa akibatnya.

Tenaga kerja lebih baik dikerahkan untuk membangun negara dengan menindak secara structural. Waktu harus dimanfaatkan se efisien mungkin saja dan bukannya tiap tahun dikerahkan untuk pembersihan dan menyelamatkan harta benda dan penduduk belaka, akibat banjir. Infrastruktur dalam bentuk jalanan baik didarat udara dan air adalah urat nadi perekonomian. Produksi dapat ditinggikan, kalau tidak dapat diangkut ke konsumen juga tidak ada artinya, sedangkan konsumen adalah pondamen perekonomian.

banjir22

banjir23

banjir24

banjir25

banjir26

mpek-dul

mpek dul

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

59 Comments to "Lumpuhnya Perekonomian Akibat Banjir"

  1. mpekDuL  22 February, 2013 at 05:48

    Dia mengatakan untuk membantu Indonesia dalam mengatasi masalah ini, pemerintah Belanda telah memberikan bantuan hibah sebesar 12 juta euro atau sekitar Rp153 miliar setiap tahunnya.

    Well. 12 million Euro yearly is a lot of money !
    (Asal jangan sampe masuk kantong koruptor sendiri)

  2. Ronnaldo  22 February, 2013 at 05:45

    Pemerintah Belanda berkomitmen untuk ikut membantu mengatasi banjir yang rutin mendera Indonesia. Komitmen ini diwujudkan dalam bentuk hibah yang jumlahnya mencapai ratusan miliar rupiah setiap tahunnya selama empat tahun.

    Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Belanda Frans Timmermans dalam kunjungannya ke Jakarta, Kamis 21 Februari 2013. Kepada awak media, Timmermans mengatakan bahwa debit air di Indonesia, khususnya Jakarta, naik 10-15 cm per tahunnya. Kondisi ini menurutnya sangat memprihatinkan.

    Dia mengatakan untuk membantu Indonesia dalam mengatasi masalah ini, pemerintah Belanda telah memberikan bantuan hibah sebesar 12 juta euro atau sekitar Rp153 miliar setiap tahunnya.
    Selain memberikan hibah, Belanda siap mengirimkan tim ahlinya untuk berbagi pengalaman soal tata kelola air. “Untuk mengatasi banjir, kami punya banyak ahli. Masalah ini telah kami hadapi sejak ratusan tahun lalu,” kata dia.

    Pejabat urusan politik Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, Maarten Boef, mengatakan bahwa dana hibah tersebut telah diberikan sejak tahun 2012 dan akan berakhir pada tahun 2015.
    “Dana ini digunakan untuk tata kelola air di Indonesia, tapi Jakarta menjadi prioritas kami,” kata Boef saat dihubungi VIVAnews lewat telepon.

    Dalam kunjungannya ke Indonesia, Timmermans bertemu koleganya Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Kedua negara sepakat untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang. Tiga bidang utama yang tengah dibidik Belanda adalah tata kelola air, pertanian dan perencanaan kota. (kd)

  3. Dewi Aichi  6 February, 2013 at 23:50

    Aduhhhh…Mpekkkkkkkkkk…emang saya ngga pernah bener??? hiks..hiks..

    ipad buat belajar Mpek….nyari apa gitu untuk bahan presentasi…

  4. mpekDuL  6 February, 2013 at 23:05

    Dewi Aichi Says: February 6th, 2013 at 22:53
    Mpek Dul waduh…bukan akibat kebanjiran, komunikasi terputus karena ipad saya dipakai anak saya he he..

    Tumben bener? Eeeh kok anak berani main terror ?

  5. Dewi Aichi  6 February, 2013 at 22:53

    Mpek Dul waduh…bukan akibat kebanjiran, komunikasi terputus karena ipad saya dipakai anak saya he he..

  6. mpekDuL  27 January, 2013 at 21:10

     Jokowi: Waduk Pluit bakal diperdalam hingga 10 Meter.
     Bakal ? Seharusnya sudah puluhan tahun yang lalu dijalankan.

