Imlek Kini dan Dulu

Silvia Utama – Bumi

 

Imlek sudah  datang.  Teman-teman yang merayakan Imlek bagaimanakah perayaan Imlek tahun ini?

Imlek dulu:

Melihat hiruk-pikuk Imlek membuat saya terkenang ketika saya masih belum menerima Kristus sebagai Juru Selamat saya.

Saat-saat itu Imlek buat saya adalah bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain dan beberapa pegawai papa untuk bikin uang-uangan dari kertas sampai dua drum. Belum lagi sibuk bantu beli bunga segar di pasar bunga Wastu Kencana atau ke Kalipah Apo buat sembahyang, sibuk beli aneka kue basah buat sembahyang, sibuk nemenin mama ke pasar cari bandeng super besar dan segar untuk sembahyang juga, dsb. Saya masih ingat setiap Imlek mau datang saya diajak mama untuk mau berhimpitan di tokonya Atiam (toko 21) di Basalama untuk beli bahan-bahan makanan lainnya  yang berlokasi di Basalama. Ko Atiam ini biar sibuknya bagaimana pun selalu melayani pelanggannya dengan ramah dan selalu memiliki senyum di bibirnya.

1

2

Seperti biasa mama juga akan menyiapkan membeli piyama dan baju baru buat  saya, adik-adik dan papa.

Mama akan menyiapkan sekuintal beras, angpao dan makanan untuk dikirim ke rumah paman tirinya dimana mama setelah orang-tuanya meninggal dunia tinggal di rumah paman tirinya.  Papa akan menyiapkan sekuintal beras, angpao dan makanan lainnya untuk dikirim ke rumah mantan bossnya.

(Saya tidak mengerti kenapa sih setiap tahun harus mendatangi rumah orang yang bukan saudara. Beliau bilang, “Hutang duit bisa dibayar Vie, tapi hutang budi dibawa mati. Papa punya ilmu bisnis dari dia. Jadi biar dia usahanya sudah bangkrut, kita tetap harus menunjukkan penghargaan kita kepada orang ini. ***Sebagai catatan, papa masih kerja tanpa terima gaji di tempat boss nya sampai semua beres. Teman-teman kerjanya yang lain sih sudah kabur duluan).

Imlek asli sangat melelahkan secara emosi dan jasmani. Saya tidak nyaman orang-orang yang tidak dekat dengan saya berdatangan dan saya harus ikut orang-tua berbasa basi melakukan kunjungan. Yang bikin senang kalau hendak mengunjungi orang-orang yang saya tahu selalu kasih angpao besar. Hehehe……

 

Imlek sekarang:

Hari Jum’at  tanggal 7 Februari, anak-anak disuruh mengenakan baju bernuansakan Chinese (sekolah meminta murid-muridnya mengenakan baju demikian). Jadi mereka ke sekolah pakai baju ala Chinese deh.

Di rumah ada nastar, kue semprong dan kue sumpia. Papa mertua pintar bikin dodol keranjang, tapi kami beli satu buah dodol keranjang saja.

Tahun kemarin kedua nenek dari suami saya meninggal dunia. Jadi tahun ini, untuk pihak keluarga dari papa suami saya kami semua akan kumpul di rumah mertua saya. Karena papanya suami adalah anak tertua di keluarga.

3

4

5

6

Kalau dari pihak mama suami sih seperti biasa kumpul di tempat oomnya yang tertua. Nah di rumah oom-nya suami sudah pasti akan ada sesi acara karaoke-an dalam bahasa Hokkan dan Mandarin dan ada acara main mah-jong.

Suami dan saya orangnya memang tidak menikmati kumpul-kumpul dengan banyak orang dan melakukan basa basi. Jadi biasanya setelah kiong hi (mengucapkan selamat tahun baru Imlek ) kepada para tetua kami diam di rumah saja. Tidak ada open house ataupun melakukan kunjungan-kunjungan ekstra ke kerabat satu persatu.

7

8

9

Satu hal karena kami sekarang sudah disebut oom dan tante oleh keponakan-keponakan suami, kami juga membatasi diri untuk tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang super basi dan bisa menekan perasaan orang yang ditanya. Misalnya:

a. Sudah punya calon? (lalu dilanjutkan dengan kotbah satu babak mengenai jangan terlalu pilih-pilih dalam mencari pasangan)

b. Kapan menikah? (Biasa sama komentar selanjutnya dengan no.1)

c. Kapan punya anak? (Biasa dilanjutkan tentang pentingnya cepat-cepat memiliki anak. Ini bisa menjadi tekanan luar biasa buat pasutri yang memang ingin punya anak, tapi belum diberi).

d. Membandingkan satu saudara dengan saudara yang lain, misal: ”Kamu sudah dapat promosi belum? Tuh sepupu kamu baru kerja sudah dipromosikan/gajinya sudah sekian/sudah sanggup beli rumah/mobil/motor mewah.”

Anyway, selamat merayakan tahun baru Imlek buat teman-teman dan pembaca Baltyra yang merayakan. Semoga tahun baru Imlek ini membawa berkat yang selama ini didamba-dambakan oleh teman-teman.

10

11

 

36 Comments to "Imlek Kini dan Dulu"

  1. Silvia U  17 February, 2013 at 18:10

    Terima kasih Yuli.

    Betul itu bunga Mei Hua.

    Terima kasih banyak Yuli. Saya sudah sampaikan ke suami dan dia seneng banget ada yg kasih komen mengenai hasil fotonya.

  2. Silvia U  17 February, 2013 at 18:07

    Hai Anoew. Salah ngitung ah. Itu seratus tiga puluh delapan. Coba hitung lagi deh sekali lagi. Hihihi.

    Foto pentulis mah sudah beberapa kali nongol Anoew. Bukti-buktinya ini
    http://baltyra.com/2012/03/07/kopdar/
    http://baltyra.com/2010/06/08/pantai-seafood-part-1/
    http://baltyra.com/2010/09/21/family-corner-a-familys-note/

    Terima kasih banyak Anoew.

  3. Yuli Duryat  16 February, 2013 at 00:02

    Foto nomer lima, bagusnya hehe…

    Foto nomer satu, itu bunga Mei Hua bener gak Mbak?

  4. Yuli Duryat  16 February, 2013 at 00:00

    Aduh telat saya, selamat tahun baru Imlek Mbak Silvia….

  5. Anoew  15 February, 2013 at 21:49

    foto nomer dua, totol-totol di baju putih si enci itu berjumlah seratus tiga puluh tujuh

    Mana nih foto pentulisnya?

    Selamat Imlek ya, Sil

  6. Silvia Utama SU Bumi  12 February, 2013 at 18:18

    Selamat pagi juga Dj. Iya tuh ini org Jerman, Erich yg jual bir and wurst malah pernah sy lihat jualan pakai kostum Bavaria segala

    Di Singapura cukup byk resto Jerman. Mau schweinstaxe, erbsensuppe, macam2 wurst(huhnerwurst,nurnberger,bock wurst, dll), dkk ada. Karena di Spura byk juga org Austria dan Jerman. Lagi pula org2 Spura termasuk tipe yg suka makan2

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.