Badai Kelabu Memilu

Sugiyarti Ugie

 

Matahari masih sembunyi menjadikan pagi terasa lebih dingin, menggigit kulitku. Azdan  berkumandang, setelah sholat subuh, aku yang telah bangun dari jam dua dini hari tadi; membuka jendela, terlihat di mataku  sawah yang menghampar dengan kabut-kabut  memutih di atas hijau padi seperti asap putih yang menari menuju langit. Indah, tapi terasa juga memilukanku.

Kuhela nafas, kurasakan nyeri yang sangat di ulu hati, kurasakan titik air di sudut mataku, hampir jatuh kalau tidak kudengar suara anak laki-lakiku:  Khrisna   memanggilku.

” Ibuuu..,  dingin.., ” katanya sambil   ikut melongok jendela yang kubuka.

“Jangan sedih ya, Bu. Ada Khrisna di sini,” lanjutnya sambil memelukku. Khrisna rupanya tahu suasana batinku.

Aduhai, kata-katanya pelan menyimpan sejuta makna! Laki-laki kecilku, anak yang baru berusia 8 tahun, rasanya baru kemarin ia ada digendonganku, ku antar  -jemput sekolah  TK, sekarang sudah bisa menghiburku.

Khrisna, Khrisna…

” Ibu gak sedih kog. Yuk kita jalan-jalan. ” kataku bersemangat, aku tak mau terlarut dalam sedihku ini.

Dan kami keluar  menjemput matahari, mencium kabut dan memetik suka cita bersama-sama.

_____________________

 

Kupeluk erat, Dhea, sahabatku. Sahabat dari kecilku hingga kini; yang selama ini menyuportku, tempat aku mengadukan hampir semua cerita hidupku, suka cita  kedukaan, juga kegetiran dan kegalauan hatiku.

“Dhe….” Tak bisa kutahankan tangisku. Aku terguguk di bahunya.

“Aku sedih, entahlah. .. mungkin gloomy itu seperti ini? Tak kusangka, perpisahan ini begitu berat. ” Kataku lagi sambil menangis. Dhea memandangiku, tangannya menepuk-nepuk lenganku.

“Liqa, aku akan mendengarkan, semuanya.. .” Paling gak bisa membuatmu lega.” katanya penuh perhatian.

Aku merasa tak karuan, susah aku menggambarkannya.  Entahlah, hatiku sangat mudah berubah, kadang terasa datar, meletup-letup, mudah marah dan  mudah sedih. Sangat-sangat sensitif, begitu kata teman-temanku. Aku sebenarnya juga merasakan ini, tapi aku tak bisa mengendalikannya.

Sudah sebulan ini, aku resmi berstatus  janda, ketika gugatanku dikabulkan pengadilan. Sedikit rasa ‘bebas’ membuatku menggeliat, bebas dari seorang yang dulu merayu dan berkata mencintaiku, berjanji di depan Tuhan untuk memperlakukanku dengan baik, ternyata mengkhianatiku!

Ah, mas Andri. .. mengapa???

Mas Andri, bukankah engkau tahu, aku tak akan bisa menerima, tentang berbagi cinta? Dan betapa berdarahnya hatiku  ketika tahu  perempuan itu  telah melahirkan  bayi dari benihmu?

Setelah aku tahu pengkhianatan mas Andri,aku hilang rasa. Mungkin mati rasa dan  aku tak bisa lagi melayaninya. Walaupun kami tetap tinggal bersama, kami diam-diaman, tak pernah berkomunikasi lagi kecuali di depan anak-anak, atau ada tamu ke rumah.

Sampai akhirnya, setahun kemudian  setelah berkonsultasi, bertukar pendapat dengan kerabat, banyak pihak, ustadzahku, juga bapak-ibuku kuputuskan untuk mengakhiri ikatan suci perkawinan ini, karena aku tak bisa menjalankan hukum Tuhan dalam rumah tanggaku.

Kubujuk-bujuk hatiku tetap tak bisa. Aku tahu Tuhan tak suka perceraian walaupun dihalalkan. Tapi aku benar-benar tak sanggup!

Aku yang menggugat perceraian ini, tapi setelah benar-benar perceraian itu terjadi, aku merasakan kelegaan, tapi  sekalogus aku merasa kosong, ada yang hilang dari diriku.

Aku gamang, sedih, dan  terluka, sehingga sering aku tak bisa tidur, atau tiba-tiba menangis hingga mataku bengkak.

Apapun mas Andri adalah laki-laki yang pernah aku cintai, kami tumbuh dalam cinta yang manis selama hampir 10  tahun, dengan kebiasaan-kebiasaan yang mengisi ingatanku, mau tak mau  menjadi bagian dari hidupku.

Ahh. .kenapa mas Andri merusaknya? Kenapa? Kenapa? Siapa yang salah? Mas Andri atau perempuan itu?

Aku merasa terlempar  dengan keras kemudian  ditampar tanpa ampun. Ngilu melihat kenyataan ; mas Andri menjadi milik orang lain, bukan milik kami lagi.

“Sabar ya Qa.” Suara tenang  terdengar menyadarkan lamunanku, tangan halus Dhea menggenggam tanganku, seolah ingin mengalirkan  kekuatan padaku.

Kutatap perempuan ayu di depanku, yang sampai saat ini hidup sendiri, belum menikah karena ingin fokus mengurusi adik-adiknya sejak ayahnya meninggal sebelas tahun yang lalu. Dhea, benar-benar sahabat sejatiku, seolah ia dihadirkan untuk  jadi tempatku bersandar. Ia yang bisa menerima apapun keadaanku, ketika aku cemerlang atau sedang di bawah titik nol, siap sedia di sampingku. Tak pernah berubah, bahkan ketika  aku berada dalam status berat  “janda”, di mana banyak teamn-temanku yang dulu dekat, mulai menjauh. Aku merasakan ini, mungkin aku virus berbahaya dan hina sehingga harus dihindari? Oooh. .pedihnya.

“Dhe, ternyata aku lembek ya? Kukira aku akan kuat menghadapi semua ini. Ternyata aku belum siap, “kataku sambil tersedu, kupererat  pelukanku  di bahu Dhea.

“Kamu pasti bisa, Qa.”Dhea berbisik di telingaku.

“Tuhan bersamamu, Khrisna ada di sampingmu, “lanjutnya lagi. “Memang butuh waktu untuk ikhlas, menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi. Jangan ingin  buru-buru ya?”

“Aku kog kadang  sering merasa tak berarti, terbuang. . ” kataku serak, memecah tangisku lagi padahal aku berusaha menahannya.

“Kamu perempuan baik, yakinlah. Ingat kan, akan ada hadiah bagi perempuan baik. Tuhan tak pernah ingkar janji,” sahut Dhea menenangkanku.

Pelan-pelan energi yang dikirim Dhea  mengaliri jiwaku, aku merasakan sedikit ketenangan. Kuhapus airmata yang masih menjejaki pipiku. Kuhela nafas panjang, dan berkeyakinan : aku bisa melalui masa-masa kelabu ini.

Untuk Khrisna nafas hidupku, untuk diriku sendiri. Dan aku yakin ; ada Tuhan yang selalu menuntunku.

badai

 

*Hanya fiksi *

Jakarta, 18 Januari 2013

(Ketika hujan, banjir melanda. .)

 

6 Comments to "Badai Kelabu Memilu"

  1. ugie  10 February, 2013 at 22:13

    @ Anoew : …. hahhaha.. iya sih , tapi lagi masa iddah ..jd ini masa tenang dulu ya ..
    makasih

  2. anoew  9 February, 2013 at 12:52

    Jangan pilu memilu, bercerai kawin lagi, tinggalkan masa lalu. Hidup terlalu singkat untuk urusan pilu memilu.

  3. ugie  8 February, 2013 at 10:54

    @ JC : haha.. iya ya , kan gak selamanya cerita hidup itu suka cita aja .

    @ Kornelya: .. bercerai , butuh keberanian dan itung2an kayaknya ya , Mbak

    @ Pak Dj : Makasih sekali lagi
    yaa.. sedih kan jd bumbu , biar yg sukacita itu terasa lebih maniiis ..
    Salam manis dari kami di Jakarta .

    Makasih semuanya , telah singgah di badai-ku .. salam

  4. Dj. 813  8 February, 2013 at 02:22

    Mbak Ugie…
    Kok ceritanya semakin menyedihkan….
    Ditunggu cerita yang gembira….
    Salam manis dari Mainz.

  5. Kornelya  7 February, 2013 at 21:42

    Sedih, tetapi aku senang dgn keberaniannya untuk bercerai. Salam.

  6. J C  7 February, 2013 at 12:54

    Waduuuhhh…kisahnya sedih…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.