     Dinas PU Jakarta Tambal Tanggul Rusak
     Tambal? kan bukan kertas ? Memang jalan termudah, tahun depan kalo jebol ditambal lagi atau didempul tanah liat lebih baik.

     Ada 176 Lokasi Banjir Baru di Jakarta ?
     Tahun depan tambah berapa lagi? Bulatkan saja 200

     Ratusan “Zombie” Kampanye Kebersihan Ibu Kota. tujuan untuk mengajak warga untuk menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.
     Ternyata masih ada Zombies yang punya kesadaran. Good Zombies !

     Jokowi berhenti ketika melihat tumpukan sampah.
     Memangnya belon pernah lihat tumpuah sampah dari dulu?

     Jokowi janjikan sigap atasi sampah sisa banjir.
     Cuma atasi sisa sampah saja? Jangan hanya janji, tetapi tindak dengan tegas dan keras, SEMUA Sampah demi kepentingan nasional

     Pasca banjir, sampah di Kalibata Mulai Dikeruk .
     Baru kalau sudah banjir ditindak?

     Purnama bakal tenggelamkan Jakarta? 27 Januari, Jakarta hanya tergenang bukan tenggelam
     Kalau ditindak radikal, pasti akan terjadi. Tidak usah menunggu Purnama segala. Bisa juga tunggu kalau sudah tenggelam.

     Sampah banjir menumpuk, Warga kota Bambu marah.
     Marah ? kepada siapa? Kan ini adalah hasil ke kurang sadaran sendiri membuang sampah semau gue, setiap rumah gali sumur semau gue sehingga tidak heran level tanah anjlok menurun?

     BNPB: Semua Sungai di Jakarta Aman, meski kondisi instalasi penyaringan, dari belasan pintu penyaringan bangunan lama menuju Waduk Pluit, Jakarta Utara ini, hanya tiga yang berfungsi. Lainnya tersumbat sampah.
     BNPB dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya, Minggu (20/1/2013): Tinggi Muka Air di Jakarta masuk level Aman. Banjir di Pluit, Jakarta Utara merendam rumah mewah yang sedang dibangun, Sabtu (19/1/2013). Banjir akibat meluapnya waduk Pluit itu berkedalaman 1,5 hingga 2,5 meter.
     Satu UCAPAN yang luar biasa bodohnya. Betul juga! Kalau sudah tenggelam ya bukan tergenang lagi. Jadi tunggu saja berapa tahun lagi baru ditindak.

     Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Balaikota menegaskan, banjir yang terjadi selama sepekan di Ibu Kota telah menimbulkan kerugian sekitar Rp 20 triliun. Apabila kondisi seperti ini terus dibiarkan, kerugian yang dialami kota ini akan semakin besar. Lebih baik anggaran yang ada dimanfaatkan untuk mengatasi banjir dengan mengalokasikan membuat terowongan.
     Ah. Apa artinya, baru Rp 20 triliun. Nol nya cuma 12 biji. 1.000 miliar (1012 = 1.000.000.000.000? PENDAPATAN NEGARA Indonesia 2013 = Rp 1.507 TRILIUN, jadi masih ada saldo lebih dari Rp. 1.487 TRILLIUN.

  7. mpekDuL  26 January, 2013 at 16:09

    J C Says: January 26th, 2013 at 07:07
    Mpek Dul, Kornelya, aku rasa pemerintah Indonesia bukan tidak menjajaki atau mencoba import teknologi dari Belanda. Aku yakin kalau masalah duit, pemerintah Indonesia masih sanggup bayar. Yang jadi masalah adalah para pejabat yang antre minta komisi atau mark-up dari proyek tsb.

