Gelandangan dari Siem Reap

Ary Hana

 

Pertama kali melihatnya saat di Siem Reap, pada hari ketiga di kota Angkor itu, saat jemu  menunggu kawanku yang tak kunjung tiba dari Jogja. Pagi itu kujelajahi bantaran kali, menikmati rindang pepohonan sambil berjalan kaki menuju kawasan pasar lama. Lelah berjalan, aku pun duduk di bangku sebuah jembatan yang membelah sungai.

Lama juga aku duduk di sana, di bangku kayu sambil memandang lampion yang padam satu persatu. Perempuan itu duduk tak jauh dariku, arahnya berhadapan denganku. Kulihat wajahnya tunduk, mirip menahan kantuk. Tangan kanannya memegang tas genggam. Sebuah koper besar dengan label penerbangan ‘BKK’ berada di dekatnya, berdampingan dengan sebuah troli yang memuat tiga tas jinjing berukuran lumayan.

gelandangan SR_1_1

Kupikir saat itu dia sedang menunggu sesuatu. Mungkin tuktuk yg akan membawanya ke suatu tempat, atau mungkin anaknya yang membeli sarapan di restoran terdekat. Menikmati makan pagi di bangku jembatan ini sungguh nikmat. Sepertiku, yang mengunyah roti prancis isi sayur lambat-lambat.

Aku mulai bertanya-tanya ketika senja, paska mengantar kawanku mengelilingi Danau Tonle Sap dan Kompong Pluk, sebuah kawasan kampung laut di sekitar danau. Kami baru saja menjelajah pasar lama, lalu menuju jembatan itu untuk sekedar rehat. Kulihat perempuan itu masih duduk di situ. Tua wajahnya, penuh kerut-merut, dengan rambut berwarna dua merata. Sebuah tompel –tahi lalat berukuran lumayan besar- menggantung di atas bibirnya, tepat di tengah.

‘Aku heran, kenapa sejak pagi tadi perempuan itu masih duduk di situ,” kataku kepada kawanku.

Kawanku membelalakkan matanya, mirip heran, sebelum menerbitkan wajah tak peduli. Mungkin dia tak memandang penting kata-kataku. Keesokan harinya tak kulihat lagi perempuan itu duduk di sana. Mungkin sudah dijemput anaknya, atau menuju tempat yang baru. Aku tak lagi memikirkannya.
00000

Kepagian aku sampai di stasiun keretaapi Aranyaprathet, usai perjalanan panjang dari Phnom Penh. Sempat aku bermalam di Poipet, dalam motel beraroma kakus. Ketika sibuk menghapus keringat yang berleleran di leher, paska kepanasan mengelilingi pasar barang bekas di perbatasan Poipet-Aranyapratheh yang dikenal sebagai friendship border market, kulihat seorang perempuan tua turun dari tuktuk. Kurus dan bungkuk badannya, mungil pula perawakannya. Sopir tuktuk yang kebetulan perempuan gagah perwira itu membantunya menurunkan barang-barangnya yang seabreg.

Perempuan itu duduk di depanku, memandang tas-tasnya yang menumpuk. Dia menoleh kepadaku lalu bertanya, “The ticket can be bought at one oclock, right?”

Aku mengangguk. Tak kusangka dia juga farang, sebutan bagi orang asing dalam bahasa Thai. Kami lalu ngobrol. Dia bercerita berasal dari Hongkong. Sudah sebulan dia berkeliling Kamboja, dan kini berencana menjelajahi Thailand.

Perbincangan kami lalu menjurus ke motel-motel termurah di Siem Reap dan Phnom Penh. Dia tampak tertarik mendengar betapa murahnya tinggal di Garden Village semalam. Hanya tiga dolar sudah termasuk sarapan. Dia juga antusias saat mengetahui harga barang-barang di pasar malam Phnom Penh ternyata jauh lebih murah ketimbang di Phsar Thmey. Aku sendiri malas berbelanja. Satu-satunya barang yang kubeli hanya syal sutra kasar senilai tujuh dolar. Warnanya, mengingatkanku akan warna-warna markas Polpot di masa lalu.

