Hhhmmm…dasar Kenes

Sugiyarti Ugie

 

Jum’at sore yang terik, matahari masih garang  menjilati bumi.  Di antara rasa yang sumuk Rara mengambil gembor, niatnya menyirami bunga-bungaan, sambil refeshing, menyenang-nyenangkan hati dan pikirannya yang sesak oleh tugas yang membanjir selama dua pekan ini. Keringat bercucuran  di dahinya tanpa ampun, tapi  wajahnya terpancar rasa gembira.

Setelah semua selesai, sambil bersenandung lagunya Samsons, Rara melangkah ke teras, hpnya berdering sama seperti lagu senandungnya, rupanya  Kenes; adik iparnya; adik bungsu Prasetyo menelponnya.

“Mbaaak. .., boleh ya aku weekend di  situ?” terdengar suara  manja seorang gadis.

“Gak boleh. . ” Rara mengganggunya. “Enak saja.”

“Ya udah, gak jadi aku bawain empek-empek kesukaanmu, ” Suara di seberang menjawab  pura-pura ngambek, sepertinya sudah biasa digangguin Rara.

“Yee….., kog gitu. ..  Ampun deh kalo sudah dapat ancaman mautmu,”Rara terkekeh.” Kemarilah Tuan Puteri, aku tunggu dengan cinta. .. hahhaha…” lanjut Rara kemudian.

“Li, tante Nes mau nginap di sini, ayoo cepetan mandi ya. ” Rara melambai ke arah Lili yang masih asyik dengan selang di tangan.

“Siap, Mii.   Horeee. .. ” Lili berteriak kegirangan, memang sudah beberapa bulan ini Kenes sibuk dan tak sempat main di Pisangan Baru.

Mereka, Rara dan Lili sangat kangen.

melati

Kenes, gadis manis usia dua puluh limaan, berambut lurus, bermata hitam, tinggi semampai sekitar  165cm, berkulit sawo matang  itu akhirnya datang juga seusai maghrib, Lili melonjak-lonjak senang mendapat hadiah coklat dan komik, Kenes menciuminya tanpa henti, gemas.

“Aduuh, Lili, tambah manis aja, kaya Mimi ya. .” kata Kenes sambil mengacak-acak rambut Lili.

“Kaya tantenya, kaleee. .” Rara menggoda Kenes. “Hayoo mana upeti untukku?”

“Sabar, Mbakyukuu yang galak. Nih. . ” Kenes menjawab sambil membuka bungkusan yang kemudian ia taruh di meja makan.

“Apa kabar, Nes?”Rara  mencium pipi Kenes kiri kanan.” Lama gak telpon, gak main ke sini. .”

“Baik banget kabarku, Mbak. Maaf. ..aku sibuuk. .. eee pura-puranya sibuk, ding,” jawab Kenes sambil tersenyum.

“Okey. . okey. . nanti malam kita ngobrol sampai pagi ya.” kata Rara.

Rara dan  gadis dengan nama panggilan Kenes; yang nama lahirnya Wahyu Lintang Suminar  ini  sangat akrab, bukan sekedar kakak dan adik ipar, tetapi layaknya seorang sahabat. Persahabatan mereka   terjalin sejak Rara pacaran dengan Prasetyo. Pada mulanya karena Rara suka saling pinjam kaset  dan buku, akhirnya  saling berbagi cerita, rasa dan saling ganggu mengganggu. Bahkan Presetyo dulu  suka ngiri betul  karena kalau mereka bertemu bisa semalam suntuk ngobrol tiada henti persis wayangan saja.

“Pangeranmu mana, Nes? Kupikir kamu mau kenalin ke aku. . “

“Pangeran dari Hongkong?” Kenes nyengir.

“Kudengar, dari bisik-bisik tetangga. Hmmm…. “Rara menggoda.

“Ooh. . pasti si Centil itu ya yang cerita?” Kenes langsung paham, ada   teman   SMA Kenes   kebetulan satu kerjaan dengan Rara sekarang.

“Nanti aku cerita ya.” Lanjut Kenes

Malam hari setelah mereka menikmati empek-empek,   main dakon dan kruntelan bertiga, Lili tertidur. Kenes bangun menuju meja makan, membuka notebooknya. Tak lama teriakannya yang bening mirip anak SMP, membuat Rara bergegas menghampiri gadis dengan rambut diikat sembarangan hingga menampakan aura mudanya yang energik. Benar-benar gadis yang mempesona dan sedang mekar-mekarnya.

“Mbak Rara…. Ini yang digossipin Vera. Lihat,” kata Kenes sambil membuka wall seseorang ; yang pasti adalah temannya dari jejaring sosial – FB. Di situ terpampang foto  wajah laki-laki mungkin usia  30 tahunan sedang tersenyum manis  juga sederet informasi dan statusnya.

“Woww… ganteng. Bolehlah. .” Rara berkomentar sambil mengedipkan matanya.

“Pacarmu?” tanya Rara kemudian.

“Eemmm… gimana ya? Mungkin teman dekat. TTM gitu. Awalnya dia memuji-muji aku, terus tiap hari kirim pesan juga menyapaku dengan manis, suka goda-godain aku. … ” jawab Kenes

“Trus. .. “Rara penasaran.

“Yaa…. akhirnya, aku balas merayu –rayu juga.  Gimana ya, aku sangat tersulut untuk merayunya, lha godain aku terus. ..”Kenes tertawa kecil.

“Kamu serius, Nes?” Ada nada khawatir dalam suara Rara.

“Ya, ampun, Mbak Rara. Enggaklah. Masak aku percaya inbox begitu saja?” Kenes menjawab sambil tersenyum geli.

“Namanya bahasa tulis to Mbak, apa saja bisa kita tulis. Misalnya aku, sebenarnya geli, tapi aku  bisa menjawab dengan manis dan merayu. Mungkin juga si Handsome  itu hanya iseng, mencobai atau apapun alasannya, mengirim kata-kata yang isinya  memuji-muji, rayuan indah pulau kelapa, menulis I love U,  kirim puisi bak sastrawan, kirim. …. apa saja  ; pokoknya yang romantis, yang nunjukin perhatian sampai yang dia kirimi adiktif.” lanjut Kenes.

“Bisa saja semua cewek dia dekati dengan cara begitu. Siapa tahu? Namanya juga dunia maya. .Apa saja bisa dilakukan.”

“Adiktif? Maksudnya?” Rara terkesan istilah yang dipakai Kenes.

“Mbakku yang baik, adiktif. ..mmm..ini aku baca di sebuah tabloid, artinya semacam   rasa ketergantungan dengan cara dia merespons, memberi perhatian, sok kepeduliannya, juga kegombalannya, sampai seolah kita merasa menemukan pangeran yang pas, yang siap menemani dan  mengarungi hidup yang berat juga  melelahkan ini,” Kenes menjelaskan dengan roman yang lucu.

“Padahal, pangeran itu hanya maya, di awang-awang yang  mungkin saja  gak akan mau kalau ditantangin untuk serius.. .., atau akan berdalih nantinya,”

“Wahhh…, kalau begitu aku harus bilang  WOOW nih,” kata Rara dengan mimik pura-pura takjub.” Trus, kamu  tergolong yang adiktif gak Nes?”

“Aku, ya Mbak? . .. Gimana ya??? Kadang aku merasa juga sih. Haaa..haha..aduuh jadi malu,” Kenes menjawab sambil menutup muka dengan jari-jarinya yang bersih dan lentik.

“Ha..haha… Kenes. Kenes. Rasain!” Ledek Rara sambil telunjuknya menuding-nuding ke arah gadis muda itu. Geli.

