Tembak di Tempat (14)

Endah Raharjo

 

Bilioner ini tak secongkak dan seflamboyan seperti tertulis dalam artikel-artikel di majalah. Menurutku ia justru sederhana, suka bercanda, rendah hati, dan menghormati tamu. Mungkin saja aku salah, hanya silau oleh pesonanya. Duduk begitu dekat dengannya, di dalam van super mewah yang melaju pelan, diiringi alunan suara Astrud Gilberto, memang bisa melenakan.

“Tim menitipkan sesuatu untuk Anda.”

“Ah! Apakah ini urusan Stella dan Tong Rang?”

“Setahuku hanya urusan Stella. Dokumennya saya simpan di dalam ransel.”

“Sepuluh menit lagi kita sampai. Kamu pasti lelah, melihat-lihat kebun dan mendengarkan ocehan petani tua seperti aku.”

“Anda merendah. Anda salah satu lelaki yang paling diinginkan semua perempuan di dunia. Dan Anda tahu itu.”

“Hahahaaa…! Saya suka caramu memuji.” Tubuhnya miring ke kanan, ke arahku. “Apakah kamu salah satu perempuan itu?” kerlingnya nakal.

“Saya jauh di bawah standar,” sambutku.

“Aaahhh…! Sekarang siapa yang merendah!”

Kami tertawa. Mata Ronn terpicing memandang keluar jendela mobil. Matahari tak lama lagi hilang dari cakrawala, sinarnya menembus kaca, menoreh semburat keemasan di wajahnya.

Kendaraan berhenti di bawah kanopi. Dengan ekor mata kulihat perempuan berseragam kuning sudah berdiri di tepi teras, perempuan yang berbeda dengan yang menyambutku siang tadi.

Badanku terasa gancang. Jangan-jangan Ronn memasukkan opium ke dalam seduhan tehnya. Atau aku terlalu girang berada di dekat lelaki luar biasa ini.

***

“Ya. Ini dokumen Stella,” ujarnya, menerima amplop putih dari tanganku. “Tanda ini menunjukkan kalau dokumen ini berasal dari Father Sap.” Dengan telunjuk ia menepuk dua garis merah tebal di salah satu sudut amplop itu. “Dia bhiksu yang luar biasa. Tak pernah lelah membantu pengungsi. Kamu sudah bertemu dengannya?”

Aku mengangguk. “Sayangnya tidak sempat berbincang lama. Kami batal makan malam karena urusan Tong Rang.”

“Ah. Ya. Tim barusan telpon. Katanya dia juga menitipkan dokumen Tong Rang.”

“Oh?” Aku merasa tak melihat dokumen itu. Kubuka lebar mulut ranselku, kukeluarkan map biru. “Mungkin ini yang dimaksud,” kutarik amplop coklat bertuliskan ‘TR’. “Apakah…?”

“Ya, ya, dan ya…” potong Ronn. Lelaki ini mirip Tim, bisa cepat menebak pikiran orang. “Aku bisa membereskan urusan semacam ini.” Cepat ia bukai halaman dokumen. Tangannya berhenti pada sebuah foto ukuran 10R. “Ah! Lelaki muda yang perkasa. Seharusnya ia tak membiarkan diri dikuasai masa lalunya. Seharusnya ia bisa lebih kuat, menyalurkan dendamnya untuk sesuatu yang tidak merugikan,” gumamnya, memandang foto itu. “Banyak orang melakukan hal yang salah untuk alasan yang benar. But as they say, the means doesn’t justify the end.” Ia menutup dokumen itu, meletakannya di meja. “Kamu punya masa lalu kelam yang menghantuimu, Mia?”

Aku kaget dengan pertanyaannya, namun sepertinya ia hanya bercanda. Ia juga tidak memperhatikan reaksiku.

“Kita harus makan dulu. Kuharap kamu suka masakan Itali. Aku minta koki menyiapkan pasta untukmu. Bagaimana?”

“Wow. Today is definitely my lucky day!” seruku, menutupi ingatan buruk yang melintas di benakku. “Jangan-jangan aku sudah mati ditembak militer Burma. Saat ini ada di surga, makan pasta dilayani seorang raja. Kalau lelaki mendapat bidadari, bukankah perempuan layak mendapat raja?”

