Menuju Mbay, Ibukota Nagekeo (2)

Odi Shalahuddin

 

Tiba di Bandara Udara H. Hasan Aroeboesman, kabupaten Ende. Ende? Secara spontan terlintas di kepala sosok nama Gorys Keraff dengan buku-bukunya yang diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah, Ende. Buku-buku yang menjadi bahan bacaan wajib bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang tentu saja para mahasiswanya tidak asing dengan nama itu.

dscn8908

Bandara Udara H. Hasan Aroeboesman, Ende

Juga Soekarno. Di kota inilah Bung Karno selama masa pembuangan oleh Belanda melalui perenungan-perenungannya melahirkan Pancasila. Ada situs rumah Bung Karno di sini. Ah, semoga saja berkesempatan untuk singgah ke sana saat kepulangan nanti.

Keluar dari pintu kedatangan, sulit membedakan pula antara penjemput, sopir angkutan dan tukang ojek. Lantas siapakah yang akan menjemput? Ah, sayang saya tidak diberi tahu nama dan nomor kontaknya.

Tersadar pula, bila saja sang penjemput mencoba menghubungi, dipastikan tidak akan bisa terhubung. Sungguh, saya lupa untuk menyiapkan nomor dari simcard yang bisa beroperasi di wilayah ini. Simcard yang biasa saya gunakan, mati total tanpa sinyal.

Beberapa sopir dan tukang ojek, menawarkan diri untuk menghantarkan ke tempat tujuan. Saya menggeleng, dan menyatakan sudah ada yang akan menjemput.

Sial! Tidak ada tanda-tanda sosok yang tengah mencari atau sosok yang memegang kertas bertuliskan nama untuk mempermudah pencarian. Hingga satu per satu penumpang telah meninggalkan tempat.

Saya meminta ijin, masuk ke dalam ruangan dengan dinding kaca, menuliskan nama sendiri dan memajangkan hingga bisa terlihat oleh orang-orang yang menunggu di luar. Juga tidak ada sosok yang berusaha melambaikan tangan.

”Naik travel saja,” seseorang memberikan tawaran ketika saya memutuskan keluar kembali dari ruangan, ”Bisa mencari di ujung sana,”

Setelah mengucapkan terima kasih, saya menuju ke arah yang ditunjuknya. Mobil yang disebut travel adalah angkutan umum seperti angkot. Penumpang di dalamnya sudah berdesakan, dan diatasnya sudah penuh barang-barang.

”Wah, sudah penuh, pak,”

Ah, kini para sopir dan tukang ojek juga perlahan sudah tidak ada di tempat. Pesawat yang tadi kutumpangi, adalah penerbangan terakhir. Terlihat pula para pegawai sudah mulai pulang.

Jadi? Dengan tas ransel dan satu tas besar, pastilah merepotkan bila dibawa kemana-mana. Terpikir untuk mencari simcard baru, menghubungi kawan yang mengundang untuk mencari tahu siapa yang tengah menjemput.

Di pojokan, terlihat pos polisi bandara udara.  Saya segera menuju pos polisi tersebut, berbincang dengan seorang petugas, lalu menyampaikan niat untuk menitipkan tas-tas saya. ”Mau cari kartu perdana dulu, Pak,”

Saya berjalan kaki, keluar menuju jalan raya yang letaknya tidak jauh. Dibandingkan dengan bandara di Yogyakarta, jarak dengan jalan raya, ya hampir samalah. Ada sebuah kios penjualan HP dan pulsa. Tapi sayang tertutup rapat. Di sebuah bengkel yang ada di sebelahnya, beberapa motor terparkir.

”Ojek, pak?” seorang anak muda yang tadi juga menawari ojek di dalam bandara menyapa.

”Ok. Cari tempat penjualan kartu dan pulsa ya….”

Akhirnya lega rasanya, bisa mendapatkan nomor baru. Tukang ojek mengantarkan saya hingga ke pos polisi. Petugas di sana sudah berganti, dengan petugas yang lebih muda. Saya sampaikan tentang maksud untuk mengambil tas yang tadi dititipkan. Ia menyambut ramah, dan mempersilahkan untuk mengambilnya.

Saya mengontak kawan, menyatakan telah tiba, namun jemputan belum terlihat. Saya nyatakan posisi saya sekarang. Kawan tersebut menyatakan untuk mengontak rekannya bagian admin yang mengurus penjemputan. Masih menunggu lagi. Saya meminta ijin kepada petugas untuk menunggu di pos tersebut. Beruntung petugas kepolisian sangat ramah. Kami berbincang banyak, terutama yang terkait dengan situasi keamanan di Flores, juga gosip-gosip kasus yang tengah menimpa para petinggi kepolisian.

Petugas itu juga menjamu dengan memesankan segelas kopi, yang ah, sangat bisa ternikmati. Terima kasih, ya Pak Polisi.

Sekitar satu jam saya menunggu di pos polisi. Sampai akhirnya sebuah mobil berplat kuning, seperti taksi di Yogya, berhenti di depan pos polisi. Ah, inilah sang penjemputnya.

Wajah sopir terlihat baru saja terbangun dari tidur. “Saya telpon tidak aktif terus,” jawabnya saat kutanya. “Setelah dikontak bahwa Bapak sudah sampai, saya coba telpon lagi, juga tetap tidak aktif,”

“Ya, karena nomor saya di sini tidak ada sinyal” sahutku setengah jengkel, walau sudah sedikit senang dan tenang. Tas kumasukkan ke dalam mobil. Mengucapkan terima kasih kepada polisi jaga. Mulailah meluncur, dari Ende menuju Mbay.

(bersambung)

 

6 Comments to "Menuju Mbay, Ibukota Nagekeo (2)"

  1. Chandra Sasadara  25 January, 2013 at 12:35

    Pak Handoko pernah simcard-nya blank tidak ada sinyal di tempat ini. tapi soal para supir yang menawarkan jasa. kami mendapat supir yang sangat ramah,bahkan menawarkan untuk mampir di rumah untuk menikmati kelapa muda

  2. Handoko Widagdo  25 January, 2013 at 10:33

    Kasus yang sama saya alami saat saya mau ke Nagekeo. Ende memang lain ya?

  3. Anoew  24 January, 2013 at 21:46

    mungkin sudah saatnya diluncurkan sim card / kartu telepon khusus, yaitu melalui jalur telepati. jadi biarpun sedang di pelosok, hutan rimba atau pun di gorong-gorong selalu terjangkau oleh sinyal. sinyal telepati.

    *mengikuti perjalanan mas Oddie*

  4. Hennie Triana Oberst  24 January, 2013 at 18:50

    Mengikuti terus perjalanan ini.

  5. Anastasia Yuliantari  24 January, 2013 at 12:31

    Satu hal yang hrs diingat kalo di Flores, tdak semua simcard yg jaya di Jawa bisa muncul sinyal di sana. Paling aman cari yg paling dipakai oleh umat se Indonesia Raya. Hehehe.

  6. J C  24 January, 2013 at 12:27

    Walaupun mengikuti dan membaca dengan teliti, tetap saja feeling’nya belum “kena”, belum bisa membayangkan bagaimana situasi tempat-tempat di Indonesia Timur…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.