[Serial Rara] Hati yang Retak, Berderak

Sugiyarti Ugie

 

Sedikit gusar Rara melihat hpnya, sudah 6 kali bergetar sesiang ini.

“Ah, Dewo lagi.” gumamnya. Di letakkan lagi hp itu sambil menghela nafas, ada sedih dan nyeri di ulu hatinya.

Tak lama sms Dewo masuk, Rara tak ingin membacanya. Karena jika ia membaca, pasti hatinya tak bisa tahan. Sudah hampir tiga minggu ini dia  sedikit demi sedikit menjauh, mengurangi berinteraksi dengan kekasihnya.Ia sengaja menghindar. Dan seminggu terakhir ini ia benar-benar bisa dikatakan Rara tak menerima telepon ataupun membalas sms dari Dewo!

Setengah jam kemudian, ketika ia asyik mengetik, lagi-lagi hp yang tergeletak di mejanya bergetar, ada panggilan untuknya.

Sekilas ia menengok, tertera nama Dewo di layar hpnya. Dewo lagi. Akhirnya dengan tangan sedikit gemetar ia raih kotak mungil yang  ajaib itu, di mana  bagi banyak orang tak pernah bisa lepas dari benda satu ini walaupun baru bangun tidur, benda itu yang dicarinya.

” Yaa.., hallo. Ada apa Wo?” Sapa Rara pelan.

” Ra, kamu marah ya ?” Suara di ujung sana, suara yang amat dikenalnya bernada khawatir.

” Enggak kog, “jawab Rara dengan suara yang dia buat sewajar mungkin. “Aku sibuk, banyak tugas,” lanjutnya lagi.

” Gak biasa kamu seperti itu. Teleponku tak kamu jawab, smsku kamu cuekin. Aku merasa ada yang lain dua minggui ini,” kata Dewo.

“Kita harus bicara. ” lanjut Dewo setengah memaksa.

” Bicara?Bicara apa ?” Rara mengelak.

” Bicara ada apa dengan kamu. Kamu berubah,”jawab Dewo.

“Nanti, aku jemput. Titik.”

________________________________

choices

“Ra, ada apa?” tanya Dewo setelah mereka duduk sambil menikmati aneka snack dan minuman. Rara terdiam,seolah menikmati kebersamaan itu, yang sepertinya akan menjadi yang terakhir baginya.

Ketika Dewo hendak meraih tangannya, seperti kebiasaannya kalau bertemu, Rara pura-pura mengambil tissu menghindar dari tangan laki-laki yang selalu ia pikirkan.

“Nah, kan. Kamu menghindar, kamu menjauh dari aku,” desis Dewo.

“Aku punya salah? Katakan. Jangan membuatku gila.”

Rara menghela nafas, sesaat ia berusaha menenangkan dirinya. Baginya rumah makan yang selalu berasa adem ini jadi panas, membuatnya sedikit gelisah. Tangannya bergerak meraih es lemon tea di depannya, diteguknya perlahan. Ia mengulur waktu. Dewo menunggu dengan tak sabar dan cemas.

” Wo, aku sudah memutuskan. Hubungan kita sampai di sini saja.” kata Rara sambil menelan ludah.

“Eee. ., gak bisa begitu. Enak saja. Aku gak mau.” Dewo memegang tangan Rara erat-erat, sehingga Rarapun terdiam pasrah.

Dewo menatap matanya lekat-lekat. Rara tak kuasa melihat tatapan penuh rindu berbaur cinta dari laki-laki  pemilik hatinya.  Dadanya sakit, akhirnya ia melengos mengalihkan pandangannya ke samping.

“Katakan. Mengapa?” Dewo bertanya dengan suara sedih dan menuntut jawaban.

“Dewo, terimakasih atas semua kasih dan cintamu padaku. Aku tersanjung dengan semuanya, tapi aku tak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih lagi. Aku telah memilih orang lain ” Rara berkata perlahan, seolah takut rasa sedihnya tersirat dalam kata-katanya.

” Apa???  Orang lain? Apa maksudmu?” Kata Dewo agak tinggi sambil mengguncangkan lengan Rara.

” Rara, kamu harus menjelaskan!”

“Aku telah memutuskan, bukan kamu pengganti abahnya Lili. ” Rara berkata tegas dan jelas. “Hubungan kita hanya sampai di sini.”

“Orang itu, mas Bagas?” Dewo berkata lirih. Kecewa.

“Aku tak mau menikah tanpa restu eyang Padmi, juga Mas Aryo kakakmu itu. Kedua kamu jauh lebih muda dari aku, coba pikir 5 atau 10 tahun lagi. ., aku sudah peot, sedangkan kamu masih seger, aku takut tak bisa melayanimu. Itu berbahaya sekali, bukan?” Rara menjelaskan.

“Ketiga, kamu mengemban tugas, seseorang yang pernah ada di hatimu menunggumu, ia sangat mencintaimu, juga penghubung antar dua keluarga yang dulu sahabat karib antara Eyang Padmi dan Ibu Sundari.”

“Tunaikan janji Eyangmu, Wo.” Lanjut Rara, kali ini sambil menatap mata Dewo penuh harap.

Dewo menahan suaranya, “Kamu gak adil. Itu lagi-itu lagi alasanmu. Aku bisa sabar sampai mendapat restu mereka, Ra.”

“Lima atau sepuluh tahun lagi?. .. Rara, memang hidup, 24 jam isinya hanya di tempat tidur saja?” lanjut Dewo.

” Dan….soal Dini, itu masa lalu.”

Terlintas kembali di benak Rara; Minggu sore dua minggu yang lalu; seorang Ibu yang miyayeni  mengetuk rumahnya. Ternyata wanita ayu tengah baya ini ibunya Pramesethi Ardaningtyas Andini, atau Dini seorang gadis yang ia tahu sangat diinginkan menjadi pasangan seumur hidupnya Dewo oleh Eyang Padmi, juga kelurga besarnya.

“Jeng Rara, sebenarnya kalau Dini tahu Ibu ke sini, pasti ia marah betul, tapi ini satu-satunya cara Ibu, untuk bisa menolongnya. ” Kata si Ibu sambil matanya berkaca-kaca. Suaranya terdengar halus di telinga Rara sampai ia tergetar.

“Dini, satu-satunya anak kami, ia sedang sakit sekarang, leukimia. Ia tak mau ibu bawa ke Singapur, padahal mungkin dengan pengobatan di sana ia bisa sembuh. Dini seperti hilang semangatnya, hanya Dewo yang mampu membujuknya.” lanjutnya lagi, terisak.

“Tiap hari, nama Dewo disebut  dalam ketaksadarannya.”

“Oh. …., begitukah?” kata Rara terkejut.

“Jeng Rara tahu kan maksud ibu?” Tanya si Ibu lagi. Penuh harap, penuh kerendahan hati, siapapun sepertinya tak kan bisa menolak, apalagi Rara sama-sama seorang ibu.

Dan dua hari kemudian, Rara mengajak Kenes menyambangi rumah sakit di mana Dini dirawat seperti yang diberitahukan Ibunya. Rara langsung jatuh hati pada gadis belia yang tak berdaya tapi tetap  terlihat cantik. Hatinya menangis, ia seolah melihat Lili yang berbaring di tempat tidur itu. Rara sungguh mengerti apa yang di rasa si Ibu, Dini adalah nafas hidupnya, apapun pasti dilakukan untuk anak semata wayang ini.

Rara tersentak, ketika Dewo menyentuh lengannya.

“Cintaku sekarang hanya untukmu. Mungkin ini terasa gombal banget, tapi memang  yang ku rasa begitu, “kata Dewo kemudian.

“Wo, Dini gadis yang lembut dan baik hati, tak akan sulit mencintainya, karena ia sangat mencintaimu. Kamu pasti akan membenarkan kata-kataku kelak.

Dia sangat membutuhkan kamu,” tegas Rara.

“Ra, tapi. ..” Dewo masih menawar.

Sacrificial-Love-A-Trade

Rara tak bereaksi. Meski ada rasa iba, ia sudah berjanji, tak akan menerima pinangan Dewo, walaupun sebenarnya tak ada orang lain bagi Rara, itu hanya caranya berdalih. Menurut Rara; Dini lebih pantas, lebih membutuhkan Dewo. Rara sudah cukup merasakan kebahagiaan selama ini, tapi gadis belia itu malah sedang berjuang untuk hidupnya, dan hatinyapun sedang patah.

Rara yakin, ia bisa menyesuaikan diri tanpa cinta Dewo, walaupun itu membutuhkan waktu.

Tekad Rara sudah bulat. Tiga hari setelah pertemuan itu, Rara cuti untuk menenangkan dirinya, juga menjauh dari Dewo, ke sebuah desa kecil di lereng gunung Ciremai bertandang ke rumah sahabat dari kecilnya; Mirna.

 

Jakarta, 5 Januari 2013

 

9 Comments to "[Serial Rara] Hati yang Retak, Berderak"

  1. ugie  20 February, 2013 at 00:47

    @ DA : bisa juga begitu, nanti naksir lho Pam
    makasih ya Dewi dah singgah

  2. Dewi Aichi  19 February, 2013 at 19:53

    Pampam jangan bilang Rara payah…nanti naksir lho….

  3. ugie  19 February, 2013 at 19:22

    @ Pam : hooh , gitu banget ya si Rara..hehe , hati seorang ibu , Pam .

    @ Laura : .. ini ada tissu .. * drama korea bgt ya ?*

    @ JC : Coba tanya Anoew ..mau gak ?

    @ Anoew : katanya Rara ma Dini .. tunggu hari libur kalo mau futsal .. ( futsal aja ya ? )

    @ Pak Dj : Ya…. kog Dewo disamain Aceng , jangaannn … Dewo cowok yg baik hati dan sangat cinta dg Rara.

    @ Bung EA : aamiin … tapi kan gak segampang itu Rara jatuh cinta dan mencintai ? .. salam angin sepoi .

    Kepada semua Baltyraer yang telah singgah dan berkaomen di oret2anku , makasih banyak , Salam ceriaa..
    (maaf saya borong balasnya, jaringan lagi lemoot , mumpung bisa nyambung , suwun )

  4. EA.Inakawa  19 February, 2013 at 07:28

    mbak Ugie : Mudah2x an Rara bertemu jodoh di desa lereng gunung tempat temannya Mirna,seorang pemuda yg lugu tapi ganteng dan berpendidikan yg mungkin akan memberinya anak selusin hikhikhik……mudah2x an saja, salam sejuk

  5. Dj. 813  19 February, 2013 at 00:42

    Mbak Ugie…
    Terimakasih…
    Romatika dalam kehidupan, memang kadang tidak selalu mulus….
    Salut, Rara masih sangat bijak…

    Walau kata dimas Josh Chen, kalau Dewo itu mas ANOEW…???
    Hahahahahahahaha…..!!! Ada-ada saja…
    Yang jelas kalau Dewo itu si Aceng, semua di cerai, setelah 4 hari nikah…. hahahahaha..!!!

    Salam manis dari Mainz.

  6. Anoew  19 February, 2013 at 00:17

    halah komen nomer 3 ini lagi-lagi penganiayaan.

    Hai Rara dan Dini, ayok kita main bola saja yok..?!

  7. J C  18 February, 2013 at 18:09

    Wah, ini tidak fair untuk Dewo. Boleh saja si Rara kasihan sama Dini, tapi kok terus “memaksa” Dewo…

    Tapi kalau tokoh Dewo ini berganti nama “ANOEW”, sudah pasti baik Rara maupun Dini diterima dengan baik…

  8. laura resti kalsum  18 February, 2013 at 12:24

    huhuhuu…jadi syedih :'(

  9. [email protected]  18 February, 2013 at 09:55

    buhuuuu……….. payah rara….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.