Apa saja salah kita (4)?

Anwari Doel Arnowo

 

Kita selalu membuat antisipasi bahwa apa yang kita percayai sebagai hal yang benar dan tepat sama dengan akal budi kita itu baik, untuk selamanya. Benar?? Aha, hati-hati lho. Bisa saja suatu saat kita akan terpaksa harus mengubahnya. Siapa berani membantah kata orang tua pada waktu saya masih kanak-kanak. Hampir tidak ada atau persentasenya amat kecil. Semua, hampir semua, mengangguk-anggukkan kepalanya kalau mendengar pepatah, petitih dan petuah orang tua kita. Sekarang berbeda dengan jaman masa kanak-kanak saya. Bukan saja karena memang ada perubahan budaya, tetapi masyarakat kaum muda itu makin lebih cerdas dari dugaan kami para senior. Apalagi perangkat dan alat baru yang telah diciptakan sungguh amat banyak membuat kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah kita terbayangkan sebelumnya.  Berikut contohnya:

Masa sekarang perbuatan curang dan penipuan serta perampokan tidak hanya dilakukanoleh pada pihak yang miskin, putus asa dan bodoh saja. Perbuatan criminal kaum kerah putih – white collar yang by greed, tidak kalah banyaknya dari oleh mereka yang blue collar atau mereka yang terjepit karena kebutuhan hidup by need yang menonjol. Dulu karena kebodohan dan kenekatan karena bodoh, sungguh amat memudahkan aparat penegak hukum menangkap pelakunya dan memroses tindak kejahatannya. Tetapi sekarang? Hampir semua perbuatan kriminil dilakukan sendiri atau berjamaah sejak dari jabatan Pamong Desa sampai Lurah, Camat Walikota Bupati, Gubernur, Menteri sekalipun. Yang belum pernah diproses adalah mereka yang pernah menjabat setingkat presiden.

Maka sibuklah para pengamat masalah masyarakat bidang ekonomi, hukum dan keimanan menganalisa, berdebat keras serta menunjuk-nunjuk ini dan itu kesalahan si Anu dan si Ini. Semakin hari semakin keras merka yang seusia saya menuduh karena pendidikan budi pekerti dan sopan santun tidak lagi menjadi mata pelajaran di sekolah. Karena sekarang mata pelajaran seperti itu tidak ada lagi diajarkan, maka teman-teman saya itu juga semaunya menuduh bahwa tanpa pendidikan dua mata pelajaran ini, maka korupsi marak di Tanah Air kita. Dsikusi seperti ini saya dengar sering sekali, bosanlah saya. Belum seminggu yang lalu saya terlibat mendengar yang seperti ini. Dengan cara tidak sopan saya paksa diri saya untuk memotong bicara teman saya itu.

Saya katakan: “ITU SALAH!!  ITU SAMA SEKALI TIDAK BENAR!! Pada waktu saya masih di kelas empat atau lima Sekolah Rakyat, saya sudah mendengar pejabat yang berbuat curang masalah uang milik Negara atau milik Rakyat juga. Para penyelenggara Negara waktu itu bukankah mereka yang dulu mendapat pelajaran Budi Pekerti dan Sopan Santun dengan segala pernak perniknya. Toh sebelum tahun 1953an sudah ada pejabat Bea dan Cukai yang menjadi kaya raya di luar nilai-nilai kepantasan ekonomi?  Mereka ini justru bekas Tentara Pelajar yang berubah fungsi menjadi pejabat Bea dan Cukai!! Sudah ada yang mencapai tingkat sebagai Kepala Jawatan, Menteri  di dalam Kementerian, malah ada yang dilakukan di Kementerian Agama. Jadi saya harap dipikirkan kembali menuduh bahwa Budi Pekerti dan Sopan Santun itu bisa mengurangi kejahatan kerah putih/white collar !!!”.

corrupt

Sejak saat itu saya melihat bahwa kejahatan dan macam-macam perbuatan menyimpang dan kriminal dari manusia itu juga sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepercayaannya atau agamanya yang dipercayai dan dianutnya. Penjahat, pencuri atau kriminil itu sama sekali tidak perduli berada pada diri siapapun apa dia itu bergelar doktor, ulama, pemuka kepercayaan atau apapun yang mengkilat kinclong seperti tak akan tercemar oleh dosa. Para tahanan politik di Pulau Buru yang beribu-ribu jumlahnya, yang dituduh sebagai komunis dan musuh Tuhan itu, telah dilaporkan bersembahyang menurut kepercayaan masing-masing. Tahanan KPK dan para pidanawan (ini kata ciptaan saya sendiri) sekarang juga banyak yang ingin show off ke-tekun-annya dalam beragama yang tak luput disorot oleh media. Dipidana penjara penjara 4 tahun lebih terlihat gembira senang, tidak mengeluarkan airmata lagi. Lihatlah apa yang akan terjadi pada tingkat banding nanti dan juga di tingkat Mahkamah Agung, seperti apa?

 

3 Comments to "Apa saja salah kita (4)?"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  15 February, 2013 at 18:13

    Lalu fungsi agama untuk apa, saudara-saudara?

  2. Handoko Widagdo  15 February, 2013 at 07:16

    Sayang sekali bahwa agama menjadi baju untuk menutupi ketelanjangan kejahatan.

  3. J C  14 February, 2013 at 10:54

    Sejak saat itu saya melihat bahwa kejahatan dan macam-macam perbuatan menyimpang dan kriminal dari manusia itu juga sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepercayaannya atau agamanya yang dipercayai dan dianutnya. Penjahat, pencuri atau kriminil itu sama sekali tidak perduli berada pada diri siapapun apa dia itu bergelar doktor, ulama, pemuka kepercayaan atau apapun yang mengkilat kinclong seperti tak akan tercemar oleh dosa.

    Saya setuju dengan pendapat Panjenengan ini 1000%, pak Anwari. T A P I…kenyataannya adalah, setelah di ruang sidang, terjadilah PARADE busana-busana dan asesoris yang sangat AGAMIS/religius bertebaran…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.