Dapur Ndeso ala Gunung Kidul, Dapur Ndeso ala Brasil

Dewi Aichi – Brazil

 

Siapa yang pernah mempunyai, mengalami dan bahkan sampai sekarang masih menggunakan dapur seperti yang tampak pada foto di bawah ini?

pawon (1)

Saya dulu mengalami, ketika masih kecil, di rumah embah (ibunya ibuku), dapurnya masih seperti ini. Tapi sekarang sudah tidak ada, diganti dengan dapur yang memakai kompor gás. Tidak ada lagi acara memasak di tungku, dengan segala perabot yang kotor kena hangus. Mencucinyapun harus lebih rajin, tidak bisa mengkilap.

Nah..kemarin, saat saya bersilaturahmi di rumah pakdhe Kardi di Pathuk, Gunung Kidul, dapurnya masih setia seperti yang dulu. Meski sudah mempunyai rumah yang bagus, dan dapur bersih, dengan kompor gás, tetapi budhe masih setia menggunakan dapurnya yang posisinya di belakang rumah. Luas sekali dapurnya. Itu hanya dapurnya saja.

Rasanya kok gimana ya saat berada di dapur saat di rumah budhe beberapa waktu yang lalu. Ada rasa bernostalgia dengan dapur seperti itu. Tentram, dengan seluruh penghuninya yang ramai dan obrolan yang ramai pula, kata-kata yang jarang diucapkan jadi keluar semua.

pawon (2)

pawon (3)

pawon (4)

Kedatangan saya, bulik saya yang tinggal di Jakarta, paklik saya yang tinggal di Bogor, membuat rumah budhe di Pathuk sangat ramai. Budhe menyembelih ayam kampung 4 ekor, untuk makan malam dan untuk makan pagi atau sarapan. Belum yang lain-lain sangat enak rasa makanan yang dimasak di tungku. Nasinya juga enak, hasil panen sendiri. Bikin trancam dengan sayuran tinggal metik di kebun belakang dapur.

pawon (5)

pawon (6)

Makan malam dan sarapan bareng-bareng keluarga yang lama tidak saling berdekatan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Dapur seperti ini sekarang jarang diminati. Apalagi oleh pasangan muda, inginnya dapur dengan segala isinya yang modern, bersih, mengkilat. Jangan-jangan dapurnya malah jarang dipakai, restoran dan warung makan banyak. Masak bikin repot, dan dapur kotor, gitu kali ya.

Saya sendiri ya sudah ngga sabar kalau memakai dapur seperti ini. Lebih cepat dan lebih praktis pakai kompor gás he he…

Di Brasil juga masih banyak yang pakai dapur Ndeso, pakai tungku, panci-panci juga hangus , kotor. Seperti minggu kemarin, setibanya dari Indonesia, saya mengunjungi pakdhenya suami, namanya pakdhe Angelo, tinggal di luar kota, 1 jam dari rumah saya.

Istrinya pakdhe Ângelo namanya budhe Regina, di rumahnya juga mempunyai jenis dapur, yang satu dapur modern, satunya lagi dapur ndeso, pakai tungku. Suami kemarin pengen dimasakin Feijoada(makanan tradisional Brasil), terus budhenya tanya, “mau dimasak di kompor atau di tungku?” Suami saya jawab di tungku saja, bau asap lebih nikmat.  Maka Minggu pagi, budhe langsung menyiapkan segalanya untuk memasak di tungku. Sabtu sore, suami saya sudah belanja, dan juga cari kayu bakar sama pakdhe. Saya juga pesan dicarikan kayu bakar untuk bikin api unggun pada malam minggunya. Akhirnya sesore suami sama pakdhe cari kayu bakar.

pawon (7)

Dari jam 8 pagi, hingga jam 1 siang baru beres semua. Budhe Regina masak dengan 2 asisten yaitu saya dan sepupu suami saya. Setelah masakan beres, segera saya menyiapkan taplak meja, piring, gelas, sendok dan lain-lain untuk segera makan siang bersama. Cuaca yang tadinya mendung, mendadak panas sekali setelah jam 11 siang.

pawon (8)

pawon (9)

Maka sepakat semua makan siang di luar, dekat dapur ndeso . Selain menu makan siang yang terdiri dari feijoada, couve, farofa, dan salad, ada juga semangka, beli di pasar, mangga dan anggur sudah tersedia di kebun. Dan es krim juga tidak ketinggalan untuk anak-anak.

pawon (10)

pawon (11)

pawon (12)

pawon (13)

pawon (14)

pawon (15)

pawon (16)

Ya..kalau hanya sekali-kali masak di tungku sih ayo aja, masih sanggup. Tapi kalau tiap hari ya sudah ngga sabar he he he…jujur saja .

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

53 Comments to "Dapur Ndeso ala Gunung Kidul, Dapur Ndeso ala Brasil"

  1. juwandi ahmad  21 February, 2013 at 22:01

    kuwi jenenge gundul pringis…..mbak ha ha

  2. Lani  21 February, 2013 at 21:49

    37 DA : gundul melus2…….ampe klimis……..kemplink………mmg bikin gemezzzzzzz!

  3. juwandi ahmad  21 February, 2013 at 21:33

    ha ha ha….wes nganti mlebu pengimpenku je

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.