[Serial Deliku] Lidahku Keseleo-seleo

Dian Nugraheni

 

Inilah seni hidup di negeri orang.., serba baru.., serba beda.., selalu harus belajar dan menyesuaikan diri…

Aku sudah “lulus” dari GE, toko tempatku kerja beberapa bulan lalu. Kali ini aku mencari kerja yang agak hemat tenaga, tapi dapat upah yang lebih tinggi per jamnya. Alhamdulillah, sebuah Deli (Delicatessen) Sandwich yang berlokasi di dalam kampus mentereng, Universitas George Washington, butuh orang untuk dilatih menjadi Sandwich Maker.., why not..? It will be awesome..!!

Aku sudah membayangkan, bagaimana aku akan diajari membuat berbagai macam Sandwich..dengan jenis roti yang aneka rupa, dan dengan isian yang beraneka ragam pula. Dan otak “pencuri”ku mulai pula bekerja, untuk bisa mempelajari “secret ingredient” yang membuat Sandwich di kedai ini, luar biasa digemari orang. Penggemarnya ngantri dari depan bar sandwich sampai ke trotoar, rela berdiri menunggu giliran mendapatkan pesanannya. Setiap harinya, ada lebih dari 800 orang membeli makan di kedai ini. Ini hanya sampai makaan siang, nanti saampai makan malam, pelanggan akaan mencapai 1500 bahkan 2000 orang per harinya.

Tapi, mungkin belum saatnya aku menjadi Robbin Hood sang Pencuri (yang baik hati..he…he…he…), sang Owner malah memasangku di meja kasir. Aku sih sudah mengelak, “I’m not familiar with this machine..” , maksudnya, aku nggak pernah kerja dengan mesin kasir, gitu…

Sang Owner bilang, “Saya percaya kamu akan menguasai mesin sederhana ini…”  Glek..!!

Akhirnya, hari itu aku mencoba menjadi kasir. Apa istimewanya..? Nahh.., ini dia yang teteeeeep..aja, bikin terkejut-kejut.

Secara, gitu loh..ini adalah di Washington, DC, pusat kenegaraannya Amerika Serikat.., tapi, coba bayangkan, kedai ini bagaikan toko kelontong sangat sederhana, yang lebarnya hanya 5 meter dan panjangnya sekitar 20 meter, memanjang alias kelihatan sempit. Dan di dalamnya, terpajang ratusan jenis makanan, minuman, camilan, seperti puluhan jenis keripik (chip), minuman ringan, minuman panas seperti kopi, coklat, teh, yang harganya sesuai dengan ukuran gelasnya, 12 oz, 16 oz, 20 0z, 32 oz, permen, dan tetek bengeknya..persis toko kelontong. Dannnn, tidak semua barang dagangan itu ditempeli harga, apalagi menggunakan barcode.., tidak, alias barcode kagak kepake..!! Wes pokoke old fashion banget. Aku sempat bingung dan bertanya, “Barang segini banyaknya, bagaimana aku bisa hafal harga-harganya, yak..?”

Dan Sang Owner menjawab dengan sangat…, sangat tenang, “Dalam 2 minggu, kamu akan terbiasa dan hafal luar kepala harga-harga barang di sini…” Byuhh..gemblung, rek.., ya aku sama sekali nggak percaya. Emangnya butir-butir Pancasila..yang cuma segitu-gitunya jumlah butirnya.., itu aja rekosone pol le ngapalke, kok, Oom.., Oom.., dasar bule edan..!!

Okelah kalau begitu…

Dalam minggu pertama, aku banyak mencatat harga ini itu, dan ketika sedang melayani pembayaran, aku sering nanya sang Owner(sehari-hari dia juga membantu jadi kasir selama 8 jam kerja, penuh..), “Ini berapa ya harganya..”..gituuuu..terus…

Waktu berjalan 2 minggu, ternyata benar apa kata sang Owner, jari-jariku sudah kayak seperti berjalan dengan sendirinya, barang-barang yang tak berlabel harga pun, lama-lama kok seperti muncul harganya sendiri-sendiri..he…he…he…ternyata si Owner bukan bule edan seperti yang aku pikirkan.., tapi bule berpengalaman yang tak takut memperkerjakan orang seperti aku yang nggak punya pengalaman jadi kasir sebelumnya.

Soal harga barang, clear.., aku sudah bisa menghapal harga puluhan, bahkan mungkin ratusan harga barang, sekarang masalahnya adalah, aku nggak kenal mata uang Amerika yang recehan tuh, Peny (satu sen), Nickel (5 sen), Dime (sepuluh sen). Dan, bikin repotnya lagi, mesin kasir nih yang kuno amat, kemampuan si mesin hitung ini cuma sampai menjumlah, nggak ada item bayar dengan uang berapa, kembaliannya berapa..

Jadinya, aku masih harus tetap mikir, mencongak, menghitung di awang-awang, pembelian berapa, uang pembayaran berapa, kembaliannya berapa…kwakkk!!..hixixixi.. Sehingga, sering kali aku kelebihan, atau kekurangan memberikan kembalian…gileee..kannn..!! Dan sang Owner paham itu, karena dia di sampingku, dan pelanggannya juga protes (yang suka protes agak “njelehi’ tuh adalah orang-orang Item..), “Nih, kelebihan, nih kurang sekian..”

cashier

Sudah gitu..nih dasar lidah, lidah katroooo.., lidahku selalu kesleo-sleo alias kagak bisa bener dalam mengucapkan,  jelas-jelas yang tertera di layar mesin kasir adalah 39 sen, aku bilangnya, “sixty nine sen”…atau jelas-jelas tertera 4.54, aku bilangnya Five forty five, bahkan 3.99 aku bilang six sixty nine… Cuma mbacanya aja yang salah, tapi nanti ngasih kembaliannya bener..tetep aja bikin pelanggan yang rata-rata anak kuliahan itu, bingung dan bengong. Kalau sudah gitu, biasanya mereka akan mencermati struk pembelian, kalau bener, ya mereka maklum, aku salah ucap. Kalau salah, mereka akan “protes” dengan sangat sopan…

Ini sudah masuk minggu ke 4 aku kerja jadi kasir, hmm..he…he…he…rasanya, sudah makin running well, lidahku sudah ikut-ikutan “kemruel” mengucapkan nama-nama angka dalam bahasa Inggris, dan gaya bahasa, intonasi, dan lagu pengucapan kalimatku dalam bahasa Inggris pun sudah makin indah meliuk-liuk, seperti orang-orang bule kalau ngomong…hixixixi..ternyata, memang belajar bahasa yang terbaik itu, bukan di kelas, tapi ya terjun langsung membaur di tempat dan di lingkungan si Empunya bahasa itu…

Wuke duke.., kawan-kawanku.., mari kita tetap semangat, jangan takut mencoba, nikmati saja perjalanannya.., dengan niat semuanya untuk kebaikan, karena Allah semata.., semoga semuanya bisa lancar, berkah, dan mendapat ridho dari Yang Kuasa…

Salam Peny, Nickel, dan Dime..!! he…he…he…

 

Carlin Spring,

Arlington, Virginia,

 

Dian Nugraheni,

Tanggal 17 September 2010, hari Jumat, jam 8.39 malam..

(Bersin-bersin.., banyak debu di tokoku..hmm..he…he…he…)

 

11 Comments to "[Serial Deliku] Lidahku Keseleo-seleo"

  1. Info Obat  22 April, 2013 at 12:11

    lidah enaknya bukan untuk di keseleokan, tapi untuk di rujak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.