The Nanny

Dian Nugraheni

 

Suatu hari daku bertandang ke rumah seorang kawan, perempuan Indonesia, yang sudah 12 tahun tinggal di Amerika, namanya Mbak Warni. Dia tinggal di apartemen 2 kamar, bersama 7 orang lainnya. Semuanya bekerja sebagai Nanny alias Pengasuh anak. Ada yang punya Tuan orang Pakistan, India, China, bule..macam-macamlah…

Begitu masuk ke apartemennya, telingaku langsung menangkap alunan lagu Ndangdut yang meliuk-liuk dan semarak.., ohh.., dia sedang putar CD bajakan lagu Ndangdut…Langsung deh, hatiku pun ikut berirama, serasa berada di tanah air..apalagi klip videonya, si Mbak lagi berada di persawahan yang menguning..hmmm.., tak terasa batinku pun ikutan mendendangkan irama Ndangdut.., meski daku nggak hapal lagunya, nggak tau juga siapa si Mbak yang lagi mendayu-dayu itu..

Kopi hitam dan gethuk singkong menemani obrolan kami…serasa…serasa, ini bukanlah negerinya Pak Obama. Serasa jiwa terisi dengan sesuatu yang sangat daku kenal.., my homeland, Indonesia…Dan tiba-tiba, hatiku tambah serakah, mengandaikan…ada seekor ayam jago yang berkukuruyuk.. He…he…he…yang ini ngebayangin aja deh..nggak bakalan ada di sekitar sini…

“Yahh beginilah, harus hemat-hemat mengeluarkan dollar, karena kita carinya pun lumayan susah..jadi, tinggal bersama-sama, umpel-umpelan, ya nggak apa-apa.., padahal nek ndok deso kono..walah, omahku moblah-moblah…neng kene kok mung urip koyo ngene yo..(padahal kalau di desa sana, Indonesia, rumahku gede, di sini kok cuma hidup kayak gini ya..)”, kata Mbak Warni…

Sebenarnya, mereka yang bekerja sebagai Nanny di Amerika ini, masih sangat beruntung. Mengapa daku bilang sangat beruntung …? Ya, dari berbagai sisi, banyak hal yang lebih menguntungkan bagi para Nanny ini.

Apalagi kalau melihat “sejarah” kedatangan mereka. Banyak kaum perempuan Indonesia yang sekarang ada di Amerika, dulunya adalah TKW yang dikirim ke jazirah Arab. Dan dia mengikuti Tuannya yang pindah ke Amerika. Ketika Tuannya pulang lagi ke Arab, si Mbak-Mbak ini “mlethas” alias membebaskan diri dari Tuannya yang orang Arab, dan bertekad bulat tak lagi mencari Real, karena mereka akan mencari Dollar.., dan harap diingat, mereka ini bisa dibilang, hampir nggak bisa bicara bahasa Inggris. Kalau pun bisa, ya hanya ungkapan sepatah dua patah kata yang sederhana, seperti “don’t eat..!” atau “bed time..” ya..yang gitu-gitulah, perintah-perintah sederhana bagi anak asuhannya.

Mereka dibayar dengan layak, karena ada standard upah minimum per jam. Dan sepanjang penglihatanku, bayi-bayi di sini jarang banget yang rewelan. Lihat saja, hujan pun, panas pun, dingin pun, bayi-bayi ini anteng saja di ikat di kereta dorong mereka ketika diajak keluar rumah. Nggak ada acara gendong-gendong pakai kain..he…he…jadi Si Mbak gak capek-capek amat kan..

nanny

Kalau pun yang mereka asuh adalah anak-anak kecil, rata-rata anak-anak di sini juga “baik”. Artinya, mereka tau peraturan, dan mudah diatur. Ini mungkin karena, setahuku, orang-orang di sini “ketat” dalam mendidik anak. Salah ya salah, benar ya benar. Boleh ya boleh, nggak boleh ya nggak boleh..

Misalnya, anak-anak kecil di Amerika nggak biasa bermain dengan pistol-pistolan, pedang-pedangan, perang-perangan..atau mainan yang berbau kekerasan lainnya.

Mereka juga diberi pemahaman sejak kecil, apa saja tindakan yang tidak sopan dan terlarang, seperti misalnya “nyemol” atau nyolek pantat orang..bercanda pun itu nggak boleh.

