Tembak di Tempat (15)

Endah Raharjo

 

Aku sedang asyik berkirim sms dengan Tim dan Rudi sewaktu seorang pelayan menanyakan kalau-kalau aku ingin menyegarkan diri. Katanya ia sudah menyiapkan baju ganti bila aku menghendaki. Kubilang aku sudah membawa ganti dan ingin membersihkan diri sebelum kembali ke Bangkok.

Aku mengikutinya masuk ke ruangan besar berisi satu set sofa di tengahnya. Lantai marmernya mengkilap. Dinding-dindingnya berlapis cermin. Kulihat 5 pintu berderet: pintu kamar mandi.

“Bila Madam memerlukan sesuatu tinggal pencet tombol kuning di dalam kamar mandi, di dekat wastafel.”

“Terima kasih.”

Pelayan itu berjingkat pergi.

Kucuran air shower ke seluruh permukaan kulitku ikut menyapu bersih perasaan negatif di dalam hatiku. Aku sadar, untuk beberapa saat ke depan aku akan menyesali tindakanku: cerita pengalaman traumatisku pada Ronn. Di sisi lain aku merasa lega, aku bisa langsung bercerita – tanpa beban – pada orang lain. Selama ini orang-orang – entah siapa, aku yakin kerabat-kerabatku sudah tahu – hanya mendengar dari mulut orang lain, karena aku tidak pernah bicara pada siapapun kecuali Mbak Nia dan orang tuaku.

Peristiwa itu sempat jadi urusan polisi, namun berakhir damai. Aku tak hendak memperpanjang rasa malu dan memberi kesempatan orang-orang bicara soal itu. Saat itu aku hanya ingin secepat mungkin melupakan kejadiannya. Tapi aku salah, hingga 8 tahun kemudian, ingatan itu masih membuntutiku, jadi hantu.

Ketika aku keluar dari ruangan kudapati si pelayan berdiri tiga langkah di samping pintu. Ia sembunyi-sembunyi menatap wajahku yang tanpa make-up. Mungkin tamu-tamu perempuan sang majikan biasanya muncul dari kamar mandi dengan riasan prima.

“Tuan ada di perpustakaan,” ujarnya, memintaku kembali mengikutinya. Aku tersenyum geli, mengekor pelayan bertubuh indah itu. Kemungkinan besar aku akan tersesat tanpanya. Entah ada berapa banyak ruang di istana ini. Ruang penuh kamar mandi, lobby, ruang tamu utama, ruang tamu samping, ruang kerja, perpustakaan, ruang duduk, ruang makan utama, ruang makan samping, teras depan, teras samping….

“Kamu tampak segar!”

Usahaku mendata ruang di rumah ini terpotong seruan Ronn. Ia memakai setelan celana dan kemeja warna coklat tanah. Lelaki ini enam tahun lebih muda dari ibuku, namun aku bohong bila tidak terpukau oleh sosoknya.

“Kita berangkat sekitar setengah jam lagi. Mau minum?” Ia mendekati salah satu rak berpintu kaca. Di dalamnya kulihat berbagai botol aneka bentuk, semua terkesan mewah. Aku menggeleng sambil mengucap terima kasih.

“Teh yang tadi belum saya habiskan,” cetusku.

Ia meminta pelayan memindahkan teko dan cangkir teh yang ada di teras ruang makan. Tangannya meraih salah satu botol berbentuk guci berleher panjang, menuang isinya ke dalam goblet, menyesapnya, lalu duduk di kursi terdekat denganku. “Masih ada yang ingin kamu bicarakan atau tanyakan?”

“Sudah cukup. Saya merasa terhormat mendapat kesempatan bersama Anda seharian ini.”

“Aku juga senang bisa mengenal teman Tim. Aku ingin suatu hari dia mau datang ke sini. Kudengar dia bos yang baik. Dia pernah cerita kalau kamu sangat cerdas, disiplin, dan loyal.”

“Ya. Dia bos yang baik,” ujarku. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan Tim tentang lelaki ini. Sebaliknya aku bisa merasakan kalau Ronn berusaha memancingku bicara lebih banyak tentang Tim. Namun aku tidak suka bicara tentang bosku kecuali dengan rekan sekerja.

“Mia.” Tubuhnya maju sedikit. “Kamu sudah memercayakan rahasiamu padaku. Kalau kamu tidak keberatan aku ingin membagi sedikit rahasiaku denganmu.”

Kata-kata dan suaranya membuat punggung dan kudukku serasa kesemutan. Rahasia apa yang hendak ia bagi denganku? Aku tak tahu bagaimana harus meresponnya.

“Sepertinya kamu keberatan.” Ia kembali menyandarkan punggungnya.

“Saya saat ini tidak bisa berpikir jernih,” kataku, menatap ujung sepatuku. “Namun seminggu ini banyak rahasia terbuka di depan saya. Apa bedanya melihat satu lagi. Asal tidak membuat saya terbunuh,” aku berusaha bercanda.

“Aku berjanji kamu akan baik-baik saja.”

“Okay!” aku mengangguk.

“Kamu lihat perempuan itu,” Ronn memutar kepalanya, melihat lukisan yang tergantung di satu-satunya dinding yang tak tertutup rak buku. Lukisan perempuan yang kuamati ketika aku baru masuk ke rumah ini. “Cantik, bukan?”

“Ya.”

“Itu ibuku.”

“Sudah saya duga.”

Ia tertawa. “Tentu saja. Kamu pasti sudah membaca banyak artikel tentang aku,” katanya, “jangan-jangan kamu tahu jumlah kaus kakiku,” candanya.

“Saya merasa pernah melihat wajahnya, tapi lupa kapan dan di mana. Apakah ia orang terkenal?” Aku siap mendengar cerita kalau perempuan itu simpanan seorang raja di Eropa, atau hal seperti itu.

“Benarkah?” Matanya menyipit, berpindah-pindah dari wajahku ke lukisan itu.

“Ya. Saya yakin pernah melihat wajah itu.” Aku berpikir keras, mencoba mengingat-ingat. “Dia… ahhh… rasanya….”

Mata Ronn menancap ke mataku, caranya memandang itu mengingatkanku akan seseorang yang sering berusaha menembus pikiranku dengan tatapannya: Tim. Tidak mungkin!

“Itu Margit Rosenberg!” seruku. Darahku menghangat. Margit adalah ibunda Tim. Aku pernah melihat foto-fotonya.

Dear Lord!” Ronn mengusap dahinya dengan dua tangan, menyibak rambutnya ke belakang. “Yes, Mia. Margit Rosenberg. She is my mother. Tim is my half-brother.”

Rasa penasaranku yang kutekan sejak pertama aku melihatnya terjawab kini. Salah satu orang terkaya di dunia ini begitu baik padaku demi adiknya. Mana mungkin dia mau membuang waktunya untuk perempuan tanpa nama seperti diriku. Terlintas obrolan telepon dengan Father Sap. Katanya kalau bukan karena Tim, Ronn akan sangat sulit ditemui, bahkan reporter ternama di dunia tak bisa mendapatkan setengah jam waktunya.

***

Di dalam van mewah yang mengantar kami dari pedalaman Petchaburi ke Bangkok, Ronn bercerita tentang Margit yang bertemu lelaki Thai bernama Shakrit, lebih dari setengah abad lalu. Kala itu Margit masih belia, baru menyelesaikan kuliahnya dan bersemangat tinggi ingin menaklukkan dunia. Mereka bertemu di Chiang Mai. Mereka jatuh cinta. Dalam perjalanan pulang ke Amerika, perempuan itu membawa janin dalam rahimnya.

“Ibuku tak mau dinikahi ayahku, meskipun ayahku amat kaya. Perjuangan ayah membawaku pulang ke Thailand sungguh luar biasa. Bisa menjadi film box office kalau digarap Francis Coppola,” Ronn tertawa. “Usiaku tiga tahun waktu ayahku berhasil menculikku….”

“Hah?”

“Ya. Ayahku menculikku. Tapi enam tahun kemudian semua pihak berbaikan. Saat itu Margit sudah bertunangan dengan Owen Rosenberg. Kira-kira setahun kemudian Tim lahir. Oh! Betapa hidup ini penuh misteri sekaligus penuh keajaiban,” bisiknya, menyelonjorkan kaki.

“Wow!” aku nyaris berteriak, “Tim pernah mengatakan hal serupa, tentang hidup yang penuh misteri sekaligus penuh keajaiban.”

let-go-of-the-past-quote

“Hmmm….” Ia tersenyum-senyum sendiri. “Kamu tahu, Mia.” Ia menjadi serius. “Masa laluku pun penuh penderitaan. Aku melalui masa-masa sulit menerima kenyataan kalau ayahku merenggutku dari pelukan ibuku. Juga saat anak pertamaku, Ariya, dibawa pergi ibunya.” Ia menyebutkan anak perempuannya yang sebaya diriku. “Maksudku… aku ingin mengatakan ini….” Ia mengubah sedikit posisi duduknya, melihatku. “Butuh kekuatan untuk melepaskan diri kita dari jeratan hantu masa lalu. Kalau tidak ia akan merenggut masa depan kita.”

Aku memejamkan mata. Yang kualami dan kudengar seharian ini bagai banjir bandang, rasanya aku gelagepan nyaris tenggelam.

“Aku ingin minta pertolonganmu. Bisakah?”

“Apa itu?” suaraku seperti tidak keluar dari mulutku.

“Aku belum pernah bertemu adikku itu meskipun aku sering membantu kegiatannya. Kami hanya saling berkirim email, atau menelpon. Ia menghindari pertemuan. Father Sap sudah berusaha, tapi selalu gagal. Kalau kamu mau membantu, kamu akan jadi salah satu sahabat terbaikku….”

Denyut nadiku memburu. Bersahabat dengan orang seperti Ronn pasti jadi impian banyak orang. Namun aku ragu-ragu, teringat laporan tentang kegiatan bisnisnya, yang tersimpan dalam amplop berlabel classified itu; dosa-dosanya yang ia akui dan hendak ia tebus dengan hartanya; juga kata-katanya tentang semua orang sebagai businessperson yang cenderung melepas barang pada penawar tertinggi. Di sisi lain kata-kata bijaknya membuatku yakin bahwa di balik kekuasan dan kekayaannya itu ia hanya lelaki biasa, ayah empat anak yang punya naluri untuk melindungi anak-anaknya saat mereka ketakutan menghadapi kekejaman hidup.

Dengan serius kupikirkan: bantuanku sebagai barang dan Ronn sebagai penawar. Bantuan apa yang ia inginkan dan berapa tinggi ia hendak menawar?

Mataku terus kupejamkan, menahan silau lampu-lampu kendaran yang berseliweran. Meskipun lelah fisik dan mental, hari ini patut kusyukuri dan kunobatkan sebagai salah satu hari teristimewa dalam sejarah hidupku, yang akan kuingat sepanjang hayat.

*****

 

9 Comments to "Tembak di Tempat (15)"

  1. endah raharjo  13 February, 2013 at 10:56

    Pampres: walaaaaah…. kalo sepi mukulin kenthongan

    Yu Lani: weleeeeh… kalo Ronn nggak perlu taktik cewek2 udh pada merinding… Mia cuma latihan aja ngerayu yg lbh tua, kalo kena syukur kalo meleset… toh udah tua hahahahaaa…

    Pak DJ: terima kasih, Pak. Semoga bisa dinikmati. Tapi Ronn masih punya istri, lho, kayaknya Mia nggak bakal mau

    JC: itu yang kurang cuma mak nyuuuussss… naaaah jadi nungguin JC nyajikan masakan yg kemarin ituuu… kalo cuma prindang-prinding itu pertanda kademen, butuh selimut kandel…

    Kang Anoew: bukannya tinggal mak doooorrr… terus ngelekar… blukkk…

  2. anoew  13 February, 2013 at 07:11

    Kang, baca komenmu aku kok malah ingat iklan sosis yang dibintangi Dedy Miswar. Dibuka bungkusnya dan tinggal mak jleb.

  3. J C  13 February, 2013 at 06:43

    Lhaaaaaa si Ron juga curhat, cerita tentang “rahasia”nya…lengkap sudah, tinggal menunggu ‘eksekusi’ lebih lanjut. Kemarin mak-greng sudah, mak-prinding (sampai cekidang-cekiding) sudah, mak-ceplos sudah…tinggal mak-mak yang lain dah…

    * mana ini Kang Anoew *

  4. Dj. 813  13 February, 2013 at 03:48

    Mbak Endah…
    Semakin lama, cerita diatas, semakin menarik…
    Ditnggu lanjutannya, siapa tau, antara Ron dan Mia akan menjjadi pasangan yang baik.
    Salam,

  5. Lani  12 February, 2013 at 23:32

    ER : waaaaaaah…….apakah Ronn mulai menggunakan taktik nya utk menggaet Mia……..lanjoooooooooot please

  6. [email protected]  12 February, 2013 at 22:25

    sepi… sepi… pada CNY…

  7. endah raharjo  12 February, 2013 at 17:53

    @Pak James: TIGA: doooorrr…
    @Pak Sarwoko: terima kasih, Pak, menghibur hati saya

  8. Sarwoko Siswoko  12 February, 2013 at 13:18

    Mengesankan.

  9. James  12 February, 2013 at 09:53

    SATOE, ditempat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.