Bunga di Malam Pertama

Anoew

 

what I’ve got you’ve got to give it to your mamma
what I’ve got you’ve got to give it to your pappa
what I’ve got you’ve got to give it to your daughter
you do a little dance and then you drink a little water 
*)

 

malam pertama

Dear Baltyrans,

Ada pendapat yang mengatakan bahwa apa yang pertama itu pasti berkesan dan bukan tak mungkin akan teringat seumur hidup. Seperti misalnya saat-saat pertama bisa mengendarai sepeda, saat pertama kali bisa menyetir mobil, atau saat pertama kali menyatakan cinta kepada pasangan dan bahkan pengalaman pertama kalinya dalam berhubungan seks. Apa pun itu, saat-saat yang pertama kali dilakukan seseorang selalu memiliki impresi berbeda dalam ingatan.

Seperti yang dialami Bunga.

Jika eksekusi di malam pertama yang dilalui oleh pengantin baru merupakan pengalaman romantis dan menyenangkan, sebaliknya apa yang dia ceritakan saat itu di sebuah cafe justru menyebabkan saya terbahak-bahak. Kenapa? Karena mereka yang termasuk pasangan konservatif dalam hal berpacaran – paling tidak itu menurut pengakuannya – di malam pengantin yang seharusnya romantis dan berkesan itu malah jadi canggung dan saling salah tingkah.

Aku harus ngapain?” Demikian jawabnya ketika saya tanya.

“Ya dimasukin dong, saya menyahut ringan sambil menyulut rokok.

“Apanya?”

Rokok saya nyaris terjatuh. Saya menepuk jidat.

Nih liat..,” saya meraih sendok di atas meja lantas memasukkannya ke dalam gelas yang berisi jus jambu di depannya itu, lalu mengaduk isinya. “Begitulah kira-kira.”

Kok sendoknya yang mutermuter?” Bunga menyimak penjelasan saya dengan tangan menopang dagunya.

Gelasnya deh kalau begitu.” Saya menjawab kemudian memperagakan dengan kedua tangan, sendok bergerak naik turun dengan gelasnya yang berputar.

Bibir si Bunga membulat lalu berujar, itulah Suami aku justru sibuk cerita pesta tadi siang sambil bolak balik ke kamar mandi. Heran!” Dia menghembuskan nafas pilu ketika mengenang saat-saat itu.

Saya kejar ceritanya sampai di mana kecanggungan mereka itu berakhir dan bagaimana kesan malam pertamanya saat eksekusi berlangsung.

“Huh.., berkesan apanya!” Bunga mengaduk-aduk jus di depannya dengan gemas. “Malah malam itu aku ketiduran saking capek menunggunya terus-terusan bercerita.

“Lho?! Malam pertama kok malah jadi caleg, kampanye monologis. Jawab saya terbahak.

Walhasil, keperawanan si Bunga masih utuh malam itu.

***

Malam kedua mereka masih malu-malu dan kikuk satu sama lain. Tidak mau dibilang ketinggalan jaman karena inilah saatnya wanita beremansipasi, akhirnya Bunga berinisiatif dengan mulai memeluk leher dan mencium bibir suaminya. Sang suami tertegun tapi tak lama kemudian balas memeluknya, menciumi dan naik sekian centi meter menindih tubuhnya. Bunga senang akan reaksi itu tapi kemudian heran karena, si suami hanya bergoyang-goyang di atas tubuhnya tanpa melepaskan baju sama sekali.

“Terus? Terus?” Sambut saya sambil menegakkan badan dari sandaran kursi, mulai tertarik.

“Ya begitulah. Dia masih gesek-gesek sambil mencium leher dan bibir aku. Tapi cuma sebentar terus dia diam...” Jawabnya sambil menunduk, tapi matanya melirik.

Saya hanya diam mendengarkan.

“…ternyata baru aku tau kalau dia sudah selesai!” Sambungnya lalu dengan gemas ia meremas tissu di tangannya.

“Terus?”

“Terus dia turun dari tubuh aku, kecup kening aku terus tidur. Beneran, dia tidur!” Lanjut Bunga sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Meledaklah tawa ini lalu menghindar saat ia melemparkan gumpalan tissu ke arah saya.

***

Malam ketiga setelah makan malam berakhir, tanpa perduli si Bunga langsung menyeret suaminya ke kamar tidur dan melancarkan serangan bertubi-tubi.

“Aku cium mulai dari matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, lehernya, putingnya, terus ke perut sampai pusar!” Ceritanya bersemangat.

Wah mulai seru nih, pikir saya sambil mengeluarkan rokok.

“Tapi pas sampai ke bawah aku kaget, lanjutnya.

“Kenapa? Big Size ya?” Tanya saya penasaran dan tak sengaja tangan ini meraba ke saku celana, mencari korek api.

“Huuu big size apaan???” Sahutnya memonyongkan bibir.

