Nakal

Wesiati Setyaningsih

 

Malam itu Izza mendekati saya dengan memangil perlahan, “Ma..”

Dari nadanya saya sudah tahu dia akan menceritakan sesuatu yang tidak menggembirakan.

“Apa?” tanya saya sabar.

“Aku disuruh buat surat pernyataan.” Nadanya masih rendah.

Surat pernyataan? Telinga saya langsung berdiri. Saya menyuruh murid saya membuat surat pernyataan kalau mereka melanggar tata tertib. Biasanya karena menggunakan hape saat guru menerangkan, atau cabut dari kelas, atau merokok, atau pelanggaran-pelanggaran lain yang parah. Ramai di kelas, tidak mengerjakan PR, belum termasuk tindakan ‘pelanggaran’ yang diselesaikan sampai membuat surat pernyataan yang berbunyi,

“Saya yang bertanda tangan di bawah ini : nama, kelas, menyatakan tidak akan mengulang perbuatan berupa…. Dst” lalu ditanda tangan pembuat pernyataan dan mengetahui orang tua.

Kalau sekarang Izza diminta membuat begitu, ada masalah apa ini? Sejak kelas satu dia baik-baik saja bahkan mendapat pujian dari gurunya di kelas 3 dia bisa memimpin teman-temannya.

“Surat pernyataan apa?” tanya saya.

“Katanya suruh bikin surat pernyataan kalo aku nakal dan rame di kelas terus mama tanda tangan. “

student

What? Ini gimana ceritanya? Anak saya disuruh mengklaim dirinya sendiri kalo dia nakal? Kalau meminta anak-anak membuat surat pernyataan “saya tidak akan ramai di kelas lagi”, saya paham. Tapi ini menyuruh anak membuat surat pernyataan bahwa mereka nakal,  itu tidak masuk akal buat saya. Itu sama saja mendoktrin mereka bahwa mereka semua anak nakal. Kalau sampai mereka percaya dengan label gurunya pada mereka, itu sama saja membunuh karakter mereka sejak dini.

Saya saja yang punya murid suka ribut di kelas bertahan untuk tidak mengatakan mereka ‘nakal’. Saya selalu berusaha mengatakan apa adanya, “kamu itu ngobrol terus” atau “PR kok enggak dikerjakan”, “ulangan tidak boleh nyontek”. Dan bukannya “kamu nakal” atau “kamu malas” atau “kamu tukang nyontek”. Sekarang malah saya diminta tanda tangan di atas sebuah surat pernyataan yang menyatakan anak saya ‘nakal’. Jelas saya keberatan. Tapi saya tahu saya harus bijak.

“Memang kamu ngapain? Rame?”

“Yang rame tu cuma beberapa. Tapi kata bu guru, semua nakal.”

“Na yang disuruh bikin surat pernyataan siapa aja?”

“Ya semua, satu kelas.”

Aneh sekali, pikir saya.

“Terus disuruh bikin surat pernyataan semua gitu?”

“Iya. Aya sampai bilang, nanti pasti dimarahi mamanya.”

Saya bingung. Kalau satu dua anak yang rame, saya paham. Saya juga guru. Selalu ada kelas yang ‘berisik’. Tapi itu memang disebabkan oleh beberapa anak. Tidak semua. Dalam satu kelas pasti ada juga yang pandai, patuh, rajin, dan tahu diri kapan bicara kapan diam. Kalau ini satu kelas begini, saya ingin mempertanyakan strategi gurunya dalam menenangkan murid-muridnya.

Saya diam saja. Hati saya protes keras. Tapi saya harus bilang apa? Melihat saya diam saja, Izza paham kalau saya sedang tidak sependapat dengan gurunya.

“Jadi gimana ma?”

“Enggak lah. Mama nggak mau bikin. “

“Terus gimana?”

“Enggak tau, gimana besok. Kalo perlu mama ketemu kepala sekolah aja.”

Malam itu Izza berangkat tidur dengan menceritakan kalau dia kangen gurunya di kelas 3 yang begitu sabar pada dia dan teman-temannya yang memang suka ramai itu. Saya nelangsa tapi tidak bisa apa-apa.

***

Pagi harinya, saya, Izza dan Dila sedang sibuk menyiapkan diri untuk berangkat sekolah. Suami saya masih santai karena berangkat lebih siang.

“Jadi nanti gimana ma?” Izza bertanya.

Dia harus tahu apa yang dikatakan kalau dia ditanya gurunya.

Saya menahan diri baik-baik agar jangan sampai meledak marah ngomel-ngomel tentang gurunya.

“Gini aja,” kata saya perlahan sambil menahan kesal, “bilang bu guru pelan-pelan, bu, mama tidak mau bikin surat pernyataan. Kalau memang kamu nakal, biar mama dikasi surat panggilan orang tua aja. Nanti mama datang ke sekolah.”

Di sekolah saya, kalau pelanggaran berat dilakukan berulang, orang tua dipanggil ke sekolah. Biasanya dari pembicaraan antara orang tua dan guru, bisa didapat solusi. Kalaupun tidak, setidaknya bisa disepakati apa yang akan dilakukan.

“Gitu?”

“Ya. Biar nanti mama konsultasi sama bu gurumu. Di sekolah mama gitu kok. Kalau ada anak nakal orang tuanya dipanggil. Kalau kamu memang nakal mama mau dipanggil ke sekolah.”

***

Saya belum bisa bertemu Izza sampai jam empat sore karena sepulang sekolah saya mesti melatih debat murid-murid saya yang akan mengikuti lomba minggu depan. Begitu sampai saya langsung bertanya pada Izza.

“Gimana tadi bu guru?”

“Malah tanya gini, lha kamu nakal apa enggak?”

“Terus?”

“Ya aku bilang, enggak, wong kalo ada temenku ngajak bicara aja aku diem aja kok. Aku kan enggak ribut. Terus kata bu guru ya sudah. Didiemin kok. Malah temen-temenku yang laki-laki pada bikin surat semua. Biarin aja. Memang mereka biasanya pada ribut kok.”

Saya tersenyum. Masalah selesai.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

32 Comments to "Nakal"

  1. Alvina VB  22 February, 2013 at 20:35

    Mbak Wes, di sini itu di kota Montreal, QC.

  2. wesiati  22 February, 2013 at 19:18

    mas juwandi mulai kebasahan?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *