Nasib Perpustakaan dan Budaya Baca Kini

Atra Lophe

 

baca-bukuMinggu ini adalah minggu pertama kuliah. Seperti biasa, di minggu-minggu pertama kehadiran mahasiswa memang masih terhitung sepi. Yah, maklumlah. Minggu-minggu pertama hanya  diisi dengan  silabus sekalian memperkenalkan dosen. Tetapi, pada minggu kedua dan selanjutnya, biasanya ruangan kuliah pun tampak padat.

Hari ini saya berangkat lebih awal. Hitung-hitung ada sedikit waktu untuk bersantai sebelum masuk kelas.  Juga sekedar memanjakan diri dengan suhu yang adem. Maklum, Jogja sedang dilanda kekeringan  sehingga siang hari panasnya bukan main.  beberapa menit  saya mondar-mandir mencari tempat yang teduh dan tentunya  nyaman. Refrensi yang terlintas dibenak  mulai dari hall kampus, kantin, studio, perpustakaan. Preferensian ini akhirnya jatuh pada perpustakaan. Pilihan ini tentunya berbasis selera. Lalu, saya pun melangkah menuju perpustakaan.

Hal pertama yang saya dapati adalah suasana perpustakaan yang sepi. Hanya saya dan petugas perpustakaan yang nampaknya sedang cukup sibuk didepan monitor komputer. Paradoks pertama, perpustakaan bukan tempat favorit mahasiswa. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan keadaan kantin dan hall kampus. Bahkan tidak jarang juga banyak yang lebih memilih untuk duduk  diam tepat didepan pintu masuk perpustakaan.

Setelah beberapa halaman saya membaca buku yang kebetulan  buku milik pribadi, segerombolan mahasiswa masuk. Entah tujuannya untuk apa, saya juga kurang mengerti. Tepatnya tidak mau ambil peduli. Lewat beberapa detik, mereka mulai menciptkan kebisingan kecil. Bercerita denga suara, yang bagiku, sangat mengganggu.  Dengan jelas saya menangkap bahwa topik yang sedang mereka bicarakan  adalah  gangnam. Gangnam  merupakan salah satu jenis dance yang dipopulerkan oleh penyanyi asal korea. Sejenak aku mengalihkan perhatian kearah mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengambil buku atau pun korang untuk dibaca. Hanya hp yang digenggam dan dielus-elus. Paradoks kedua, perpustakaan beralih fungsi menjadi tempat nongkrong.

Keluar dari perpustakaan saya pun bergegas untuk masuk ke kelas.  Setelah beberapa lama basi-basi dengan dosen, akhirnya kuliah pun dimulai.  Dosen yang ini memang asik. Selain pembawaannya yang santai dan humoris, beliau sangat cerdas dan kritis. Bukan hanya itu, beliau juga terbilang sebagai dosen killer (menurut teman-temanku), tetapi disiplin bagiku. Seperti halnya hari ini, beliau langsung memberi tugas. Tugasnya pun memang tidak sulit. Hanya menyuruh mahasiswa membaca sebuah buku lalu  memberika interpretasi terhadap buku tersebut. Yang lain tiba-tiba protes. Paradoks ketiga, kita telah kehilangan minat baca.

Saya diam. Menatap bingung dengan apa yag terjadi hari ini. lalu kembali saya melagkah keluar  untuk pulang. Seorang teman mendekati saya ada bilang:

pengembangan-minat-baca

“Tra, bantu bikin tugasku yang tadi ya. Tak bayar deh”.

Saya tersenyum dan melangkah pulang.

Paradosk kelima, mental kita tidak mau berusaha dan menjadikan uang sebagai senjata untuk apapun.

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Nasib Perpustakaan dan Budaya Baca Kini"

  1. Bella Kirana  8 February, 2013 at 11:54

    Karena paradok ke-4 tidak ada, maka paradoknya adalah paradok, bahwa angka 4 sering tidak dihitung

  2. Dewi Aichi  8 February, 2013 at 07:44

    Saya sih baca , berita online, sms, status, dan buku juga, saya sering baca buku, tentang apa saja.

  3. Dj. 813  8 February, 2013 at 04:15

    Budaya membaca benar berkembang, karena technologi yang memudahkan
    untuk hal tersebut.
    Dj. juga jadi senang baca baltyra…
    Salam,

  4. Alvina VB  7 February, 2013 at 21:53

    Membaca buku sudah susyah…., apalagi membaca glagat org semakin susah sekarang ini, lah wong semua dah kaya robot, kepala menunduk, jalan lurus atau duduk ditempat dengan kepala menunduk, tangan menggenggam sesuatu, serius, terpaku, pokoknya texting, texting, he..he….

  5. Kornelya  7 February, 2013 at 21:38

    Sunngguh membaca buku itu harus dijadikan kebutuhan dan ritual hidup. Salam.

  6. Anoew  7 February, 2013 at 13:22

    saya suka paradoks kelima

  7. J C  7 February, 2013 at 12:55

    Hahahaha…bukan hanya sms, pak Hand, ditambah lagi: BBM, status Facebook, Twitter, dsb…

    Untungnya anak-anakku sangat-sangat suka membaca…

  8. Handoko Widagdo  7 February, 2013 at 12:49

    Budaya membaca sekarang ini malah berkembang. Hampir tidak ada orang yang tidak baca sms setiap harinya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.