Tembak di Tempat (13)

Endah Raharjo

 

Terapong “Ronn” Rittinondh duduk di kursi rotan, bersilang kaki. Rambut salt-and-pepper-nya dipangkas tidak rata, lurus dan lebat, tergerai menyentuh bahu. Angin kering berhembus cukup keras, menyibakkan anak-anak rambut lelaki itu. Di benakku melintas seekor kuda jantan yang telah berkali-kali memenangkan pacuan: gagah, angkuh, dan tampan. Setelan celana dan kemeja katun sewarna jerami membungkus tubuhnya, senada dengan kulit terangnya. Tak ada aksesori selain arloji dan cincin kawin. Ia mewarisi hidung runcing sang ibu, namun secara keseluruhan wajahnya didominasi garis-garis Asia dari ayahnya.

Teras luas tempat kami duduk ini berlantai kayu jati, disangga tiang-tiang kokoh setinggi 3 meter dari muka tanah, menghadap danau. Sentuhan rumah panggung khas Thailand terlihat jelas. Pagar kayu di pinggir-pinggirnya dihiasi ukiran sosok bhiksu – mungkin Buddha – duduk dalam posisi padmasana atau bersila. Aneka tanaman bunga dalam pot-pot bundar ditata asri di tiga sudutnya.

Pemilik istana yang disapa Ronn itu bangkit dari kursi, mengangkat teko yang baru diletakkan pelayan, menuangkan teh panas ke cangkirku. Ia juga memotong pie nanas yang katanya disiapkan khusus untukku. Karakternya yang tak tertulis dalam laporan-laporan berlabel classified mulai kulihat. Aku duduk sambil sibuk mengatasi rasa kikuk.

“Maaf, saya gugup. Saya belum pernah bertemu lelaki seperti Anda,” akhirnya aku bisa bicara.

“Seperti aku yang seperti apa? Aku hanya petani nanas. Tidak ada yang perlu membuatmu gugup,” ia mengacungkan cangkirnya, mengajakku mencicipi teh seduhannya. “Apa kabar Tim? Aku ingin bertemu jagoan itu. Selama ini aku hanya melihat foto-fotonya dan mendengar suaranya. Kudengar ia sehebat ibunya.” Ronn meletakkan cangkir di pangkuannya, mencermatiku. Tatapan semacam itu hanya dimiliki lelaki yang paham benar cara memperlakukan perempuan. Tatapan yang membuat perempuan merasa nyaman dengan dirinya; merasa dihargai apa adanya. Tatapan yang tak bakal kulupa selamanya. “Kamu mengingatkanku akan seorang teman baik dari Indonesia. Tapi gayamu sederhana dan natural, senyummu lebih ikhlas, wajahmu lebih sejuk dipandang.”

Aku belum pernah dipuji dengan cara seunik itu, otot-ototku jadi menegang, cangkir di tanganku bergoyang.

“Hey. Rileks. Hari ini waktuku jadi milikmu. Apa yang ingin kamu ketahui? Jangan ragu-ragu. Tanyakan saja.”

“Baik.” Kuperbaiki posisi dudukku. Kuatur nafasku. “Bisakah Anda tidak menatap saya seperti itu? Membuat saya tegang.”

Tawa lelaki setengah abad itu memenuhi teras. “Aku suka gayamu! Spontan dan lucu. Okay! Aku akan menatap langit-langit saja.” Kepalanya mendongak.

“Mengenai dana yang Anda salurkan untuk para pengungsi?”

“Ah! Dana! Uang! Mengapa semua ini selalu tentang uang?” Ronn memiringkan kepalanya ke kanan. “Uang yang kumiliki ini bisa membeli apa saja di dunia. Apa salahnya kalau sebagian kecil kupakai membeli kebebasan para pengungsi? Perbudakan belum sirna dari bumi kita, bahkan makin menjadi. Yang ada di kepala penguasa rejim militer Burma itu hanya ini,” tangan kanannya membuat gerakan menghitung uang, “dan aku punya banyak sekali.” Ronn terbahak. “Sesederhana itu saja, Mia. Ini hanya pertukaran biasa, seperti penggemar filateli saling bertukar perangko. Atau petani menukar beras dengan sabun cuci.”

Aku merinding mendengar penjelasannya, membandingkan pengungsi dengan sabun cuci. Banyak orang tahu Ronn berada di belakang pemindahan pengungsi ke negara ketiga di luar prosedur resmi. Namun tidak ada yang berani mengusiknya.

“Bukan hanya di Burma. Di mana-mana. Sudah sejak ribuan tahun sebelum Masehi putaran bumi berporos pada uang. Siapapun yang punya uang paling banyak akan berkuasa mengatur putarannya. Kalau orang ingin punya lebih banyak uang, termasuk para penguasa negara, itu masuk akal, bukan? Mereka berkepentingan mempertahankan kekuasan. Hmmm…?” Matanya minta pendapatku.

