Lelaki dan Awan

Ida Cholisa

 

Ia selalu membayangkan lelaki itu, datang dan mencumbunya setiap waktu. Meminta lagi dan lagi, dan ia akan memberinya sepenuh hati.

Tetapi lelaki itu hanya ada di balik awan, muncul di saat remang malam. Saat cahaya rembulan jatuh di pucuk pohon tak jauh dari  jendela kamar, lelaki itu turun dari awan.  Ia akan mengendap-endap datang, berbisik dari lubang jendela kamar.

“Bukalah, aku datang.”

Seraut wajah  nampak dari  dalam kamar.  Menyembul berkilauan. Ia, perempuan cantik. Mengangguk manja.

“Masuklah.”

Lelaki itu melompat ke dalam kamar. Tergesa-gesa kembali menutup daun jendela. Nafasnya terengah, naik turun.

“Sudah lama aku menginginkan ini.”

Ia menangkap tubuh wanita itu. Memeluknya penuh rasa, mengulum semua lekuk  tanpa jeda. Mereka seperti dua bocah kecil yang lama tak bermain bola, melampiaskan kerinduan dan kegirangan yang sempurna.

Peluh mereka berjatuhan.

“Jangan pergi,” perempuan itu menahan lengan sang lelaki.

“Tapi aku tak bisa lama-lama di sini. Percayalah, aku akan datang setiap kali engkau membutuhkan.”

Lelaki itu melompat keluar. Menghilang di keremangan malam.

***

“Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu kepastianmu, Ningsih.”

Perempuan itu menatap tajam mata lelaki itu. Herman.

“Aku tak sabar ingin menikahimu.”

“Nantilah, tunggu waktu yang tepat.”

“Nanti kapan?” lelaki itu melontarkan kalimat kesal. “Aku sudah cukup lama bersabar. Bulan depan  kita menikah.”

Perempuan itu tak kuasa menolak permintaan lelaki itu. Benar, cukup lama ia memasung lelaki itu dengan ketidakpastian. Kini telah tak ada lagi kesempatan baginya untuk menunda pernikahan.

***

Herman  menyimpan tanda tanya besar. Istrinya selalu membiarkan jendela kamar tak dikunci. Setiap kali ia hendak menguncinya, Ningsih akan melarang.

“Di sini aman. Biarkan jendela ini tertutup tanpa perlu dikunci.”

Herman memang menuruti kata-kata istrinya. Tetapi setiap malam tiba, ia tak kunjung bisa tidur. Ada rasa curiga berkecamuk dalam hatinya. Istriku aneh, desisnya. Rasa penasaran membuat Herman bertekad untuk mencari tahu alasan dilarangnya ia mengunci jendela kamar.

Benar saja. Saat malam berada di puncak, saat bias rembulan tepat mengenai  jendela kamar, Herman menyaksikan pemandangan  yang ganjil. Dengan mata yang pura-pura terpejam ia menyaksikan jendela kamar terbuka, disusul angin bertiup kencang. Sesudahnya tubuh Ningsih akan meliuk-liuk, menggelinjang dan menggelepar. Ranjang di mana Herman tidur pun bergerak kencang. Ningsih tampak bergetar mengikuti pusaran angin yang bertiup sangat kencang.

Lima belas menit kemudian angin pun berhenti bertiup.  Ningsih bangkit, menuju jendela kamar yang lamat-lamat menutup. Angin kencang itu telah pergi. Ningsih merapikan gaun malamnya yang berantakan. Kemudian tertidur pulas.

Herman termangu. Ia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan terbukanya jendela kamar dan bertiupnya angin yang sangat kencang, serta tarian erotis Ningsih, perempuan yang baru dinikahinya seumur jagung. Ia hanya menyimpan semua rasa penasaran itu jauh di dalam hati. Suatu saat nanti, ya suatu saat nanti, ia akan mengerti semua misteri ini.

***

“Hanya tiga hari, Ning. Nggak lama.”

Herman menjawab pertanyaan Ningsih tentang rencananya pergi ke kota yang terkesan mendadak.

Perempuan itu diam saja.

“Ada tugas dari pabrik tempatku bekerja. Melaporkan hasil meeting ke kantor pusat. Malam ini juga aku harus berangkat. Besok  jam tujuh pagi aku harus sudah sampai di kantor. Kamu baik-baik jaga diri, ya?”

Ningsih mengangguk, membiarkan suaminya melangkahkan kaki ke luar rumah. Butuh enam jam untuk sampai ke kota, begitu kata Herman.

Sesungguhnya Herman tak pergi ke mana-mana. Ia memang berjalan ke luar menyusuri jalan, tetapi kemudian berbalik dan menyelinap ke sebuah kandang sapi yang sudah belasan tahun tak ditempati.

Kandang sapi berukuran besar itu memang senyap. Sapi-sapi milik orang tua Ningsih dahulu mati dengan tiba-tiba. Juragan ternak Pak Odeng, orang tua Ningsih, dulu terkenal kaya-raya. Kata orang-orang, Pak Odeng memilki pesugihan. Entah cerita nyata atau isapan jempol belaka, yang jelas setelah menikmati kekayaannya selama dua puluh tahun, pak Odeng tiba-tiba bangkrut setelah semua sapi miliknya mati dengan tiba-tiba.

Saat itu Ningsih berumur delapan belas tahun, baru lulus SMA. Kebangkrutan orang tuanya membawanya pada kehidupan yang diwarnai kesulitan. Beberapa bulan sebelum ayahnya meninggal, Ningsih mendapatkan surat wasiat yang ditulis ayahnya.

“Pergilah ke sendang di belakang bukit. Mintalah ke sana, semua keinginanmu bakal terkabul.”

Ningsih gamang. Ingin rasanya ia menolak, sebab ia tahu apa yang diperintah ayahnya adalah bekerja sama dengan syetan, menyekutukan Tuhan. Tetapi ia tak memiliki pilihan lain. Ia butuh makan. Ia butuh pakaian.

Ningsih semakin memberanikan diri melakukan apa yang diminta ayahnya setelah akhirnya sang ayah menghembuskan napas terakhir, menyusul ibunya yang telah berpulang lima tahun lalu. Di sebuah sendang di balik bukit, perempuan muda itu bersemedi. Hingga malam berikutnya sebuah cahaya merah menggelinding di hadapannya. Cahaya itu seolah berkata, bahwa kehidupan Ningsih akan kembali terang, kembali kaya, tetapi dengan satu peryaratan yang harus ia penuhi.

“Setiap malam, tepat pukul dua belas malam, aku akan datang dan mengajakmu bercinta.”

Ningsih menyanggupi semua persyaratan itu. Kehidupannya kembali dipenuhi gemerlap kekayaan. Setiap malam ia akan memandang langit, menanti lelaki itu turun dari balik awan. Kemudian mereka bercinta. Tak lama. Hanya lima belas menit saja.

Ningsih tak harus menatap langit hanya untuk menunggu lelaki itu turun dari awan. Ia akan berbaring sambil menatap jendela kamar yang akan terbuka dengan sendirinya, seiring angin berhembus kencang. Itulah lelaki dari awan.

***

Malam ini Herman bersiap mengintip semua yang selama ini membuatnya penasaran. Jendela yang terbuka, angin yang bertiup kencang, Ningsih yang menggeliat penuh kenikmatan.

Langit malam dipenuhi awan tebal yang berarak perlahan. Herman gusar, akankah turun hujan? Tapi rasa penasaran tentang jendela dan angin kencang membuatnya ingin tetap bertahan. Nyamuk-nyamuk yang berpesta menggigit pipi tak lagi ia hiraukan.

Pukul dua belas malam. Herman menatap jam di pergelangan tangan. Tiba-tiba ia mulai merasakan  sesuatu yang tak nyaman. Tubuhnya mendadak panas dingin tak karuan.

awan-love

Sesuatu yang tidak pernah ia duga tiba-tiba melintas di depan mata. Gumpalan hitam yang tiba-tiba turun dari langit bergerak mendekati jendela kamar Ningsih. Gumpalan itu terus membentuk diri seperti manusia.

Manusia! Laki-laki! Ia mengetuk jendela kamar dan dalam hitungan detik ia berhasil melompat masuk. Entah apa yang terjadi di sana, Herman jelas tak mengetahuinya, tapi bisa membayangkan dan merasakannya. Lima menit berlalu, Herman masih mengumpulkan segenap keberanian.

Bayangan Ningsih yang meliuk-liuk erotis seketika mendidihkan kepala Herman. Lelaki itu seketika berlari kencang menuju jendela kamar. Didobraknya jendela itu, dan ia melompat memasuki kamar. Bias rembulan memantul di atas ranjang. Angin bertiup dengan kencang.

“Ningsih!!!”

Herman berteriak memanggil Ningsih yang tengah meliuk, bergelinjang, mendesah, merintih, tertawa kecil, dan terengah-engah, seiring angin yang terus bertiup kencang. Ia berguling ke kiri dan ke kanan. Tetapi… tidak ada lelaki yang tadi terlihat memasuki kamar. Di mana ia? Herman mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, tetapi tak ada siapa-siapa.

“Ningsih! Berhenti kau!’

Herman melompat mendekati Ningsih, tapi sebuah kekuatan besar berhasil mendorongnya hingga ia membentur dinding dengan sangat keras.  Ia jatuh terjerembab ke pojok kamar. Kepala Herman berdarah. Mata Herman berkunang-kunang. Lamat-lamat ia melihat Ningsih tengah bergulat… Tapi dengan siapa? Ningsih mengerang, mengerang dan mengerang. Angin bertiup kencang. Lima belas menit berlalu. Kemudian berhenti. Jendela kamar terbuka. Angin berhenti berhembus.

Herman tiba-tiba melihat sosok lelaki mendekati jendela kamar. Melompat keluar. Kemudian Ningsih menutup jendela. Membetulkan gaun yang berantakan tak karuan.

Ningsih kembali ke ranjang tidur, tersenyum sambil memeluk guling. Ia seolah tak melihat Herman yang meringkuk kesakitan di pojok kamar…

***

 

Cileungsi, 25 januari 2013

 

5 Comments to "Lelaki dan Awan"

  1. Hennie Triana Oberst  1 February, 2013 at 20:27

    Bercinta dengan lelembut, serem.

  2. Anoew  1 February, 2013 at 16:34

    kesian Ningsih mewarisi elmu dari orang tuanya… eh, tapi kesian apa enak itu ya, kok sampai menggeliat dan mendesah desssaaah….

    Kang Josh, kalau lelembut yang beginian malah medeni (menakutkan). Datangnya nggak jelas, bentuknya asap nggak bisa dilihat yo percumah.

  3. Handoko Widagdo  1 February, 2013 at 16:24

    Wah senang membaca tulisan Bu Ida Cholisa kembali.

  4. J C  1 February, 2013 at 14:03

    Lhaaaaa ini artikel yang Kang Anoew paling demen…model yang kruntelan menggelinjang seperti ini! Kang Anoew pasti berharap jadi tokoh cerita yang didatangi lelembut tiap malam untuk diajak kruntelan…

  5. James  1 February, 2013 at 12:17

    SATOE, Lelaki Dan Awan, Perempuan Dan Mega

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.