Karena Saya Perempuan

Nyai EQ

 

Membicarakan hal-hal yang sebenarnya dari dulu sudah sering terjadi memang membosankan, tapi anehnya kenapa hal-hal tertentu terjadi berulang-ulang (di negeri ini khususnya), dan “hal-hal tertentu” tersebut juga punya muasal yang sama, yaitu masalah agama, moral dan akidah.

Pelecehan terhadap perempuan adalah topik basi yang masih suka dianggap hangat di mana-mana. Dengan berbagai versi dan alur cerita yang berbeda-beda, topik ini menjadi selalu hangat .

Para laki-laki tidak bosan-bosan dan tidak sadar-sadar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kaum perempuan dan terhadap diri sendiri. Kaum laki-laki sungguh tidak sadar, bahwa ketika mereka memperlakukan perempuan dengan buruk, sama artinya mereka sedang merendahkan derajat dan martabatnya sendiri.

Ambil satu contoh kasus. Pernikahan sangat singkat yang dilakukan oleh Aceng sang bupati. Hanya dengan alasan “spek”nya tidak sesuai seperti yang diinginkan ketika beli, maka sang perempuan yang (sebenarnya) sudah sah dinikahi, diceraikan. Dengan semena-mena. Alasan ketidakperawanan istri ketika baru dinikahi juga pernah dilakukan oleh alm. penyanyi berbadan tambun pelantun lagu “Ini Rindu” Farid Harja. Orang segede Gaban ini menceraikan istri yang baru dinikahinya selama 2 hari (baca sekali lagi 2 HARI!!), dengan alasan istrinya tersebut sudah tidak perawan lagi ketika dinikahi. Hal ini, masih menurutnya, dibuktikan dengan tidak keluarnya darah saat malam pertama.

Kasus lain yang sedang sangat hangat sampai berkebul-kebul, adalah kasus ditangkapnya artis Raffi Ahmad atas pesta narkoba di rumahnya, yang mana di situ juga ditangkap pasangan suami istri artis dan Wanda Hamidah, artis cantik sekaligus politikus. Yang diherankan (lebih tepatnya, yang saya herankan) adalah komentar-komentar selanjutnya mengenai keramaian berita ini.

Perempuan disangkut pautkan dengan narkoba. Padahal setahu saya, ketika kasus Raffi Ahmad ditangkap, adalah karena narkoba, bukan karena pesta sex dan sejenisnya. Namun, beberapa tanggapan dan komentar yang banyak berseliweran di media massa + situs-situs internet adalah hal-hal yang membuat jengah dan marah. Janda diseret-seret sebagai “ikon”. Apa salahnya status janda, sehingga harus dijadikan pembanding miring dengan narkoba. Seolah-olah janda adalah perempuan sakit yang gila sex dan pantas dijadikan “pengganti” bagi para penggemar narkoba. Simak satu gambar di bawah ini yang saya ambil dari sebuah situs internet :

Mengapa harus janda yang dijadikan kata pengganti narkoba? Seolah-olah janda bisa dikonsumsi dengan sama-sama enak, tapi lebih aman. Jelas ini merupakan sebuah pelecehan terhadap kaum wanita. Tidakkah para lelaki itu ingat, ketika ibu-ibu mereka ditinggal mati suami yang notabene adalah ayah mereka, berarti sang ibu juga menjadi janda? Bagaimana jika si lelaki mati dan meninggalkan istrinya yang tentu saja akan berstatus janda? Tidakkah itu terpikirkan di otak para lelaki?

Sedih! Marah! Jengkel! Gemes! Dan entah apa lagi yang bisa dirasakan oleh kaum perempuan saat hal-hal seperti ini terjadi.

Memang tidak disangkal, bahwa dunia akirat ini 90% menganut system patriarki. Secara bodohnya saja, ketika seseorang menyebutkan kata Tuhan, Allah, God, Lord, semuanya berkonotasi pada laki-laki. Meskipun Dzat Maha Tunggal itu tidak berjenis kelamin, tentu saja, tapi mengapa Dia disebut sebagai Lord, God…bukan Lordes, Goddes atau Allah Bapa, bukan Allah Ibu, Kanjeng Pangeran, bukan Kanjeng Putri. Para Nabi semuanya laki-laki. Tidak ada Nabi (yang diakui oleh Kitab Suci) perempuan.