Aku menggeleng sambil mengangkat bahu. Bukan karena tidak setuju, namun aku memang tidak bisa memutuskan yang mana datang lebih dulu, seperti telur dan ayam: punya uang dulu baru mendapat kekuasaan atau punya kekuasaan dulu lalu uang datang.

“Ah! Aku membuatmu bingung. Aku ulangi, bagiku ini perkara jual beli biasa. Kalau ada pihak yang menganggap tindakanku ini mulia, ya, itu hanya dampak saja. Pertanyaan selanjutnya?”

“Bagaimana Anda menutupi misi kemanusiaan ini dari para kolega?”

“Hahaha…!” Ia terbahak sampai hampir tersedak. Aku tahu tentang empat kelompok elit di Thailand yang ikut mengeksploitasi Burma: pengusaha raksasa, militer, partai-partai politik, dan para birokrat.

“Aku memang sesekali melakukan sweetheart deals dengan pemerintah Burma. Seperti pengusaha lain, termasuk teman-temanku di Indonesia. Pada dasarnya semua orang itu businessman, atau businessperson kalau kamu sensitif terhadap gender. Kita cenderung melepas barang pada penawar tertinggi. Bukan begitu? Cinta termasuk barang yang kita pertukarkan, bukan? Bagiku nilai tertinggi tidak selalu diukur dengan uang. Bisa dengan rasa bahagia, keamanan, ketentraman hati.” Tatapannya kembali ke mataku. “Aku tidak berusaha… hmmm… apa tadi istilahmu? Menutupi?” Ia mendekatkan badan ke meja.

Aku mengangguk.

“Bukan aku yang menutupi. Aku tidak menyembunyikan apapun dari siapapun. Aku punya puluhan ribu pegawai. Mereka di luar bicara ini-itu. Aku tahu orang-orang tahu, tapi mereka pura-pura tidak tahu. Mengapa? Orang seperti aku ini dibenci sekaligus diperlukan atau malah dipuja.” Ronn tersenyum. Ada kharisma kuat dalam senyumanya. Kharisma yang hanya dimiliki lelaki yang telah menaklukkan dunia.

“Dengar, Mia. Aku merasa berdosa, sangat berdosa, atas penderitaan orang-orang miskin di seluruh dunia. Dengan uang itu, aku ingin membeli pengampunan.” Sesaat senyumnya terhapus oleh sorot mata sedih. “Istriku sering mengolok-olokku karena berusaha menghapus dosa dengan uang. Aaah…. Kamu pasti sudah melihatnya. Lukisan-lukisan itu. Cantik, bukan? Ia mantan ratu pantai se Asia.” Aku sulit mengartikan senyumnya: sinis atau bangga. “Buatku yang penting dosa itu bisa terhapus dari pikiranku sendiri. Mungkin catatan Tuhan atas dosa-dosaku sudah menumpuk, cukup untuk membakar tubuhku di neraka. Kalaupun benar demikian, aku baru akan tahu setelah mati, bukan? Dan saat itu istriku dan seisi dunia tak perlu repot memikirkanku lagi.”

philanthropist3

Konon, Ronn dan istrinya sudah tidak akur, namun ia menghormati perempuan cantik yang telah memberinya tiga anak itu. Laiknya hartawan yang berkuasa, ia memiliki kekasih, mungkin beberapa. Mungkin istrinya juga punya pacar. Hal semacam itu biasa terjadi.

Suasana teras jadi nyenyat. Burung-burung hutan mengudara, kepakannya menebar kidung ke angkasa. Sepotong pai nanas telah berpindah dari piring kecil ke perutku. Tiga pertanyaan terakhir kuajukan. Semua dijawab Ronn dengan lancar.

Lelaki ini konsisten dalam menjawab pertanyaan setiap orang, pikirku. Beberapa hasil wawancaranya di media nasional dan internasional sudah kupelajari, termasuk rekaman video di YouTube.

Ronn meninggalkan kursinya, mendekati pagar teras. Matanya mengarungi danau dan tertambat di perbukitan. Aroma tubuhnya terbawa angin hingga ke hidungku, merangsang naluri keperempuananku. Dua bulan lagi usiaku berkepala 3, namun aku belum pernah terbuai pesona lelaki seperti saat ini. Rasa dingin tiba-tiba membetot tengkukku. Cepat kutarik scarf dari dalam ransel, kulilitkan ke leherku.

“Ah! Kamu kedinginan? Pasti karena angin dari danau. Kita masuk ke dalam? Aku tak ingin membuatmu sakit.”

“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”

“Kamu lihat danau itu. Airnya mengairi perkebunan di sisi barat. Kamu sudah melihat kebun nanasku?”