Ronn kembali tergelak. Lelaki ini mudah tertawa. Andai aku menyandang mahkota putri Indonesia, sedahsyat Maria Sharapova, dan sepintar Marie Curie, mungkin ada harapan merebut hatinya. “Hati-hati, Mia. Kabarnya ia selalu bersikap manis pada semua tamunya,” untuk kesekian kali kuingat lagi kata-kata Tim. Apapun alasannya, aku beruntung mendapat kesempatan sehari bersama lelaki ini.

***

Aneh sekali rasanya makan berdua di meja besar yang cukup untuk menjamu dua lusin tamu.

“Apa kita bisa makan di meja yang lebih kecil?” pintaku.

“Tentu saja.” Ia tak jadi duduk. Meminta dua pelayan menata meja di teras ruang makan, menghadap kolam yang dihuni puluhan koi warna-warni.

Kami makan sambil berbincang. Ia menanyakan kejadian di perbatasan yang membuat lenganku terluka. Obrolan kami terpotong oleh telepon penting dari tamunya yang lain, orang Afrika yang meminjam helikopternya.

“Kalau helikopter itu tidak sedang dipinjam, kita bisa tiba di Bangkok kurang dari satu jam,” ujarnya setelah pembicaraan telepon usai.

“Tidak masalah buat saya kalau sampai Bangok larut malam. Bersama Anda, saya pasti akan aman, kapanpun, di manapun,” gurauku. Entah kenapa aku tak berhenti menggoda, atau – harus kuakui – lebih tepatnya: merayu. “Maaf. Kelakar saya keterlaluan. Saya terlalu senang bisa mengenal Anda. Saya tidak berniat….” Kata-kataku terhenti oleh tawanya.

“Jangan khawatir, Mia. Anak sulungku sebaya kamu.”

“Benarkah? Apakah Anda menikah muda?”

“Tidak. Aku menikah di umur 30. Tapi aku punya anak saat usiaku 20. Ibu anakku menolak kunikahi. Sekarang anakku itu di Australia. Jadi aku punya 4 anak.” Ia mengelap mulutnya hati-hati. “Apakah kamu sudah menikah?”

Aku tersedak lalu terbatuk-batuk.

“Aduh! Aku tidak bermaksud….”

“Belum. Saya belum menikah,” suaraku tersamar oleh rengekan hewan-hewan malam yang mulai keluar dari liang. Tiba-tiba kusadari betapa senyapnya rumah megah ini di malam hari.

“Anakku juga belum mau menikah. Sekarang ini perempuan lebih bebas menentukan hidupnya sendiri. Memiliki kemandirian finansial membuat perempuan merasa lebih aman hidup sendiri. Bukan begitu?”

Kuletakkan pisau dan garpu. Aku setuju dengan pendapatnya. Aku memang mandiri, namun aku tetap ingin bersuami, mencintai dan dicintai lelaki. Namun aku terperangkap dalam kenangan hitam dengan lelaki yang pernah kucintai, hingga kini aku belum bisa melepaskan diri.

“Kita sebaiknya bicara hal lain saja, yang membuatmu tertawa.”

“Saya… Pacar saya….”

“Ya?”

“Dia mencoba memerkosa saya. Sudah lama… Saya….” Bersama lelaki ini aku seperti dalam pengaruh hipnotis, tanpa diminta mengungkapkan sesuatu yang kupendam begitu lama. Tanganku memilin-milin serbet begitu kuat.

Dear Lord! Mia….” Ronn menjenengkan badan ke meja. “Aku tidak tahu harus bagaimana.” Ronn berdiri. Tangan kanannya melambai. Dua pelayan mendekat. Ia minta supaya meja diberesi. Salah satu pelayan kembali membawa nampan berisi sebuah teko dan dua cangkir. Aroma chamomile menyelusup ke hidungku saat isi teko dituang. Setelah membungkuk, si pelayan segera menyingkir.

the-past

“Minumlah. Kamu akan lebih tenang.”

“Saya tidak tahu mengapa saya menceritakan hal ini,” bisikku beberapa menit kemudian. Aku merasa melayang.

“Jangan khawatir soal itu. Membicarakan pengalaman buruk dengan orang yang belum begitu dikenal memang lebih mudah. Tidak ada rasa takut dihakimi atau disalahkan. Kalau kamu ingin bercerita, I am all ears….”

Kuputuskan bercerita tanpa berpikir lagi. “Saat itu pertengahan 2002, hampir 8 tahun lalu.” Kupenuhi dadaku dengan udara, kuhembuskan keluar tanpa suara. “Saya dapat beasiswa ke Amerika. Ia awalnya marah, melarang saya pergi. Namun malamnya ia minta maaf, mengajak saya keluar untuk merayakan. Entah bagaimana caranya, ia memasukkan obat ke dalam makanan saya. Saya jadi agak teler. Ia membawa saya ke rumah kontrakannya. Untung obatnya tak cukup kuat, jadi saya masih bisa melawan. Saya lari, ke jalan raya, terserempet sepeda motor, saya pingsan. Tahu-tahu sudah di rumah sakit. Saat itu saya sedang menstruasi. Bercak-bercak darah menempel di gaun saya. Ibu saya sempat mengira dia berhasil memerkosa dan melukai saya. Tapi saya selamat.”

Thank God….” bisiknya, matanya tak lepas dari wajahku. “Why on earth did he do that?”

“Katanya ingin membuat saya hamil agar kami menikah dan saya tak jadi pergi.”

What a nasty thought! I am sorry….”

“Sudah lama sekali. Tapi saya sulit melupakan kejadian itu.”

“Bisa dipahami.” Ronn menghela nafas. Matanya meneliti diriku. Ia menggeser kursinya mendekat. “Apakah Tim atau teman kerjamu yang lain tahu hal ini?”

“Tidak. Kelihatannya dia tidak memerhatikan kalau saya selalu gelisah bila mendengarkan kisah-kisah perkosaan. Saya tahu bagaimana rasanya. Malu, takut, marah, menyesal, dan menyalahkan diri sendiri. Jadi satu.”

“Pasti berat sekali.”

“Ya.” Aku menelan ludah. “Ini pertama kalinya saya cerita….”

“Jangan menyalahkan dirimu karena kejahatan yang dilakukan orang padamu, Mia. Kamu tahu. Kejahatan dan kekerasan ada di mana-mana, bukan hanya di medan konflik. Juga di dalam rumah. Bukan cuma serdadu yang bisa membunuh orang tak bersalah. Kadang ayah tega menghabisi nyawa anaknya karena hal sepele. Lihatlah dirimu, Mia. Kamu muda, cerdas, mandiri, dan menarik. Jangan biarkan laki-laki yang sudah menyakiti kamu di masa lalu itu merebut masa depanmu juga. Perbuatannya itu sama sekali tidak layak dipikirkan. Satu detik pun tidak. Aku bicara begini karena kamu membuka diri. Aku tidak berniat berlagak jadi ayahmu.”

“Tidak apa-apa. Terima kasih. Anda benar. Itu juga yang selalu dikatakan Bapak dan Ibu saya.” Kembali kuremas-remas serbet di pangkuanku. Terbayang wajah Tong Rang. Aku tak bisa membayangkan bagaimana ia berkelit dari teror masa lalunya itu. Aku bisa mengerti mengapa ia bertahun-tahun menyusun rencana balas dendam pada pembunuh keluarganya. Mungkin dengan membunuh kolonel itu ia berharap hantu masa lalunya ikut mati juga. Pernah terpikir olehku, membayar orang untuk membalaskan dendamku pada lelaki itu.

“Mia?” Ronn menyentuh tanganku pelan. “Kamu baik-baik saja?”

“Ya. Ya.” Aku mengangguk kuat-kuat. “Saya merasa agak lega.”

“Bagus.”

Aku mengangguk-angguk lagi. Ia kembali menuang teh, meminum pelan-pelan sambil memandang koi-koinya.

“Aku harus menelpon beberapa orang. Bisa kutinggal sebentar? Kita akan berangkat satu jam lagi. Ada hal yang harus kusiapkan. Ini sudah pukul 8. Okay?”

Kembali kuanggukkan kepalaku. Kupaksakan tersenyum, sekedar meyakinkan kalau aku baik-baik saja.

*****

 

11 Comments to "Tembak di Tempat (14)"

  1. endah raharjo  7 February, 2013 at 09:04

    @Kang Anoew: Mia lagi nginceng, belum mau nembak **ABG, anak2 SMA, mahasiswa juga pd pake istilah itu :p **
    Kalo nembak Ronn gak berani, nembaknya cuma pakai plintheng, ketinggian, ora tekan

    Yu Lani maunya Mia sama Ronn? Aku gak berani jeee… nranyak, Yu

    Pak DJ: terima kasih banyak. Salam manis juga dari Jogja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.