Tembak di Tempat (16)

Endah Raharjo

 

Pada hari yang sama ketika aku di Petchaburi, Senin, di Bangkok, seperti dituturkan Rudi padaku.

Lepas tengah hari, Rudi dan Naing Naing keluar dari kantor LSM Justice and Peace for All, atau JPA, yang mengurusi konflik dan pengungsi di kamp-kamp kawasan baratlaut perbatasan Thailand-Burma. Tim sudah tahunan bekerjasama dengan LSM ini. Mereka baru saja menemui orang yang membantu mengurus kepindahan Stella dan Aron.

Tiba-tiba seorang lelaki, entah siapa dan muncul dari mana, mencekal kasar lengan kanan Naing Naing.

“Serahkan dokumen itu atau kamu mati!” desisnya. Tak hanya suaranya, matanya mencelang, mengancam, serupa ular siap mematuk. Kuat-kuat ia mendorong bahu Naing Naing hingga terjengkang. Lalu kaki-kakinya yang terbungkus sepatu boot militer itu membawa tubuh gempalnya berlari menyeberangi jalan, menghilang di balik keriuhan lalulintas dan orang-orang yang tengah bergegas hendak makan siang.

Kejadian itu berlangsung sekejap, terlalu cepat bagi Rudi untuk menyadari apalagi mengejar lelaki itu. Ia membantu Naing Naing berdiri.

“Siapa bajingan itu?” seru Naing Naing, mata julingnya bergerak liar.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Rudi. Naing Naing terengah, membenahi posisi ranselnya. “Dia mengancammu. Dokumen apa yang dia maksud?”

“Aku tidak tahu!” tegasnya.

“Apa Stella dan Aron?”

“Pasti bukan. Ini pasti ada hubungannya dengan Tong Rang….”

“Kamu yakin?”

Kibasan tangan Naing Naing mewakili kegusarannya. Rudi menelan rasa penasarannya, berusaha mengiringi langkah Naing Naing yang cepat dan lebar. Mereka tidak menyadari ada seseorang mengekor dari belakang.

 

*****

 

“Ada sesuatu yang aku perlu tahu?” tanya Tim lunak, menatap sosok Naing Naing.

Yang ditanya baru saja duduk di sofa, meletakkan ranselnya. Wajahnya basah oleh keringat dan rambutnya lengket di kulit kepala. Rudi duduk pelan-pelan, seakan sofanya akan melesak bila ia tidak hati-hati. Seharusnya kami tadi berhenti di kedai kopi untuk merokok dulu, tidak langsung naik ke ruang kantor, pikir Rudi.

Seperti dirinya, mungkin Naing Naing juga tidak mengira kalau Tim sudah tiba di kantor. Tadi pagi ia bilang urusannya dengan Ruth baru akan selesai menjelang sore. Dalam perjalanan kembali ke hotel, setelah peristiwa di depan kantor JPA, mereka berdua tidak berbicara satu sama lain, kelelap dalam pikiran masing-masing.

“Apa maksudmu?” Naing Naing kesal.

“Ada orang menyerangmu di depan kantor LSM JPA….”

“Dari mana kamu tahu?”

“Ouch! Keep your voice down,” tukas Tim tidak senang, “kamu lupa kalau ada bodyguard yang mengikuti kalian? Dia tadi meneleponku, melihat seseorang mendorongmu sampai jatuh….”

“Dia tidak mengejar orang itu? Malah memata-matai kami?”

“Dia tidak memata-matai kalian. Jaraknya terlalu jauh untuk mengejar. Dia melapor karena itu tugasnya.” Tim menjaga suaranya tetap rendah. “Siapa orang itu?”

“Aku tidak tahu!”

“Pasti ada sesuatu yang dia mau.”

“Kamu menuduhku?”

“Aku bertanya!” hardik Tim. Rudi belum pernah mendengar lelaki itu berteriak sebelumnya.

“Beri aku waktu. Aku perlu berpikir.” Naing Naing mengusap-usap wajah dengan dua telapak tangan.

“Kita tidak punya banyak waktu. Apa yang dia mau?”

“Dia bilang aku akan mati kalau tidak menyerahkan dokumen. Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu, dokumen apa yang dimaksud. Ini bukan perkara Stella dan Aron. Aku yakin. Kita sudah melakukan ini berkali-kali. Semua legal meskipun pakai jalan pintas,” dengus Naing Naing dengan punggung tertekuk, dua siku bertumpu di paha, dan dua tangan menyangga kepalanya.

Rudi duduk bersilang kaki, diam, menatap Tim dan Naing Naing bergantian. Ini kali pertama ia terlibat dalam usaha pemindahan pengungsi yang – menurut pengalaman Tim sebelumnya – selalu berjalan lancar. “Maaf. Aku sama sekali tidak membantu. Wajahnya jelas-jelas Asia, tapi aku tidak ingat seperti apa.”

