Catatan Akhir Bulan: Penyatuan Daerah Waktu Dibatalkan

Bambang Priantono

 

Tanpa sengaja di sebuah newsticker TV swasta yang sedang saya tonton, ada satu bagian berita yang menarik perhatian saya. Pemerintah membatalkan penyatuan daerah waktu. Padahal beberapa waktu yang lalu, isu itu sempat bergulir dan meresahkan masyarakat karena pastinya akan menimbulkan beberapa kerepotan. Wacana penyatuan daerah waktu ini dilontarkan oleh Hatta Radjasa, dengan alasan untuk memudahkan segala transaksi ekonomi. Karena Indonesia terdiri dari tiga daerah waktu, sehingga jam kantorpun berbeda. Misalnya di Jayapura jam masuk sekolah pukul 07.00 WIT, maka di Makassar masih baru bersiap-siap karena baru jam 06.00 WITA, sementara di Jakarta baru bangun tidur, karena masih pukul 05.00 WIB. Jam kantorpun masuknya berbeda…Jika di Jakarta masuk kantornya jam 08.00 WIB, maka di Makassar sudah masuk kerja sejam sebelumnya, dan Jayapura dua jam sebelumnya.

Zona Waktu Indonesia

Mungkin itu yang menjadi latar belakang wacana penyatuan daerah waktu Indonesia ini. Di samping agar semuanya bisa masuk bersamaan, juga dapat menghemat waktu transaksi saham. Nah, kaitan dengan bursa saham ini yang jujur tidak saya pahami. Padahal di Amerika saja yang tidak disatukan daerah waktunyapun, semua transaksi berjalan sebagaimana mestinya kok.

Saya sendiri membayangkan apa jadinya bila tiga daerah waktu di Indonesia jadi disatukan. Apalagi katanya akan disamakan dengan WITA (Waktu Indonesia Tengah). Tentunya yang biasa bangun jam 05.00 WIB akan terkaget-kaget, karena jam sudah diset pukul 06.00 Waktu Indonesia, padahal langit masih gelap. Sedangkan di Jayapurapun akan kebingungan karena jam 06.00 Waktu Indonesia kok sudah terang bak jam 07.00 WIB. Pastinya bila jadi diterapkan akan banyak kekacauan terjadi, dan ini nanti berkaitan dengan waktu sholat bagi yang Muslim. Penyesuaian demi penyesuaian itu juga akan berpengaruh pada jam biologis.

Saya jadi teringat ketika tahun 2007 berkesempatan pergi ke Malaysia, saya kaget ketika bangun jam 05.00 waktu setempat, tapi masih gelap gulita. Untungnya jam saya masih pakai waktu Indonesia Barat, jadi langsung saya berpikir..oh, ternyata jam 04.00. Sementara ketika saya pergi ke Simpang Renggam jam 17.00 Waktu Malaysia, ternyata masih terang laksana pukul 16.00 WIB.

Memang beberapa negara menerapkan penyatuan daerah waktu, seperti di India, RRC dan juga Malaysia. Mungkin dulu alasannya sama agar semuanya seragam. Tapi hal seperti ini sangat menyulitkan bila diterapkan di Indonesia, karena kita sudah terbiasa dengan waktu yang ada, dan memang pas. Pergeseran daerah waktu yang saya ingat terjadi tahun 1988, ketika awalnya seluruh Kalimantan masuk WITA, namun kemudian Kalbar dan Kalteng masuk WIB, sedang Kalsel dan Kaltim tetap WITA, lantas Bali yang semula WIB menjadi wilayah WITA. Penyatuan daerah waktu inipun tidak bisa dilakukan dengan gegabah, karena dibutuhkan persiapan yang matang serta sosialisasi yang panjang pula.

Lagipula, meskipun waktu sudah di’paksa’ seragam…apakah jadual matahari terbit juga bisa diakali?

Saya tentunya secara pribadi berpandangan sebaiknya Indonesia tetap menjadi sekarang. Maksudnya tiga daerah waktu…bayangkan bila masuk malam pergantian tahun dan seluruh wilayah Indonesia sama waktunya, pasti akan tidak seru. Tidak ada lagi ucapan

Selamat Tahun Baru bagi saudara-saudara kita di Indonesia Timur!