“Sudah. Dalam perjalanan kemari.”

“Nanas,” gumamnya, “siapa sangka buah itu bisa membantuku menaklukkan sebagian dunia. Aku hanya lelaki pemotong nanas. Potongan-potongan itu ada yang diperas untuk diambil sarinya, sebagian dimasukkan ke dalam kaleng, ditumpuk dengan rapi, diberi larutan gula agar awet, lalu dikapalkan ke seluruh dunia.” Ronn berbalik. “Itulah pekerjaanku. Petani nanas.”

philanthropy

Ia terus bercerita. Bagaimana uang pajaknya membantu pemerintah Thailand membangun jalan-jalan raya yang mulus hingga ke pedalaman. Bagaimana ia mempekerjakan orang-orang desa di perkebunan. Bagaimana ia memberi beasiswa pada anak-anak petani yang pintar.

“Saya dengar Anda simpatisan Kaus Merah meskipun Anda tidak mengakuinya,” kupotong ceritanya.

“Ah! Kamu tahu banyak rupanya.” Ia kembali duduk, menyilangkan kaki, matanya mengamatiku lagi. “Begini, Mia. Hidupku seperti spektrum warna, bukan melulu hitam-putih. Aku tidak peduli warna apa yang dilihat orang. Aku terlalu sibuk untuk menyoalkan itu. Semua orang tahu, pelaku bisnis di Thailand sebagian besar pro Kaus Kuning. Bagiku warna apapun tidak masalah. Aku mempekerjakan anggota Kaus Merah karena mereka manusia juga. Butuh hidup. Selain itu, orang-orang di wilayah ini 90% pendukung Kaus Merah. Kamu tahu bukan?” Ia mengangkat dua alisnya.

“Ya, saya tahu.”

“Apa yang harus kutakuti? Tidak ada hukum yang mengatakan aku harus mencatumkan pilihan politik petaniku dalam kontrak kerja. Petaniku kebanyakan kontra Kaus Kuning, tapi itu urusan mereka. Kalau kolegaku tidak suka dengan keputusan bisnisku, itu juga urusan mereka. Kalau aku mengurusi semua itu, aku tidak akan sampai di sini.” Seulas senyum kemenangan membuat wajahnya tambah memesona. Darahku sesaat tersedot oleh tatapannya. “Coba pikirkan. Orang-orang menuduhku memekerjakan anak-anak. Namun orang-orang itu tidak pernah melihat bagaimana gerombolan-gerombolan pemberontak menculik anak-anak dari pangkuan ibu mereka, mengubah mereka menjadi serdadu berdarah dingin, monster-monster kecil berkaki dua yang memegang senapan otomatis, tega membunuh apa saja yang bernyawa dan bergerak.”

Miris aku mendengar penuturannya. Teringat bagaimana serdadu anak-anak, child soldiers, dibariskan di garis depan di wilayah-wilayah konflik. Burma merupakan salah satu negara dengan jumlah serdadu anak-anak terbesar di dunia.

“Gadis-gadis kecil dimasukkan ke rumah-rumah bordil, atau dikeram sebagai budak seks. Ah. Kamu menggigil. Mungkin sebaiknya aku cerita soal pertanianku saja,” ujarnya, meraih teko dari dudukan, kembali menuang teh panas ke cangkirku.

“Saya tidak apa-apa. Saya ingin mendengar pendapat Anda tentang buruh anak-anak.”

“Ya. Seperti kubilang tadi. Di sini, di ladangku, anak-anak itu bisa sekolah sekaligus bekerja. Bukankah itu jauh lebih baik daripada menjadi serdadu atau budak seks? Bagaimana menurutmu?”

“Saya di sini tidak untuk berpendapat.”

“Tapi aku ingin mendengarnya. Ayolah, Mia. Kamu pasti punya pendapat sendiri.”

Aku berpikir sebentar. “Di tempat saya tinggal, banyak anak membantu orang tua mereka selepas sekolah. Berjualan. Mencari kayu. Menjaga adik. Apa saja. Saya termasuk yang tidak percaya bahwa belajar itu hanya bisa dilakukan di dalam kelas pada jam-jam tertentu.”

“Aaah! Ternyata kita sehati dalam satu hal ini. Bahwa sawah, ladang, dan alam bebas juga tempat belajar. Bahwa cangkul dan parang tidak kalah ampuh dengan kertas dan pena.” Sepasang mata coklatnya menembus mataku.

“Saya dulu mengira ada perbedaan antara bekerja dan belajar. Sekarang, setelah bekerja, saya merasa antara bekerja, belajar, dan bermain itu sulit dibedakan.”

Ia tertawa. “Kamu di sini sedang apa menurutmu? Bekerja, belajar, atau bermain? Kupikir kamu melakukan ketiganya.”

