[Xixi Diary Sang Superstar] Bidadari yang Terpenjara

Masopu

 

Hari telah beranjak siang. Terik mentari menyelusup ke pori-pori kulit. Panasnya begitu menyengat, hingga kerongkongan pun serasa dipenuhi jelaga dahaga. Iqbal yang baru saja berjalan-jalan keliling kota, memilih untuk beristirahat sejenak di foodcourt sebuah mall yang baru dibangun 2 tahun yang lalu. Dilangkahkannya sepasang kaki berbalut sepatu kets hitam ke sudut ruangan.Setelah memesan capuccino ice dan pisang bakar matanya diarahkan ke jendela. Dari kursinya dia bisa melihat areal parkir mall tersebut disesaki oleh aneka kendaraan.

“Ah kotaku ternyata sudah jauh berubah” gumamnya sambil menyeruput  capuccino ice-nya. Sementara di sebelah gelas capuccino-nya tergeletak seporsi pisang bakar keju yang masih mengepulkan asapnya. Baunya begitu menggoda indra penciumannya. Matanya segera beralih memandang kendaraan dan orang yang berlalu lalang diluar area mall tersebut.

“Hemmm enak banget pisang bakar ini” gumamnya lagi saat potongan pertama pisang bakar keju tersebut menyapa indera pengecapnya. Sambil menikmati setiap potong pisang bakar tersebut, Iqbal kembali membayangkan andai saja dirinya bisa lebih lama lagi tinggal di kota kelahirannya ini. Sayangnya dia besok sudah harus balik lagi ke Jakarta, karena lusa dirinya sudah harus masuk kerja kembali.

“Prangg” sebuah tas hitam menyenggol piring kecil berisi pisang bakar kejunya. Piring tesebut terjatuh di lantai dan membuat isinya terserak. Iqbal hanya bisa tersentak kaget melihat hal itu. Kekagetannya berlanjut saat air dingin capuccino ice-nya merembesi celana jeans coklatnya.

” Maaf mas.” kata seorang wanita cantik dengan wajahnya yang memasi melihat ke arah mata Iqbal.

Iqbal tak bisa berkata-kata. Sorot mata itu begitu sayu. Sorot mata yang menurut penilaiannya penuh dengan masalah. Meski seulas senyum berusaha terselip di bibir mungil wanita tersebut, tetapi senyum tersebut terasa hambar di mata Iqbal.

“Tidak apa-apa mbak.” jawab Iqbal terkesiap saat dirinya tersadar telah memandang mata dan wajah itu terlalu dalam. Wanita berbalut t-shirt warna pink dan ber-rok mini warna senada tersebut hanya tersipu malu. Semu-semu merah bersemi di pipinya yang seputih pualam.

“Beneran nih mas gak apa-apa?” tanya wanita tersebut dengan tatapan mata penuh keheranan.

“Sudah mbak gak apa-apa. Santai saja ya.” jawab Iqbal.

“Mas sendirian kah? kalau iya boleh gak saya duduk di sini?” tanya wanita tersebut.

“Silahkan mbak.” jawab Iqbal sambil mengelap celananya dengan tissue. Sementara waitress di restoran tersebut segera membersihkan meja dari tumpahan capuccino dan lantai dari pecahan piring kecil beserta pisang bakarnya.

“Mas tolong buatin mas ini minuman dan makanan yang tadi dipesannya. Sekalian buatin saya juga ya” kata wanita tersebut kepada sang waitress sebelum dia melangkah pergi. Iqbal hanya ternganga tak percaya.

“Oh ya mas kenalkan nama saya Xixi” kata wanita tersebut sambil mengulurkan telapak tangannya.

“Iqbal” jawabnya singkat sambil menjabat tangan wanita tersebut.

“Mbak tidak ingat saya?’ tanya Iqbal lagi.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya wanita tersebut.

“Dua hari yang lalu kita ketemu mbak. Mbak turun dari taxi dalam keadaan mabuk. Saya yang mengantar mbak ke apartemen mbak.” jawab Iqbal.

Wanita bernama Xixi tersebut berusaha mengingat sesuatu. Dua hari yang lalu dia memang pulang dalam keadaan mabuk. Dan dia hanya ingat itu saja. Dia tidak mampu mengingat apa-apa selain kejadian dia turun dari taxi dalam keadaan sempoyongan. Hal itu terjadi karena dia mabuk berat sehabis berpesta dengan lelaki yang membayarnya.

