Kuncen

Chandra Sasadara

 

Danyang Sumarabumi, ingsun pakuning bumi

Asung rejeki mring sira sa’ anak putumu salawase

Sira sun pitaya njaga karas iki, sira sun waleri tan kena agganggu gawe

Sira manggono ing pernah pojok papat

Slamet, slamet, slamet karsaning Gusti

 

Sangat pelan, seperti berbisik kepada angin. Mantra itu dirapal di antara suara gesekan dahan dan ranting pohon rengas yang sibuk menjatuhkan buahnya karena tiupan angin. Seorang laki-laki tua masih berdiri tegak di depan pohon itu meskipun mulutnya sudah tidak merapalkan mantra.

Sosok tinggi kurus itu sesaat membungkuk mengambil kantong plastik berisi garam. Ia berjalan menuju pohon kosambi raksasa, lalu berjalan pelan ke arah pohon nagasari dan berdiri dekat pohon asem tua yang angker di hutan kecil itu. Laki-laki itu menaburkan garam di setiap pohon yang dihampirinya.

Beberapa saat tiba-tiba angin berhembus kencang, daun-daun kering di sekitar laki-laki itu berterbangan sebatas pinggang. Obor yang tertancap di tanah hampir padam. Tubuh tua itu memilih duduk bersilah di bawa pohon kosambi. Memejamkan mata, mengatur nafas dan melipat kesadarnya. Sesaat angin berhembus lebih kencang, kemudian redah. Hutan kecil di pinggir desa itu kembali senyap. Laki-laki itu masih dalam posisi silo tumpang dengan nafas yang tertata halus.

kuncen01

*****

Semua telah berkumpul. Kepala desa, jagabaya, modin, ulu ulu dan anak kepala desa bernama Abbas. Mereka menunggu kedatangan kuncen cungkup desa. Menurut keterangan Abbas, kuncen telah dijemput agar bisa lebih cepat datang.  Tidak lama berselang, seorang laki-laki tua mendekati umur delapan puluh tahun masuk ke ruangan dan uluk salam. Tidak seperti para pejabat desa lainya yang mengenakan sarung dan berpeci, laki-laki berbadan tinggi kurus itu berikat kepala batik dipadu dengan baju dan celana longgar warna gelap.

“Kita berkumpul di sini untuk melanjutkan pembicaraan tentang rencana pembangunan masjid desa.” Kepala desa mulai membukan pembicaraan.

“Seperti yang telah kita bicarakan beberapa waktu lalu masjid desa akan dibangun di atas bekas cungkup desa.” Kepala desa melanjutkan.

“Betul, bisa dipastikan masjid akan dibangun di atas bekas cungkup desa.” Abbas menegaskan apa yang disampaikan oleh bapaknya.

“Itulah mengapa kita perlu mendengar pendapat Mbah Rejo sebagai kuncen cungkup desa.” Kepala desa menimpali kalimat anaknya sambil tatapan matanya tertuju pada laki-laki tua yang disebut sebagai kuncen.

“Kita harus mendengarkan pendapat Mbah Rejo.” Jagabaya mengulangi kalimat kepala desa sambil tangan kanannya seperti mempersilakan orang tua itu untuk berbicara.

Laki-laki jangkung yang dipanggil Mbah Rejo itu sesaat masih diam. Beberapa serpihan sirih dan gambir yang masing menyisahkan rasa di lidah berusaha dinikmatinya. Ia terpejam, sesaat kemudian membuka mata melihat setiap mata yang hadir di pertemuan itu. Mbah Rejo seperti ingin membaca apa yang sedang mengeram dalam pikiran orang-orang yang sedang berada di hadapanya.

“Apa betul desa ini butuh masjid?” Kalimat pertama yang diucapkan oleh laki-laki tua itu justru pertanyaan. Bukan pendapat seperti yang diharapkan oleh kepala desa dan anaknya.  Tidak ada  yang bisa menebak kemana arah pertanyaan itu akan bermuara. Tapi pertanyaan itu cukup membuat wajah Abbas merah.

Bagi Abbas pertanyaan itu sangat busuk dan hanya mungkin keluar dari pikiran orang yang tidak beriman. Bagaimana bisa ada orang yang masih mempertanyakan pembangunan masjid di desanya. Semua orang tahu bahwa desa belum memiliki masjid. Desa hanya memiliki mushala, bukan masjid. Kuncen ini benar-benar telah bersekutu dengan setan penunggu cungkup desa pikir Abbas.

“Mbah Rejo, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Pertanyaan itu tidak pantas disampaikan oleh seorang tetua desa seperti  Mbah Rejo!” Kalimat itu diucapkan oleh Abbas dengan suara berat. Semua orang tahu Abbas sangat tersinggung dengan pertanyaan Mbah Rejo.

“Bagian mana yang dianggap tidak pantas ngger?” Mbah Rejo berusaha untuk menenangkan Abbas yang terlanjur tersinggung kepada dirinya dengan sebutan ngger.

“Desa ini belum punya masjid Mbah!” Jawab Abbas dengan suara tertekan di tenggorokan.

“Tapi desa telah memiliki mushala ngger. Tidak ada bedanya mushala dengan masjid.” Suara laki-laki jangkung itu tetap rendah dan datar.

“Intinya! Mbah Rejo setuju atau tidak dengan rencana pembangunan masjid di desa ini?” Kepala desa mulai tidak sabar. Orang yang selama ini dikenal sebagai pemimpin yang baik itu akhirnya menunjukkan sikapnya untuk membela anaknya.

“Apa hak saya untuk menolak pembangunan masjid?”  Kuncen itu balik bertanya.

“Tapi pertanyaan Mbah Rejo tadi seperti menokak gagasan pendirian masjid di desa ini.” Abbas menyambar dengan nada tidak sabar.

“Saya tidak menolak, namun saya perlu tahu masjid itu kebutuhan warga desa atau tidak.” Mbah Rejo masih ingin menemukan maksud sesungguhnya rencana pembangunan masjid desa.

“Jelas kebutuhan warga Mbah, itu kan sarana ibadah.” Ulu ulu berusaha menjawab pertanyaan Mbah Rejo.

“Kalau memang itu kebutuhan warga silakan dibangun. Sekarang apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?” Laki-laki tua itu menawarkan diri. Kecuali Abbas, semua yang hadir tidak menduga bahwa Mbah Rejo dengan mudah menyetujui pembangunan masjid, bahkan menawarkan diri untuk membantu.

Di mata Abbas, tawaran Mbah Rejo itu hanya olok-olok semata. Abbas yakin, laki-laki ringkih itu pada dasarnya tidak pernah setuju dengan rencana pembangunan masjid di atas bekas cungkup desa. Si Rejo ini akan tetap melawan kalau masjid benar-benar didirikan di atas tanah cungkup desa, pikir Abbas.

“Sekarang kami minta persetujuan Mbah Rejo untuk membangun masjid di atas bekas cungkup desa.” Abbas mengucapkan kalimat itu dengan pikiran berkecamuk.

“Bagaimana bisa disebut bekas ngger? sampai sekarang di dalam cungkup itu masih berisi kuburan orang yang merintis berdirinya desa ini.” Laki-laki tua itu masih tetap  mengajukan pertanyaan.

“Kalau memang di dalam cungkup itu masih ada bekas tulang belulang seperti yang diyakini oleh warga desa selama ini, akan kami gali dan pindahkan tulang-tulang itu ke kuburan desa.” Abbas berusaha untuk membungkam Mbah Rejo dengan jawabanya.

“Kalau memang itu telah Angger Abbas rencanakan, silakan lakukan. Tidak perlu meminta persetujuan orang tua bodoh ini.”  Kalimat orang tua itu justru membuat Abbas merasa dilecehkan. Anak kepala desa yang dikenal pemberang itu mencengkeram kursi yang didudukinya.

“Baik kalau Mbah Rejo telah setuju! jangan salahkan kami kalau memporak-porandakan cungkup desa yang selama ini telah menjadi tempat para pelaku syirik itu.”  Kalimat Abbas disampaikan dengan penuh kemenangan.

“Orang mati yang akan kalian rusak kuburnya itu tidak akan membalas, tapi ingat-ingat Gusti Allah tidak pernah tidur ngger.” Sesaat setelah kalimat itu terucap, laki-laki tua itu pamit meninggalkan pasamuan.

*****

Mbah Rejo, nama lengkapnya adalah Karto Rejo. Telah menjadi kuncen sejak umur dua puluh tujuh tahun. Ia memikul tanggung jawab itu sejak ditunjuk oleh orang tuanya yang saat itu masih menjabat kepala desa. Laki-laki itu bukan anak orang miskin, sebab orang tuanya adalah bekas orang nomor satu di desa. Sebagai anak tunggal, ia mewarisi semua kekayaan orang tuanya. Sejak ditunjuk sebagai kuncen, Karto Rejo menempati gubuk reyot di tengah hutan kecil pinggir desa, di mana cungkup desa berada.

Laki-laki yang memilih membujang sampai usia lanjut itu merasa telah melakukan semua yang ia bisa untuk menyelamatkan cungkup desa. Kalau pun cungkup desa itu jadi dihancurkan ia hanya bisa pasrah, sumarah karsaning Gusti. Tidak ada sedikitpun alasan untuk tidak terima kalau hal itu harus terjadi. Namun ia masih memikirkan cara untuk memindahkan para penuhi halus cungkup desa itu. Makluk-makluk halus itu telah menempati tanah di cungkup desa itu jauh sebelum perintis desa mendirikan perkampungan.

Sebagai kuncen, salah satu tanggung jawabnya adalah menjembatani kehidupan alam halus dengan alam manusia agar tidak saling melanggar batas kehidupan. Kepentingan dan kebutuhan manusia tidak boleh merusak kehidupan alam lain begitu juga sebaliknya. Kalau mau, ia bisa mengusir makluk-makluk itu dengan cara kasar. Namun kehidupan batin yang telah dilatih puluhan tahun tidak mungkin dikotori dengan jalan kekerasan, bahkan kepada bekasa’an.

Meskipun laki-laki tua itu tahu bahwa rencana mendirikan masjid itu hanya kedok Abbas dan kawan-kawanya yang berasal dari luar desa. Ia merasa tidak bisa lepas tangan. Ada kepentingan bangsa lelembut penghuni cungkup desa yang harus diselamatkan, itu bagian dari tanggung jawabnya sebagai kuncen. Namun ia juga tidak bisa menghalangi keinginan anak kepala desa itu untuk menghancurkan cungkup desa dengan kedok mendirikan masjid.

Berkali-kali usaha menghancurkan cungkup desa itu telah dicoba oleh Abbas, namun selalu gagal. Terakhir Abbas terang-terangan mengatakan kepada jamaah mushala bahwa siapapun yang beriman kepada Allah diwajibkan menghancurkan cungkup desa yang menjadi tempat para pelaku syirik. Namun, tidak seorang pun warga desa yang mengikuti anjuran itu.

Warga desa sendiri tidak merasa melakukan perbuatan syirik di kuburan tua itu. Kalau ada warga yang membawa bekakak, nasi gurih dan sambal kelapa di cungkup untuk dimakan dengan tetangga dan warga desa lainya tidak lebih dari ungkapan rasa syukur kepada Gusti Allah. Itulah yang menjadi alasan laki-laki ringkih kuncen cungkup desa itu merasa tidak ada yang salah dengan kuburan tua yang dipercayakan pemeliharaannya kepada dirinya. Bagaimana bisa dikatakan syirik, do’a syukur yang selalu ia panjatkan ketika memimpin khaul warga di cungkup desa itu tidak lain hanya ditujukkan kepada Gusti Allah. Tidak kepada makluk.

Tuduhan yang dibuat oleh Abbas bahwa dirinya adalah orang yang menyekutukan Gusti Allah dan cungkup desa sebagai tempat untuk melakukan perbuatan syirik tidak pernah membuat hatinya risau. Namun pilihan untuk menggusir makluk lelembut penghuni cungkup ke tempat lain membuat hatinya nelangsa. Makluk-makluk itu penghuni lama dan atas ijin makluk-makluk itu para perintis desa mendirikan perkampungan.

Sekarang ia harus melakukan perbuatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia merasa tidak punya pilihan, akibatnya akan lebih besar kalau makluk-makluk itu tidak dipindahkan sebelum cungkup desa itu dirusak. Laki-laki tua itu membulatkan tekadnya, bangsa lelembut penghuni cungkup itu harus dipindahkan di pohon-pohon besar di sekitar cungkup agar merasa tidak diusir dari tanah yang telah mereka huni ratusan tahun.

*****

Sabit itu menghantam pundak kanan laki-laki tua yang sedang tenggelam dalam semedi. Tidak ada darah, tubuh ringkih itu hanya sedikit oleng ke kanan. Menyusul hantaman keras di kepala sebelah kanan. Laki-laki itu hampir roboh ke kiri. Tiga orang dengan wajah ditutupi sarung mengepung laki-laki ringkih itu. Namun kuncen cungkup desa itu seperti tidak menghiraukan kehadiran pengepungnya.

“Kafir tua ini kebal!”  Salah seorang pengepung mengeluarkan suara makian.

“Tidak ada ilmu kebal. Pancung sekali lagi!” Teriak pengepung lainya.

“Tidak akan ada hasilnya, aku telah mencobanya berkali-kali.” Suara laki-laki lain meyakinkan.

“Kalau dengan sejata tajam tidak tembus, cekik saja.”Usul salah seorang pengepung.

“Seret. Kita tenggelamkan di sungai.” Suara lain menambahkan.

“Kamu yakin, kafir tua ini akan mati tenggelam?” Seorang pengpung meragukan usulan kawannya.

“Kita coba saja!” Seorang pengepung yang bertindak sebagai pemimpin membentak.

Tiga pengepung itu bergerak serentak, bermaksud menyeret tubuh tua yang sedang duduk bersila. Namun tanpa disangka oleh pengepungya, laki-laki tua itu membuka matanya.

“Kalia tidak perlu membunuhku. Saya sudah tua, sebentar lagi juga mati ” Suara laki-laki itu sangat pelan, seperti sedang membisikan sesuatu kepada pengepungnya.

“Jangan kotori tanganmu dengan darah orang tua yang kalian anggap kafir dan musrik ini.” Kalimat itu diucapkan oleh laki-laki tua itu sambil berusaha berdiri. Para pengepungnya tidak bergerak.

“Katakan kepada orang yang memerintahkan untuk membunuhku, bahwa Karto Rejo akan memilih jalan matinya sendiri.” Laki-laki tua itu mengucapkan kalimatnya sambil berlalu dari hadapan pengepungnya yang masih berdiri mematung sambil mengenggam senjata.

kuncen02

Kuncen itu berjalan mendekati pohon asem tua, melintasi pohon nagasari, lalu kosambi dan terakhir mengusapkan tangan kanannya di pohon rengas yang menjulang tinggi. Ia seperti berpamitan pada pohon-pohon itu. Mungkin juga berpamitan kepada penghuni baru pohon-pohon itu. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, para pengepung yang masih berdiri mematung hanya bisa menyaksikan laki-laki tua itu lenyap bersama tiupan angin yang menerbangkan daun-daun kering. Obor yang menjadi penerangan di tempat itu pun ikut padam bersama lenyapnya tubuh tua itu.

 

34 Comments to "Kuncen"

  1. yyk  13 February, 2013 at 11:53

    menyebalkan sekali orang2 yang merasa dirinya paling benar, padahal hanya Allah yg bener2 mengetahui hati makhluk2nya

  2. Chandra Sasadara  5 February, 2013 at 10:35

    Sama-sama Bu’ Indri.. semoga kesejahteraan juga selalu milik Ibu

  3. Indri  5 February, 2013 at 03:23

    Ceritanya bagus sekali, ada beberapa kalimat yang membuat saya menjadi lebih mengerti dan memahami pangalaman yang sedang kami jalani saat ini. Terima kasih Pak Chandra, saya tunggu karya berikutnya. Sehat dan sejahterah selalu…..

  4. Chandra Sasadara  1 February, 2013 at 13:43

    Inggih sami-sami Bu’ Lani

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *