Dialog

Suaedi Esha

 

Bagian terpenting dalam kehidupan adalah berdoa. Tak ada agama tanpa doa. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, doa berarti permohonan, harapan dan pujian kepada Tuhan. Berdoa atau mendoa bermakna memohon sesuatu kepada Tuhan. Agama itu sendiri tak lain merupakan rangkuman ajaran atau pedoman bagi pemeluknya untuk menyampaikan permohonan, harapan dan pujian kepada Tuhan. Dan satu-satunya cara untuk itu semua adalah lewat berdoa. Dalam dimensi ritual, berdoa tak lain berarti berdialog secara vertikal dengan Tuhan.

Tentu, sebagai mahluk sosial, kita juga perlu berdialog secara horisontal dengan sesamanya. Dalam hal ini berdialog mengandung makna sebagai kegiatan komunikasi yang berfungsi sebagai perekat guna menjalin kerjasama dengan segenap lapisan masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Berbeda dengan dialog vertikal yang sifatnya penyerahan diri, dialog horisontal lebih mengarah pada upaya menciptakan keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat. Dalam dialog vertikal kita mengenal Yang Maha Kuasa dan yang maha tak berdaya. Dalam horisontal kita mengenal konsep musyawarah dan mufakat.

dialog

Sampai di sini, segalanya sudah jelas. Dialog vertikal dalam dimensi religi hanya untuk manusia dengan Tuhannya dan dialog horisontal dalam dimensi sosial merupakan jembatan bagi sesama manusia guna membangun masyarakat, bangsa dan negara. Keduanya memiliki aturan main yang harus sama-sama dita’ati. Berdialog dengan Tuhan ada pedomannya berupa agama dan berdialog dengan sesama manusia ada resepnya berupa undang-undang, peraturan, inpres, kepres, permen, SK dan sebagainya yang kesemuanya tak boleh dilanggar.

Namun demikian, dewasa ini ada kecenderungan keduanya justru dilanggar eksistensinya. . Kita memang berdoa kepada Tuhan, namun tidak berdialog. Tanpa komunikasi. Kita hanya sibuk dengan mantra-mantra dan urusan ritual lainnya. Sementara itu, kita juga sibuk melaksanakan berbagai peraturan dan perundangan, namun tanpa dialog, tanpa komunikasi. Peraturan dan perundangan itu kita baca dan hapal titik komanya bagai mantra.

Baik dialog dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia, agaknya kini tengah mengalami pergeseran nilai. Tengah terjadi perubahan dari maknanya yang hakiki menjadi sekadar upacara. Kita menjadi manusia verbal. Kita bukan hanya semakin asing dengan Tuhan karena jarang atau tak pernah menjalin dialog. Tak pernah berkomunikasi . Kita juga semakin asing dengan sesama manusia karena hal yang sama. Proses dialog telah berganti dengan instruksi, dan komunikasi telah diolah menjadi SK atau fatwa. Semua mengalir dari atas ke bawah dan setiap manusia hanya merupakan komponen dari sebuah mesin pabrik yang serba otomatis.

Sumber kebenaran ada di tangan mereka yang duduk di atas.Sedangkan yang di bawah tinggal menerima dan menyantapnya. Doa telah kehilangan nilai fitrinya sebagai jembatan untuk berdialog dari hati ke hati antara Yang Maha Kuasa dengan yang maha tak berdaya. Sementara itu, SK, undang-undang, peraturan, hukum dll telah pula kehilangan jatidirinya sebagai pengayom, pelindung dan penegak keadilan, karena telah berubah menjadi sekedar alat untuk mencapai tujuan.

Semua itu terjadi karena hati telah kering dari semangat untuk berdialog. Syarat utama untuk berdialog adalah sikap rendah hati. Dan kita memang telah lama meninggalkan sikap yang satu ini. Kita telah menanggalkan status yang maha tak berdaya dan menggantinya dengan status “adi daya” bahkan maha kuasa. Dengan status ini, dialog memang tak perlu lagi. Kita menjadi otoriter bukan hanya terhadap sesama manusia dengan meninggalkan dialog horisontal, tetapi terhadap Tuhan dengan meninggalkan dialog vertikal.

 

4 Comments to "Dialog"

  1. J C  4 February, 2013 at 12:45

    Aku berdoa saja…

  2. anoew  4 February, 2013 at 09:21

    manusia atau tepatnya saya, masih suka ‘menodong’ Tuhan dengan permintaan-permintaan tanpa ingat lagi bahwa sebenarnya, apa yang telah Dia berikan sesungguhnya merupakan cinta kasih dan pemeliharaanNya semata.

    ayo kita bersyukur dan berzikir, berzikir dan bersukur.

  3. Dj. 813  3 February, 2013 at 21:18

    Kok kedengarannya, seperti yang sudah putus asa….???
    Sampai sekarang, menusia masih bisa berdialog dengan TUHAN nya.
    Walau tidak seperti dulu lagi, namun tetap masih ada dan kita rawat yang masih ada, sehingga tidak musnah.
    Karena TUHAN sendiri masih memberikesempatan kepada manusia untuk datang kepadaNya.
    Salam,

  4. James  3 February, 2013 at 12:17

    SATOE, Dialog

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.