Kembali kepada soal “tuntutan” laki-laki dan bahkan tuntutan orang awam pada umumnya, tentang keperawanan perempuan. Terutama ketika berkaitan dengan malam pertama. Sebenarnya memang bukan mutlak kesalahan laki-laki. Sebab kaum perempuan sendiri masih saja ada yang menjaga keperawannya dengan alasan agar kelak masih “suci” ketika menikah, supaya tidak mengecewakan suaminya. Ibu-ibu  masih saja ada yang melarang putri-putrinya untuk tidak terlalu banyak naik sepeda dan melakukan stretching (penari, olahragawati), supaya selaput daranya tidak sobek, agar kelak ketika menikah masih perawan, tujuannya? Ya agar tetap suci dan tidak mengecewakan suami dan mempermalukan keluarga. Mengapa harus perempuan yang menjaga keperawanannya untuk menjaga kehormatan keluarga dan laki-laki?

Bicara soal moral, lebih menggemaskan lagi. Moral yang mana? Moral siapa? Lagi-lagi kaum perempuanlah yang punya tanggung jawab atas apa yang disebut sebagai moral.

Moral yang digariskan dan ditetapkan oleh laki-laki, dipatuhi dengan tidak sengaja dan turun temurun oleh perempuan. Moral yang berkedok religi. Moral yang tidak lagi jelas alurnya.

Seperti contoh kasus lain yang juga tengah marak beritanya saat ini. Bonceng sepeda motor, bagi kaum perempuan, tidak boleh ngangkang. Kenapa tidak boleh ngangkang? Memangnya ada apa? Pada awal saya mendengar berita tersebut, saya sungguh-sungguh heran. Tidak habis pikir. Mbonceng sepeda motor dengan cara ngangkang membuat si pembonceng lebih aman, karena lebih stabil dan seimbang. Bagi si pengendara yang memboncengkan pun posisi ngangkang ini juga membuatnya lebih nyaman. Jika alasannya adalah karena posisi ini dianggap tidak sopan, saya malah lebih heran lagi. Sungguh!! Bukankah kalau membonceng miring dengan mengenakan rok yang berkibaran terkena angin saat kendaraan melaju akan membuat tidak aman dan tidak nyaman, baik bagi si pembonceng maupun bagi pengendara kendaraan lain yang kebetulan melihat adegan khas Marilyn Monroe yang terkenal dengan roknya yan melambai tertiup angin. Atau mungkin itu yang diharapkan oleh para pencetak Perda tersebut? Amit-amit.

Begitu juga adanya aturan perempuan tidak boleh mengenakan celana jeans. Harus pakai rok. Mengenai rok, lagi-lagi perempuan dianggap tidak bermoral jika mengenakan rok pendek, atau rok mini. Bahkan secara sambil lalu, saya pernah baca ada ungkapan dari seorang yang katanya adalah pejabat, yang mengatakan bahwa perempuan yang memakai rok mini memang tidak salah kalau diperkosa. Aduh!!!

Ditambah lagi ungkapan akhir-akhir ini yang dilontarkan oleh seorang calon Hakim Agung, yang katanya bahwa perempuan yang diperkosa itu juga menikmatinya! Tidak tahukah dia bahwa pemaksaan kehendak itu akan mengakibatkan luka seumur hidupnya. Bagaimana jika anak perempuannya yang diperkosa? Tidak tahukah dia, bahwa bukan hanya perempuan yang bisa diperkosa. Kalau boleh saya meminta pada setan, saya akan meminta supaya calon hakim nan agung itu diperkosa oleh salah seorang terdakwa yang tidak terima. Sehingga dia tahu, benarkah korban perkosaan itu juga menikmatinya….

Saya memang bukan seorang feminist, aktfis perempuan ataupun pejuang perempuan, tapi saya sangat marah ketika kasus-kasus seperti ini muncul. Saya juga bukan perempuan yang moralis, bahkan mungkin “aturan” moral saya berbeda dengan aturan moral pada umumnya, tapi saya sungguh tidak terima ketika perempuan terus menerus dibikin sengsara seperti itu.

Perempuan diikat oleh aturan-aturan laki-laki yang disebut dengan cap moral dan religi. Perempuan kehilangan hak-haknya untuk hidup nyaman, untuk mencintai tubuhnya sendiri, untuk mengatur hidup dan moralnya sendiri. Bahkan juga untuk menentukan pakaian mana yang dia sukai untuk dikenakan.

