Sastra Ketuhanan

Ibnu Khamais

 

“Ketahuilah para bhikhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. (Sutta Pitaka, Udana VIII : 3)”

Hawa yang kemudian diciptakan oleh Tuhan, ditiupkan ruh ke dalamnya. Lantas dihempas jauh-jauh ke bumi. Dunia yang fana, penuh titik tak berkonstanta, penuh jiwa-jiwa kotor dan rapuh. Apabila hakikat manusia layaknya Adam dan Hawa, yang ditempatkan Tuhan di sorga, tempat serba ada. Bersemayam bersama malaikat serta bidadari yang begitu masyuk serta indahnya, sudi mendengar bisikan saitan. Dimana letak kita manusia biasa yang tak pernah melihat sorga?, hanya mendengar iming-iming semata dari kelas agama atau kitab suci sahaja. Layak kah kita meminta sorga?

Aku berkontemplasi dalam diam…..
Bumi berbungkus kabut kelam
pada hari pertama penciptaan
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. (Kitab Kejadian 1:1)
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar (Al-An’am: 73)

sebelum menggeriapi jagad
yang dalam jebak rajutan dosa awal
yang memberi sandang
dari ketelanjangan hampa arti
dari sekedar anak bawang surgawi

Aku melihat Siddhartha Gautama dan Mahatma Gandhi samar-samar tersenyum kearahku.
“Anak muda, sudah kubilang kan, surga itu tak ada”
Anuttara Samyak Sambodhi: tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan atau pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir
Moksa Tattwa: percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia
Yahudi, Nasrani, Islam mengharap surga sebagai akhir kehidupan. Dimana letak kita?

Saat sang akan yang liat
belum menggeliat
miripkah itu malam larut jam nol
panah waktu tersesat ke planit asing
tak lagi hadir di tik-tak jam

Disudut sebelah timur, Kong Hu-Cu menerawang jauh entah. Usut punya usut dia tak habis pikir dengan cucu-cicit serta antek-anteknya. Padahal Kong Hu Chu (Konfusius) telah bersabda “Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut”
Sudahlah, nasi telah menjadi bubur. Wuuuuuuusaaaaahhhhh. Allizwell!

Juwatan…
Aku sampai pada konsep ketuhanan yang rancu

Kali ini
Aku dimaki-maki Cak Nun, Gus Mus, dan Gus Dur

“Tak selayaknya kau seperti itu”

Aku mengajukan objection sambil takut-takut mengacungkan jari
“Duhai yang dipertuan agung, para tokoh idolaku, aku hanya ingin bersikap kritis, aku hanya ingin berfikir sebagaimana diperintahkan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 44. Ketika orang-orang pilihanmu pun menyangsikanmu. Nabi Ibrahim mencari-cari Tuhan. Nabi Musa menantang ingin melihatmu, Tuhan. Lantas siapa aku? yang hanya manusia penuh dosa. Yang tak pernah menerima wahyu langsung darimu. Katakan dari pola pikir sebelah mana kau mengharapkanku mentah-mentah percaya?”

“Jalan mana pun yang ditempuh manusia kepada-Ku, semuanya Aku terima dan Aku beri anugerah setimpal sesuai dengan penyerahan diri mereka. Semua orang mencariku dengan berbagai jalan, wahai putera Partha (Bhagawadgita. Bab IV sloka 11)”

Mungkin semustinya seterbuka itu.

mata itu mengecil
mengibas-ngibas, pergi
mengelak ruji

Sungguh, teruskan tidur
teruskan!

Bila jutaan resah hening dalam seuntai doa
sementara di rel yang basah
ada leher diletakkan

Bila berlangsung cinta berkeringat ‘aduh’
di belakang dinding kelam
sementara si pungguk menikam dada Venus penuh dendam

Bila di bawah ranjang Mao
dokumen diselundupkan Chiang Ching
sementara dalam baju kabung
diselipkan keris Mpu Gandring

Ketika Adam agaknya takkan kunjung kembali
bila memburu sang ular yang terluput
karena begitu bergegas cuci tangan
di air dosa ‘perempuan yang telah (Kitab Kejadian 3: 12)
Tuhan karuniakan kepadaku itu
yang memberikan daku
buah pohon itu’
perempuan yang ketika sepi
begitu ia dambakan
sebagai ‘seorang penolong yang sejodoh’ (Kitab Kejadian 2: 20)

Maka
Hawa sedang tegak nun di puncak bukit itu
memilih bahasa keanggunan
menatap tajam Maria yang kini nengadah depan pondoknya
siap menadah butir-butir kata terlontar
menyambut percakapan yang kekal terbengkalai