Aku makin menyukai lelaki ini. Namun perempuan mana yang tak suka lelaki matang, kaya-raya, tampan, dan berkuasa? Konyol sekali diriku ini.

Ia memberi isyarat agar aku mendekati pagar. “Lihat. Ya. Itu. Sebuah dam dibangun pemerintah Thailand sepuluh tahun lalu, di danau itu. Uangnya sebagian berasal dari pajak yang kusetor. Air itu kembali ke kebun-kebun nanas dan pisang milikku,” lanjutnya.

Di kebun-kebun itu ia mempekerjakan ribuan petani. Tanpa dirinya, mereka hanya akan berkebun di ladang-ladang kecil. Menjual nanas dan pisang di pasar. Bila tak laku, buah-buahan itu hanya membusuk. Dengan pabrik-pabrik pengolah makanan raksasa dan jaringan bisnisnya, Ronn merasa telah berjasa meningkatkan nilai panen dan penghasilan mereka.

Para sahabatnya tahu, bisnis Ronn tak semuanya legal. Namun kabarnya ia tak menyentuh bisnis narkoba. Ia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya tentang membeli pengampunan atas dosa-dosanya. Ia menjadi donatur terbesar untuk pengungsi Burma di 9 kamp di perbatasan. Dari Ban Luang di bagian barat hingga Ban Mae di bagian utara. Ada lebih dari 500 ribu pengungsi yang perutnya diisi nasi yang dibeli dengan uangnya. Belum 100 ribu anak-anak yang menulis dengan buku dan pensil yang dikirim langsung dari pabrik miliknya.

Para pengurus lembaga-lembaga donor internasional tahu, sumbangan Ronn selalu mereka tunggu. Para pejabat badan-badan PBB yang berurusan dengan konflik, peace building, dan pengungsi menyebut nama Ronn dalam rapat-rapat dengan penuh hormat. Ronn sangat paham akan posisinya itu. Ia pemain catur handal. Para pengungsi adalah pion-pionnya, lembaga-lembaga donor adalah bentengnya, para birokrat adalah mentrinya, dan rejim militer Burma adalah kudanya. Ia sadar sepenuhnya, kuda-kuda itu sering sulit dijinakkan. Tak jarang ia membayar penjinak kuda terbaik di dunia, agar mereka menurut saat ditunggangi tuannya.

Pada diri orang-orang seperti Ronn, setan dan malaikat menghuni jiwa yang sama. Mereka muncul ke permukaan bergantian, sesuai kebutuhan, bukan berperang saling mematikan. Aku tak bisa memutuskan, istana di pedalaman Petchaburi ini surga atau neraka.

Kututup catatanku. Mungkin benar katanya, bahwa hidup manusia itu bagai spektrum warna. Aku jadi ingin tahu warna yang dilihat orang menempel di tubuhku.

“Okay, Mia. Kamu akan kembali ke Bangkok malam ini atau menginap? Belajar menjadi petani nanas?” Ia tertawa.

“Saya akan kembali ke Bangkok. Tim bilang semua sudah diatur.” Aku ingin bertanya tentang bodyguard yang ia bayar, namun kutahan.

“Sehabis makan malam aku juga akan ke Bangkok. Kamu bisa ikut bersamaku. Mungkin Tim sudah bilang, aku mengirim beberapa orang untuk menjaga keselamatan kalian.” Ronn mengerling. Lelaki ini bisa membaca isi benakku.

“Aku akan mengajakmu melihat petani yang sedang panen nanas, di dekat danau. Makan malam baru akan disiapkan sekitar pukul 6.30. Kita punya cukup waktu. Bagaimana?”

Sebelum kalimatnya selesai aku sudah mengangguk dua kali. Kapan lagi ada kesempatan bersama lelaki langka seperti dirinya?

******

 

14 Comments to "Tembak di Tempat (13)"

  1. endah raharjo  4 February, 2013 at 16:49

    bener, Yu Lani: kalo seneng memang lbh nikmat
    Kang Anoew: kapan2 lah aku nyoba nulis yg lbh lembut2 tajam… :p

  2. Anoew  31 January, 2013 at 09:19

    Betul, ER…, aku suka yang tajam-tajam tapi lembut.. tajam tapi empuk, tajam tapi lembut. wah, gimana itu ya deskripsi yang pas…

  3. Lani  31 January, 2013 at 04:08

    ER mmg sehrsnya gitu……..hrs sll senang………dan dinikmati sing seneng waelah……..

  4. endah raharjo  30 January, 2013 at 11:16

    Pak DJ: kembali kasih. Iya memang durinya tajam… daunnya jg berduri kayaknya ya… tapi kang anoew suka yg tajam2, Pak
    @Laniiiiii: aku yo seneng kok… mung jaim waeeee… heheheheheee… dikau pun demikian, bukan, Yunda? :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.