Evolusi Nalar Batin

Juwandi Ahmad

 

Simpul-Simpul Kesejatian Di Bukit Sidrah

spiritual_evolution

RASYA SYIFA AZ-ZAHRA. Itulah nama anak perempuanku. Usianya menginjak 17 tahun, dan kecantikannya menjadi penyesalan bagi banyak laki-laki yang baru menikah. Dan mereka yang masih sendiri, menbanjiri anak perempuanku dengan puisi, dengan sajak yang berisi kemabukan dan kegilaan, dan beberapa di antaranya: sangat parah. Ada sesuatu yang lebih mengguncang dan menakhlukan hatinya, melebihi kegilaan dan kegenitan Zulaikha kepada Yusuf: kemerduan al-Qur’an yang sekaligus membawanya pada kecintaan terhadap ilmu. Siapapun laki-laki yang tidak memiliki kelebihan dalam kedua hal itu, sudah merasa mati sebelum perang. Dan hari itu, di atas Bukit Sidrah, aku memberinnya banyak pengertian tentang apa yang kusebut sebagai Evolusi Nalar Batin: sebentuk penghiburan untuk menyenangkannya. Seperti yang dia minta, aku memulai dengan membacakannya Surat Ar-Rahman yang katanya sangat merdu, menyentuh, dan hal itu seringkali membuatnya menangis. Dan inilah yang kujabarkan kepadanya:

 

(I) Jiwa, Diri, Ruh dan Allah

Kita, anakku, memiliki padang rumput dengan segala jenis binatang yang tak henti menuntut, dan itulah gambaran untuk apa yang disebut sebagai JIWA. Ia dibentuk sejak engkau lahir, dan dimaksudkan untuk keperluan tubuh dan keinginanmu, yang karenanya engkau menjadi sedikit lebih tinggi dari seekor hewan. Selain jiwa, engkau juga memiliki ruang bagi segala perbendaharaan pengetahuan dan kebenaran, dan itulah gambaran untuk apa yang disebut sebagai DIRI. Ia ada jauh sebelum engkau lahir dan dimaksudkan agar engkau mencapai kesempurnaan dan menemukan jalan pulang yang hakiki, yang karenanya engkau dapat lebih tinggi dari malaikat. Selain jiwa dan diri, engkau juga memiliki sesuatu yang menghidupkan, yang serupa udara, tak berubah, tak bertambah, dan itulah gambaran untuk apa yang disebut RUH. Ia ada jauh dan teramat jauh sebelum adanya jiwa dan diri, dan dimaksudkan untuk menghidupkan diri dan jiwa dan sekaligus menegaskan kefanaan dan keabadianmu. Dan selain jiwa, diri, dan ruh, ada ALLAH. Demikianlah Ia kenalkan Diri, dan demikianlah Ia ingin dipangil. Dialah Ada dari segala ada. Wujud dari segala wujud tanpa Wujud. Dialah yang Awal saat belum ada sesuatupun, dan yang Akhir saat segalanya tiada. Tak kan terbayangkan olehmu anakku.

Namun mengertilah bahwa kelak keberadaan jiwa, diri, dan ruhmu akan membuktikan, mengantarkanmu pada satu pengertian bahwa Allah tidak hanya sekedar Ada, tapi bahkan lebih nyata dari segala hal yang dapat engkau dengar, engkau lihat, dan kau sentuh: dimanapun engkau palingkan wajah, disana pula kau dapati wajah-Nya. Ia lebih dekat dari urat lehermu yang karenanya mengerti benar siapa dirimu. Karena itu, anakku tunduk dan sujudlah seolah-olah engkau pandang wajah-Nya, dan bila tak dapat kau pandang wajah-Nya, sadarilah bahwa Ia memandang wajahmu.

 

 (II) Perbendaharaan Rahasia Setiap Insan

Dan mengertilah pula anakku, bahwa tidak seorangpun dapat menunjukkan dimana dan bagaimana menyusuri lorong-lorong kejiwaan, kedirian, ruh, dan keilahianmu. Dan karenanya, Ayah hanya dapat mengajarkanmu tentang firman Tuhan: Apa yang Ia katakakan. Bagaimana Ia ingin dipandang. Dan apa yang Ia ingin agar engkau melakukannya. Dan mengertilah bahwa tak seorangpun dapat memahami firman Tuhan seutuhnya, sepenuhnya. Bahkan apa yang mungkin dapat dikatakan Sang Nabi tidak akan tertampung oleh jamannya. Itulah Kitab yang mengandung segala bentuk perbendaharaan yang berlaku sepanjang waktu, segala jaman: tak mungkin selesai di tafsir sepanjang hidup, tak habis dipahami berlipat jaman. Bila selesai di tafsir sepanjang hidup, habis dipahami berlipat jaman, maka ia bukan firman Tuhan, bukan pula kitab suci: Ia hanya karangan para pujangga, seorang tabib, atau gagasan para filosof.

Demikianlah, Ayah hanya dapat mengajarkanmu tentang firman Tuhan. Sungguh, Ayah tak dapat mewariskan padamu tentang perjumpaan dengan Tuhan, tak dapat lukis wajah-Nya dalam nalar-batinmu, tak dapat mengantarkanmu pada suatu tempat dimana engkau dapat berdua saja dengan-Nya, dan tak dapat pula mencampuri dan juga menyela, sebagaimana Ayah yang tidak mungkin mencampuri perbincangan antara engkau dan dirimu sendiri. Engkau harus mencari dan mengalaminya sendiri anakku.

Ayah juga hanya dapat memberimu pengertian tentang jiwa, dan engkaulah yang harus membentuk, mengajarnya sendiri. Demikian pula dengan diri, Ayah hanya dapat memberimu pemahaman, dan engkau sendiri yang harus menemukannya. Dan terlebih tentang ruh, engkaulah yang harus menyadarinya sendiri, dan adapun Ayah hanya memberimu suatu gambaran. Di atas semua itu, Ayah hanya memberimu kapal dan mengantarkamu sampai dermaga. Engkau harus mengarungi lautan jiwa, diri, ruh dan keilahian seorang diri. Hanya dan hanya engkau sendiri yang sanggup melakukannya. Sebab ia adalah jiwa, diri, ruh, dan keilahianmu sendiri. Itulah perbendaraan rahasia setiap insan, setiap pribadi, yang karenanya mereka harus menguak tabir, hijabnya sendiri-sendiri.

 

(III) Akal dan Hati

Dan sebagaimana Ayah katakan bahwa Ruh menghidupkan Jiwa dan Diri, dan setiap Jiwa dan Diri bermuara pada apa yang disebut sebagai Akal dan Hati. Akal menjadikanmu Berpikir dan hati membuatmu Merasa. Pikiran dan Perasaan mengantarkanmu pada Tindakan. Berpikir, Merasa, dan Bertindak: itulah awal atau tanda Kemanusiaanmu. Ya, hanya sebagai awal atau tanda Kemanusiaanmu anakku. Sebab berpikir, merasa dan bertindak tidak lantas membuatmu menjadi Manusia Paripurna. Bukankah tampak olehmu anakku, kebanyakan orang berpikir, merasa dan juga bertindak, tapi tidak semuanya meretas jauh, melompati lingkaran hewan? Hanya awal anakku: sebuah titik kemanusiaan dari sebuah garis yang tak terkira panjangnya, yang harus kau tempuh dalam Evolusi Nalar-Batin, yang mengantarkamu pada derajat Manusia Paripurna.

Lihat badanmu anakku, jauh lebih tinggi dari masa-masa yang telah lewat. Ada perubahan, ada pertumbuhan, dan demikianpulalah yang mesti terjadi pada Nalar-Batin: ada Evolusi, Metamorfosis Kesadaran. Dan hal itu dapat engkau mulai dengan membongkar Akal dan Hati, dengan benar-benar berpikir, merasa, dan bertindak.

 

(IV) Benar-Benar Berpikir

Demikianlah bahwa Evolusi Nalar-Batin, Metamorfosis Kesadaran dapat engkau mulai dengan benar-benar berpikir, merasa dan bertindak. Sungguh anakku, bila engkau benar-benar berpikir akan engkau saksikan bahwa dunia dan kehidupan ini tidak pernah baik-baik saja, dan tidak pula buruk sepenuhnya. Selalu ada keberadaan, peristiwa atau kejadian yang mengandung banyak masalah (persoalan) dan tentu saja hikmah (pelajaran). Bila tidak menyangkut dirimu, pastilah berkaitan dengan orang lain, suatu masyarakat dan kebudayaan. Bila tidak di sekitarmu, tentulah ada di banyak tempat, di negeri-negeri yang jauh. Dan bila tidak semua itu, pastilah berkaitan dengan alam semesta, benda-benda langit.

Diri, dunia, kehidupan dan alam semesta adalah Kitab Agung yang setiap saat isi dan kalimat-kalimatnya berubah, yang karenanya tak akan pernah dapat kau menghafalkannya, membacanya dalam semalam, bertahun, tahun, dan bahkan sepanjang hidupmu. Dan karena setiap saat isi dan kalimat-kalimatnya berubah, maka adalah suatu bencana bila Nalar-Batinmu tidak berubah, tidak tumbuh, berevolusi, bermetamorfosis. Itu pertanda bahwa kau tidak berpikir. Kalau kau tidak berpikir, maka yang akan tampak olehmu seolah-olah tiada masalah dengan diri, dunia dan kehidupan. Dan itu adalah sebuah Ilusi. Kalau kau tidak berpikir akan tampak pula olehmu seolah-olah tak ada perbendaharaan baru, tak ada pelajaran, tak ada hikmah. Dan itu juga sebuah Ilusi.

 

(V) Ketiadaan Masalah dan Hikmah Adalah Ilusi

Demikianlah bahwa ketiadaan masalah sungguh sebuah ilusi. Sama ilusinya dengan ketiadaan hikmah. Mengapa demikian anakku? Ya, ada banyak tabir, hijab yang secara sadar ataupun tidak engkau rentangkan sehingga apa yang engkau sebut sebagai ketiadaan masalah, sebagai kebaikan-kebaikan hidup yang nyaris sempurna, tidak lebih dan tidak kurang dari keadaan dimana engkau secara sadar ataupun tidak sedang mengingkari kenyataan-kenyataan lain yang sebaliknya. Juga dengan keburukan-keburukan hidup yang amat sangat, tidak lebih dan tidak kurang dari keadaan dimana engkau secara sadar ataupun tidak juga sedang mengingkari kenyataan-kenyataan lain yang sebaliknya. Demikian halnya dengan ketiadaan perbendaharaan baru, pelajaran, dan hikmah, tidak lebih dan tidak kurang dari keadaan dimana engkau secara sadar ataupun tidak sedang mengingkari kenyataan-kenyataan lain yang sebaliknya.

 

(VI) Antara yang Mengabaikan dan yang Tidak Tahu

Ada yang mengabaikan anakku, secara sadar ataupun tidak. Disebut secara sadar karena engkau memang tidak memperdulikan keberadaan, kenyataan, peristiwa atau kabar yang sampai kepadamu. Mungkin engkau menganggapnya tidak menarik, tidak penting, tidak berguna, dan tidak berkaitan pula dengan diri dan kehidupanmu, dan disebut secara tidak sadar karena engkau tidak menyadari bahwa ada banyak pengertian, makna-makna dan pesan di balik setiap keberadaan, kenyataan, peristiwa atau kabar yang sampai kepadamu.

Dan ada pula yang tidak tahu anakku, secara sadar ataupun tidak. Disebut secara sadar karena engkau memang tidak mengetahui apa dan begaimana keberadaan, kenyataan, peristiwa atau kabar yang mungkin sampai kepadamu. Mungkin engkau terlalu sibuk atau sudah merasa nyaman dengan ketidaktahuanmu, dan disebut secara tidak sadar karena jiwa, diri, ruh, dan keilahianmu belum cukup matang untuk dapat menangkap pengertian, makna-makna dan pesan di balik setiap keberadaan, kenyataan, peristiwa atau kabar yang sampai kepadamu.

 

(VII) Ilmu dan Pengetahuan

Padahal anakku, ilmu dan pengetahuan hanya dapat engkau miliki, pertama-tama bila engkau peduli, tanggap dengan keberadaan, kenyataan, peristiwa atau kabar dalam arti yang seluas-luasnya. Sekali lagi, bila tidak secara langsung menyangkut dirimu, itu berkaitan dengan orang lain, dalam masyarakat, dalam kebudayaan. Bila tidak di sekitarmu, tentulah ada di banyak tempat, di negeri-negeri yang jauh. Dan bila tidak semua itu, pastilah berkaitan dengan alam semesta, benda-benda langit. Dan renungkanlah kembali anakku, bahwa diri, dunia, kehidupan, manusia dan alam semesta adalah Kitab Agung yang setiap saat isi dan kalimat-kalimatnya berubah, yang karenanya tak akan pernah dapat kau menghafalkannya, membacanya dalam semalam, bertahun, tahun, dan bahkan sepanjang hidupmu. Dan karena setiap saat isi dan kalimat-kalimatnya berubah, maka adalah suatu bencana bila Nalar-Batinmu tidak berubah, tidak tumbuh, berevolusi, bermetamorfosis. Itu pertanda bahwa kau tidak berpikir. Kalau kau tidak berpikir, maka yang akan tampak olehmu seolah-olah tiada masalah dengan diri, dunia dan kehidupan. Dan itu adalah sebuah Ilusi. Kalau kau tidak berpikir akan tampak pula olehmu seolah-olah tak ada perbendaharaan baru, tak ada pelajaran, tak ada hikmah. Dan itu juga sebuah Ilusi.

Peduli, tanggap dengan keberadaan, kenyataan, peristiwa atau kabar dalam arti yang seluas-luasnya, memberimu sesuatu untuk dipikirkan, yang akan membawamu pada suatu pengetahuan, dan hal itu lebih jauh menguatkan kepedulianmu terhadap keberadan, kenyataan, peristiwa atau kabar, yang kembali melahirkan pengetahuan. Dan demikian seterusnya, dalam suatu lingkaran yang tak pernah putus, tak kenal pula kata berhenti.

 

(VIII) Tidak Pernah Bersikap Terbuka

Sekarang kuberitahukan padamu anakku: mengapa engkau harus peduli, tanggap dengan keberadaan, kenyataan, peristiwa atau kabar dalam arti yang seluas-luasnya yang dapat mengantarkanmu untuk berpikir tentang diri, dunia, manusia, kehidupan dan alam semesta? Ketahuilah bahwa diri, dunia, kehidupan dan alam semesta tidak pernah bersikap terbuka kepada kita. Diri, dunia, kehidupan dan alam semesta selalu menyembuyikan hal-hal penting, berharga, dan kesejatiannya di hadapan kita, dan kesemuanya itu menginginkan kita semua agar menjadi penambang emas. Segala hal yang berharga selalu tersembunyi. Bahkan pada saat diri, dunia kehidupan dalam alam semesta telah begitu telanjang di hadapanmu, tidak selalu mudah untuk menangkap pesan-pesannya. Engkau harus menggalinya: mengasah ketajaman dan kepekaan nalar-batinmu.

 

(IX) Selubung Tipis Jagat Raya

Dan oleh karena itu anakku, hanya dan hanya dengan ilmu dan pengetahuan dalam arti seluas-luasnya, engkau dapat menguak tabir diri, dunia, kehidupan, dan alam semesta, sehingga engkau melihatnya dengan lebih lebih jelas, dalam selubung tipis. Dengannya, engkau dapat melihat diri, dunia, kehidupan dan alam semesta bersikap terbuka dan menyatakan yang sebenarnya, sehingga apa yang engkau pikirkan dan engkau perbuat benar-benar mewakili keterhubunganmu antara indra dan objek, dalam arti seluas-luasnya. Bukankah perlakuanmu terhadap batu mulia berbeda dengan perlakuanmu terhadap batu kali? Bila batu kali kau anggap batu mulia, tentulah kalau tidak sedang tertipu, engkau sedang mengalami kegilaan.

 

(X) Menjaga Jarak yang Tepat

Ya, hanya dengan ilmu dan pengetahuan dalam arti seluas-luasnya, engkau dapat menguak tabir diri, dunia, kehidupan dan alam semesta. Melihatnya dengan lebih jelas, dalam selubung tipis, yang karenanya apa yang engkau pikirkan dan engkau perbuat benar-benar mewakili keterhubunganmu antara indra dan objek, dalam arti seluas-luasnya. Mengapa begitu anakku? Ya, sebab tujuan dari ilmu dan pengetahuan adalah agar kita dapat menjaga jarak yang tepat dari sesuatu sehingga kita dapat bersikap dan bertindak secara lebih tepat, tidak teramat kurang dan tidak pula berlebih.

Lihatlah, seberapa banyak orang yang hancur karena kesedihan, kemiskinan, penderitaan, cinta, harta, kekuasaan dan sebagainya? Tak terhitung. Semua terjadi, karena mereka tidak dapat menjaga jarak yang tepat dari kesedihan, kemiskinan, penderitaan, cinta, harta, dan kekuasaan. Saat jarak itu tidak tepat, seseorang akan salah dalam memandang dan mempelakukan objek, yang berakibat pada tindakan-tindakan yang salah. Disini jiwa dan diri seseorang lebur, luluh oleh sesuatu yang mestinya terpisah. Harus ada garis atau batas yang jelas antara diri (subjek) dengan segala hal yang di luar diri (objek) dalam segala bentuk, peristiwa, keadaan dan bahkan apa yang dialami. Segala hal yang di luar diri adalah objek yang tidak seharusnya mengintimidasi, menghancurkan subjek.

Ilmu-pengetahuan mengajarkan kepada kita tentang api, sehingga kita faham, seberapa jauh dan seberapa besar api yang kita perlukan, sehingga hidangan yang lezat dapat tersaji di meja makan. Dan benda-benda langit, dirancang dengan ilmu pengetahun: ada jarak yang tepat antara satu dengan yang lain, sehingga mereka tidak bertabrakan, tetap pada tempat dan garis edarnya.

 

(XI) Dan Puncaknya Kesederhanaan

Bila tujuan dari ilmu dan pengetahuan adalah agar kita dapat menjaga jarak dari sesuatu, maka puncaknya adalah Kesederhanaan: mengetahui unsur atau inti terdalam, paling sederhana dan mendasar dari sesuatu, yang sebelumnya dianggap sulit, rumit, membingungkan, tak terpecahkan. Ketika engkau mengetahui yang sejati, yang terdalam dari sesuatu, maka tak kau temukan lagi sesuatupun. Engkau telah berada pada ujung terjauh dari Nalar-Batinmu, yang membuatmu tersungkur, sujud dan pingsan karenanya. Dan engkau akan pulang: kembali dengan Jiwa dan Diri yang baru. Dunia, manusia, hidup, kehidupan, dan semesta menjadi berbeda di matamu. Engkau berpikir, bersikap, bertindak, berkata, dan hidup dalam ketepatan jarak terhadap segala bentuk keberadaan. Engkau menemukan kesederhanaan. Engkau telah berada pada jalan yang lurus: hanya dan hanya menetapi tujuan dan misi keberadaanmu di muka bumi, yang tidak kau ketahui kapan akan berakhir. Dan bagimu hidup dan kehidupan ini sudah berakhir. Engkau sekedar melakukan segalanya dengan sungguh-sungguh, menunggu saatnya tiba dengan suka cita, dan merindukan saat kembali dengan jiwa dan diri yang tenang.

 

(XII) Berada Di Pusat Diri

Dan akhirnya anakku, di sanalah batas dimana KEDIRIANMU berada, yang menjadi pusat, di antara jiwa yang sudah kau takhlukkan dan kau sadarkan di satu sisi, dan keilahian yang sudah kau tempuh dan kau jalankan di sisi yang lain. Engkau telah Memanusia dan sekaligus Menuhan. Kusebut Memanusia karena engkau telah mengurai, menjelajahi, simpul-simpul kejiwaan, kedirian, dan keilahian yang mengembalikanmu pada tujuan dan misi keberadaanmu di muka bumi. Dan kusebut Menuhan, karena setelah dan dengan Memanusia, lantas engkau putuskan untuk menjadi bagian dari gugusan bintang yang mengitari Cahaya Maha Cahaya, yang Kekal, yang Abadi. Dan demikian pulalah yang akan terjadi pada dirimu.

spiritualevolution

 

6 Comments to "Evolusi Nalar Batin"

  1. Alvina VB  7 February, 2013 at 22:01

    Dalem, bagus buat diselami tapi jangan sampe tenggelem….Salam kalem….

  2. Anoew  7 February, 2013 at 13:20

    Gus Wan, pandangan kita tak jauh beda. Bukan seperti yang kita obrolkan kemarin dulu di fly over Janti bahwa, kita berbeda visi tentang jiwa. Menurut saya yang sangat bisa salah ini, jiwa itu adalah inti abadi dari seseorang, atau, suatu “tempat” dari kehendak, pemahaman dan kepribadian. Kemarin saya bilang bahwa jiwa itu tidak seperti roh yang penurut. Roh akan kembali ke empunya kehidupan, tetapi tidak dengan jiwa karena, tergantung dari si jiwa itu sendiri yang lebih memilih kedagingan atau kerohanian.

    Jiwa yang lebih memilih kedagingan -di sini adalah nafsu duniawi- akan tetap berada di dunia ini ketika tubuh seorang manusia itu mati. Dia akan “ikut” dengan tubuh yang berupa daging yang fana ini, busuk dan hancur oleh tanah. Bisa dilihat di kuburan, ada atau banyak jiwa yang ‘tersesat’ dan ‘buyuten’ nungguin dengan sia-sia tubuhnya yang hancur pelan-pelan lalu, berkeliaran mengganggu mereka yang masih hidup. Kecuali bagi yang bertobat, akan ada pengadilan yang menentukan berat ringannya kesalahan si jiwa itu semasa di dunia. Masalahnya, jiwa itu tidak bisa berdoa.

    Berbeda dengan jiwa yang lebih mementingkan roh / rohani, dia akan bablas langsung ikut si roh kembali ke empunya dan hidup kekal di suatu tempat yang konon, disebut surga.

  3. Dj. 813  7 February, 2013 at 04:00

    Mas Juwandi…
    Seorang ayah yang sangat bijaksana, mengajari anak dengan penuh kesabaran…
    Shalom…!!!

  4. Dewi Aichi  6 February, 2013 at 22:03

    Apa mungkin dia ini yang membuat mas Juwandi memiliki hand phone he he he…

    Saya akui, level nalar batin seorang mas Juwandi…sudah sangat tinggi. Dan saya percaya melalui ibu yang membuatkan kopi di pinggir jalan, malam terakhir waktu itu.

  5. Handoko Widagdo  6 February, 2013 at 18:29

    Dalam….

  6. [email protected]  6 February, 2013 at 10:45

    absen no 1….

    baca dulu… berusaha didalami…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.