“Itu tidak penting. Yang lebih penting dia mewakili siapa dan apa yang dia maui,” ujar Tim.

Mereka bertiga diam beberapa saat. Berpikir. Rudi suka menyendiri dan menyintai kesenyapan. Namun keheningan ruang kantor saat itu sungguh memekakkan telinganya.

“Mungkin ada sesuatu di dalam duffel bag Tong Rang,” ujar Tim, bangkit dari kursinya, mengitari meja, bergabung duduk di sofa. “Siapa yang menyimpan tas itu?” Ia menatap Rudi.

“Ada di kamarku. Masih utuh. Belum kusentuh.”

“Tolong bawa ke sini.”

Rudi sudah mencapai pintu sebelum bibir Tim terkatup.

Beberapa menit kemudian Tim menggeledah duffel bag milik Tong Rang itu. Selain pakaian, obat-obatan, beberapa novel, dua buah buku psikologi, laptop, kamera saku, sebuah kantung biru berisi charger dan berbagai steker, sebuah kantung merah berisi pernak-pernik lelaki pesolek, dan beberapa bendel dokumen proyek, ada ransel hitam. Tim meminta Naing Naing mencermati isi ransel sementara ia menyalakan laptop. Rudi disuruh memeriksa barang-barang lainnya, termasuk semua saku di dalam dan luar tas merah itu.

“Dia menjamin tidak ada dokumen apapun yang mengaitkan misinya itu dengan proyek kita,” rutuk Tim. “Kita tidak punya dukungan techie untuk urusan seperti ini. Haaah!” Jemarinya mengetuk-ngetuk keybord kuat-kuat.  Ia tak bisa membuka laptop. “This is encrypted! Damn!”

conflict-resolution

“Tidak ada apapun yang penting di sini.” Naing Naing meletakkan ransel hitam yang baru ia kosongkan.

“Kamu yakin?” tanya Tim, mengalihkan matanya dari layar laptop. Raut mukanya   pedar.

“Cuma ini yang ada di dalam ransel….”

Mereka sama-sama mengamati barang-barang di lantai yang baru dikeluarkan Naing Naing dari ransel: sebuah night vision, segulung tali kernmantel biru, tiga buah carabiner, dan beberapa perlengkapan lapangan yang mungkin disiapkan Tong Rang untuk aksinya itu.

“Mengapa ransel ini sampai ketinggalan?” gumam Tim.

“Mungkin terburu-buru. Lalai…. Kita sering begitu kalau sedang dalam tekanan,” ujar Rudi.

Seperti biasa bila hatinya geram, Tim mengangkat dua lengannya lalu dua tangannya memukul udara. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Matanya nanar, seakan hendak memecah layar laptop dengan tatapannya. “Aku bisa saja mengirim laptop ini ke seseorang untuk diretas. Tapi kita tidak ingin terlibat dengan perang Tong Rang. Kita tidak boleh terlibat,” gusar Tim.

Rudi dan Naing Naing sama-sama terkelu.

“Kenapa kamu yang jadi sasaran?” Mata Tim berpindah ke wajah Naing Naing. “Apa kamu sudah lama kenal Tong Rang? Pasti ada sesuatu yang memicu orang itu mendatangimu….”

Naing Naing diam. Ia kembali duduk di sofa.

Setahu Rudi, jurnalis itu belum lama mengenal Tong Rang; mereka baru bertemu di Sangkhlaburi. Si mata juling itu bekerja dengan Tim hanya sebatas meliput pemindahan Stella dan Aron, tidak terlibat dalam kegiatan penelitian. Namun Rudi bisa saja keliru; bila senggang ia jarang ngobrol dengan mereka, memilih ke luar mencari hal-hal menarik dan unik untuk diabadikan dengan kameranya.

“Naing Naing? Did I miss anything?” Tajam suara Tim. “I don’t want to jeopardize my team just because you didn’t tell me something I should know….”

“Aku butuh minum….” Naing Naing bangkit dari sofa, menuju minibar, membuka kulkas dan mengambil sebotol bir.

Tim menggulung lengan bajunya hingga ke atas siku. Rudi khawatir bosnya gagal menahan kesabaran. Tubuh Naing Naing selain kurus juga pendek; tangan kekar Tim pasti bisa membuatnya pingsan hanya dengan sekali jotos di ulu hati.

“Naing Naing…. Kami menunggu penjelasanmu,” ujar Rudi, menjeling Tim yang merekatkan gerahamnya begitu kuat sampai tulang rahangnya menonjol.

“Sebentar….” Lelaki itu mengikat rambutnya dengan karet yang ia rogoh dari saku belakang celana. Dengan botol di tangan ia kembali ke sofa.

“Aku baru bertemu Tong Rang dalam misi penelitianmu kali ini. Percayalah.” Matanya menatap Tim beberapa detik, meyakinkan kata-katanya. “Aku minta kalian mencoba berada di posisiku….” Naing Naing meneruskan sambil menunduk, melihat botol bir yang isinya tinggal sepertiga. “Aku butuh duit untuk mengeluarkan pacarku dari kamp. Aku menghubungi orang ini. Lelaki Thai. Pemilik belasan go-go bar di Bangkok dan Pattaya. Orang-orang memanggilnya Momo Moss. Aku tidak tahu nama aslinya. Katanya dia bersedia membayar mahal untuk info soal Tong Rang.”

Tim berdiri, mendekati sofa dengan tangan terkepal. Rudi menahan napas. Ia berjaga-jaga bila lelaki bertinggi nyaris 6 kaki dengan tungkai kokoh panjang itu menerjang Naing Naing. Rudi lega setelah Tim menarik salah satu kursi menjauh dari meja, duduk dengan meluruskan kakinya.

“Kemarin malam aku menemuinya di bar, di kawasan Patpong. Aku hanya ingin tahu jumlah bayarannya. Dia tanya apa aku punya sesuatu. Aku bilang saat ini aku tidak punya informasi apapun, tapi bersedia mencari informasi untuknya, bila bayarannya cocok. Aku sama sekali tidak berjanji, apalagi sampai melibatkan kalian.”

“Kamu tidak setolol itu!” sergah Tim tajam. “Kamu pasti tahu kalau tindakanmu itu akan menuntun orang mengincar kita, mengira kita punya informasi, atau apapun, milik Tong Rang.”

No. I know nothing about nothing. Please, Tim. You got to trust me….”

“Dalam situasi seperti ini, aku tidak percaya apapun atau siapapun.”

“Aku tidak bisa membuktikan kalau aku sama sekali tidak tahu soal Tong Rang. Aku hanya butuh uang. Sangat mendesak. Pacarku hamil. Sudah 2 bulan….”

“Siapa yang memberi tahu kamu kalau ada orang butuh info soal Tong Rang?” tanya Tim.

“Banyak pihak tahu soal ini. Apalagi para jurnalis. Bukan cuma Tong Rang. Dia bukan satu-satunya. Ada banyak kelompok. Serangan mereka makin gencar, masuk ke wilayah Burma, tidak hanya di perbatasan. Dua hari ini mereka menyerbu di Laiza dan Sittwe. Regu yang berbeda tapi sudah dipastikan ini gerakan bawah tanah sekelompok dengan Tong Rang. Banyak pihak berlomba mendapat informasi intelejen seputar misi mereka. Harganya tinggi.”

“Dijual ke pihak militer Burma?” tanya Rudi, dongok.

“Siapa lagi! Atau pihak-pihak yang ingin memancing di air keruh,” tukas Tim.

“Aku cuma bertanya-tanya. Aku akui itu tolol. Konyol. Sembrono.”

You’re fucked up!” umpat Tim.

I’m all fucked up,” ulang Naing Naing. “Aku hanya cari peluang. Siapa tahu bisa dapat info. Rencanaku setelah urusan pemindahan Stella tuntas, aku mau terjun ke lapangan. Aku betul-betul butuh uang itu. Aku mau menikahi pacarku….”

15-conflict-resolution

“Seharusnya bilang padaku, atau Father Sap, kalau kamu butuh mengeluarkan pacarmu dari kamp,” gusar Tim. “Tapi tidak ada gunanya lagi sekarang…. Aku tidak mau saling menyalahkan. Buang-buang waktu. Kita harus cari cara agar situasi ini tidak memburuk. Aku harus menelpon ke Petchaburi….” Tim bangkit mendadak dari kursi.

*******

 

14 Comments to "Tembak di Tempat (16)"

  1. endah raharjo  22 February, 2013 at 11:59

    Kang Anoew: Okeee… ntar kalo buku budaya makanan peranakan udh terbit juragane bs mulai bikin audisi aktor/aktris-nya

    Pak DJ: waaaah… kalo sampai kaing-kaing itu pertanda dilempari batu sama anak-anak kampung
    Lani: Kang Anoew maunya jd kameramen, bisa nginceng setiap saat, bisa pilih titik2 vital
    @Dewi: kapan2 nek balik Jogja maneh aku dipijeti tenan, lho…
    @Lalu Umah: terima kasih banyak, naaah… ini lagi nyari2 pintu buat masuk layar lebar, sayangnya yg ketemu layarnya sempit dan masih tergulung…

  2. lalu umah  22 February, 2013 at 08:34

    maaf type error, mbak endah maksudku.

  3. lalu umah  22 February, 2013 at 08:32

    wah asyik juga menikmati karya2 mbak endang. trims & terus berkarya mbak, smoga ada karya yg masuk layar lebar.

  4. Lani  21 February, 2013 at 03:27

    KANG ANUUU : gmn klu aki buto sutradara, trs sampeyan asisten sutradara?????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.