    Josh, apa yang kamu uraikan itu memang begitu. Semua perusahaan Belanda diluar negeri yang main suap atau memberi amplop pasti ketahuan karena ada “bell-ringer” nya, orang yang melaporkan ke pemerintah, dan jangan heran kalau FIOD, dan SIOD (departement saya dulu) nanti nya membuat kehidupan mereka “kecut”, setiap sen pengeluaran wajib membuktikan dengan nota2, dan bisa kami udal2 pembukuannya sampai 10 tahun yang lalu. Baru kena denda 100%.
    Baru2 ini ada perusahaan kimia di Belanda yang pabriknya meledak karena melanggar peraturan keamanan dan dalam waktu 1 tahun dinyatakan bangkrut karena: kelalaian, sengaja meremehkan peraturan hanya untuk menekan ongkos2, membahayakan pegawai2nya, mengotori alam.
    Semua kekayaan pabrik ini lebih kecil dari ongkos2 pembersihan, pengotoran, kurban kerugian dsb.

    Seperti lumpur Lapindo itu kalau penyebabnya perusahaan Belanda, pasti perusahaan itu sudah dinyatakan bangkrut karena ongkos2 kerugian melebih dari harta perusahaan itu. Anehnya, di Indonesia bisa cuci tangan dan bangun super tower. Main monopoli usaha.

    Dan yang terpenting: pentolan2nya diadili, dihukum (tanpa dapat memebri amplop, sebab amplop juga disita). Dia kena black list dan tidak bakal bisa mendirikan perusahaan lagi, kecuali dia lari ke negara2 yang korup untuk memulai usaha baru lagi.
    Orang2 yang ingin bussines dengan satu perusahaan dapat mengajukan permohonan melihat Black list ini, apakah perusahaan itu pernah terlibat satu kekotoran dan melanggar hukum.

    Kalau mau cepat jadi milyarder memang di Indonesia paling uueenak.
    Yang jadi kurban hanya rakyat kecil, orang2 yang lemah, yang sakit, cacad. Moral – dan hukum itu hanya tertulis diatas kertas saja. Kesadaran nasional dan disiplin itu tidak dikenal.
    Wis POKOK E

  8. J C  26 January, 2013 at 07:07

    Mpek Dul, Kornelya, aku rasa pemerintah Indonesia bukan tidak menjajaki atau mencoba import teknologi dari Belanda. Aku yakin kalau masalah duit, pemerintah Indonesia masih sanggup bayar. Yang jadi masalah adalah para pejabat yang antre minta komisi atau mark-up dari proyek tsb. Aku cukup yakin bahwa pihak Belanda akan menolaknya, karena aku pernah punya pengalaman yang sama dengan perusahaan-perusahaan Belanda. Pada waktu masih berhubungan dengan beberapa proyek dari Belanda, partner lokal yang ingin curang dengan membelokkan anggaran proyek akhirnya kena batunya “dicerai” oleh partner Belanda dan perusahaannya masuk black list pemerintah Belanda, dilaporkan bahkan sampai ada file khusus di Kedutaan Belanda di Kuningan. Kasus kedua ketika aku mencoba-coba memulai bisnis import sesuatu dari Belanda. Pengurusan ijinnya dari departemen terkait. Pertamanya lancar, terus departemen ini mulai macam-macam, tapi partner Belanda tetep tidak mau memberikan gratifikasi dalam bentuk apapun, akhirnya yah bubar begitu saja, bisnis tidak bisa jalan karena dipersulit departemen yang bermarkas besar di Pasar Minggu ini.

    Contoh yang lain, bisnis yang sama dengan sumber dari Australia, ternyata lancar saja sampai sekarang karena partner Australia adalah ORANG INDONESIA yang jadi agent di sana, dengan senang hati memberikan upeti ke sana sini demi memperlancar urusan bisnis. Barang yang di’supply dari Australia ini kebetulan kurang cocok dengan yang pernah aku jalani dulu, jadi ya tidak ambil dari sana…tapi pelaku bisnis yang lain sampai sekarang masih menjalaninya dan masih setia dengan upeti ke sana sini…

  9. mpekDuL  26 January, 2013 at 05:42

    Kornelya Says: January 26th, 2013 at 00:14
    Mpek Dul, kalau pengelolaan infrastructure dan flood risk management Jakarta diserahkan pada Belanda yg berpengalaman, baru masalah banjir bisa teratasi.

