Tentang Cinta yang Terbawa Angin

Mutaminah

 

Masih di bawah sinar mentari yang keemasan

Aku berdiri menyambut setiap hembus angin yang menerpaku

Sedang kau duduk di atas rumput dalam diam

Memperhatikan aku berkencan dengan kekasihku

 

Ketika kau bertanya mengapa aku sangat mencintai angin

Aku hanya mengedikkan bahuku tanda tak tahu

“Bukankah cinta tak pernah butuh alasan?” jawabku kala itu

 

“Sejak kapan kamu mencintai angin?”

“Cinta tak pernah menentukan jadwal untuk jatuh. Tidak kapan pun.”

 

Kau hanya tersenyum seulas

Lalu semuanya kembali menjadi bisu

Hanya deru nafas yang membahasakan setiap katamu dan kataku

 

Jeda pun telah menjadi lelah untuk menunggu

“Kau tahu? Kini aku mulai mencintai angin.”

Alisku terpaut menanyakan banyak hal

“Karena di setiap hembusnya terkandung cintamu yang tanpa alasan itu”

“Aku mulai mencintai angin, saat tak sengaja menyesap cinta milikmu yang terbawa olehnya,” lanjutmu

Dan aku hanya tersipu, malu

wind blows

 

Bandung, 1 Februari 2013

 

4 Comments to "Tentang Cinta yang Terbawa Angin"

  1. EA.Inakawa  19 February, 2013 at 07:45

    Mutaminah : aku mencintai angin sejak angin mampu membuat aku tertidur dengan nikmatnya, terima kasih atas puisi yg enak dibaca ini. salam sejuk

  2. Anoew  19 February, 2013 at 00:13

    cinta tak butuh alasan adalah benar adanya, makanya ada pepatah dalam bahasa jawa love is blind

    salam blind.

  3. Dj. 813  17 February, 2013 at 17:14

    Kekuatan angin memang sangat hebat…
    Apalagi kalau sudah sampai dengan puting-beliung….
    Orangnya juga turut kebawa, tiidak hanya cintanya saja…
    Salam,

  4. James  17 February, 2013 at 09:46

    SATOE, Cinta Yang Terbawa Angin

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.