Dari Sprindik, Ular Air, Pakta Integritas ke Pembunuh Nomor Satu

Djodi Sambodo

 

Sempat terjebak lama seperti mengisi teka-teki silang pada definisi kata sprindik. Ternyata itu adalah surat perintah penyidikan. Kata ini marak saat ada indikasi kebocoran di lembaga penyelidik kasus korupsi. Orang dalam papan atas KPK ditenggarai punya andil dalam pembocoran surat yang masih bersifat rahasia itu. Sebab muatan politis masih kental sebelum menerbitkan resmi sprindik ketua umum salah satu partai politik peserta caleg 2014 yang tengah dilanda prahara kasus korupsi.

Spindrik

Perhatian seharusnya terpusat pada peralihan tahun naga air ke ular air. Papan reklame perusahaan susu kental manis di jalan protokol menuliskan Gong Xie Fat Cai 2013. Entah kebetulan atau tidak, menjelang kedatangan tahun ular air ditemukan ular sanca di rumah korban banjir Petogogan, Jakarta Selatan pertengahan Januari lalu? Yang pasti saat itu Jakarta terendam air sangat parah setelah tahun 2007 dimana telah  menelan korban jiwa karena tenggelam di basement UOB Plaza.

Sepertinya tidak berhubungan sama sekali, sebab saluran air yang mestinya sering dilakukan pemeriksaan secara berkala apakah terbebas dari sumbatan sampah sebelum musim penghujan tiba. Sebab cukup dua jam hujan deras saja beberapa titik-titik tertentu baik di jalan protokol pusat kota DKI atau di pinggirannya, genangan air hingga 40 cm pasti akan terjadi. Contohnya hujan sore Sabtu, sehari sebelum jatuhnya Imlek, titik rendah kawasan Karang Tengah penghubung Lebak Bulus dan Cinere terendam banjir separuh badan mobil sedan. Motor yang nekat melintasinya tak ayal langsung mogok di tengah-tengah banjir.

Walau hujan deras kembali turun sore tadi dan beberapa warga Tionghoa merayakan Tahun Baru China tidak menyurutkan acara penandatanganan 10 butir Pakta Integritas di Cikeas. Partai incumbent, pemenang pemilu yang tidak ingin terpuruk di tahun 2014 seperti tidak memusingkan lagi akan pertanyaan mana urusan negara dan mana kepentingan partai. Yang penting all round-lah, begitu kata orang Medan. Sudah punya gelar tinggi, perwira tinggi, pemimpin tertinggi dan pencipta lagu pulak. Bahkan menjadi dewan pembina tertinggi telah mengaburkan kedudukan ketua umum partainya. Ketua umum yang ingin digantung di Monumen Nasional bila terbukti bersalah dan punya keahlian menghitung suara pemilu saat menjadi anggota KPU 2005 yang awalnya adalah anak emas yang seperti berada di ujung tanduk pelemahan posisi ketua umum partai. Entah demi menaikkan polling tingkat elektabilitas partai ataukah sebagai reaksi bocornya sprindik yang pasti kesan pengalihan masalah banjir dan kemarakan Imlek terasa kental.

Bila sudah berada di lingkaran kekuasaan dan kemewahan walau uangnya berasal dari keringat rakyatnya, memang telah meninabobokan. Ibarat tanaman ‘khat’ walau terkena pucuknya saja membuat lupa diri, lupa bahwa hidup itu tidak abadi. Uang yang terkumpul dari rakyat memang tdiak perlu dikembalikan langsung kepada si pemberi tetapi gantilah dengan perhatian, perbaikan, perlindungan dan hukuman terutama bagi rakyat yang tengah dilanda kesulitan.

Seperti banjir yang selalu mengancam di balik turunnya hujan. Atau bahaya pembunuh nomor satu yang tengah mengancam rakyat saat ini. Yaitu uang!!! Uang yang harus disetor rakyat lewat retribusi umum, pajak penghasilan, pajak kendaraan, pajak pembelian, pajak bumi dan bangunan, pajak hiburan dan berbagai jenis pajak lainnya, telah mencabut beberapa nyawa. Tidak hanya rakyat sendiri, orang asing seperti Mendieta, pesepakbola profesional harus meninggal dunia dalam keadaan miskin karena tidak digaji.

Bermain bola gratis memang tidaklah mengenakkan tetapi demi Merah Putih walau nyawa taruhannya, Bambang Pamungkas dan Irfan Bachdim telah rela tidak menerima gaji berbulan-bulan. Hingga akhirnya seorang gadis calon ahli perawat kesehatan, Annisa Azward yang tengah kritis akibat cidera kepala terjatuh saat melompat dari angkot yang tidak tertib ikuti trayek, tetapi ditolak rumah sakit swasta Jakarta Utara untuk melakukan operasi di kepalanya sehingga jiwa mahasiswi UI tersebut tidak tertolong lagi. Ironis memang. Banyak politikus, pengurus sepak bola dan dokter yang kaya raya tetapi buta mata hatinya. Apakah politikus tidak punya saudara yang rumahnya terendam seluruhnya oleh banjir, atau pemilik klub sepak bola itu tidak membayangkan bila punya anak pemain bola professional tapi tidak mendapat gajian ataukah mungkin tidak ada dokter yang alumni UI?

Di saat kesulitan dan kemalangan memang akan membuat siapapun lupa harus mengadu kemana. Tetapi ada sebuah surat berisi kalimat-kalimat bijakNya bahwa hendaklah bersabar di saat mendapatkan cobaan dan berucap bahwa semua ciptaan akan kembali kepadaNya.*** (sambodo,10feb13)

 

19 Comments to "Dari Sprindik, Ular Air, Pakta Integritas ke Pembunuh Nomor Satu"

  1. Djodi Sambodo  26 February, 2013 at 20:59

    Mega Vristian Says:
    February 13th, 2013 at 11:50
    Lalu solusi dari permasalahan yg sudah mas Djodi tulis apa ya?
    ==================================
    Belum ada, mbak Mega. Mengharapkan bapak yg suka pakai baju kotak2 yg lagi sibuk ngurusin banjir di ibu kota suatu saat bisa memperbaikinya pelan-pelan…hehehe.

  2. Djodi Sambodo  26 February, 2013 at 20:54

    Yuli Duryat Says:
    February 12th, 2013 at 20:45
    Lalu berikutnya, berapa juta wanita non skill yang bakal dikirim keluar negeri untuk diperas keringatnya agar devisa negara terus mengucur?

    Terima kasih banyak, tulisan yang sangat bagus.
    Salam kenal
    ========================================

    Terima kasih, mbak Yuli.
    Iya seharusnya gantian utk memeras keringat mereka si penyebab wanita non skill dikirim keluar negeri Tetap semangat, ya.

  3. Djodi Sambodo  26 February, 2013 at 20:49

    Mega Vristian Says:
    February 12th, 2013 at 20:36
    Beragam kritik sosial yang dikemas dalam satu tulisan, seperti makan rujak ulek, ada rasa asem dan pedasnya. mampu melinangkan air mata. Bravo mas Djodi.
    =========================
    Thanks, mbak Mega.

    Kebetulan saya suka gado2 dan kadang2 karedok cuma sayangnya agak asem karena dikasih cuka.

  4. Mega Vristian  13 February, 2013 at 11:50

    Lalu solusi dari permasalahan yg sudah mas Djodi tulis apa ya?

  5. Yuli Duryat  12 February, 2013 at 20:45

    Lalu berikutnya, berapa juta wanita non skill yang bakal dikirim keluar negeri untuk diperas keringatnya agar devisa negara terus mengucur?

    Terima kasih banyak, tulisan yang sangat bagus.
    Salam kenal

  6. Mega Vristian  12 February, 2013 at 20:36

    Beragam kritik sosial yang dikemas dalam satu tulisan, seperti makan rujak ulek, ada rasa asem dan pedasnya. mampu melinangkan air mata. Bravo mas Djodi.

  7. Silvia Utama SU Bumi  12 February, 2013 at 18:28

    Sama-sama

  8. Lani  12 February, 2013 at 00:22

    2 AKI BUTO : hayoooooooo buka lapak bersama mas Djodi Sambodo……..pie??? aku daftar jd pelanggan nomer siji wis………

    8 DJODI SAMBODO : mmg begitu katanya…………ber-akrab ria sama banjirrrrrrrrrr bandang……..hadoh! itu avatar sampeyan look very nice………! boleh kan kasih komplimen????

  9. Djodi Sambodo  11 February, 2013 at 23:06

    Dj. 813 Says:
    February 11th, 2013 at 17:37
    Oooooo…. ( sambil garuk-garuk kepala….. ).
    TUHAN tiidak pernah memberi percobaan.
    Manusia dicobai oleh keingionannya sendiri.
    Setelah keinginan itu menjadi besar, maka terjadilah yang dinamakan “dosa” dan akhirnya
    disertai penyesalan. Kemudian berkata, sedang kena cobaan…???
    Salam,

    ==================================
    Jadi terbayang kasus penjualan bayi ke luar negeri yg baru2 ini terbongkar. Masih bayi sdh dapat cobaan ‘terbuang’ dari orang tuanya sendiri…tinggal yg punya hati nurani saja harus menyikapinya bagaimana…mengadopsi bayi malang tsb atau mengembalikan pd ortu yg tdk diketahui rimbanya.
    Salam kembali, Pak DJ…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.