    Kornelya, apa yang kamu uraikan sederhana, to the point dan begitu kenyataannya. Negeri Belanda hanya mempunyai satu musuh, yaitu ancaman dari laut dan air yang selalu harus diatasi sampai sekarangpun masih begitu. Negara ini memang dikenal didunia satu2nya yang berpengalaman dan mempunyai tehnologi dalam mengatasi tehnik sipil air. Export technology adalah salah satu penghasilan negari Belanda
    New Orleans yang terlanda Catharina akirnya menyruh Belanda an membangun tanggul yang melindungi kota ini. Sejak itu tidak ada lagi kebanjiran, New York juga meminta Belanda mengatasi hal ini akibta tsunami tahun lalu.
    Ketika dijaman yang dinamakan “kolonialisasi”semua infrastuktur dibangun, diatur, dan dirawat, sampai ke gedung2 yang mereka bangun. Jadi tidak saja membangun dan selebihnya tidak dirawat sehingga terlantar. Malah jaman Merdeka semuanya kok ikut2 dimerdeka kan tidak dijaga dan dirawat.

    Jokowi dapat mulai memerintahkan semua para walikota Jakarta untuk HARUS melaksanakan ini, bila perlu lewat “Dekrit ”. Kontrak perusahan2 tehnologi Belanda seperti Engineering Grontmij N.V., perusahaan yang mempunyai perwakilan di 50 negara. Royal Haskoning dengan perwakilan di 18 negara (saat ini sedang membangun saluran air minum bersih di seluruh Bolivia. Perusahaan ini yang membangun tanggul di New Orleans), Engineering Arcadis, Royal BAM group, Ballast Nedam (yang ikut membangun bandara Chek Lap Kok HongKong) dll. Perusahan2 ini hadlir setiap tahun di pameran IFAT München (Munich, Jerman).
    Saat ini bandara Incheon KorSel, Suvarnabhumi Airport Bangkok, Panama Canal (diperlebar) juga ditangani oleh perusahan2 Belanda.
    Setahu saya sudah ada dua perusahaan Belanda yang saat ini sedang aktif di Jakarta utara dan Semarang.

    Keduk semua sungai2, selokan2. “Mulut2” sungai2 yang penting seperti Ciliwung dengan cabang2nya yang mengancam kota Jakarta diperlebar, jadi bukan perlebaran jalan yg diutamakan, tetapi perlebaran sungai dan selokan. Arahkan air utara kelaut. Awasi dan tindak betul2 agar jangan sampai dipakai menjadi tempat pembuangan sampah. Semua Pintu air di Jakarta di perbaharui dan dijaga agar berfungsi. Tentu saja persoalan banjir yang sudah sangat parah akibat tidak ditangani dan dirawat seperti ini, dapat diatasi dalam satu tahun, namun setidaknya tahun depan, sudah tidak lagi separah tahun ini. Jika tindakan ini diintensifkan, mudah2an saja banjir hanya merupakan satu kejadian insidentil dimasa depan.
    Membicarakan soal ekonomis, ongkos2 investasi memang sangat besar sekali, tetapi kerugian akibat banjir setiap tahunnya akirnya memakan ongkos yang berlipat ganda di jangka panjang.

    Bersamaan dengan ini, Kementerian Perumahan rakyat dan Perairan Indonesia harus mengeluarkan hukum larangan pengeboran/ penggalian sumur disetiap rumah baru, terutama didaerah2 yang rendah, yang terletak sekitar 50 meter dari sungai/ kali, diseluruh Indonesia. Diwaktu yang bersamaan memulai melaksanakan lalu lintas air minum PAM, semua kawat listrik, komunikasi tilpon ditanam dibawah tanah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *