Setiap Hari Adalah Perayaan

Dian Nugraheni

 

Adakah yang punya pengalaman, anak-anaknya mogok gak mau berangkat sekolah..? Kenapa ya..? Mungkin, jawabnya kurang lebih adalah, anak merasa tidak senang di sekolah.

Tidak senangnya karena apa..? Banyak .., ada yang gak siap ulangan hari ini, ada yang takut dinakalin teman lain, ada yang sedang gak enak badan, tapi orang tuanya belum ngeh kalau anak mulai masuk angin, atau..yahh, berbagai hal yang tidak membuat Anak merasa senang.

Bagaimana sih membuat anak merasa senang di sekolah..?

Dari segi “kesiapan” anak, tentu kita sebagai orang tua sudah paham, bagaimana membuat anak-anak siap berangkat ke sekolah.., dari jumlah jam tidur yang cukup, sudah mengerjakan semua tugas sekolah, sudah belajar untuk ulangan, bangun pagi, mandi, sarapan, baju seragam yang bersih dan nyaman, dan tentu saja anak dalam keadaan sehat wal afiat,..sudah deh..anak siap menjalani harinya di sekolah.

Tapi, dari pihak sekolah, bagaimana ya.., apakah mereka juga mempersiapkan hal-hal yang membuat anak-anak merasa senang dan merasa selalu pengen kembali ke sekolah esok harinya..?

Atau jangan-jangan, aparat di sekolah (baca: Bapak dan Ibu Guru), akan menyampaikan materi pelajaran dengan cara-cara yang begitu-begitu saja.., mungkin cara yang sama, sejak puluhan tahun lalu ketika sang Guru mulai mengajar..hmm…

Ada yang aku amati di SD anakku di sini, SD Barret, ternyata adalah SDnya kaum “Celebrities” yang “Expressive” dan “Real” alias “Nyata.”

Apa pun “dirayakan”. Jangankan hari-hari besar bersejarah, yang sepele-sepele pun juga diselenggarakan, misalnya, “Hari Rias Rambut” maka anak-anak dan guru hari itu bebas mendandani rambutnya, gak tanggung-tanggung, bahkan seorang guru olah raga mengecat ungu semua rambutnya, lalu dijabrikkan ke atas, atau memakai wig warna warni, dikat pita-pita lucu,…bebaslah!

Atau, Hari Piyama, anak-anak dan guru semua menggunakan baju tidur ke sekolah.., Dan ketika itu, anakku gak pede mengenakan piyama ke sekolah, kebetulan pas dia memakai baju batik, dan teman-temannya bertanya, “Apakah ini baju tidur di daerah asalmu..? he…he…he…

Juga, hampir tiap hari, anakku membawa “sesuatu” untuk dibawa pulang. Kadang sebuah permen karet, kadang sebuah permen Loli, kadang sepotong brownies, secangkir kecil hot chocollate, kertas-kertas (yang katanya daftar hasil penjualan, alias main jual-jualan di kelas…), mainan yang dibuatnya sendiri dari clay, bahkan kalimat yang keluar dari mulut gurunya, yang ditujukan padanya..”tadi Miss Toussant bilang hmm, you look nice..”, cuma gara-gara hari itu anakku pake rok, bukan celana panjang seperti biasanya, dan masih banyak lagi.

Dan ketika aku menjemputnya, ekspresi yang ditampakkan pertama kali adalah, berbinar-binar sambil menunjukkan apa yang didapatnya hari ini.

Pada penyampaian mata pelajaran di kelas, juga demikian. Misalnya, Matematika, pelajaran menghitung uang, maka anak-anak diminta membawa uang pecahan satu penny (1 cent), nickel (5 cent), dime (10 cent) dan quarter (25 cent). Uang itu akan digunakan untuk membantu anak-anak agar benar-benar mengenal mata uang, dan bagaimana menghitungnya.., bukan hanya kalimat di soal matematika.

Atau ketika anak-anak diminta membuat aneka bentuk binatang dari clay, kemudian mewarnainya..,aku pikir pelajaran Art, ternyata itu pelajaran sains alias IPA, sedang menerangkan mimicri, camouflage… Dan setelah betuk-bentuk hewan itu selesai diwarnai, sang Guru akan menerangkan hewan apa saja yang bisa bermimicri, atau yang bisa bercamouflage, dan bagaimana hal tersebut dilakukan beberapa hewan untuk menghindarkan diri dari sang Predator.

Atau, pelajaran berenang 6 hari penuh di musim winter, buat apa sih, dingin-dingin gini gitu loh…

Pelajaran itu diberikan oleh pihak NASA.., Survival? Emangnye Amrik sering banjir, atau bagaimana ya..?

Ohh, ternyata, pelajaran berenang diberikan, selain untuk survival, adalah juga, “bahwa gerakan dalam berenang akan memudahkan kalian untuk bergerak di ruang hampa udara..”

Owalah.., dengan berenang, anak-anak diajak mengerti, bahwa “bergerak” di ruang hampa udara itu, mirip dengan gerakan ketika berenang. Ini pasti salah satu realisasi dari pelajaran OuterSpace yang kemaren dulu disaksikan di Planetarium.

Valentine Day ? Tentu tak terlewatkan begitu saja… Hare gene, siapalah yang akan mempersoalkan sejarah terjadinya Hari Valentine..? Bukan berarti melupakan sejarah, tapi, ternyata buanyaaaak buanget sejarah yang bersliweran mengenai lahirnya Valentine Day ini.. Cepek deh kalo harus menggali sejarahnya.

Di SD Barret, begitu masuk bulan Februari, koridor utama berubah dekorasi, semua serba Cupido bawa panah, serba hati, merah jambu, merah Rose, bunga-bunga..Hmm, itu yang bikin Mamah-Mamah wali murid dan guru-guru..

Anak-anak..? Ternyata karyanya lebih asyik.., bukan sekedar Cupido gendut, atau sekedar warna merah jambu bergambar hati, atau sekeping coklat berbentuk Love.., tapi jauh lebih dalam dari itu semua.

Perintah dari Bu Guru, “masing-masing anak, ambil sebuah buku di perpustakaan, dan temukan kalimat yang mengandung makna cinta dan kasih sayang, kemudian ungkapkan dalam bentuk gambar atau kalimat pada selembar kertas …”

Apa yang ditemukan anak-anak dalam buku bacaannya itu ? Macam-macam, ada yang nggambar seorang anak lelaki dengan Ibunya, dan ditulis, “I love You, Mom..” Ada yang nggambar seorang anak perempuan dengan anjingnya, ” You are my best friend, Pal…” Ada yang menggambar seorang anak yang picky eater alias pemilih makanan, alias sukar makan..ha2.., gambarnya, seorang anak menutup mulutnya, di depannya ada sebuah wortel, kemudian Ibunya menerangkan, “Wortel bervitamin, sangat baik untuk kesehatan, maka, sayangilah tubuhmu, makanlah wortel..”

Apa ya yang digambar anakku..? Ohh, seekor tikus bernama Henry, duduk di bangku sekolah dengan tampang murung, dengan seorang Guru Tikus sedang berdiri di dekatnya. Kata-katanya begini, “Jangan khawatir, Henry.., kamu akan merasa senang di sekolah..Jangan takut tidak bisa membaca, karena di sini banyak guru dan teman yang menyayangimu dan akan mengajarkan kamu membaca..”

Okay.., teman-teman, itulah sekilas hal-hal yang membuat anak-anakku ingin selalu kembali ke sekolah esok harinya..(status anak-anakku di FB selama libur emerjensi akibat badai salju : bete libur mlulu..!, padahal dulu di Indonesia, terus terang, aku kadang-kadang memberikan “ijin membolos” untuk anak-anakku, bila mereka sudah bilang, “Gak mau sekolah lah Mah..bosen, capek.., dan hal itu pun secara jujur aku sampaikan ke Ibu Guru di Indonesia dahulu, “Bu anak-anak hari ini ijin bolos, capek dan bosan katanya..”)

