Reflections of Eden

Handoko Widagdo – Solo

 

Orangutan reflect, to some degree, the innocence we humans left behind in Eden, before our social organization, bipedalism, and toolmaking gave us “domination over” the planet (p16).

reflections-of-eden

Birute M. F. Galdikas

Buku ini dibuka dengan kisah si Akmad (nama Akmad diambil dari nama peneliti senior bernama Sjamsiah Akmad), seekor anak orangutan yang diselamatkan dari kandang di kebun sawit. Akmad, seekor orangutan betina yang membutuhkan induk pengganti menemukan Ibu Galdikas (saat itu umurnya 25 tahun) yang secara suka rela menggantikan induknya yang ditembak mati di kebun sawit. Pengalaman Akmad yang mendapatkan kasih seorang ibu pengganti membuat dia menerima Carey, seekor anak orangutan berumur 4 tahun yang bernasib sama dengannya. Padahal saat itu Akmad sedang bunting. Akmad merawat Carey dan Arnold (anak pertamanya – jantan) bersama-sama. Meski Arnold lebih muda, tetapi dia lebih mandiri. Itulah sebabnya saat Arnold berumur 1 tahun dua sudah mulai terpisah dari Akmad. Sampai suatu saat Arnold tewas karena dimangsa babi hutan. Kisah ini menujukkan kasih dan pengorbanan yang alami di dunia orangutan.

Melalui buku ini Ibu Galdikas memaparkan suka duka penelitiannya, frustasinya dan kegembiraannya bersama orangutan di Tanjungputing, Kalimantan Tengah. Kisah-kisah orangutan jantan, betina dewasa, betina muda, orangutan yang liar atau yang diliarkan kembali memenuhi buku ini. Tidak ada buku yang memuat tentang perilaku orangutan selengkap buku ini. Kisah rinci tentang cara hidup dan interaksi antara pejantan, betina dan bayi/anak orangutan tergambarkan dengan baik melalui Georgina, Pug, TP yang diikutinya berminggu-minggu.

Upaya penelitian orangutan di alam liar membawa Birute Galdikas kepada sebuah keputusan hidup untuk melindungi dan meliarkan kembali orangutan-orangutan hasil tangkapan. Pertemuannya dengan Cempaka dan Sugito (keduanya orangutan) yang dipelihara oleh manusia menyebabkan perhatiannya kepada orangutan yang dijadikan binatang peliharaan membuncah. Birute Galdikas tidak segan untuk meminta, melobi dan menyadarkan para ‘orang kuat’ untuk menyerahkan orangutan peliharaannya supaya bisa diliarkan.

Kisah-kisah sukses tentang orangutan tangkapan yang berhasil liar kembali dituturkan dengan antusias. Demikian pula proses untuk kembali menjadi liar. Tidak semua orangutan bekas tangkapan (captive) bisa kembali menjadi orangutan liar dengan perilaku normal. Si Gundul, misalnya. Gundul adalah seekor orangutan yang berkasus karena pernah mencoba memerkosa tukang masak di dapur di Camp Leaky.  Gundul adalah seekor orangutan yang dulunya dipelihara oleh seorang Jenderal. Perilaku Gundul mengikuti apa yang dilihatnya saat dia berada di rumah sang Jenderal. Gundul memperlakukan orang-orang biasa (yang tidak berseragam) sebagai bawahannya. Meski Gundul sangat respek kepada saya (Galdikas), namun dia memerlakukan perempuan lain sebagai obyek.

Si Akhmad lain lagi, orangutan betina ini begitu lembut. Dia berperilaku seperti manusia. Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan daripada merayah. Dia berdiri dengan dua kaki dan tangannya menggelantung, daripada menggunakan keempat organ tubuhnya, selayaknya orangutan.

Pada bab terakhir, Birute Galdikas berkisah tentang keputusannya untuk menikah dengan seorang Dayak bernama Bohab. Bohab adalah orang Dayak biasa – salah satu asistennya. Bohab, meski berperawakan kecil, namun dihormati oleh orangutan, baik yang tangkapan maupun yang liar. Bagaimana mereka berdua kemudian bahu-membahu melindungi orangutan dan habitatnya.

(Tulisan ini adalah untuk mengenang buku Reflections of Eden yang diberikan oleh Ibu Birute Galdikas kepada saya dan hilang di perjalanan Medan – Jakarta.)

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

83 Comments to "Reflections of Eden"

  1. nia  21 February, 2013 at 09:59

    pak Han… nama2 orangutannya sepertinya nama2 jawa… apa memang penduduk sana dari dulu namanya seperti nama org jawa? ato Dr Birute yg kasih nama?

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  15 February, 2013 at 11:01

    Mulai dech…si Gatel. Aku bilangin Dr. Birute.

  3. Dewi Aichi  15 February, 2013 at 10:40

    Komen 76, pak Handoko, putingnya di bawah…bayangan saya si pemilik puting sedang tengkurep he he he…atau sedang posisi membungkuk.

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  14 February, 2013 at 14:29

    Puting…

  5. Handoko Widagdo  14 February, 2013 at 13:13

    Pulau Kalimantan memang pulau yang seksi. Bagian atasnya menggambarkan bibir yang merekah. Bagian bawahnya ada puting.

  6. Dewi Aichi  14 February, 2013 at 09:17

    pak Handoko, siapppp, saya buka peta…(tolong pak Handoko jangan lama-lama mengamati peta pulau Kalimantan ya)…

  7. Dewi Aichi  14 February, 2013 at 09:15

    Aduh pak Iwan, ntar saya bisa digebukin orang desa Koplak beneran nih…aduhhhh….soalnya orang desa Koplak yang asli itu pada intelek-intelek, saya berasal dari sebuah desa yang letaknya berdekatan dengan desa Koplak, (menjelaskan karena takut diusir dari Sleman) wakaka…

  8. Handoko Widagdo  14 February, 2013 at 09:14

    Mbak Dewi, silahkan lihat di peta Pulau Kalimantan. Memang bentuknya menyerupai puting kok.

  9. Dewi Aichi  14 February, 2013 at 09:13

    pak Handoko, terima kasih penjelasannya, jadi saya tau jika ditanya kenapa namanya Tanjungputing,

  10. Handoko Widagdo  14 February, 2013 at 09:04

    Tahukah kalian bahwa nama Tanjungputing diambil dari bentuk daerah ini yang menyerupai puting susu? Dulunya wilayah ini bernama Taman Margasatwa Kotawaringin. Baru kemudian Ibi Birute meminta kepada Presiden Suharto melalui Menteri Kehutanan (Pak Sudjarwo) supaya namanya diubah menjadi Tanjungputing. Dengan demikian semua wilayah di puting Pulau Kalimantan ini bisa dimasukkan ke dalam Taman Nasional.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.