Jatah

Wesiati Setyaningsih

 

Ada kalanya saya masih suka iri juga dengan apa yang didapat orang dan tidak saya dapatkan. Namun Tuhan tetap punya cara untuk menunjukkan bahwa semua sudah ada jatahnya. Tidak ada jalan lain buat saya untuk mensyukuri apapun yang saya punya.

Pagi itu hari Minggu, di RW tempat tinggal saya diadakan jalan sehat dalam rangka 17-an. Setelah lelah berjalan di rute yang telah ditentukan, kami berkumpul di lapangan untuk makan soto bersama-sama. Saya duduk di samping bu Zaenur  yang tinggal dua rumah dari tempat tinggal saya. Usianya lebih muda dua tahun dari saya dan karena bisa dibilang kami sebaya, kami cukup dekat seperti sahabat.

Sambil makan soto mata saya tertumbuk pada sebuah pemandangan. Seorang perempuan tua yang duduk lemah di kursi roda, mulutnya terbuka dan sesekali air liurnya menetes. Beliau seorang ibu dari RT lain yang sudah bertahun-tahun mungkin sudah hampir sepuluh tahun menderita stroke. Karena sakitnya yang parah, kini badannya sudah kurus kering dan karena tidak bisa lagi mengendalikan otot wajahnya, sehingga mulutnya sering terbuka dan mengeluarkan air liur.

Kalau pagi melewati rumah beliau saat saya berangkat ke kantor sekalian mengantar Izza sekolah, saya melihat beliau duduk di kursi roda di pinggir jalan depan rumahnya untuk berjemur ditunggui suaminya.

Di acara jalan sehat itu kami semua berkumpul di lapangan. Ibu itu diajak berkumpul dengan warga lain agar bisa bertemu dengan para tetangga.  Ketika kamu semua makan soto, beliau disuapi  suaminya. Putranya yang sudah menjelang dewasa berdiri di sebelahnya, sesekali mengelap air liur yang menetes dari mulut ibunya dengan sapu tangan.

Saya menyenggol bu Zaenur, tetangga sebelah rumah. Usia kami hampir sebaya sehingga kami bersahabat baik. Dalam acara-acara RT kami sering bersama.

Dia menoleh, melihat ke arah yang saya tunjukkan.

“Suaminya setia banget ya?” bu Zaenur berkomentar.

Persis apa yang ada dalam pikiran saya.

“Suamiku aja enggak pernah nyuapin seperti itu,” saya menggumam.

Saya sedikit bercanda. Tiap orang memang berbeda-beda. Bisa jadi suami saya bukan orang yang romantis. Atau malah saya sendiri yang tidak suka disuapi.

“Suamiku apa lagi. Enggak mungkin banget,” jawab bu Zaenur.

Saya terkekeh.

“Ada temannya,” pikir saya.

“Tapi kamu mau kalo mesti sakit kaya gitu?” tukas bu Zaenur  memotong lamuman saya.

“Enggak lah.”

Meski harus sering melakukan banyak hal sendiri tanpa bantuan suami, saya kira itu lebih baik daripada saya dibantu terus oleh suami karena saya sakit.

“Sudahlah nggak papa enggak pernah disuapin wong nyatanya bisa makan sendiri,” kata saya.

“Ya sudah. Syukuri aja suamimu. Suamiku aja kaya gitu aku syukuri kok.”

Saya tertawa. Pak Zaenur orang baik setahu saya. Dia pasti sedang bercanda mengatakan seperti itu karena saya tahu banyak yang bisa disyukuri bu Zaenur atas suaminya.

Pembicaraan pagi itu sederhana, namun dalam banyak situasi selalu mengingatkan saya untuk terus bersyukur akan apa yang saya punya. Setidaknya, sebenarnya ketika saya sehat, saya punya segalanya.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Jatah"

  1. wesiati  15 February, 2013 at 18:40

    iya… terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.