Entah mengapa perempuan yang gigi depannya tinggal satu itu selalu tertarik pada segala hal yang berbau murah. Mulai motel, makanan, hingga tempat belanja. Anehnya dia tak menyinggung tentang keindahan tempat yang dikunjunginya, atau ragam budaya manusia yang dijumpainya.

Dia berkata hendak tinggal di Bangkok yang sudah dikunjunginya selama lebih sebelas kali. “Aku sangat kenal Bangkok. Sudut-sudut kotanya tak mengejutkanku lagi. Aku suka tinggal di  Khaosan Road,” tuturnya meyakinkan, tatkala menyebutkan kawasan tinggal turis yang terkenal murah itu.

Aku sendiri enggan bermalam di Bangkok. Megapolitan selalu menakutkanku, walau rumahku berada di kota terbesar kedua di Indonesia. Sayangnya aku terlanjur punya janji dengan si strowberry man untuk mengambil bibit camomile dan berniat menyerahkan benih beras Rusia kepadanya.

Lama juga kami berbincang. Mula-mula aku meladeni pertanyaannya dengan penuh semangat. Selalu menyenangkan memiliki kawan bicara dalam perjalanan. Lalu aku mulai kelelahan. Entah kenapa. Perlahan aku pun  mengacuhkannya. Aku mencari makan di warung dekat stasiun, sementara dia menolak membeli makanan. Katanya, dia sudah membawa makanan dari hotel tempatnya menginap semalam.

Kami sempat berdekatan, kala dia hendak pergi ke tandas dan aku menawarkan menjaga barang bawaannya. Saat itu kurasakan  bau badannya sungguh mengganggu. Sengak. Aku jadi bertanya-tanya, apakah dia tak cukup membawa pakaian ganti? Bukankah tas bawaannya begitu banyak?

Lalu calon penumpang kereta api mulai berdatangan. Banyak farang yang baru menyeberang perbatasan sepertiku. Kulihat perempuan itu tak berbicara sepatah pun kepada mereka. Kutinggalkan dia dalam keriuhan stasiun kecil itu. Kuangkut ranselku ke dalam gerbong kereta api lebih dulu, sambil menunggu loket dibuka. Tak lagi kupedulikan perempuan tua itu. Aku malas jika terlalu ramah kepadanya, nanti dia akan meminta tolong padaku untuk membawakan barang bawaannya yang luar biasa banyak itu.

Benar juga dugaanku. Perempuan itu terpaksa mengangkut barang bawaannya satu persatu ke dalam kereta api. Tak ada yang menolongnya. Dia tampak kepayahan saat memilih duduk di seberang tempat dudukku.

“Untunglah dia tak duduk di sampingku,” batinku. Setidaknya, dia tak sempat merepotkanku. Sebetulnya aku tak tega melihatnya begitu. Tapi aku tak suka melihat pejalan yang tak tahu diri. Sudah tua, kekuatan fisiknya berkurang, tapi sengaja membawa barang bawaan berlebih. Bagiku itu tak logis, hanya menyusahkan diri sendiri dan orang lain saja. Dalam kitab suci perjalananku, pantang bagiku menyusahkan atau mengharapkan belas kasihan orang lain. Jadi kubiarkan saja dia, agar tak mengulangi perbuatannya.

Kulihat dia meletakkan barang bawaannya di antara bangku tempat duduk. Kondektur yang sedang memeriksa karcis menegurnya. Dia menganggap perempuan itu sengaja meletakkan barangnya begitu untuk menghambat penumpang lain yang ingin duduk di sana.

Aku menahan tawa. Bukan karena kegirangan melihat perempuan itu dimarahi, tapi cara kondektur itu marah-marah dalam bahasa lokal menandakan dia tak tahu kalau perempuan itu farang. Andai tahu, akankah dia bersikap lebih manis? Entahlah. Tapi kondektur di kereta api Thailand memang lebih manis berkata dan berbicara kepada turis-turis berambut merah atau putih asal Eropa dan Amerika ketimbang dari Asia. Orang sepertiku mereka anggap orang lokal juga. Untung ada seorang penumpang lelaki –kurasa orang lokal- yang menolongnya, mengangkat kopernya ke bagasi atas.