Sejak kecil pula, anak-anak laki-laki dan perempuan diberi pemahaman, bahwa ada daerah-daerah privat, seperti pantat, alat kelamin, dan payudara, yang kita tidak boleh menyentuh milik orang lain, dan orang lain tidak boleh menyentuh punya kita. Dan itu betul-betul keras, bahkan bila itu terjadi di sekolah, pastilah anaknya sudah disuspend dan orang tuanya akan dipanggil untuk diberi pengarahan.

Demikianlah, anak-anak saja diajarkan sopan dan menghormati, maka para orang tua di sini pun kurang lebih ya seperti itu. Para Nanny ini diperlakukan secara sopan sesuai harkat dan martabatnya.

Coba saja, baca koran atau lihat berita di Televisi.., berapa banyak TKW Indonesia yang mengalami perlakuan buruk seperti pemerkosaan, gaji tidak diberikan, tidak boleh menelpon keluarganya di Indonesia, pulang bawa anak hasil perkosaan Tuannya, atau bahkan pulang sudah dalam peti mati..? Naudubillahi mindzalik..! Nampaknya, hal ini sangat..sangat jarang terjadi di Amerika. Mengingat semua sudah ada aturannya, dan aturan dipatuhi ketat dengan sanksi-sanksinya.

Jadi kalau ada Tuan yang coba-coba “mencelakai” si Nanny, tentu saja dia harus berhitung, hukuman apa yang bakal diterima dari negara. Jadi, mereka yang bekerja di sini, daku bilang, amanlah…

Mereka juga diberikan libur, biasanya hari Sabtu dan Minggu. Dan, daku sempat terharu, meski mereka bekerja keras, jauh sanak keluarga, tapi masih tetap bisa enjoy, menikmati hidup sehari-hari bersama teman-teman sejawat. Senang melihat mereka bergaya sangat neces..sepatu boot tinggi, mantel-mantel yang cukup mahal.., party sana party sini.., belanja di mana-mana..hmmm..

Tiba-tiba daku dikejutkan oleh sebuah dialog, ..” wet pepere ki mau ndek ndi to..? (White Pepper, merica putih, nih tadi di mana sih..?) tanya Mbak Warni..

“Lho, ndek wingi tak cemplungno ndok freser kono kuwi, together mbek jahene..” jawab Bu Siti, salah satu roommatenya (“lho, kemaren saya masukkan di freezer itu, bersama Jahenya..).

Tiba-tiba lagi, daku terkejut ketika Bu Siti bicara padaku, “Mbak, belum kerja to..mau ndak jadi Nanny lip in..bayare yo lumayan gede, Tuan ndok kene ki apik-apik, kerjone ya mung nyekel bocah. Klining wes ana liyane. Kae ada Tuan sing butuh Nanny sing biso boso Enggres.., mbake kan lulusan Universitas, mesti biso ngomong Enggres..” (“Mbak, belum kerja ya, mau nggak jadi Nanny live in (menginap), gajinya ya lumayan besar, Tuan di sini baik-baik, kerjanya ya cuma pegang anak. Cleaning sudah ada orang lain yang kerja. Itu ada Tuan yang butuh Nanny yang bisa bahasa Inggris, Mbak kan lulusan Universitas, pasti bisa bicara Bahasa Inggris…”)

Aku cuma tertegun… Serasa melow mulai menyerang…

Gimana daku bisa jadi Nanny.., karena mengurus anak adalah mengurus sesuatu yang punya nyawa dan hati. Tanggungjawab moral daku pastilah tinggi.., karena bagi daku, anak-anak harus diurus dengan perhatian dan kasih sayang. Bukan cuma kasih warning ke mereka “lunch time..” “bedtime..”, “dont eat…”

Dan..dan daku nggak akan sanggup membagi cintaku pada anak-anak lain dengan menjadi pengasuhnya.., karena cintaku sebagai Ibu, pengasuh, pendamping, dan sekaligus sebagai teman.., hanya akan kuberikan pada anak-anakku sendiri.., daku tak akan membiarkan anak-anakku sakit hati dan jealous, cemburu, karena Mamahnya mengurus anak orang lain … Jadi jelas daku tak akan membaginya dengan anak-anak orang… Bukan daku tak butuh dollar.., tapi sungguh daku tak mampu menjadi Nanny…

So.., di mataku..begitu hebatnya Nanny-Nanny ini, meninggalkan anak dan suami di Indonesia, membekukan rindu hati pada keluarga nun jauh di sana, kerja mengasuh anak-anak orang…bertahun-tahun bertahan tak pulang demi dollar..

Ohh, sekali lagi.., maafkan daku..daku tak mampu…

Daku pamit pulang pada teman-teman di apartemen para Nanny ini, sampai rumah, menyiapkan makan sore, sebentar lagi anak-anak pulang sekolah.

“Bang Sungeb…Bang Sungeb..lama tak pulang-pulang..anakmu..anakmu..sudah lama menunggu..”

“Mah..kayaknya lagunya bukan Bang Sungeb deh..” protes si Kakak yang baru saja tiba di depan pintu …

“Oh ya..Bang Toyib..Bang Toyib…”

Maaf..maaf, pikiran lagi kemana-mana, mau nyanyi Bang Toyib jadi Bang Sungeb..soalnya lagi teringat Soto Pak Sungeb..di jalan Bank dekat rumahku di Purwokerto…hoaaa…hoaaa…

Salam Nanny…!

Carlin Spring, 
Arlington – Virginia,

Dian Nugraheni,
Di sini jam 4.21 sore, tanggal 13 Maret 2010, hari Sabtu
Hujan kecil seharian…

 

9 Comments to "The Nanny"

  1. Anoew  9 February, 2013 at 21:01

    lho Kang Josh, aku memang selalu menghormati setiap lagu kebangsaan kok, apalagi lagu amerika itu yang pakai acara memegang dada.

  2. J C  9 February, 2013 at 18:25

    Kang Anoew selalu terkenang dan teringat urusan menyanyi dan pegang memegang dada…

    Dian, cerita keseharian di negeri seberang seperti ini selalu menarik disimak, terutama tulisan-tulisanmu ini…mantaaappp…

  3. anoew  9 February, 2013 at 12:46

    Wah enak juga jadi nanny di sana. Jadi pengen ke ngamerika melamar nanny, menyanyikan lagu kebangsaan dan tangan memegang dada.

  4. Dj. 813  9 February, 2013 at 01:02

    Mbak Dian…

    *** Dia tinggal di apartemen 2 kamar, bersama 7 orang lainnya ***

    Itu kamar nya sebesar apa…???
    Tidak bisa bayangkan 2 kamar untuk 8 orang dewasa….

    Semoga semakin membaik dan bisa satu orang satu kamar….

    Salam,

  5. Hennie Triana Oberst  8 February, 2013 at 23:13

    Dian, jadi Nanny di negara maju seperti di Amrik pastilah jauh…. lebih menyenangkan.
    Kalau lihat di Indonesia dan di Cina banyak (tidak semua lho ya) anak yang kadang kurang ajar sama pengasuh mereka. Belum lagi melihat ketidakmandirian mereka, makan masih disuapi (padahal usianya sudah cukup pantas untuk mandiri) dan disambi dengan lari sana sini.

  6. triyudani  8 February, 2013 at 14:28

    Mbak Dian…, uuuapik tenan critane ini…maaf lama nggak kontak hehe podo sibuke yo.

  7. triyudani  8 February, 2013 at 14:28

    Mbak Dian…, uuuapik tenan critane ini…maaf lama nggak kontak hehe podo sibuke yo.

  8. Lani  8 February, 2013 at 14:00

    DIAN : hehehe….jgn dikira predikat cm NANNY…….banyak teman yg kukenal org Indonesia punya kerjaan ini, mrk jg sugih je ngirim duit rutin ke kampung, bangun rumah, beli tanah, sawah, belum lagi membelikan speda motor, mobil, belum lagi menyekolahkan anak2 sampai ke univ……….kecuali klu jd nanny di Indonesia……..mungkin ndak bs dibandingkan dgn di Amerika sih…….itulah perbedaannya……….aku sendiri pernah jd nanny, anak asuhku skrng udah berusia 22 th……….tinggi, cantik lagi…………kami msh kontak hingga kini………

  9. P@sP4mPr3s  8 February, 2013 at 11:12

    uhuy… salam sesama perantauan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *