Satu Jiwa

Pratiwi Setyaningrum

 

Adalah ‘Hai.’ Kemudian muncul ‘Hey.’   Disusul ‘Kangen kamu.’ Lalu sedikit jeda, lantas emotikon smiley akan muncul,  di layar monitorku.

Lantas aku akan meringis. Dan di sana kau mungkin tertawa. Selanjutnya adalah sesuatu yang biasa. Bergantian mengetikkan kabar. Bergantian melontarkan canda. Sebisanya menekan kerinduan. Ke dasar samudera. Ke puncak gunung. Ke pojok hening. Sebisabisanya kita. Hingga waktu mengantuk dan aku kau musti pulang. Kita sepakat dalam diam, bahwa esok hari adalah mula. Awal. Dan percakapan hanya urusan kecepatan. Percepatan. Kau yang selalu menipu matahari, dan aku yang berkeras membalik arah bandul jam. Namun kita tak pernah mengerti. Tak sudi perduli. Siapakah sesungguhnya yang sedang bersiasat.

————

Apa yang belum kita bicarakan, sayang?

Sebanyak buih ombak yang menggelegak.

Apa yang kita percakapkan dalam diam?

Tentang keberadaan dan ketiadaan. Tentang Basukarna dan Puntadewa. Tentang Nazzarudin Hoja.

Kita, telah membicarakan tentang jiwa kita yang lain. Meski lebih sering meneliti liyan. Kau yang lebih sering di tengah lautan akan membantuku melihat ke seberang. Menjadi jembatan. Dan kau senang melakukannya, mungkin kerna aku senang bertualang. Kita, apakah satu jiwa?

Bumi, bulan, dan matahari, sesungguhnya adalah kembar siam dalam lingkar waktu yang lain. Mereka memiliki dunianya sendiri. Yang dekat. Namun tak bersentuhan. Menempel, seperti bayangan. Terkadang aku melihat kau dan aku sedang melangkah di taman bunga, di situ. Riang bercengkerama, lalu berteduh di sebuah pondok penuh adab. Mencuci kaki, membasuh wajah hingga kepala. Lantas kita mendapatkan seperangkat pakaian. Ya, kita sering salah paham. Apa yang di sangka dekat namun sesungguhnya jauh. Yang disangka tak terkejar, ternyata begini dekat. Sedinding kaca, meski tipis selalu berhasil membuat yang dekat menjadi jauh dan yang jauh serasa dekat. Begitulah aku di sini yang tak mampu mengejar bayangan kita di situ yang melangkah menjauh. kecuali kau -dan atau bersamaku-  menyingkirkan dinding itu.  di titik ini. Benarkah kita satu jiwa?

Batu kerikil dan batu batu gunung sangat berbeda meski satu nama. Gunung yang gunung, dan gunung yang beton sama sama menjulang, namun semua tahu, hanya hati mereka yang sama. Yang batu. Kau telah selesai mengeja gurat gurat cakar ayam dalam kehidupan. Lalu menempatkan dirimu -bukan menawarkan, apalagi memenuhi permintaan- di manapun aku melepaskan pandang. Dekat. Ya, kau menempatkan dirimu begitu dekatnya. Di telingaku. Lantas, mustikah kita satu jiwa?

Hey, bukan burung Bul Bul yang sedang berceruwit itu, sayang. Ialah burung Colibri si pengisap madu. Kepak cepat sayap mungilnya menderu lembut di udara. Dan yang terekam dari mata adalah sepenuhnya: cinta.. Bukan. Bukan satu jiwa yang menjadi pertanyaan, rupanya.. Namun kesamaan rasa kita akan cinta. Itu.

kolibri-ptice-89

 

———————-

puri indah, 12 April 2012

 

4 Comments to "Satu Jiwa"

  1. EA.Inakawa  19 February, 2013 at 07:52

    satu jiwa lagi yang membaca dan suka dengan artikel ini, terima kasih pratiwi, salam sejuk

  2. Anoew  19 February, 2013 at 00:12

    burung bul bul atau burung sejenis itu memang paling memahami perasaan dan jiwa pasangannya. saya suka burung bul bul.

  3. Dewi Aichi  16 February, 2013 at 22:10

    Wowww..indah sekali mba Tiwi, ya begitu banyak jiwa-jiwa yang mempunyai satu rasa, yang diawali dengan hadirnya “hai” dan disambut dengan datangnya “hei”. Maka, banyak sekali juga orang disampingnya menjadi jauh dan orang yang sangat jauh keberadaannya menjadi sangat dekat, bahkan mengisi hidup dan hari-harinya.

    Tulisan yang sangat “masa kini” he he…apik sekali mba….

  4. Dj. 813  16 February, 2013 at 12:14

    Terimakasih mbak Tiwi…
    Satoe djiwa, tapi doea raga.
    Salam manis dari Mainz.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.