“Lho kok? Bukannya dia itu badannya tinggi besar dan gagah?” Sambil menyulut rokok yang kesekian kalinya saya bertanya dan tak habis pikir, suami si Bunga itu berpostur tegap dengan otot bisep bersembulan di lengannya. Gagah dan sedap dipandang.

“Enggak. Bukan seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Tapi apa mau dikata, aku cinta dia dan terlanjur ijab kabul..!” Senyumnya berubah kecut saat mengatakan itu.

Saya memandangi wajah si Bunga. Wajah yang imut seperti remaja dan tampak selalu ceria itu ternyata menyimpan mendung selama ini.

“Aku nyesel juga kenapa dulu nggak dengar nasihatmu.” Bunga berkata pelan.

“Nasehat yang mana?” Saya menatapnya was-was.

“Itu lhooo…, kamu kan pernah bilang kenapa kami nggak pakai acara saling mengunjungi dulu sebelum menikah.” Dia menerangkan dengan kedua jarinya membuat gerakan membentuk tanda kutip saat mengatakan saling mengunjungi.

Waduh.., padahal waktu itu saya hanya bercanda dan tak menyangka kalau ucapan asal-asalan saat itu begitu menancap di ingatannya.

“Kamu ingat itu, kan?!” Desak Bunga. Ia mendesak dengan pertanyaan sekaligus mendesakkan bahunya begitu dilihatnya saya hanya diam dengan pandangan menerawang.

Saya mengangguk, lalu tersenyum geli waktu teringat akan saran saya kepadanya agar melihat jempol calon suaminya terlebih dulu. Besar atau kecil, pendek atau panjang.

 

“Kenapa?” Tanyanya waktu itu.

“Yaaaa …, umumnya sih laki-laki yang jempolnya gede biasanya juga gede dan padet.” Jawab saya sok tahu sambil mengusap jempol sendiri dengan rasa sayang.

 

Bunga memperhatikan dengan serius waktu itu tanpa mengatakan apa-apa dan sekarang, saya merasa tak enak hati begitu mengingat wajahnya yang polos saat itu.

“Terus bagimana akhirnya? Kalian jadi bertempur di malam ketiga?” Saya bertanya datar sekedar untuk mengalihkan pembicaraan yang mulai menyimpang itu.

Bunga menyandarkan punggung sambil meraih gelasnya, lalu dengan membiarkan gelas itu menggantung di udara ia menjawab “akhirnya suami aku panas juga. Baju tidur aku dilepasnya. Aku didorong ke kasur, diciumi dengan buas dan akhirnya,” Bunga menghabiskan isi gelasnya lalu meneruskan kena juga malam itu. Gila nggak sih, kena di malam ketiga?!” Tanyanya sambil meletakkan gelas.

Saya hanya diam dengan mengangkat alis, memandangnya dan mengira-ngira apa jawabannya jika saya bertanya ‘enak nggak’ tapi urung karena sungkan.

Rupanya dia menangkap rasa penasaran di wajah saya lalu bertanya, “Kenapa? Kamu mau ngledekin aku yaaa?! Dia mendelik.

Ah enggak, enggak kok…!”  Cepat saya menjawab sambil menggoyang-goyangkan tangan sambil menahan tawa.

“Justru itulah pengalaman berkesan aku, nggak bakal lupa seumur hidup. Hihihi…” Dia terkikik.

Tiba-tiba hape berdering dan terpampang nomor telepon rumah saat saya melirik ke display, itu berarti waktu untuk wawancara tak penting ini sudah harus diakhiri.

“Siapa? Bunda ya?” Bunga bertanya sambil melongokkan kepalanya, mengintip hape di tangan.

Saya mengangguk mengiyakan lalu berdiri, dan setelah membayar di kasir kami bergandengan tangan pulang sambil bersandung berdua sepanjang perjalanan.

 

greedy little people in a sea of distress, keep your more to receive your less
unimpressed by material excess, love is free love me say hell yes
I’m a low brow but I rock a little know how, no time for the piggies or the hoosegow
get smart get down with the pow wow, never been a better time than right now 
*)

*) youtube Give it Away

***

 

PS:

*) Give it Away – Red Hot Chili Peppers

**) Pernah ditayangkan di sebuah CJ empat tahun lalu

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

43 Comments to "Bunga di Malam Pertama"

  1. anoew  5 March, 2013 at 22:51

    Yen, memang begitulah si Bunga, ceplas-ceplos sekaligus menggemaskan, melebihi anak marmut. Imut sekaligus sedikit “lincah”. Coba kalau enggak, bisa-bisa ada cerita malam keempat sampai ketujuh, bukan malam pertama lagi.

  2. Yeni Suryasusanti  4 March, 2013 at 16:54

    Ini sih Bunga di Malam Ketiga seharusnya hihihihi…..

  3. anoew  1 February, 2013 at 22:09

    Pams, ini sih bukan intrik perselingkuhan tapi sekedar teman curhat. Masalah diajari pelajaran bercocok tanam, dulunya sih sudah secara teori bahkan diulang lagi dengan peragaan sendok dan gelas isi jus jambu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *