Kucing si Bunga

Anoew

 

Sugar,

ah honey honey

you are my candy girl

and you got me wanting you 1)

 

Sore itu kami sedang berada di sebuah toko yang menjual berbagai model BH dan CD, di mana awalnya hanya berniat menghabiskan waktu hingga akhirnya tersasar ke tempat ini, tempat yang khusus menjual segala macam keperluan wanita. Saya pun dengan senang hati menemaninya memilih-millih model yang sesuai keinginannya, mengaduk-aduk dari tumpukan teratas sampai ke dasar di antara berbagai bentuk dan warna. Namun, hingga setengah jam lewat Bunga belum juga menemukan pilihan yang pas sampai akhirnya ia menarik sebuah BH warna-warni bergambar anak kucing yang sedang tidur.

toko 1

Kalau yang ini? Tanyanya.

Coraknya terlalu ramai, tapi boleh juga. Jawab saya sekenanya sambil menduga-duga apa yang ada di benaknya.

Iyaaa… tapi lucu.

Saya tersenyum, menundukkan kepala lantas mengecup keningnya yang tertutup poni. Bunga mendongak dan balas tersenyum lalu menyandarkan kepalanya ke pundak sambil berbisik, lucu…

He-em,” saya menjawab asal-asalan karena masih menikmati bau harum rambutnya.

Yang ini aja ya?

Saya mengangguk mengiyakan dan dia tersenyum.

Setelah membayar di kasir kami keluar dari toko dengan bergandengan tangan dan benar-benar menikmati sisa sore itu, berbagi canda dan menggoda satu sama lain. Tawanya yang lepas itu sungguh sedap dipandang saat menampakkan barisan giginya yang rapi, apalagi ditambah guncangan dadanya saat terbahak-bahak.

***

Dear Baltyrans, seperti itulah saya dengan Bunga. Seorang teman lama dan sahabat erat sekaligus teman curhat yang terkondisikan aman karena di antara keluarga kami sudah saling mengenal dekat. Bunga ini sama seperti perempuan-perempuan lain, hanya saja dia mempunyai kelebihan yang sungguh menarik. Dengan tinggi badan 163 cm dan berat 42 kg, ia tergolong kecil tapi penuh daya pikat karena dengan wajah imut dan kulitnya yang putih bersih itu akan membuat pria mana saja menolehkan kepala. Tapi bukan itu, bukan itu yang membuat saya suka pusing bila terlalu lama berdekatan dengannya. Adalah kenyataan bahwa pria mana saja pasti akan tertarik bila melihat sepasang buah indah seperti milik si Bunga ini, besar dan bulat.

Selama saya mengenal dia sudah banyak kejadian yang kian merekatkan hubungan ini seperti layaknya sepasang kekasih meski tetap saling menghormati satu sama lain, karena menyadari status masing-masing. Dan hal ini telah menjadi kesepakatan hingga suatu ketika sewaktu kami kembali menghabiskan sore di sebuah sudut cafe hotel, kata sepakat itu jadi hancur berantakan.

Ketika itu Bunga duduk di sebelah kiri memeluk lengan saya sambil menyandarkan kepalanya ke pundak dan berbisik, “Hun..” (di saat berduaan kami saling memanggil dengan sebutan ‘hunny’)

“Hmm?”

Kamu masih ingat sore kemarin dulu itu nggak, yang pas kita milih-milih BH?

Saya mengangguk sambil memainkan rambutnya yang berponi.

Apa yang terpikir saat itu?

Sambil menahan tawa saya menjawab, kok nanya begitu?

Si Bunga meraih gelasnya dan meminum isinya lewat sedotan, lalu kembali mengejar, ayo dong ngaku...

Pertanyaan sulit. Penasaran ya? Saya bertanya lantas menarik nafas dalam-dalam berniat akan menjawab pertanyaannya.

aku pengen lebih. Bunga melanjutkan kata-katanya tanpa menunggu saya menjawab. Kali ini suaranya serak.

Wah nggak boleh…, itu dosa! Saya menyahut cepat.

Iya sih..., Bunga menoleh untuk meneliti wajah yang sengaja saya pasang seserius mungkin, setelah dirasanya saya sedang bersungguh-sungguh kembali ia menyandarkan kepalanya. Aku pengen sesekali kita bersama, lebih jauh. Sambungnya lagi sambil memutar-mutar gelasnya yang isinya tinggal seperempat.

Hai cantik, saya menyapa pelan dengan mengelus dagunya perlahan. Enggak baik kalau sampai ke arah sana. Kita sudah sepakat tak akan menodai kepercayaan keluarga masing-masing. Iya kan..?!

Ia hanya diam, kali ini tangannya memainkan sedotan di gelasnya. Melihat itu saya segera memesan segelas soda susu lagi untuknya dan bertanya, masih mau pake es nggak?

Bunga menatap keheranan tapi lantas mengangguk.

Kalau nggak pake es berarti bukan soda susu dong? Berniat jahil saya masih bertanya.

Iya aku tauuu Bunga menyahut sambil menjulurkan lidahnya. “Kalau nggak pake es berarti kan oda u uuu!

Gemas rasanya melihat bibir mungilnya maju beberapa senti saat mengucapkan itu dan sungguh, ingin saya melumatnya. Tapi bagaimana pun juga kami bersahabat, dan saya tahu itu tidak pantas. Tidak boleh, dia seorang sahabat. Jangan nodai persahabatan ini. Saya terus menerus mengingatkan diri sendiri sambil berulang kali menarik nafas. Tidak boleh-tidak pantas, tidak boleh-tidak pantas, tidak boleh-tidak pant… Tapi saat mata ini terantuk ke dadanya rasa pusing kembali datang menyerang. Aaaah…saya menggelengkan kepala dan cepat memanggil pelayan.

***

Jadi bagaimana? Mengerti kan? Saya menegaskan.

Iya… Bunga menyahut lirih sambil menundukkan kepala. Sorry kalau begitu.

Saya tertawa lalu mengacak-acak poninya. Lho kok sorry?

Habis… waktu itu kan kita sudah sepakat. Jawab Bunga sambil meminum es sodanya begitu pesanan kedua datang. Ia menyedotnya dengan pelan-pelan dan sesekali membasahi bibirnya, lebih kepada melamun.

Saya manggut-manggut lalu meraih rokok dan menyalakan, menghisapnya juga dengan pelan-pelan dan diam. Bunga tenggelam dalam pikirannya, saya juga tenggelam dalam pikiran tentang ucapannya tadi. Kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing dan dalam sebentar saja terlintas, betapa merah bibir si Bunga tadi saat ia menyedot minumannya.

Kamu serius nggak pengen nyoba? Lanjutnya tiba-tiba.

Saya terbatuk, tersedak asap rokok oleh pertanyaannya itu lantas menyambar segelas air di meja. Pengen juga sih, saya menjawab dengan tersenyum tapi sepertinya janggal. Logika selalu kalah pada saat-saat seperti ini.

Bunga menoleh dan bertanya pelan, ”apa yang paling menarik dari aku?”

“Dadamu sungguh indah.” Saya menjawab pelan lalu memalingkan wajah ke sudut cafe, tanpa berani menatap wajahnya.

Karena dada aku? Tegasnya dengan mata yang membulat, heran dengan keterusterangan saya.

Saya mengangguk, masih menatap ke arah lain.

Nggak papa.., jawabnya pelan dengan muka memerah.

Saya lalu berbisik ke telinganya, kamu nggak sadar kalau  punya dada indah?

Iyakah? Ia menyahut lirih lalu menunduk dengan kedua tangan memegang dadanya seolah tak percaya.

Melihat itu saya tak tahan lagi lantas merengkuh tubuh mungil si Bunga dan sekejap bibir itu saya kecup, ia terkejut tapi di detik berikutnya balas mengecup lalu tangannya melingkar ke leher dan berujar buka kamar aja yuk?!

Saya mengangguk lantas segera membayar minuman dan bergegas ke meja reception untuk membuka kamar. Saya mengurus segalanya dengan cepat.

***

erotic-dream-fabio-cicala

Sesampai di kamar kami kembali berciuman semakin panas, saling mengulum dan saling membelai, hingga akhirnya ciuman dasyat itu terhenti karena kami kehabisan nafas. Muka si Bunga memerah, mungkin begitu juga dengan muka ini. Sejenak saling memandang dengan senyum, lantas tubuh mungilnya saya rebahkan ke atas ranjang. Saya cium matanya, lanjut ke bibir, kecup dagu, terus ke lehernya sambil tangan terus bekerja di tempat-tempat yang semestinya. Bunga terdongak dengan mata terpejam. Tangannya ikut memegang tangan ini, bukan untuk melarangnya namun ikut menekan dan mengikuti iramanya. Dia menikmatinya, dan saya pun menikmati pemandangan indah dari wajahnya.

Tiba-tiba ia terbatuk.

Kenapa? Saya menatapnya khawatir.

Tubuh kamu beraaat! Jawabnya dengan terbatuk-batuk.

Saya tertawa. Dia juga tertawa meski masih sesekali batuk.

Lalu kami berciuman lagi dan buka aja kaosnya.., katanya tiba-tiba.

Saya mengangguk lantas mengangkat tepi kaos itu dari bawah dengan perlahan-lahan dan, tertegun begitu melihat BH yang dipakainya bercorak warna warni dengan gambar anak kucing sedang tidur. Saya menahan tawa melihat corak BH yang dipakainya itu, sekaligus juga heran merasakan pening yang suka menyerang kepala saat berdekatan dengannya itu kini hilang secara ajaib.

Saya cium gambar anak kucing itu, di kiri dan kanan.

Bunga tersenyum lalu seolah bisa membaca pikiran ini tiba-tiba mau liat nggak? Ia bertanya sambil memeletkan lidahnya ke samping.

Cepat saya mengangguk dan semakin takjub ketika anak kucing itu terlepas.

Indah sekali…!

Saya pun segera tenggelam di sana. Bunga pun segera tenggelam dalam desah rintihnya.. Kami berdua pun tenggelam dalam berjuta rasa…

***

Setelah semua tertuntaskan saya merebahkan diri di sebelahnya, kembali mengatur nafas.

Bunga tersenyum, lalu aku senang kita di sini, dalam posisi begini. Ujarnya sambil memiringkan tubuhnya lantas memeluk erat.

Terdiam, hanya suara tarikan nafas kami di antara dengung AC kamar yang halus terdengar. Berapa lama kemudian saya menatap ke sahabat yang sekaligus detik ini menjadi selingkuhan gara-gara si anak kucing itu.

Eh, kalau kamu hamil bagaimana?” Saya bertanya pelan, agak cemas mengingat tadi kami melakukannya tanpa pengaman.

Nggak papa, nanti kita merit aja.. Dia tersenyum jahil.

Saya menepuk jidat dan dia tertawa melihatnya.

Belajar dari mana yang terakhir tadi itu? Penasaran saya mengungkit kehebatan dari variasi permainannya karena selama ini, menurut pengakuannya ia tak pernah bergaya aneh-aneh jika bercinta dengan suaminya.

Nggak tau, spontan aja…

Masak?! Tadi itu enak banget. 

Lebih enak mana sama Bunda? Ia mengerling nakal.

Saya pencet hidung berujung lancip itu.

Hihihi kok diam? Bunga memiringkan kepalanya lantas menggesek-gesekan ujung hidungnya, masih sambil terkikik.

Saya hanya menatapnya langit-langit kamar, tetap tidak menjawab.

“Hun, mulai sekarang kalau pengen lagi kasih tau aku yaaa.. Ujarnya kemudian.

Wah! Saya menggaruk kepala, semakin gelisah. Dalam hati saya sadar sesadar-sadarnya bahwa ini sudah melanggar batas dan nilai-nilai persahabatan yang normal. Tapi kenikmatan dari perselingkuhan itu sungguh luar biasa, sensasi maupun rasa.

Tak lama kemudian, nggg.., lagi yuuuk. Bunga berkata sambil merapatkan tubuh polosnya ketika dilihatnya saya hanya diam. Mukanya kembali memerah, kali ini mungkin ia tersipu.

Benar-benar gemas saya dibuatnya.

Hun..., saya berujar, sambil mengusap-usap poni di keningnya yang masih berpeluh.

Hm?

ayuk lagi!

“Siapa takut…?!

 

I just can’t believe the loveliness of loving you

I just can’t believe the wonder of this feeling too

I just can’t believe it’s true 2)

***

Dan setelah itu selesai untuk kedua kalinya kembali kami berpelukan dengan kedua paha saling mengait, menikmati pendar-pendar pelangi yang masih tersisa hingga nyaris tertidur ketika tiba-tiba ia berbisik, mandi yuk biar seger.

Hmmm Saya menyahut malas-malasan.

Ayo doong. Dia menarik tangan saya.

Masih terpejam, saya menyeringai menahan sakit di lengan kiri sambil berpikir mengapa si Bunga jadi bengis begini.

Biarin aja sakit, huh! Udah siang tau…! Ujarnya semakin sengit lalu kembali menarik tangan saya, kali ini semakin keras.

Lho…? Kok si Bunga jadi galak begini? Pikir saya dalam hati dengan mata masih terpejam lalu menggeliat malas.

Ayooo cepet banguuun…, hiiiih! Suara itu semakin keras di telinga. Cepat mandi terus habis itu giliran si Ucrit dan si Cuplis!

Lho, kok dia bawa-bawa kedua anak saya? Gawat! Perlahan saya buka mata dan…, sosok si Bunga telah tergantikan dengan bunda yang sedang menarik-narik tangan saya sambil melotot gemas.

erotic-dream

Aaah… ternyata saya bermimpi!

Buru-buru saya bangun sambil menggeleng-gelengkan kepala mengusir bayangan indah tadi itu lalu bergegas ke kamar mandi, meninggalkan istri yang terheran-heran begitu mendapati sprei dan bantal yang berantakan.

***

 

PS:

1,2)  Sugar Sugar – The Archies

*)  Pernah dimuat di sebuah CJ empat tahun yang lalu

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

44 Comments to "Kucing si Bunga"

  1. anoew  5 March, 2013 at 23:17

    hahaha…

  2. juwandi ahmad  5 March, 2013 at 23:14

    wah..iki wae wes kemut kemut ndasku……

  3. anoew  5 March, 2013 at 23:10

    Gus Wan semakin ndredeg kalau liat komentar bergambar di nomer 23 yang diposting Pampams…

  4. juwandi ahmad  5 March, 2013 at 23:06

    ha ha ha ha……..aku kok dredegg…le mboco

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.