Jalan Gunung

Taufik Daryanto Jokolelono

 

Pada suatu hari, seorang yang cerdas, sarjana yang pikirannya terlatih, datang ke sebuah desa. Ia berikhtiar membandingkan, sebagai latihan dan pendalaman ilmunya, pandangan yang berbeda-beda yang mungkin ada di desa itu.

Ia mendatangi sebuah penginapan dan bertanya kepada seorang yang paling jujur dan yang paling bohong di desa itu. Orang-orang di penginapan itu sepakat bahwa orang yang bernama Kazzab adalah pembohong terbesar, dan Rastgu adalah orang yang paling jujur. Secara bergantian ia pun menemui keduanya, dan mengajukan pertanyaan sederhana, “Jalan manakah yang terbaik untuk sampai ke desa tetangga?”

Rastgu Si Jujur berkata, “Jalan gunung.”

Kazzab Si Pembohong juga berkata, “Jalan gunung.”

Jawaban tersebut membingungkan musafir itu.

Maka, ia pun bertanya kepada orang-orang lain, penduduk desa biasa. Ada yang berkata, “Lewat sungai”; yang lain, “lewat padang.”

Dan ada pula yang mengatakan, “Jalan gunung.”

Ia mengambil jalan gunung, tetapi berkenaan dengan tujuan perjalanannya tadi, masalah tentang orang jujur dan orang bohong di desa itu mengganggu pikirannya.

Ketika ia sampai ke desa berikutnya, diceritakannya kisahnya di sebuah penginapan, dan mengakhirinya dengan mengatakan, “Aku jelas telah membuat kekeliruan logis yang mendasar dengan menanyai orang-orang yang tidak tepat perihal Si Jujur dan Si Bohong. Toh, aku telah sampai di sini tanpa hambatan, lewat jalan gunung.”

Seorang bijaksana yang berada di situ berkata, “Harus diakui, para ahli logika cenderung buram matanya, dan mesti meminta orang lain membantunya. Tetapi, soal yang terjadi kali ini adalah sebaliknya. Kenyataannya adalah sebagai berikut: Sungai sebenarnya jalan termudah, maka Si Bohong menyarankan jalan gunung. Tetapi, Si Jujur itu tidak hanya jujur. Ia tahu bahwa Saudara membawa keledai yang memudahkan perjalanan Saudara. Si Bohong kebetulan tidak memperhatikan bahwa Saudara tak punya perahu: kalau ia tahu, tentu akan disuruhnya Saudara lewat sungai.”

jalangunung

 

5 Comments to "Jalan Gunung"

  1. Dewi Aichi  31 January, 2013 at 17:05

    Sangat tau ini tulisan mas Taufik….sangat sangat bermakna…..

  2. Chandra Sasadara  30 January, 2013 at 12:52

    bukankah logika tidak pernah berbohong??

  3. Dj. 813  30 January, 2013 at 12:26

    Hhhhhhmmmm….
    Ke gunung kita mendaki, ke sungai, kita mendayung…
    Jadi…???
    Silahkan laksanakan apa yang kita anggap baik saja..
    Terimakasih dan salam,

  4. J C  30 January, 2013 at 11:46

    Artikel pendek yang mendalam sekali maknanya…mantaaaappp…

  5. Anoew  30 January, 2013 at 11:08

    indah sekali pelajarannya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.