“Tapi, tenang mbak, cukup 20  persen kog. Gak sampai sakow.  Aku juga gak yakin aku jatuh cinta. Memang, aku berdebar, deg-degan tapi sekedar tergoda..t-e-r-g-o-d-a. Itu saja.” Jawab Kenes serius.

“Aku perempuan dewasa, mbak. Aku suka bermimpi, tentu aku gak gegabah dengan perkara satu ini. Dalam menjalin cinta, aku butuh komitmen, tak hanya perasaan saja, tapi logika,  mata, telinga dan  semua indera juga aku pasang untuk melihat kenyataan.”

“Aku percaya kog, Nes. Kamu bisa diandalkan untuk itu. Jujur ya, aku senang kamu bisa deg-degan lagi. . hahhaha..artinya  hatimu ternyata bisa mencair. “Dipeluknya Kenes penuh rasa. Sudah lama Rara melihat Kenes ‘membeku’sejak kandasnya hubungannya dengan Bayu.

“Ngomong-ngomong, memang kamu bisa merayu?  Aku kog gak yakin.” Tanya Rara mengganggu Kenes.

“Kan belajar dari Mbakku yang manis ini, to”

“Kog aku Nes,. .. yee  salah besar. Kamu  tahu aku kan korban rayuan maut masmu juga ancamanmu, bukan aku yang perayu ya.” Rara mengelak taktis.

“Ha..ha.. iya, ya. Kog aku bisa lupa. Hmmm… amnesia kronis, maaf, “Kenes menjawab sambil memegang dahinya.Cara Kenes bicara membuat Rara tergelak.

“Itu dulu, sekarang sedang bimbang. Pilih siapa ya. . mas Dewo apa mas Bagas.” Kenes membalas mengganggu Rara.

“Nah, itu. Aku juga bingung, itung kancing aja apa ya, Nes,”jawab Rara.

“Atau dua-duanya?” lanjutnya dengan   mimik bercanda.

“Wahh. .., maunya,”gelak Kenes.” Poliandri dong. Mana tahan. .. hahha. “lanjutnya lagi sambil menyambar  keripik singkong di depannya.

Rara dan Kenes masih terus melanjutkan obrolan, kadang sangat serius;tetapi lebih banyak candaan dan ganggu mengganggunya. Tawa –tawa yang renyah terdengar indah sampai tengah malam. .. indah, manis  seperti  persahabatan mereka  yang tak lekang oleh badai, waktu dan sangarnya perjalanan hidup.

 

* Terimakasih Salam hangat persahabatan. .. bagimu para  sahabat sejatiku :))

Purworejo, 28 Desember 2012

(… di antara rasa yang tak karuan)

 

16 Comments to "Hhhmmm…dasar Kenes"

  1. Dj. 813  6 February, 2013 at 12:26

    Puji TUHAN….!!!
    Yang punya rumahpun akhirnya datang…
    Salam manis dari Mainz.

  2. ugie  6 February, 2013 at 09:45

    @ Anung FP : makasih sudah mampir , Salam

  3. ugie  6 February, 2013 at 09:44

    @ JC : .. makasih dah mampir di sini . salam

  4. ugie  6 February, 2013 at 09:42

    @ Anoew : Hooh , Noew.. piye nek diajari ngitung kancinge klambine bapake Rara… hahhaa..
    suwun ya dah mampir ( ngekek ki ..)

  5. ugie  6 February, 2013 at 09:39

    @ Anoew : Hooh , Noew.. piye nek diajari ngitung kancinge klambine bapake Rara… hahhaa..
    suwun ya dah mamapir ( ngekek ki ..)

  6. ugie  6 February, 2013 at 09:19

    @ Mbakyu Lani : makasih mampir di Kenes. Haduuh jadi malu , janji blum tertunaikan … Maafin yaaa..
    tapi aku usahakan dalam ..Insya Allah Minggu depan , lg siap2 untuk disupervisi .. hehe .
    Salam sayang buat Mbakyu yang manis di Kona.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.