Selamat Tahun Baru bagi saudara-saudara kita di Indonesia Tengah!

Intinya, saya bersyukur kalau rencana penyatuan daerah waktu itu dibatalkan (untuk saat ini), karena masih banyak hal lain yang lebih penting untuk dituntaskan negara. Dan lihat nanti apakah wacana itu akan diluncurkan kembali pada kurun waktu mendatang? Mari….

Beda pendapat itu hal biasa, jadi silakan…

 

Bambang Priantono

31 Januari 2013

 

About Bambang Priantono

kerA ngalaM tulen (Arek Malang) yang sangat mencintai Indonesia. Jebolan Universitas Airlangga Surabaya. Kecintaannya akan pendidika dan anak-anak membawanya sekarang berkarya di Sekolah Terpadu Pahoa, Tangerang. Artikel-artikelnya unik dan sebagian dalam bahasa Inggris, dengan alasan khusus, supaya lebih bergaung di dunia internasional melalui blognya dan BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Catatan Akhir Bulan: Penyatuan Daerah Waktu Dibatalkan"

  1. Linda Cheang  2 February, 2013 at 12:37

    meskipun waktu diseragamkan, jadwal sholat, mah mengikuti terbit dan terbanam matahari, donk, maska mengikuti waktu yang weragam? Mas Bambang ada-ada ajah.

    Mau jamnya diseragamkan, nggak masalah buatku, tinggal menyesuaikan. Tidak diseragamkan, toh, ketika berkunjung ke daerah waktu yang berbeda, harus penyesuaian juga, kan?

  2. Dewi Aichi  2 February, 2013 at 02:38

    Maunya kok disamakan lho…bingung nanti, coba bayangkan kalau wajah setiap manusia sama, lhaaa bojoku sik ndi ki…(suamiku/istriku yang manaaa?)

  3. Alvina VB  2 February, 2013 at 02:31

    Wah…bagus dech kl gak jadi, soalnya gak praktis dan buang2 duit aja, kan di Ind kl ada perubahan pasti gembar-gembor dan pake selamatan,he..he… UUD (Ujung2nya Duit juga).

  4. Dj. 813  1 February, 2013 at 23:53

    Mas Bambang…
    Terimakasih untuk informasinya…
    Dj.malah belum pernah dengar akan ada penyaatuan waktu di Indonesia….
    Kedengaran lucu juga….
    Jelas tidak mungkinlah, karena daerah yanng begitu luasnya….
    jangan-jangan nanti idee nya seluruh dunia satu waktunya…
    Jam 1 di Jakarta = di Mainz dan di Konna…. hahahahahahaha….!!!
    Salam,

  5. Hennie Triana Oberst  1 February, 2013 at 20:19

    Oh batal ya? Medan sepertinya cocok waktunya disamakan dengan WITA.

  6. Anoew  1 February, 2013 at 17:22

    wacana penyatuan waktu seluruh indonesia adalah hal terkonyol yang pernah saya tau. untung saja nggak jadi diberlakukan.

  7. Handoko Widagdo  1 February, 2013 at 16:42

    Tadi pagi harus berangkat dari hotel di Medan jam 6 pagi. Sarapan jam 5 pagi. Sepertinya saat melihat jam-jam itu normal saja. Tapi saat pagi tadi melakukannya, saya terkejut, karena teman-teman sarapan dulu baru sholat subuh.

  8. J C  1 February, 2013 at 14:00

    Mas Bambang, bener, bener, waktu aku tinggal di Medan awal-awalnya rada bingung dengan terang gelapnya matahari dan jam…hehehe…

    Medan walaupun sama-sama WIB dengan Jawa, tapi antara jam angka dan jam bumi berbeda cukup lumayan, dan terasa…

  9. awesome  1 February, 2013 at 09:37

    batal ?

  10. awesome  1 February, 2013 at 09:35

    satoe ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.