Hawa dan Maria dua nama utama bunda sang manusia
Didepan sana, Hawa dihardik malaikat.
“Agama kau apa saudari Hawa?”
“Lho, bahkan dengan Tuhan ku pun sudah bertatap muka
saling sapa
dulu (suaranya menajam)
di sorga (desis seseorang yang terkenang)
Kaupun hingga sujud padaku”

Lain Maria yang akan lembut menyahut :
“Kuikuti Yesus, kucemaskan
Meskipun dibiarkannya aku di luar menunggu (Kitab Matius 12: 49)
menyebut murid-muridnya sebagai saudara dan ibu
oh, agamaku?
Ketika di Antiochia orang menyebutnya ‘Kristen’
aku entah di mana (Kisah rasul-Rasul 11:26)”

Lantas keduanya sibuk bercakap-cakap, sambil menyeeruput teh tarik campur susu kesukaan bersama.

Ruwatan menjadi upacara wajib
Tahunan
Bulanan
Mingguan
Mengusir roh-roh jahat
Mengusir Jin-Iblis
Mengusir dzat tak diinginkan
Katanya…
Masih katanya…

Ketika ketuhanan bermanifestasi
menjadi falsafah kehidupan
Ketika faham beretika menjelma
menjadi undang-undang dasar
Ketika Tuhan dirancu-rancu kan

Mungkin saja Abraham akan menjadi orang paling berdosa sedunia.
Atau paling tidak dia akan menjadi bapak paling sedih sepanjang masa.
Sepeninggal dia Abrahamiah mejadi Yahudi, Nasrani, dan Islam.
Bisa jadi Tuhan sedih menyadari agama sudah memetak-metakan ciptaannya.

Rancu menjadikan aku
Hampa menderu
Tidur tiga-empat jam melulu
Aku bisa gila kalau begitu
Aku Cuma minta satu

ketuhanan

Jelaskan padaku Tuhan dalam seminggu.
Agama tidak sebatas sejarah saja kan?

 

Otakku terlalu panas mencari-cari sendiri.

 

7 Comments to "Sastra Ketuhanan"

  1. Dj. 813  30 January, 2013 at 02:08

    I . K . ,
    Semoga satu saat bisia bertemu dengan apa yang anda cari.
    Seperti Oferus yang akhirnya menjadi Christophorus….
    Salam,

  2. anoew  29 January, 2013 at 18:51

    Tuhan ada di mana-mana, Ia seperti matahari yang memyinarkan cahayanya bagi orang baik maupun jahat, beragama maupun tidak. Tinggal si manusianya itu yang mau apa tidak menyadari kehadiranNya tanpa perlu memisah-misahkan warna hijau-kuning-merah-ungu-putih, kotak-kotak atau garis-garis.

  3. AH  29 January, 2013 at 17:09

    sekali ini saya setuju dengan komen Pak Handoko. partikel Tuhan sudah ada di diri kita, tinggal kita mau menyadarinya atau tidak. masalahnya kita selalu melongok keluar, mencari, membandingkan. tapi jarang melihat ke dalam diri sendiri. merasakan.

  4. Chandra Sasadara  29 January, 2013 at 16:53

    Tentu saja Tuhan akan menyapa kita, tapi tidak smua sapaan kita ketahui bahwa itu “sapaan Tuhan”. hanya yang terlatih yang tahu “jenis sapaan Tuhan”..

    semua figur yang disebut dalam artikel ini hanya model.. sedangkan Tuhan sama sekakki bukan model..bukan siapapun, bukan apapun, bukan subjek bukan objek.. “Gusti iku tan keno kinoyo opo” kata org jawa. “Laitsa kamislihi sai’un” kata alqur’an.

  5. J C  29 January, 2013 at 16:28

    Sebelum komentar, mau ngakak dulu baca komentar mas Sumonggo…huahaha…ruwatan mobil listrik terus malah njungkel karena rem blong dan nubruk tebing ya…

    Mas Ibnu Khamais, Panjenengan menulis artikel ini bukan main-main! Panjenengan bukan sekedar menulis berdasarkan agama tertentu saja, tapi berdasarkan semua ajaran agama dan ajaran universal. Bukan itu saja, tapi pemahaman yang baik tentang sejarah luar biasa! Hanya yang serius mempelajari agama dan sejarah yang bisa menulis dan mengutip kitab-kitab sucinya dan paham tentang Mao dan Jiang Qing… mantaaaappppp…

  6. Handoko Widagdo  29 January, 2013 at 11:35

    Tak usah mencari Tuhan. Biarlah Dia yang menyapa kita.

  7. Sumonggo  29 January, 2013 at 09:32

    “Ruwatan menjadi upacara wajib….”

    Hati-hati bikin ruwatan, lebih-lebih jika yang diruwat mobil listrik …….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.