Ungker Si Kepompong Ulat Jati

Handoko Widagdo – Solo

 

Protein hewani di masa depan akan berasal dari serangga. Sebab protein dari daging hewan dan unggas akan semakin mahal untuk diproduksi. Peternakan sapi, babi, kambing, domba dan unggas akan semakin mahal karena bersaing lahan dan biji-bijian dengan pangan manusia dan biofuel. Demikianlah pandangan salah satu ahli pangan dunia.

Jadi bayangkanlah cucu cicit kita menyantap salad jangkerik, steak belalang, ulat sagu bumbu bali dan burger laron, atau pizza dengan topping kalajengking goreng. Nikmat.

Sesungguhnya serangga sebagai bahan pangan atau lauk adalah hal yang sudah lazim di masyarakat Jawa. Jangkerik, belalang, laron, ulat sagu, ulat johar, ulat bambu, ulat batang turi, orong-orong adalah sederet jenis serangga yang sering menjadi santapan di pedesaan Jawa. Sambal walangsangit bisa dinikmati di pedesaan Wonogiri.

ungker (1)

Di pedesaan Jawa yang dekat dengan hutan jati, ungker (kepompong) jati adalah sumber protein yang lazim dinikmati. Di desa-desa di Kabupaten Gunungkidul, Blora, Grobogan, Ngawi, Nganjuk, Banyuwangi dan sebagainya, yang dekat dengan hutan jati Perhutani sudah terbiasa mengonsumsi ungker.

Ungker adalah kepompong ulat yang memakan daun jati. Nama latin ulat ini adalah Hyblaea puera. Ulat jati suka memakan daun jati muda yang baru tumbuh di awal musim hujan. Pohon jati menggugurkan daunnya pada saat kemarau. Pada awal musim hujan, pohon jati memunculkan daun-daun muda yang berwarna hijau kemerahan. Daun muda inilah ngengat jati meletakkan telurnya. Rata-rata satu betina mampu bertelur 500-1000 butir. Dalam dua hari telur-telur tersebut menetas menjadi ulat kecil yang rakus, yang menyantap daun muda hingga hanya meninggalkan tulang daunnya. Setelah bertumbuh seukuran 4-5 cm (dalam waktu 10-15 hari) ulat akan turun ke tanah untuk berkepompong. Ulat memilih tempat dibalik daun-daun yang gugur dibawah pohon untuk berkepompong. Kepompongnya berbalut kokon sutra. Umur kepompong sekitar 2 minggu.

ungker (2)

ungker (3)

Nah kepompong inilah yang dikumpulkan, dipisahkan dari kokonnya dan kemudian dicuci dengan air hangat. Selanjutnya, kepompong tersebut siap untuk dimasak dengan berbagai menu, atau diawetkan. Untuk mengawetkan, kepompong cukup dikukus dengan dibubuhi garam dan kemudian dijemur sampai kering. Kepompong yang sudah dikukus dan dikeringkan bisa tahan sampai 2 tahun.

Ungker bisa disajikan dengan cara digoreng dengan bumbu bawangputih dan garam. Ungker juga bisa dijadikan pengganti udang untuk berbagai masakan.

 

Selamat menikmati

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

51 Comments to "Ungker Si Kepompong Ulat Jati"

  1. Handoko Widagdo  12 February, 2013 at 20:55

    Tentu masih ada bau, tetapi baunya enak, seperti sambal terasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.