Ketika seorang perempuan tidak boleh memakai rok mini, tidak boleh membonceng dengan posisi ngangkang, alasan utamanya adalah karena hal tersebut dianggap tidak sopan, tidak sesuai dengan kaidah agama, padahal sebenarnya adalah karena hal tersebut bisa memancing perkosaan. Kenapa? tentu saja karena para laki-laki tidak bisa menjaga konaknya. Mereka tidak bisa menjaga keimanannya sendiri. Tidak bisa mengkontrol tubuh dan pikirannya sendiri. Saking lemah dan tak berkuasanya kaum laki-laki menjaga diri sendiri, maka mereka membuat macam-macam aturan untuk perempuan. Perempuanlah yang harus menjaga iman para laki-laki. Perempuanlah yang harus menjaga mata para laki-laki. Dan perempuanlah yang harus berjuang untuk meletakkan otak kaum laki-laki di kepala bagian atas. Bukan kepala bagian bawah. Padahal perempuan juga yang harus menjaga kesuciannya sendiri. Perempuan harus menjaga nama baik keluarga, pasangan, dan seterusnya.

Lalu apa peran laki-laki di dunia ini? Hanya untuk membuat peraturan yang sebenarnya menutupi kelemahan mereka.

Tidak pernahkah terpikir oleh mereka, para laki-laki itu, bahwa perempuan itu juga mahluk hidup yang punya gairah dan nafsu yang sama dengan mereka. Perempuan juga punya libido dan berahi. Perempuan juga punya iman yang harus dijaga.

Bagaimana dengan para pria seksi yang dengan sengaja membuka kancing bajunya dua tiga biji untuk memperlihatkan dadanya yang memanggil-manggil untuk direbahi. Bagaimana dengan para laki-laki yang dengan enaknya kian kemari mengenakan celana kolor, dengan perut buncit, kaos oblong merek Swan, membangkitkan nafsu (nafsu muntah). Tidakkah mereka berpikir bahwa tidak hanya laki-laki saja yang bernafsu berahi melihat paha putih mulus di pamer-pamerkan dengan tanpa dosa. Laki-laki juga punya potensi untuk diperkosa dan dinikmati oleh kaum perempuan. Kenapa tidak ada aturan yang melarang kaum laki-laki untuk memakai kacamata hitam a ala matrix yang membuat mereka tampak ganteng dan membangkitkan nafsu makan kaum perempuan. Kenapa tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa laki-laki dilarang memakai celana pendek ketat yang akan mengakibatkan perempuan jedhag-jedhug saking hebatnya menahan iman dan kemauan untuk menubruk di tempat.

Kenapa kaum laki-laki tidak berusaha meniru perempuan yang begitu gigih menahan iman dan nafsu berahinya? Kalau menjaga kemaluan sendiri saja tidak sanggup, bagaimana dia bisa menjaga rasa malu dan kehormatan keluarga? Kalau menjaga iman sendiri saja tidak sanggup, bagaimana laki-laki bisa menjadi imam bagi keluarga dan masyarakatnya ?

Jika perempuan diharuskan menjaga kesucian yang dilambangkan dengan selaput dara mereka, lalu apa yang bisa dituntut perempuan kepada laki-laki untuk menunjukkan kesucian yang sama. Bisakah kesucian laki-laki dibuktikan secara jelas seperti pada perempuan? Adakah alat atau organ tubuh laki-laki yang bisa dijadikan sarana untuk membuktikan kesucian mereka? Bisa pulakah perempuan menuntut kesucian laki-laki dengan jaminan tidak dibohongi?

Jawablah wahai laki-laki…..

 

54 Comments to "Karena Saya Perempuan"

  1. Nur Mberok  26 February, 2013 at 12:47

    wah semangat men… mesti karo muring-muring ki nulis e

  2. juwandi ahmad  21 February, 2013 at 22:27

    wah telat aku……

  3. Lani  16 February, 2013 at 14:06

    47, 49 : wahahahah………do kumat, ant lurah dan cariknya kkkkkkkk

  4. Nyai EQ  16 February, 2013 at 11:41

    om iwan…terimakasih tak terhingga pada bangsa ini, karena saya jadi punya bahan tulisan yang cukup seru…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.