“Ya sudahlah kalau mbak Xixi lupa kejadian tersebut.” jawab Iqbal menenangkan Xixi yang berusaha berpikir keras mengingat kejadian yang dia alami dua hari yang lalu.

“Maaf ya mas. By the way mas lagi nunggu seseorang kah di sini?” tanya Xixi.

“Tidak. Saya hanya sedang beristirahat saja setelah capek keliling kota ini dari tadi pagi.” jawab Iqbal sambil menerima gelas capuccino yang disodorkan oleh waitress. Sementara sang waitress tersebut segera menaruh piring pisang bakar di meja.

“Syukurlah kalau begitu. Saya takutnya mas lagi sedang menunggu pacar atau teman ceweknya.” Xixi berkata sambil mengaduk-adukkan sedotan ke capuccinonya.

“Hahahaha kebetulan enggak mbak. Mbak Xixi sendiri?” tanya Iqbal.

“Siapa dia Xi?” tanya seorang cowok yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping meja mereka berdua. Sorot mata lelaki tersebut begitu tajam menusuk ke mata Iqbal dan Xixi secara bergantian.

“Hanya teman saja Fer.” jawab Xixi dengan nada terkejut. Matanya terus memandangi lelaki bernama Ferdy yang baru saja datang.

“Ayo kita pergi. Kamu sudah ditunggu oleh seorang bos dari Jakarta.” kata Ferdy sambil menarik tangan Xixi agak kasar.

“Mas yang sopan sedikit kenapa sama cewek.” kata Iqbal sambil berusaha meraih tangan Xixi.

“Kamu tak usah ikut campur. Dia pacarku.” jawab Ferdy dengan nada kesal,

“Bukan begitu caranya mas memperlakukan seorang cewek. Apalagi pacar sendiri.” kata Iqbal.

“Banyak bicara kamu.” kata Ferdy sambil memukul Iqbal.

fairytale-fairy

Iqbal yang tidak siap menerima serangan tersebut tak bisa menghindar. Tubuhnya terjengkang ke lantai restoran tersebut begitu pukulan Ferdy menyengat pipinya. Melihat Iqbal terjengkang, Ferdy segera menarik tangan Xixi segera berlalu dari tempat tersebut. Iqbal hanya memegangi pipinya yang terkena pukulan Ferdy. Dia terus melihat Ferdy dan Xixi berlalu dari tempat tersebut.

Iqbal segera berdiri. Dia kembali duduk di kursinya tadi. Tangannya terus memegangi pipinya yang bersemu biru bekas pukulan Ferdy. Saat beradu tatap dengan Ferdy tadi, Iqbal melihat sorot mata lelaki tersebut penuh dengan kebengisan. Mata itu begitu tajam dan bernafsu memandangi setiap lekuk tubuh Xixi.

Begitu dirinya bisa mengendalikan emosinya, Iqbal segera berdiri menghampiri kasir restoran. Dimintanya tagihan untuk semua pesanan dirinya dan Xixi. Setelah membayarnya, dia segera berlalu dari tempat tersebut. Tangannya masih terus memegangi pipinya yang lebam tersengat pukulan dari Ferdy.

 

Denpasar.26102011.1439

Masopu

 

3 Comments to "[Xixi Diary Sang Superstar] Bidadari yang Terpenjara"

  1. [email protected]  25 February, 2013 at 10:13

    jiaaah…. pantesan kok kayanya ceritanya loncat…. ternyata ku terselip satu cerita ini….

  2. Anoew  31 January, 2013 at 10:56

    waaaaaah ilustrasinya manteb betul! dizoom seratus kali, terlihat bulu-bulu halus di kulit muyusnya ckckck
    *telan ludah*

    Ayo Iqbal, jangan menyerah…, cepat ambil bidadari itu dan, dekap erat.

  3. J C  31 January, 2013 at 10:35

    Hhhhmmm heran saja kenapa si Ferdy masih memandangi dengan penuh nafsu, lha wong sudah bolak-balik merasakannya…

    Semakin menarik saja ini bagaimana nanti Iqbal dan Xixi…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.