Beberapa kali perempuan itu memandangku lalu tersenyum kepadaku. Aku membalasnya. Beberapa penumpang lokal bertanya apakah dia ibuku atau saudaraku. Aku menggeleng. Kujawab kami baru kenal saat hendak naik kereta api.

Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Namun sepanjang perjalanan yang enam jam itu, terus saja dia tidur. Hebat juga, pikirku, karea dia mampu terantuk-antuk dalam posisi duduk di atas bangku sekeras besi. Aku mulai bertanya-tanya mengapa perempuan serenta dia masih saja melakukan perjalanan, ketika sebayanya duduk manis di rumah, menikmati hari tua dengan berkebun, merajut, atau momong cucu. Lalu ingatan akan perempuan tua yang sepanjang hari duduk di Siem Reap muncul di kepalaku.

Aku mulai menduga-duga. “Jangan-jangan dia.. “

Namun segera kusingkirkan pikiran itu. Ketika tinggal di Chiang Mai aku sempat berjumpa Wanda, orang Kanada yang tinggal dan bekerja di Hongkong sebagai dosen. Menurutnya, Hongkong tampak padat karena orang hanya mau tinggal di pusat kota. Bea hidup di kota tentu mahal. Sewa kamar pun selangit harganya. Beruntung Wanda tinggal di bagian lain pulau yang dipenuhi hutan dan berumah lumayan lapang.

Aku juga teringat kerabatku yang sudah belasan tahun bekerja di Hongkong. Tugasnya merawat majikannya yang jompo, mulai memandikan, memberi makan, mengajak berjalan-jalan, hingga membawanya ke dokter jika sedang sakit.

“Dulu aku merawat suaminya. Setelah suaminya meninggal, kini ganti istrinya yang kurawat. Lucu juga ya?” Dia terkekeh.

Menurut kisahnya, keluarga di Hongkong lebih suka menyerahkan perawatan orangtuanya kepada perawat seperti dirinya jika mereka tergolong kaya. Jika tidak, mereka akan mengirimkan orangtuanya ke panti jompo. Apakah perempuan tua itu menghindari panti jompo?

Kupandang lagi perempuan tua itu. Lupa kutanya siapa namanya. Kereta api sudah memasuki kota Bangkok. Orang-orang sibuk menurunkan dan menyiapkan tas tentengan mereka. Segera kubangunkan dia. Kuminta seorang lelaki menurunkan kopernya. Aku sudah mencoba mengangkatnya. Berat sekali. Aku tak kuat. Untung banyak penumpang lokal yang membantunya mendorong barang bawaannya sampai ke depan pintu keluar.

Ketika kereta tiba di Hualamphong, seorang lelaki bule membantunya menurunkan semua tasnya. Kulihat perempuan itu berbicara kepadaku, “Mana temanmu? Dia di sinikah?”

Aku mengangguk, lalu bergegas meninggalkannya. Tak ingin aku membantunya mengangkat tas-tasnya hingga keluar dari Hualamphong. Ketika berpapasan dengan  penjaga troli, kulambaikan tanganku. “There is an old woman who brings many bags.” Lalu kutinggalkan dia. Aku tak yakin perempuan itu mau menggunakan jasa troli seharga 10 bath. Tapi dia harus melakukannya, kecuali ingin menarik iba orang di stasiun kereta.

Keesokan harinya, ketika aku hendak meninggalkan Bangkok dengan kereta api, sepintas kulihat perempuan itu masih tinggal di dalam Stasiun Hualamphong. Dia duduk manis dengan mulut bertahilalatnya tersenyum lebar. Matanya menebar pandang ke sekitar, sedang barang-barangnya terletak di depan mata kakinya. Ada rasa enggan untuk menyapa. Jadi aku berjalan diam-diam menghindarinya, pura-pura tak melihatnya. Entah berapa lama dia tahan menggelandang di stasiun yang ramah lansia dan pendeta buddha itu kali ini.

 

31 Comments to "Gelandangan dari Siem Reap"

  1. Lani  18 February, 2013 at 10:45

    AH : setuju saja aku dgn pilihanmu………yg penting dikau seneng dan merasa cocok/ pas

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.