Kalau begitu, biar anak-anak tidak bosan di sekolah, biar semuanya jadi lebih terasa bermakna, bisakah kita bantu menjadikan sekolah sebagai tempat di mana banyak perayaan (sesederhana apa pun bentuk perayaan itu), setiap hari adalah nyata, setiap hari anak-anak merasa senang, dihargai, menghargai, dan saling memperhatikan.. Semoga..Semoga…

 

North Carlin Spring,

Arlington, Virginia,

 

Dian Nugraheni,

Di sini tanggal 12 Februari 2010,

Badai Salju baru saja lewat,

Tempatku tinggal bagaikan berada di mangkuk es raksasa…

 

united-nation-day

Perayaan United Nation Day di SD Barret…

 

19 Comments to "Setiap Hari Adalah Perayaan"

  1. anoew  1 February, 2013 at 10:39

    Mungkin Dj. sama atau hampir sama dengan mas anoew….
    senang kesekolah, karena sebangku dengan cewek yang cantik dan baik hati….

    Betol sekali, pakdhe Dj haha. Pasti dulu punya teman sebangku yang bernama Pelangi kan, yang hobinya mandi di sore hari?

    @Dian, kosik tho lha gembolane malah berkurang isinya kiy..

  2. diannugraheni  1 February, 2013 at 09:25

    Anoew…Anung, heleh ket mbiyen kok ngurusin gembolan wae to…ra tekan2…ha2…

  3. Anoew  31 January, 2013 at 10:51

    ooh ada ya? wah semakin pengen rasanya pindah ke ngamerika, merasakan perayaan setiap hari dan tak perlu pusing dengan kesemrawutan yang sering terjadi di negeri antah berantah

    Dian, jemput aku di setasimun yo, aku tak cepak-cepak disik bawa gembolan.

  4. diannugraheni  31 January, 2013 at 10:48

    Mbak Lani…maree..lebih dimasyukin lagi…sampai maaaassssyyyyuuuukkkk…bener yaa…he2.., makasih banyak mbak Lani…

  5. diannugraheni  31 January, 2013 at 10:48

    Pak DJ, sama 2 makasih ya Pak..ehh, kalau soal anung itu, bukan rahasia lagi…he2…

  6. diannugraheni  31 January, 2013 at 10:47

    Mbak Probo…, padahal di sini, hal tersebut dilakukan kayak keseharian saja, tanpa persiapan yang hebooooh…mungkin karena semuanya terlibat, guru, staff, murid, dan orang tua murid…di sini malah ada Arlington Community, kelompok yang mensupport banyak kegiatan sekolah dari TK sampai SMA bahkan perguruan tinggi…makasih banyak ya mbak,.smoga sekolah2 di Indon nantinya akan menjadi tempat yang menyenangkan buat anak2..

  7. diannugraheni  31 January, 2013 at 10:45

    Dewi Aichi…hixixixixi, hooh po..Nung, lha kok kamu ra tau ngomong dewe meng aku to, malah ngrasani neng mburi ik..piye to iki..Thanks ya Wie..

  8. diannugraheni  31 January, 2013 at 10:44

    Anoew..ya ada to…setiap hari malah, hari kebebasan cinta…di sini soal mencintai dan mengasihi, nggak boleh pandang rendah orang lain itu..benar2 ditunjlepkan di dalam hati lho…makane secara umum orangnya tuh nice2…hixixixixi..kapokmu kapan, njawabe munyer…thanks ya Noew..

  9. diannugraheni  31 January, 2013 at 10:42

    mbak Hennie Triana Oberst…iya Mbak.., sampai hari ini anak2 bilang, tetep seneng sekolah di amrik…bener2 kalau di indo dulu, di sekolah negeri, anak2 banyak stress, beban pelajaran yang sangat kjetat, kurang rekreasi di sekolah, ortu yang terlalu campur tangan ini itu..belum lagi soal daftar2 sekolah yang jadi mahal dll..wes aku mumet ketoke nek mikir ini….makasih yo mbak Hennie yang manis..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *